At The Moment

At The Moment
41. Mulai Membatasi



***Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.


Mohon dukungannya mentemen


❤️❤️❤️***


.


.


.


.


.


.


Hening


*Brakkkk


Tiba-tiba Farel berdiri dengan sangat kasar sampai kursi tempatnya duduk jatuh ke belakang. Mimik muka Farel tampak dingin..lebih dingin daripada sebelumnya. Jujur aku takut, tapi aku coba buat tetep berani mandang Farel. Aku tau Farel nggak akan setuju tentang keputusanku ini.


"Lofa dengerin Quena dulu, aku ngga bermaksud buat jauh dari kalian berdua atau ngrasa ngga nyaman ada kalian di deket aku. Cuman aku mau belajar dari kejadian kemarin, liat nih aku jadi kayak gini karna aku terlalu kekanakan mikirin Lofa dan buat Cair serba salah. Padahal kalian ngga salah apa-apa tapi Quena buat kalian berantem. Quena rasa, mungkin kita harus -...", perkataanku terpotong oleh Farel.


"Gue masih akan kayak dulu. Terserah lo mau deket sama siapa, pacaran sama siapa, nikah pun gue ngga masalah. Gue bakalan awasin lo ntah dari jarak deket atau jauh. Terserah kalok Lashon. Gue pergi", kata Farel lalu keluar.


Aku menghela nafas pelan lalu menatap ke arah Lashon.


"Maaf..bukannya aku mau jauh dari kalian atau buat Cair tambah ngrasa salah. Tapi aku juga ngga suka kalok Cair dibilang selingkuh sama Quena. Quena ngga masalah kalok itu Quena, tapi Cair jadi kebawa jeleknya. Kasian juga sama Chala, Chala jadi kebawa-bawa masalah kita. Toh kita udah gede, udah ngga bisa sedekat dulu lagi karna kita lawan jenis. Quena masih sahabat dan saudara Lashon kok, cuman Quena akan lebih jaga jarak ya sama Lashon", jelasku lagi.


Lashon? Dia menatapku kosong lalu menggelengkan kepalanya. Ruangan hening, bahkan Nizar sepertinya juga tak berani ikut campur dengan keputusanku. Rosa dan Gahar? Kurasa mereka tau diri mereka siapa saat ini, baru jadi sahabatku kemarin sore. Kan?


"Hei.. ngga akan ada yang berubah dari kita, tapi kita harus mengurangi kedekatan kita aja Cair. Cair ngga perlu anter atau jemput aku lagi waktu ada atau ngga adanya Farel sama Nizar. Nggak perlu ngrasa bersalah lagi kalok Lian sendirian. Lashon udah gede punya jalan hidup sendiri, gitu juga Lian. Tapi Lashon tetep saudara Lian, kapanpun Lashon dateng.. Lian akan selalu terima. Oke?"


Kupandang mata Lashon, walau tampak ada keraguan dia mengangguk menyetujui keputusanku. Ada rasa lega di hatiku. Entah kenapa.. mungkin karna aku sudah membuat seseorang meninggalkan beban (aku) dari hidup mereka. Setelah berdiam saling pandang aku lalu tersenyum dan memeluk Lashon.


"Cepet baikan ya sama Farel, Lian nggak mau liat kalian kelahi", kataku lagi.


"Iya..", jawabnya.


Ehem


"Jadi udah kan sedih-sedihnya?", tanya Rosa yang ku jawab dengan anggukan.


"Kalok gitu..... HUWAAAAAA LIAN! GUE KHAWATIR BANGET SAMA LO!!! GUE KIRA LO KENAPA ANJJJJJJYNG! JANTUNG GUE MAU COPOT KEJAR LO LARI-LARI NGGA JELAS!!! GUE NGGA SUKA DI BIKIN PANIK KAYAK GITU, BISO EDAN AKU REK", rengek Rosa menghambur kepelukanku.


Kubalas pelukan Rosa sambil kugoyang-goyangkan badannya. Lucu fikirku. Aku terkekeh melihat sahabatku satu ini. Ntah lah, tak ada duanya. Haha.. Oiya, kita berlima akhirnya hanya melanjutkan dengan obrolan dan candaan ringan. Farel akhirnya kembali dengan menenteng Hokbento berjumlah 14 box dan 2 large pizza. Pizza untuk kita habiskan dan sisa Hokbento untuk teman-teman yang lain saat datang. Farel tetap memberiku karena dia ingin aku makan semua makanan.


Farel? Dia masih dingin, ya dia masih marah. Tapi aku tau dia akan mengesampingkan ego dan emosinya jika denganku. Karna Lofa sudah berjanji akan selalu begitu. Semua baik-baik saja, Farel dan Lashon masih saling diam. Setidaknya setelah ini semua akan membaik seperti yang aku harapkan. Tanpa harus melukai satu sama lain. Walaupun ada bersitegang tapi aku tau mereka saling sayang dan peduli satu sama lain.


Knox? Entahlah, aku juga tak tau. Farel melarangku berhubungan dengannya setelah dia kembali. Dan akupun mengiyakannya karna toh aku juga tak begitu menyukai Knox. Sean hanya mengirimiku pesan cepat sembuh, sahabatnya yang lain tak ada yang menghubungiku. Aku kembali ke rumah di malam hari, jadi keluargaku tak tau jika aku masuk rumah sakit. Hanya Zayn yang tau jika aku di rumah sakit, Farel memberitahunya saat dia pergi dari ruanganku tadi.


Malam ini Farel tidur di rumahku, di kamarku tepatnya. Sangat biasa jika kita berdua tidur bersama, orang tuaku tak pernah melarang kami. Kalian tau? Bahkan pernah Farel tidur dengan kedua orang tuaku. Gila kan? Sebegitu dekatnya Farel denganku. Ya begitulah..maka malam ini dia tidur berdua denganku. Akupun bisa puas melihat wajahnya karna aku sebegitu kangennya dengan Farel.


"Kamu benar-benar akan berangkat sekolah besok?", tanya Farel yang berbaring di sampingku.


"Em..", aku mengangguk.


"Tentu. Aku hanya kelelahan, bukan terkena penyakit Lofa", kataku sambil memainkan hpku.


Farel bergerak tengkurap lalu menindihku.


.


*deg


.


Farel menatap ke arahku dalam. Aku yang terkejut dengan perbuatannya balik menatap Farel dengan wajah mulai memanas. Ah aku tebak wajahku sudah memerah sekarang. Sial!


Shit! Farel malah menurunkan badannya hingga jarak hidung kita tinggal 2 cm lagi. Bahkan hembusan hangat nafas berbau minsnya dapat kurasakan sekarang. Farel kemudian mencium dahiku, kedua mata dan pipiku, lalu kembali di posisinya yang berada di depan hidungku.


"Re-rel.. ja-jangan gila deh, lo..lo jangan macem-macem ya sama gue!", bentakku tertahan. Gimana ngga tertahan, ada orang depan gue. Kalok nafas gue bau gimana? Ya Gusti.


"Ya Gusti! Pie to iki. Cah bagus, kok malah turu maring dadaku nindei aku", batinku.


(Ya Tuhan, gimana sih ini. Anak ganteng.. kenapa malah tidur didadaku nindih aku)


"Jantung lo...deg degan Tis", kata Farel yang berbaring di atasku.


"Lo tau ngga sih lo tu gede, lo berat Lofa!",jawabku mengalihkan topik sambil mengguncang Farel yang ada di atasku.


"Muka lo tadi juga merah", katanya lagi.


"Edan ki bocah", batinku. (Gila ini bocah)


"Farel! Gue ngga bisa nafas!", rengekku masih sambil menggoyang badannya.


"Beneran? Mau gue kasih nafas buatan?", tanyanya mengangkat wajahnya memandangku masih dengan tubuh menindihku.


"Farel!", bentakku menutup wajahku dengan kedua tangan karna saat ini benar-benar tak bisa mengendalikan mimik wajahku.


"Eh..jangan tambah di tutup, nanti lo tambah ngga bisa nafas", katanya dengan berusaha membuka mataku.


.


Lalu...


.


"Pffftttt..hahaha hahaha lo lucu banget Tis! Muka lo merah banget njyng!", dia tertawa menjatuhkan tubuhnya kembali tengkurap ke sebelahku. Sial.


Aku langsung membuka wajahku langsung memukul punggungnya.


"Ih Farel! Nggak lucu ya. Sumpah", kataku kesal sambil terus memukul punggung dan lengannya.


"Pffthhh..iya iya maaf. Habis lo lucu, kayak panik gitu. Mesum lo!", ejek Farel.


"Ih ya siapa juga yang ngga kaget kalok tiba-tiba dikayak gituin", kataku.


"Habis lo liatin gue mulu, ya sekalian aja gue godain haha", katanya. Shit!


"Ya kan gue kangen sama lo, ah! Lofa ngga inget ninggalin akunya berapa hari? Nggak ada kabar lagi. Coba deh Lofa cek hp Lofa berapa kali aku hubungin Lofa, huh", kataku lalu tidur membelakanginya.


"Loh..loh.. kok malah ngambek sih", ucapnya namun aku hanya diam.


.


"Quen.."


.


"Quen.."


.


"Quenaaaa"


.


"Isss, yaudah. Jangan salahin aku kalok habis ini, si anak Metis ngga bakalan bisa berhenti diem", katanya.


.


Bentar...


.


"Maksudnya apaan?", batinku. Aku tetap membelakanginya pura-pura tidur.