
.
.
.
Waktu berlalu sangat cepat, 1 bulan telah berlalu setelah kejadian upacara waktu itu. Selama jangka waktu itu, kehidupan Lian dapat dibilang baik-baik saja tak ada masalah berat yang harus ia hadapi. Singkat cerita, karena keributan yang dibuat Lashon saat upacara ditambah laporan pihak OSIS tentang pengeroyokan Lashon dan Farel terhadap Sean, membuat mereka berdua harus diskors dan ditulis alpha.
Farel saat itu hanya di skors selama 1 hari dan Lashon 3 hari, selama itu Lashon tetap mengantar jemput Chala sekalian melihat keadaanku. Sedangkan Farel, dia menjemput dan menungguku pulang di warung depan disatu hari masa skorsnya. Setiap hari aku memang menjenguk Sean ke rumah sakit walau hanya sampai setelah Isya', berlanjut sampai 2 hari Sean diperbolehkan pulang.
Farel dan Lashon memang menemaniku bertemu Sean untuk menjagaku, bukan karena mereka merasa bertanggung jawab dengan Sean katanya. Saat Sean sudah diperbolehkan pulang, mereka berdua juga ikut menemaniku saat menjenguk Sean. Hari ke 3 Sean di rumah, orang tuanya pulang. Sehingga kami semua tak lagi menjenguknya karena takut orang tua Sean curiga.
Alasanku menjenguk Sean setiap hari akibat aku yang merasa bertanggung jawab kepadanya karena ulah Lashon dan Farel yang tak bersungguh-sungguh dalam meminta maaf. Aku mewakili diriku sendiri yang menjadi penyebab dia terluka, juga Lashon dan Farel sahabatku yang menjadi pelaku. Alasan lainnya karena mereka berdua menjaga Sean tanpa mengajaknya berbicara, untungnya geng mereka dan Dennis ikut tidur di RS waktu itu.
Sampai pada akhirnya Sean masuk sekolah setelah seminggu absen, aku juga tak lagi datang ke rumahnya toh orang tuanya sudah pulang saat terakhir aku berkunjung ke rumahnya. Sempat aku berkenalan dan berbincang dengan orang tua Sean. Karena semua itulah baik aku, Sean, dan sahabat-sahabat kita semua menjadi saling akrab satu sama lain.
AUTHOR POV
Di kantin sekolah pada hari itu..
"Aku aja ya yang pesen, kalian cari tempat duduk aja", kata Lian.
"Ya udah, samain aja semua Li. Biar ngga ribet", kata Naya.
"Ih kok disamain, gue kan pengen mie ayam. Kan Lian nggak kayak lo yang nggak suka di ribetin", kata Rosa sambil cemberut.
"Dasar lo Ros-Nah, udah ah kayak bocah aja. Yaudah samain aja semua mie ayam gue nggak pake sayur ya Li", kata Anya.
"Hahaha, iya iya dah ah aku mau pesen dulu kalian cari bangku trus kalo bisa yang deket kipas atau jendela ya", kata Lian.
"Iya tauk bawel", jawab Naya. Lian pun berlalu sambil terkikik geli, lalu setelah memesan Lian langsung mencari meja sahabatnya.
Sampai saat ini sahabat Lian belum tau kalau mereka berteman dengan anak salah satu orang berpengaruh di dunia. Itu sebabnya Lian sangat nyaman bersahabat dengan mereka, bahkan juga dengan Dennis, Ben, Gahar, dan Tio. Sahabat laki-laki Lian di kelas juga menjadi sahabat geng Farel, bahkan mereka membuat grup mereka sendiri.
Hubungan Lian dengan Farel dan Lashon juga masih sama, walaupun akhir-akhir ini mereka tidak pernah makan bersama. Geng Farel biasanya pergi makan di warung depan sekolah karena disitulah para lelaki biasanya nongkrong.
Saat mereka berempat makan, Sean dan sahabatnya duduk dimeja samping Lian lalu ikut bergabung dengan obrolan geng Lian.
"Hay Li, lo ditanyain nyokap tuh suruh main" kata Sean pada Lian.
"Hah? Buat apa aku ke rumah Sean?" kata Lian.
"Ngga tau tuh mama gue, mungkin mau ngajak kamu buat bikin kue bareng"
"Eh ikut dong! Masak Lian doang yang diajak", ucap Richard.
"Yee lo mah ikut-ikutan baek". Jawab Rosa.
"Ya terserah gue lah. Apa urusan lo sih Ros", protes Richard.
"Galak bener jadi orang, heran" celetuk Anya.
"Richard itu bukan galak, tapi suka ngegas!", kata Arran.
"Beda tipis itu mah", jawab Naya ikut nimbrung.
"Udah-udah kenapa jadi ribut sih, udah terusin makan kalian dulu baru ngomong", kata Galvin.
"Noh, dengerin babang Galvin. Depan makanan tu diem, bukan malah ribut", ucap Knox.
"Dih apaan sih Knox, sok-sokan lu. Biasanya juga lu yang lebih parah dari kita" jawab Richard.
"Udah ah, malah diterusin. Heran", kata Galvin.
Mereka pun menyantap makanan mereka, geng Lian menghabisnya makanan mereka terlebih dahulu karena mereka memang lebih dulu makan. Setelah makan geng Lian pun berbincang dan bergosip ria sambil sesekali menyeruput minuman yang Lian pesan.
Ah iya, saat Lian yang memesan mereka tak pernah mengeluarkan uang, semua Lian yang akan membayarnya. Itulah Lian, untuk orang terdekatnya dia tak pernah perhitungan dengan apa yang dia punya.
"Hai, kita boleh gabung ngga. Males nih gabung ke yang lainnya", ucap Maya, Mayasari Jovindra sambil merangkul Knox.
"Eh Maya, gabung aja kalik", jawab Knox sambil mendongak menatap Maya.
Jadi posisinya:
Rosa-Anya
Lian-Naya
Aln-Galvin
Sean-Arran
Maya-Nara
Richard-Knox.
Meja Lian berada di samping Aln dan Galvin, (paham kan bayangannya gimana) Lian dan sahabatnya memang tau mereka adalah teman satu kelas Sean. Gosip yang diceritakan oleh Rosa kalau geng mereka memang dikenal sebagai geng penggoda (cabe mungkin ya), hanya saja mereka merupakan kalangan atas, jadi tak ada yang berani mengatai mereka geng cabe.
Kata Rosa, dia pernah mendengar bahwa Aln menyukai Sean, Nara menyukai Galvin yang bermuka ke Araban, dan Maya suka menggoda semua laki-laki bahkan yang disukai sahabatnya.
"Eh, ada geng cabe gaes", kata Rosa lirih mencondongkan badannya ke depan.
"Ssttt, jangan gitu ih. Berabe kalok mereka denger", kata Anya.
"Gapapa kalik, semua juga udah tau sama tu cabe", jawab Naya.
"Njir, jangan keras-keras ogeb", kata Lian yang berada di depan Naya.
"Maksud lo apa?", tanya Aln mendengar ucapan Naya dan jawabanku.
Naya pun menoleh ke arah Aln yang berada di sampingku sambil menaikkan satu alisnya.
"Lo?! Ngomong sama gue?", jawab Naya santai.
"Iya! Lo ngomongin kita kan? Difikir kita ngga denger apa", kata Aln.
"Oh, emang iya gue ngomongin geng cabe lo. Kenapa?" tanya Naya masih teramat sangat santai.
"Heh, lo jangan sembarangan ngomongin orang dong!", kata Maya.
"So?", jawab Naya.
"Ya mau lo apa, sampe ngomongin kita-kita?!", tanya Maya dengan emosi.
"Gue nggak suka aja, sesi makan kita yang tenang terkontaminasi sama suara genit geng cabe lo yang tiba-tiba dateng, menjijikkan!", jawab Naya tenang savage membuat Maya semakin geram.
"Wow wow wow, cabe udah jadi cabe nih. Bibir merah muka merah! Ups, mungkin jenis cabe merah keriting. Hahaha", jawab Rosa ikut nimbrung.
Lelucon Rosa membuat orang disekitar mereka yang masih mendengar ucapan Rosa ikut terkekeh.
"He em nih, emosi dia", kata Anya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Ngga usah ikut campur deh lo!", ucap Nara pada Anya yang sebelumnya diam lalu ikut berbicara.
"Ngaca mbaknya", ucap Lian sambil tetap menunduk melihat hp dengan sedotan dibibirnya.
"Eh lo sopan dikit dong kalok ngomong!", kata Aln merespon Lian yang menanggapi Nara, tapi dengan tak sopannya Lian tanpa mengalihkan tatapannya dari hpnya untuk melihat Nara.
"Lo Lian kan? Yang akhir-akhir ini deketin Sean? Oh dan gara-gara lo Sean masuk rumah sakit kemaren?!" tanya Aln lagi karena tak direspon oleh Lian sambil duduk menghadap Lian.
"Maaf, aku bukan cabe seperti kalian yang suka menggoda. Juga, lo yang namanya Aln kan? Salah satu member geng cabe sekolah ini?! Dan benarrr.. memang aku yang udah buat Sean sakit kemarin, trus kenapa?" tanya Lian tenang namun tajam.
"Apa lo bilang! Kita cabe?! Ngaca lo! Lo biasanya juga dirubungin cowok-cowok lo itu!" kata Maya.
"Maaf sebelumnya, seperti yang kamu bilang. Aku yang dikerubungi, bukan aku yang datang mendekati mereka seperti apa yang kamu lakukan. Yaa, contoh sederhananya seperti sekarang", kata Lian masih memainkan hpnya tapi dengan sedikit bersmirk.
"Anj*ng lo! Dasar bule kampung ngga beradab lo!", kesal Aln pada Lian kemudian menarik rambut Lian ke samping.
"Lepas", kata Lian masih tenang.
"Nggak akan sebelum lo dan sahabat anj*ng lo itu minta maaf ke kita!", jawab Aln.