At The Moment

At The Moment
43. Terkejoed



.


***Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.


Mohon dukungannya mentemen


❤️❤️❤️***


.


.


.


.


Tok


'


Tok


Ceklek


Ngiekkkkk


"Udah siap?", tanya Farel memasuki kamarku.


Aku masih duduk di depan meja riasku berdandan dan berusaha menyamarkan cupangan Farel dengan foundation. Melihat Farel yang bersandar di dekat pintu, akupun juga berfikir untuk menutupi cupanganku di leher Farel.


"Belum sebentar lagi.. Lof, sini deh", kataku melambaikan tangan melihatnya dari pantulan cermin.


Farel berjalan menuju aku. Lalu aku yang sudah selesai dengan menutupi cupangan dileherku, berdiri dari dudukku. Farel kutarik untuk duduk di depan cermin. Kuaplikasikan sedikit foundation yang sewarna dengan tone warna leher Farel lalu kuteteskan ke beuatyblanderku. Kemudian aku bergerak duduk di pangkuan Farel menghadapnya. Farel yang mempersilahkan aku duduk lalu memeluk pinggangku agar aku tak jatuh.


"Kusamarin dikit ya, tapi paling cuman tahan 5 jam", kataku melihat ke arahnya yang menatapku lembut.


"Nggak perlu, biarin aja. Nggak masalah buat gue", jawabnya.


"Ih, tapi nanti kalau sahabat Lofa ngledekin gimana?", tanyaku yang khawatir dia akan malas digoda.


"Nggak masalah.. em, morning kiss?", pintanya membuat jantungku berdetak lebih cepat.


Walau biasa, tapi aku wanita normal woi. Kalau diminta gituan sama lawan jenis tetep aja bakalan deg degan lah walaupun ngga ada rasa.


Sejenak aku berfikir lalu mengangguk dan tersenyum, kulihat Farel pun balas tersenyum menunduk sesaat dan kembali menatapku. Hingga.. Farel mencondongkan badannya ke depan dan mulai mencium bibirku dengan lembut. Aku menikmati ciuman dan hisapan lembut Farel di bibirku. Tak sadar aku juga mulai mengalungkan tanganku menekan badanku ke bawah agar merasakan milik Farel.


"Emmmh.."


"Cleepp..emhhh"


"Ahh..emmmmh"


Suara seperti itulah yang terdengar saat ini memenuhi keheningan ruanganku. Hingga tangan Farel mulai melepas kancing bajuku lalu melesak masuk menggapai salah satu bola kenyalku yang masih tertutupi batok penutup empuk disana. Ini perlakuan Farel pertama kalinya padaku sejauh ini. Bahkan dengan Lashon, dia hanya melakukan sama halnya seperti Farel tadi pagi. Entahlah akupun sepertinya terlena, masa bodoh dengan nafasku yang semakin menipis.


Cklekkkk


"ASTAGA!"


Farel dan aku yang mendengar itu juga ikut terkejut dan reflek menghentikan ciuman kita lalu memandang ke arah pintu. Dan ternyata yang membuka pintu adalah Kak Aile. Aaaaaaaa sialllll! Walaupun Kak Aile biasa melihat aku berpangkuan dengan Lashon atau Farel tapi tidak dengan ini.


"Oh astaga, maafkan aku. Aku hanya diminta memanggil kalian untuk sarapan oleh mamah. Kalau tau begini aku tak akan menggangu kalian..jadi silahkan teruskan. Hehe have fun!", kata Kak Aile lalu menutup pintu.


Aku? Aku lalu tertunduk. Aku yakin saat ini mukaku merah semerah apel merah. Sial sial sial. Farel? Entahlah. Namun tak lama dia memelukku dan menyusupkan kepalanya di leherku, mengalihkan rambutku dengan satu tangannya ke leher sebelahku lagi. Kurasakan Farel menjilati leherku tanpa dia hisap. Pelukannya juga semakin erat. Hingga.. dia menghentikan aktifitasnya dan memundurkan badan membuat aku memandangnya. Masa bodoh dengan muka apelku.


"Ah..aku sudah terlalu jauh, maaf.. aku hampir tak bisa mengendalikan diriku", katanya lalu mengancingkan kembali bajuku yang telah dia buka dengan sekali meremas kembali sebelum akhirnya terkancing semua.


Aku hanya memperhatikan aktifitas Farel lalu setelahnya aku memberikan kecupan dibibirnya sebagai tanda "it's okey". Tanganku terulur mengusap bibirnya yang basah dan ada noda merah di bawah bibirnya karna terkena liptintku. Dia pun melakukan hal yang sama kepadaku sebelum akhirnya aku turun dari pangkuannya dan mengajaknya sarapan.


AUTHOR POV


Farel dan Lian berangkat ke sekolah dengan motor papa Lud/Zeus karna sebelumnya Farel menggunakan mobil. Mereka berdua menggunakan motor karna hari sudah terlalu siang. Jadi mereka menggunakan motor untuk menghindari macet di jalan. Tak ada rasa canggung diantara Lain dan Farel karna apa yang mereka lakukan sangat umum bagi mereka.


Sesampainya di sekolah gerbang sudah hendak di tutup oleh satpam. Beruntung mereka masih diperbolehkan masuk ke dalam. Seperti biasa, Farel mengantar Lian sampai di depan kelasnya barulah Farel masuk ke dalam kelas. Untuk orang-orang di angkatan mereka..perilaku ketiganya (sebelum Lashon punya pacar) sudah dianggap biasa dan maklum oleh mereka.


Istirahat di hari jumat terasa sangat lama karna ada sesi Jumatan untuk umat muslim. Lebih dari setengah dari sahabat Lian dan Lashon pergi ke masjid sekolah untuk menunaikan ibadah mereka. Tersisalah Farel, Lashon, Dane, Gab, dan Ben yang memang beragama non muslim, menunggu yang lainnya di kantin sekolah. Mereka tak lupa memesankan makanan dan cemilan untuk mereka yang beribadah.


Setelah selesai menunaikan ibadah Lian terlebih dulu ke kamar mandi untuk memeriksa riasannya dan juga lehernya. Lian kembali menimpa bekas cupangan di lehernya menggunakan cushion yang dia bawa di poketnya (mini hand bag). Setelahnya dia memoles bibirnya kembali dengan liptint yang dia bawa lalu menyusul sahabat-sahabatnya yang lebih dulu ke kantin.


Di kantin


Lashon, Farel, Gab, Dane, dan Ben mabar bersama menghilangkan kejenuhan. Lashon dan Farel sudah berbaikan walaupun masih agak canggung. Apalagi Lashon yang masih tak enak hati dengan Farel karna telah mengingkari janjinya. Mereka berlima bermain hingga Nizar, Raid, Gahar, Tio, Dennis dan ketiga wanita sahabat Lian datang.


"Loh, Lian mana?", tanya Lashon yang melihat mereka datang tanpa Lain.


Farel yang awalnya fokus bermain game lalu mendongak melihat mereka yang berjalan ke arah kursi masing-masing.


"Lian minta kita buat duluan, dia mau touch up di kamar mandi", jawab Anya diangguki mereka.


"Ck! Pake touch up, ngga perlu touch up juga udah cantik", celetuk Gab lirih tapi masih di dengar yang lainnya.


"Yeee, lo mah bilang cantik waktu ngga ada orangnya. Nggak gentle lo!", kata Rosa.


"Apaan sih ikut-ikut, dasar cempreng!", jawab Gab.


"Eh enak aja lo! Gue cempreng tapi tetep cantik natural nggak kayak geng Chili!", jawabnya dengan menekankan geng Chili.


"Iya bener, Bebeb gue mah cantik walau cempreng!", jawab Tyo keceplosan membuat Rosa langsung memukul lengan Tyo lalu melotot ke arahnya.


"Wow wow wow apaan neh!!!", teriak Dennis heboh.


"Anjyang anjyang anjyang gue baru tau gila!", ucap Ben tak mau kalah.


"OMG KALIAN JADIAN TAPI NGGA NGASIH TAU KITA-KITA! OMG!", pekik Anya shock kegirangan.


"Udah lama kalik", kata Naya menimpali. (Naya tipikal pendiam, cuek, bodoamat, tapi care dan peka)


"Lo udah tau Nay? Gue aja sohibnya ngga tau cok!", Ben menimpali.


"Iya. Bukannya Raid sama Anya juga"


Blushhhh


Seketika muka Raid dan Anya memerah.


"APA!", kali ini mereka semua serempak terkejut, kecuali Nizar dan Farel tentunya. Mereka sudah tau juga.


"Ada apaan sih? Ribut banget. Ketinggalan nih", kata Lian yang baru saja datang dan duduk di kursi paling ujung di dekat Nizar. Yang sisa cuman di situ boskuh. Posisi duduk dua meja digabung jadi satu.


Lashon - Dane


Gab - Ben


Farel - Raid


Tyo - Anya


Rosa - Naya


Gahar - Nizar


Dennis - Lian (ujung karna baru dateng)