At The Moment

At The Moment
11. Insidental



AUTHOR POV


Hari-hari Lian di sekolah biasa saja seperti siswa lain pada umumnya. Bahkan sampai saat ini, hari pertama setelah kenaikan kelas ke kelas XI.


Tak terasa sudah 1 tahun Lian, Lashon, Farel, dan geng mereka bersekolah di SMA Internasional Airlangga. Mereka semakin dekat, bahkan seperti membuat geng besar jika sedang berkumpul di sekolah. Bagaimana tidak, mereka ber-14 orang.


Selama 1 tahun ini identitas pribadi dan marganya Lian masih tertutup rapat, bahkan kepada 3 sahabatnya yang sering kali berkunjung ke rumah Lian sekalipun.


Aktifitas mereka saat berkunjung ke rumah Lian hanya menghabiskan cemilan, nonton film di mini theater, main game, dandan, ghibahin orang, yaa gitu deh. Persahabatan mereka pokoknya baik-baik aja tanpa harus saling ngungkapin siapa mereka.


Kegiatan Lian di sekolah juga selalu di pantau oleh Farel dan Lashon. Sering kali mereka berdua bergantian mengantar Lian pulang jika Lian tak dijemput supir keluarganya. Terkadang Farel juga menjemput Lian saat Lian ingin pergi bersama Farel. Jika salah satu dari mereka atau mereka berdua tidur di rumah Lian, mereka pasti akan berangkat bersama.


Ah iya, diakhir kelas X kadang Lian juga berangkat bersama Chala pacar Lashon. Kegiatan itu dilakukan saat Lashon tidur di rumah Lian tapi harus menjemput Chala. Chala dan Lian juga berteman akrab, bahkan terkadang mereka hangout atau girls time berdua.


Lian memang saat ini masih belum diperbolehkan membawa mobil sendiri oleh papanya. Selain karna belum cukup umur juga karena Zain, Farel, dan Lashon yang melarang.


Farel dan Lashon pernah mengatakan jika mereka masih mampu untuk bergantian mengantar atau bahkan menjemput Lian. Sahabat yang baik memang!


Kisah cinta Lashon kepada Lian ternyata putus ditengah jalan, Lashon mengira Farel juga menyukai Lian melihat kedekatan Zain dan Lian dibandingkan dia. Lashon berfikir mungkin Farel tak enak hati padanya, sehingga dia memutuskan untuk belajar menyukai Chala. Wanita yang secara terang-terangan mengatakan suka padanya.


Sehingga disemester 2 kelas X, Lashon memutuskan untuk move on dan menyukai siswi blasteran Amerika di jurusan IPA. Iyaa, itu Chala.


Mengetahui itu, Farel juga langsung mengintrogasi Lashon setelah tau Lashon berpacaran dengan Chala. Bahkan sempat Farel melayangkan satu bogeman mentah karena dia berfikir Lashon hanya bermain-main dengan Lian, tapi kemudian mereka berdua membenahi semua kesalah pahaman antara keduanya.


Namun Lashon tetap meneruskan hubungannya terhadap Chala karena menurutnya Lian hanya menganggapnya sebagai saudara. Lashon juga takut dia sakit hati untuk ke dua kalinya jika malah tau Lian yang sebenarnya menyukai Farel.


Pokoknya kalau salah satu dari mereka saling suka, Lashon pasti akan canggung dengan mereka berdua. Dan dia tak mau itu, jadi dia lebih baik belajar mencintai Chala.


YAHHH PENONTON KECEWA BUNG! Hayoo siapa yang mikir Lian bakalan pacaran sama Lashon atau Farel??? Hihi.


.


.


.


Balik ke cerita ya!


Saat ini tahun ajaran baru, dimana Lian dan gengnya ada di kelas XI. Kelas Lian turun 1 lantai, dengan posisi berkebalikan. Ya, jika kemarin dari tangga/lift/eskalator dia akan berjalan ke arah kiri maka tahun ini dia akan berjalan ke arah kanan.


Ingat kan sekolah ini sangat teratur? Menghindari kebosanan pemandangan, tiap tahun mereka akan mengganti ruang secara rolling. Bentuk sekolah leter U agak mengerucut seperti V tapi ujung bagian lengkungannya itu adalah tempat tangga(mengalir eskalator dan lift)-eskalator-lift, kanan kirinya adalah ruang kelas.


Dulu kelas Lian berada di sayap kiri lantai ke 3 ruang ke 2 ujung. Tahun ini kelas Lian ada di sayap kanan lantai ke 2 ruang ke 2 dari sayap tengah. Sayap kiri digunakan untuk kelas Bahasa dan tengah untuk kelas IPA.


.


Tet..


Tet..


Tet..


Suara bel masuk berbunyi, semua siswa bergegas menuju lapangan outdoor untuk upacara bendera. Ya, hari ini hari senin di semester awal kelas XI Lian dan semua anak SMA Internasional Airlangga setelah 1 bulan Lian liburan akhir semester.


Hari ini hari perdana sekolah, upacara tetap diadakan karena saat hari terakhir MOS semua siswa sudah diarahkan ke kelasnya masing-masing untuk saling memperkenalkan diri dan membuat struktur kelas. Sehingga tidak perlu lagi meniadakan upacara untuk hari perdana.


Semua anak-anak yang berada di kelas maupun yang sedang mau masuk kelas, segera bergegas menuju tengah lapangan outdoor. Para anggota OSIS juga telah bersiap membantu merapikan barisan tiap kelas dan memandu upacara bendera.


"Ini si Lian mana sih, lama banget", ucap Anya kepada Naya dan Rosa.


"Udah ayo duluan aja, ntar dia juga nyusul ke lapangan", ucap Naya.


"Ihh, masak ditinggalin sih. Kasian kali Liannya, mana gue udah kangen parah lagi sama dia. Dia sih sebulan penuh mudiknya, sampe ngga liburan bareng sama kita-kita", ucap Rosa.


Ya memang saat liburan kemarin, Lian pulang ke rumah Nenek dari mamanya di Australia sekaligus mengisi rumah neneknya yang telah lama kosong selain hanya diisi oleh asisten rumah tangga almarhum Kakek Neneknya.


"Udahlah, ntar juga ketemu", timpal Naya lagi.


"Yaudah-yaudah ayok deh duluan", ucap Anya.


"Kalian mahhh.......e-eh tungguinnn! Sialan,", jawab Rosa lalu berlari mengejar Naya dan Anya yang sudah berlalu dari hadapannya.


Kalau kalian tanya geng Dennis, mereka sudah keluar lebih dulu karena hendak sarapan di kantin.


Sementara itu di tempat lain...


Dug..


Dug..


Dug..


Lian berlari dari lobby melewati selasar perpustakaan menuju lift agar lebih cepat sampai ke lantai 2. Lian memang agak telat karena dia terlalu lama berpamitan dengan Zain yang akan kembali ke Jakarta, namun Lian masih bisa lolos sebelum gerbang sekolah ditutup. Yaa, mungkin hokinya pagi itu atau malah awal dari bencana besar setelahnya.


Lian terburu-buru berlari dan berbelok ke arah tempat lift berada. Sebelumnya, dia sempat melihat ke arah lapangan outdoor ternyata telah dipenuhi siswa-siswa yang berbaris.


"Mampus gue, telattt", batinnya saat berlari.


.


.


.


Jdug!!!


.


.


Brukkk!!!


.


"Aduhhhhhh, pantat akuu ahh sakit banget tanganku", rintih Lian yang jatuh terduduk karna menabrak seseorang.


"Kamu gapapa? Sini kakak bantu, mananya yang sakit? Maaf ya, kakak ngga sengaja"


"Tangan sama pantat aku sakit banget tauk ah jidatt gguee, haduhhh", ringis Lian yang sedang kesakitan tanpa menengok orang yang ditabraknya. Dia masih sibuk merintih kesakitan mengusap dahinya yang terantuk bidang keras entah apa.


"Kamu gapapakan? Bisa berdiri? Sini kakak bantu", mengayunkan tangannya untuk membantu berdiri.


"EH..HAH? EH ng-nggak nggak usah kak, yang sakit pantat aku kok. Eh maaf nggak sakit pantat-EH maksudku, tanganku doang yang sakit pantatnya nggak jadi sakit kalau kakak mau bantu. Soalnya, masak iya kakak mau bantu sembuhin pantat aku. Mesum ih, tanganku aja nih yang sakit! Em, kegores kayaknya. Tapi masak iya kakak mau pegang tanganku buat bantu berdiri, udahhh aku berdiri sendiri aja!", ucap Lian sambil berusaha berdiri dengan memegang tembok.


Yang ditabrak Lian malah tertawa mendengar jawaban Lian.


"Ih, kakak kok malah ketawa sih! Aku kan lagi kesakitan", kata Lian setelah berdiri tegap.


"Haha maaf maaf. Kalau ngga bisa ikut upacara, kakak izinin aja dek. Kakak ketawa karna kamu luc-", kata-kata pria itu terpotong oleh Lian.


"Njir astagfirullah eh iya upacara! Udah awas kak Linch aku mau naik. Duluan ya kak!", pamit Lian lalu berjalan melewati Linch. Sebelum benar-bentar menjauh dia sempat menengok ke arah Linch terlebih dahulu.


"Eh maaf ya kak-maaf nggak sopan, aku buru-buru nih. Udah ya kak! Daa", ucap Lian cepat lalu berjalan cepat ke arah lift yang terbuka karena ada orang yang kebetulan keluar dari lift.


Yang ditabrak Lian hanya bisa menawan tawanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Unik"


Yaa, yang ditabraknya adalah dada Linch. Linch memang memiliki perawakan tinggi tegap, bahkan Lian saja yang termasuk kejajaran blasteran tinggi semampai masih berada sebatas dada Linch. Tinggi Linch memang setinggi Farel, walaupun Farel lebih tinggi dari Linch.


Ting!


"Huh, harus cepet nih" sambil berlari berbelok menuju kelas.


Saat berbelok ke kanan..


.


.


.


.


Brug!


.


.


Bruk!


.


.


.


"Adu-uhhh apaan lagi sihhhhh sialan", geram Lian yang kembali jatuh terduduk.


"Aw, ya ampun", jatuh terduduk dan bergumam.


"Stttt aw sakit banget tangan gue..ah berdarah, Njir nambah luka tangan gue", gumam Lian.


"Eh.. Lo gapapa, bisa berdiri?", membantu Lian berdiri.


"Sorry ya gue tadi buru-buru buat turun makannya lari. Gue ngga tau kalok ada lo ditikungan, gue ngga denger ada suara orang lari", jelasnya.


"Udah deh, ntar aja. Awas, aku mau ke kelas. Maaf juga ya, dah bye", kata Lian.


"Yaudah gue duluan, sekali lagi maaf", teriaknya dibalas acungan jempol oleh Lian karena dia sudah berjalan cepat menjauhi orang yang ia tabrak. Sedangkan yang Lian tabrak lalu menaiki lift yang masih terhenti di lantai itu.


Sesampainya Lian di kelas, Lian langsung meletakkan tasnya dan mengeluarkan atribut upacara kemudian langsung pergi keluar kelas dan memasuki lift. Lian berjalan cepat sambil agak pincang karna pantatnya yang sakit akibat 2 kali terjatuh dengan posisi terduduk. Lian juga merasakan telapak tangan dan tulang bawah sikunya terluka akibat bergesekan dengan tepi dinding yang tidak halus.