
Sebenarnya aku malas juga mengantar dia pulang, membuang waktu istirahatku dan waktu berlatihku di markas. Tapi kurasa tak masalah, toh dengan kedekatanku dengan Lian akan menguntungkanku untuk bisa menjalin hubungan baik dengan mafia Farel. Setelah percakapan kita beberapa waktu lalu, kemudian kita berdua saling diam sampai pada akhirnya Lian memulai mengajakku berbicara lagi.
"Em, Zar.. Farel bilang apa aja sama kamu?", tanyanya sambil agak meringis.
"Nggak ada, cuman nitipin lo karna dia ada misi di Rusia trus minta gue pake mobil kalok sama lo. Udah gitu doang", kataku.
"Dia nggak bilang pulang kapan atau misi tingkat apa? Soalnya kalok dia balik ke Rusia pasti misinya B 2-1 trus sama A 4-0. Nggak mungkin kalok misi di bawah itu, toh masih banyak anggota lain. Em, ada ketuanya juga sama jendral. Sebenernya dibanding aku mikirin masalahku sama Farel, aku khawatirin keadaan Farel. Aku hubungin dia lewat interkomnya langsung tapi nggak ada balesan apapun. Aku takut dia kenapa-kenapa"
"Dia ga bakalan kenapa-kenapa, seperti yang lo bilang dia punya banyak anggota yang jagain dia. Juga, jangan keseringan hubungin dia. Lo cuman bakalan ganggu dia, apalagi waktu dia lagi kelahi. Btw Li. Sebenernya lo punya masalah apa sama Farel sampe dia nggak ngabarin lo?", tanyaku.
"Itu karna aku.. Huh. Farel marah karna aku kemaren nggak ngasih kabar ke dia pulang bareng Sean. Trus aku juga bilang semisal aku nggak chat dia berarti aku udah pulang entah sama Sean, yang lainnya, atau supirku jadi dia nggak perlu khawatirin aku lagi. Toh dia bisa cek aku pulang sama siapa karena dia udah retas CCTV atau lacak aku dimana pake pelacaknya dia. Maksudku cuman biar Farel ngga terlalu terbebani sama aku, aku juga kadang bakalan lupa buat hubungin dia aku nggak mau munafik kalau bisa aja aku lupa diri", jelasnya.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku setelah mendengar penjelasan Lian.
"Menurut gue wajar Farel sampe marah sama lo. Kalian sahabatan dari SMP berarti sekitar 4 tahun kalian kenal dan baru kemaren lo seakan nolak dia seakan lo capek buat selalu izin sama dia, seakan lo merasa terbebani karena harus hubungin dia. Baru juga lo deket sama Sean. Tapi serasanya lo jadi lupa sama sahabat lo, yang gue rasa antara Sean yang pengaruhin lo atau lo ikutin tingkahnya dia sampe lo terlena sama kebersamaan kalian"
"Tapi aku nggak ada maksud buat gitu, aku cuman nggak mau dia khawatir waktu aku lupa izin sama dia. Itu makannya aku bilang nggak perlu cari aku", jelas Lian lagi.
"Huh, serah lo deh. Yang jelas, lo cepetan minta maaf ke dia kalau perlu ngomong empat mata sama dia biar nggak keganggu sama yang lain. Gue tau sih maksud lo Li, cuman tetep menurut gue lo salah karena bagi Farel lo itu sama aja dia. Maksud gue, saat ini..ntah anggapan Farel ke lo kayak gimana. Tapi menurut gue, Farel liat lo sepenting nyawa Farel sendiri. Apalagi dia mafia. Musuhnya banyak, dia pasti takut kedekatan lo sama Farel sampe kecium ke mafia lain dan nguntungin mereka buat ngalahin Farel turunin kedudukkannya", jawabku.
"Hihi", kudengar dia malah terkikik membuatku melihat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Ternyata lo bisa ngomong panjang juga ya, aku baru sadar. Padahal kita ngobrol udah dari tadi. Pantes Farel langsung setuju waktu kamu nawarin diri jagain aku pas pertama kita kenalan", kata Lian lalu tersenyum cantik ke arahku.
"Cantik", batinku.
...
"Ehem, udah nyampe", ucapku menetralkan suasana.
"Iya, makasih ya Zar"
"Hm, besok gue jemput", kataku.
"Eh, nggak usah. Aku bisa sama supir kok", jawabnya.
"Sama gue aja, kalok Sean nawarin lo tolak dulu aja sampe Farel pulang. Gue mau jalanin amanah dari Farel soalnya", kataku.
"Huh.. iya deh, kalok gitu jemput gue pake motor aja ya..kecuali kalok paginya mendung atau hujan dan JANGAN TELAT! Jam 7 harus udah jemput!", kata Lian.
"Iya bawel.. udah sana turun, kalok ada apa-apa telfon gue", kataku dianggukinnya lalu turun dari mobil.
.
.
.
AUTHOR POV
Lian memasuki rumahnya lalu langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Karena hari ini adalah hari Jumat, dia menyempatkan diri untuk berendam.
Ingatkan? Di hari Jumat sekolah Lian dibubarkan pukul 4 sore, dari rumah ke sekolah memakan waktu 30 menit dengan mobil. Jika macet yaahhh bisa sampai 45 menit apalagi hari senin, dan 20-15 menit dengan motor.
Lian lalu berendam di bath up sambil memejamkan mata memikirkan perkataan Nizar di mobil. Dia semakin tak nyaman jika memang Farel kecewa dengan permintaannya semalam.
Setelah menghabiskan waktu 1 jam untuk berendam Lian kemudian menunaikan ibadah sholat Asharnya lalu duduk di depan meja riasnya menggunakan skincare yang dia miliki. Selesai dengan kegiatannya merawat diri, Lian mengambil hpnya di nakas samping tempat tidurnya kemudian berbaring.
Dia menghubungi Farel lewat aplikasi "S" tanpa memberikan notifikasi darurat karena Lian takut itu akan membuat Farel terganggu. Lian menghubungi Farel untuk minta maaf mengakui kesalahannya, menanyakan kabar, dan meminta untuk segera menghubungi Lian saat memiliki waktu luang.
Jam menunjukkan pukul 6, Lian bersiap menunaikan ibadah sholat Maghrib. Setelah dia selesai beribadah Lian langsung turun ke bawah membantu menyiapkan makan malam. Kemudian Lian ikut makan bersama keluarganya dan para pekerja di keluarganya.
Meja makan milik keluarga Lian memang sangat sangat besar dan panjang muat untuk menampung 32 orang, memang sengaja diperuntukkan untuk keluarga besar Lian jika berkunjung. Apabila tak ada keluarganya berkunjung, pekerja di rumah Lianlah yang menduduki kursi-kursi kosong di meja makan Lian. Keluarga para pekerja di rumah Lian juga ikut makan disana, karena memang masakan di rumah mereka juga diambil dari sebagian masakan rumah Lian.
Keesokan harinya tepat pukul 6, Lian sudah siap untuk berangkat ke sekolah dan bergegas turun ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan. Jam 6.45 semua keluarga Lian sudah turun ke bawah untuk sarapan.
Tak berselang lama saat Lian mengambil Sandwich yang tadi dia buat, satpam rumahnya masuk ke meja makan.
"Selamat pagi tuan, nyonya, non.. maaf menganggu, di depan teman non Lian sudah menjemput", ucap satpam rumah Lian Pak Ngadi namanya, suami Embak Asmi.
"Oh, iya Pak makasih. Lian ke depan dulu ya, minta temen Lian buat nunggu", kata Lian diangguki ayahnya.
Ibunya yang melihat Lian keluar ruang makan lalu meletakkan mangkuk salad yang baru selesai dia buat ke meja makan.
"Lian mau kemana?", tanya Tisha (mama Lian).
"Ada temen Lian mah, jemput", kata Aile (Kakak Lian).
"Farel atau Lashon? Kok tumben nggak masuk, padahal masih jam segini. Apa temen Lian yang lain? Tapikan yang tau rumah ini hanya sahabat sekelas Lian", tanya Tisha lagi yang dibalas gelengan oleh Lud (papa Lian) dan kakak Lian.
"Yaudah mamah ke depan dulu ya, kalian lanjut makan", kata Tisha lalu berlalu mengikuti Lian.