
.
***Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.
Mohon dukungannya mentemen
❤️❤️❤️***
.
.
.
Di kantin
Lashon, Farel, Gab, Dane, dan Ben mabar bersama menghilangkan kejenuhan. Lashon dan Farel sudah berbaikan walaupun masih agak canggung. Apalagi Lashon yang masih tak enak hati dengan Farel karna telah mengingkari janjinya. Mereka berlima bermain hingga Nizar, Raid, Gahar, Tio, Dennis dan ketiga wanita sahabat Lian datang.
"Loh, Lian mana?", tanya Lashon yang melihat mereka datang tanpa Lain.
Farel yang awalnya fokus bermain game lalu mendongak melihat mereka yang berjalan ke arah kursi masing-masing.
"Lian minta kita buat duluan, dia mau touch up di kamar mandi", jawab Anya diangguki mereka.
"Ck! Pake touch up, ngga perlu touch up juga udah cantik", celetuk Gab lirih tapi masih di dengar yang lainnya.
"Yeee, lo mah bilang cantik waktu ngga ada orangnya. Nggak gentle lo!", kata Rosa.
"Apaan sih ikut-ikut, dasar cempreng!", jawab Gab.
"Eh enak aja lo! Gue cempreng tapi tetep cantik natural nggak kayak geng Chili!", jawabnya dengan menekankan geng Chili.
"Iya bener, Bebeb gue mah cantik walau cempreng!", jawab Tyo keceplosan membuat Rosa langsung memukul lengan Tyo lalu melotot ke arahnya.
"Wow wow wow apaan neh!!!", teriak Dennis heboh.
"Anjyang anjyang anjyang gue baru tau gila!", ucap Ben tak mau kalah.
"OMG KALIAN JADIAN TAPI NGGA NGASIH TAU KITA-KITA! OMG!", pekik Anya shock kegirangan.
"Udah lama kalik", kata Naya menimpali. (Naya tipikal pendiam, cuek, bodoamat, tapi care dan peka)
"Lo udah tau Nay? Gue aja sohibnya ngga tau cok!", Ben menimpali.
"Iya. Bukannya Raid sama Anya juga"
Blushhhh
Seketika muka Raid dan Anya memerah.
"APA!", kali ini mereka semua serempak terkejut, kecuali Nizar dan Farel tentunya. Mereka sudah tau juga.
"Ada apaan sih? Ribut banget. Ketinggalan nih", kata Lian yang baru saja datang dan duduk di kursi paling ujung di dekat Nizar. Yang sisa cuman di situ boskuh. Posisi duduk dua meja digabung jadi satu.
Lashon - Dane
Gab - Ben
Farel - Raid
Tyo - Anya
Rosa - Naya
Gahar - Nizar
Dennis - Lian (ujung karna baru dateng)
Melihat Lian sudah datang, Nizar lalu berdiri mengambilkan minum dan makanan untuk Lian yang berada di tengah meja. Nizar meletakkan makanan dan minuman di hadapan Lian. Setelahnya Nizar kembali duduk dan memainkan hpnya tanpa memperdulikan ucapan Lian.
"Makasih", kata Lian lembut. Sejenak perbincangan mereka menjadi hening akibat perbuatan Nizar yang dirasa cukup tak normal. Bagaimana tidak? Nizar yang dingin memperlakukan Lian dengan baik tanpa meminta bantuan orang lain yang jelas-jelas lebih dekat dengan makanan itu.
"Eh.. kok malah diem, pada ngomongin aku nih pasti. Ketahuannn", kata Lian memecah keheningan.
"Dih, PD banget lo! Kita mah baru bahas Rosa sama Tyo yang baru jadian!", kata Ben heboh.
"Hah! Yang bener lo! Ihhh aku ikut happy, selamat yaaa", kata Lian sambil bertepuk tangan layaknya anak kecil.
"Jangan seneng dulu Li, ada yang lebih heboh", kata Dennis yang diangguki Ben.
"Si Anya sama si Raid juga jadian! Dan itu juga udah lama!", kata Dennis lebih heboh.
"Ohh.. kalok itu sih aku udah tau. Mereka jadian nggak lama setelah Baya sama Dane jadian kan?", ucap Lian membuat yang lain terkejut.
"APAAAA!", lebih terkejut dari yang sebelumnya bahkan kali ini Nizar dan Farel ikut terkejut. Mereka lalu menyoroti Dane dan Naya bergantian.
"Apaan sih, basi banget. Udah lama kalik", kata Dane.
"Hah? Sejak kapan?", tanya Gahar yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Ihh..kalian mah ngga peka. Aku aja peka ih. Udah lamaaa, sebelum Farel pergi. Tapi aku bener-bener yakin waktu Dane ngajak pulang bareng Naya waktu itu. Trus Nayanya nggak nolak, padahal Dane panggil Naya 'Bebeb'", (cek episode Tanpa Farel 1) jelas Lian membuat Naya menunduk malu karna baru kali ini dia merasa salah tingkah panas dingin seperti habis terpergok mesum.
"APAAA!", lagi-lagi mereka terkejut.
"Ck! Berisik. Udah lama juga kalok gue sama Naya jadian, udahlah nggak usah dibahas lagi. Nggak liat apa pacar gue malu", kata Dane disamping Naya membuat yang lainnya melihat ke arah Naya yang baru kali ini terlihat salah tingkah lalu memukul Dane.
"Sialan!", umpat Naya saat memukul lengan Dane membuat yang lainnya tertawa sedangkan Dane mencebikkan bibirnya. (Manyun).
"Pppfftthhh...hahaha", mereka semua tertawa.
"Ck! Jigur, udahlah gantian. Sekarang godain Farel aja cok!", kata Dane.
"Lah kenapa? Farel mah diem. Asikan godain lo!", kata Dennis di ujung.
"Emang lo pada ngga liat? Nggak penasaran tuh bekas ****** di leher Farel?!", kata Dane tersenyum lalu meringis ke arah Farel menampakan gigi putihnya lalu menaik-turunkan kedua alisnya.
*deg (Lian)
"Shit!", umpat Farel reflek.
"Sat! Iya bener cok!", kata Ben heboh.
"Iya anjyang mana 2 lagi!", kata Tyo yang berada di sebelah kanan Farel jadi bisa melihat dengan jelas.
"Mana mana?!!! Gue ngga liat woi! Sialan temen gue udah gede", kata Lashon mengompori.
Sebenarnya dia sudah biasa melihat ****** di leher Farel sejak mereka SMP tapi dia juga kepo dengan siapa Farel kali ini padahal dia jomblo.
"Nggak nyangka gue! Ganas juga cewek lo rel! Ampe 2 gilakkk", goda Raid ikut menimpali.
*blushhh
(Lian reflek blushing karna dibilang ganas lalu membuang muka ke arah samping)
"Jancok! Ngerti ae koe kon. Eruh ae awakmu! Udahlah ngga penting, kayak lo nggak pernah aja", kata Farel ('Mengumpat!' Tau aja lo. Ternyata kamu melihat!")
"Mana awas gue nggak bisa liat", kata Rosa ingin melihat tapi terhalang tubuh besar Tyo.
"Ck! Anak kecil nggak boleh liat!", kata Tyo menutup mata Rosa.
"Ihh..apaan sih, gue udah gedeee gue mau liat", kata Rosa berusaha melepaskan tangan Tyo yang menutup kedua matanya.
"Njyang! Rel, bagi Tips elah!", kata Gahar.
"Iya Rel, coba mana liat. Sial! Gue ngga punya cewek lagi", kata Gab.
"Makannya cari yang pasti", kata Naya menimpali.
Jlebbb
"Tau aja lo!", jawab Gab membuat Naya terkekeh.
"Lo aja yang terlalu kentara", kata Nizar lalu menoleh ke arah Lian yang diam saja.
"Oh, ternyata itu Lian", batin Nizar.
Kenapa Nizar berfikir begitu? Karna Lian tipikal orang yang ceria, bar-bar, dan heboh jika dengan sahabatnya. Melihat Farel yang seperti saudara untuknya, seharusnya dia lebih heboh dari yang lain. Atau paling tidak speechless. Jika memang itu hal yang terlalu biasa untuk Farel, pasti dia setidaknya tetap akan berceletuk seperti "kali ini siapa Rel?" atau yang lainnya. Kan?
"Udah cepetan makan, keburu bel", kata Farel.
"Huuuu, ngalihin topik huuu", sorak Dane membuat yang lainnya ikut bersorak.
"Hoo Djancok!", umpat Farel kepada Dane sambil melempar tisu bekas.
Yang lainnya hanya bisa tertawa melihat tingkah Dane dan Farel. Lian? Dia hanya ikut-ikutan tertawa sambil memainkan rambutnya agar bisa menutupi cupangannya dan menutupi kegugupannya.
Lian hanya bisa bersyukur karna ternyata sahabatnya merupakan orang-orang yang open minded dan tak banyak mau mencampuri urusan orang lain. Mereka pun tak menjudge macam-macam terhadap Farel, malah menggodanya. Lian merasa tenang dan senang karna tak salah memilih teman. Setidaknya masa SMAnya tak akan sesuram masa SMP kemarin.