
.
.
.
.
.
Rosa hanya berdiri menganga melihat tingkah sahabat-sahabatnya. Sedangkan aku, Naya, Nizar, dan Dane hanya terkekeh sambil berjalan ke arah parkiran meninggalkan Rosa yang terpaku.
"Kurang ajar ya lo pada! Bisa-bisanya pacaran di belakang gue!", teriak Rosa berlari ke arahku berjalan setelah sadar.
Kita semua hanya bisa tertawa menertawakan Rosa yang bisa dikibuli. Yah... Setidaknya candaan mereka bisa membuatku sedikit lupa dengan Farel. Aku dan Nizar langsung pulang ke rumah setelah berpisah dengan geng kita.
Sesampainya di rumah, aku mengajak Nizar masuk lalu menyuruhnya menunggu di ruang tamu sedangkan aku naik ke kamarku untuk ganti baju.
.
.
.
"Eh Nizar, Quena mana?", tanya Aile lalu duduk di sofa yang menghadap Nizar.
"Ke atas kak, ganti baju.. kita baru aja sampek rumah", jawab Nizar.
"Nggak usah kikuk gitu dong, mulai dibiasain coba. Santai aja, kayak saudara sendiri", kata Aile.
"Iya kak, mamah kemana?", tanya Nizar.
"Mamah mah masih kerja, muterin butik sama restonya biasanya", jawab Aile lalu di angguki Nizar.
"Eh nama panjang kamu siapa? Punya saudara berapa?", tanya Aile lagi.
" Luzman Qadr Nizarhyatt anak tunggal, kenapa emang kak?
"Emmmm", kak Aile mulai berfikir.
"Man atau Hyatt yaa", kata Aile sambil menepuk dagunya menggunakan telunjuk. (Man dibaca Men kayak bahasa Inggris ya)
"Kenapa kak?", tanyaku dari tangga melihat kak Aile.
"Mending Man atau Hyatt?"
"Hahaha, Hyatt aja kak! Aku lebih suka, kalok lagi manggil sambil teriak kan lucu tuh", kataku lalu terkekeh.
"Yaudah Hyatt aja ya", kata Aile menatap Nizar.
"Maksudnya kak? Nizar nggak paham", kata Nizar dengan wajah polos membuat Aile beranjak duduk didekat Nizar lalu mencubit kedua pipi Nizar gemas.
"Ihhh gemesh! Kamu kita panggil Hyatt aja ya, hitung-hitung panggilan sayang dari kita kayak Lofa sama Cair. Ya mau yaa"
Kulihat Nizar hanya mengerjap-ngerjapkan matanya membuatku tertawa.
"Hyatt, aku panggil Hyatt ya. Keluargaku panggil Nizar Hyatt, Lofa sama Cair juga. Boleh?", tanyaku.
Nizar hanya mengangguk-anggukkan kepala kaku.
"Udah yuk ke atas, kita lihat kamar Cair habis itu kamu pilih kamar", kataku menarik tangan Nizar lalu berjalan ke atas.
.
.
Di depan kamar Lashon
"Nah, ini kamar Cair. Yuk masuk", kataku sambil membuka pintu.
"Oh, gitu. Yaudah, serah lo aja. Yang jelas temanya dark dan klasik gitu", jawab Nizar.
"Ih, ya mana aku tau. Yang jelas dong Hyatt", kataku.
"Hmm, mending lo jelasin keluarga lo deh. Dan maksud semua ini. Gue g tertarik juga sama tema interior kamar gue", katanya.
"Huh, lo mirip kayak Lofa dulu.. aku bakalan tunggu lo nyaman sama keluarga gue. Dan aku pastiin, lo suatu saat bakalan beneran sayang sama keluargaku", kataku.
"Iya iya.. trus intinya?", tanya Nizar.
"Kamu pasti heran karna ngga bisa akses data keluarga ini dengan mudah. Ditambah dataku yang sama sekali ngga bisa diretas, itu karna bantuan Farel. Orang tuaku masuk ke jajaran 50 orang berpengaruh di dunia, makannya sering banget pergi waktu ada guncangan ekonomi. Selain emang orang-orang papa yang bungkam media, Farel juga ikut nambahin. Emm, terus orang lain ngga tau kalau keluargaku itu punya 3 anak yaitu ditambah aku. Media cuman tau Bang Zain sama Aile. Aku cuman ngga suka kesorot media dan ngga mau punya fake friends. Udah sih intinya gitu", jelasku.
"Trus waktu lo berantem, Cair pernah bilang masalah lo waktu SMP. Kalau itu..", pertanyaan Nizar terpotong jawabanku.
"Dulu aku punya sahabat 3 orang, 1 orang anak yatim piatu gitu tinggal di panti. Waktu kita udah sohib banget, 2 orang ini kayak manfaatin aku gitu. Akhirnya aku mulai ngejauh sama 2 orang ini. Lalu cuman deket sama si anak panti. Suatu hari aku ngga masuk sekolah karna nenek kakek dari mama meninggal seingatku, ah bukannn.. karna nenek dari ayah sakit sampai koma, akhirnya aku sekeluarga pergi ke Spanyol. Waktu aku pulang ke rumah, Lofa sama Cair cerita kalau sahabatku dibully sama mantan sahabatku beserta gengnya. Sahabatku sempet koma, tapi waktu aku jenguk dia..dia udah baik-baik aja. Setelah aku pastiin dia oke, aku langsung ke sekolah dan bales sahabatku sendiri. Nggak tau gimana, cuma aku ngga sadar kalok udah buat mereka bertiga atau empat luka-luka sampai koma juga"
"Dan Lofa sama Cair?", tanya Nizar.
"Mereka takut sama ancamanku waktu mereka mau misahin aku, tapi waktu Lofa tau mereka udah ngga sanggup bahkan ngga sadarkan diri. Dia langsung meluk sama pukul tengkuk gue, sebelum itu selesai juga Cair udah telfon ambulance dari rumah sakitnya. Pokoknya aku habis itu ngga ngurusin apapun masalah udah selesai, aku cuman ngasih kompensasi bayarin pengobatan mereka. Bahkan aku ngga minta maaf sama mereka karna sahabatku yang mereka bully tiba-tiba pindah tanpa sepengetahuanku. Trus aku ngga percaya siapapun kecuali Lofa sama Cair setelahnya. Gitu", jawabku.
"Oh, kalau gitu jangan salahin gue kalok nglakuin hal yang sama ke lo waktu lo ngga terkendali", kata Nizar lalu menoleh ke arahku.
Akupun menoleh ke arahnya dan mengangguk, tak lupa tersenyum.
"Jangan khianatin gue, jangan berubah, dan jangan maksain kalok lo ngga mau, apalagi manfaatin gue. Karna gue bakalan bales lo, kayak apa yang lo lakuin ke gue. Huh, anggap aja gue adek lo sendiri. Lo nggak punya saudara kan? Itung-itung lo jaga adek lo dari jahatnya dunia luar. Kalau suatu hal baik datang di masa depan, itu cuman bonus karna lo udah jaga gue", jelasku lagi lalu sambil tersenyum.
Kulihat Nizar terpaku, bukan terpaku karna aku cantik. Tapi sepertinya dia mencerna kata-kataku. Dia hanya diam di sebelahku sambil menatap manik mataku dalam. Akupun memutus kontakku dengannya lalu beranjak berdiri.
"Yuk ke Bath Room sama Walk in Closet", kataku berjalan ke arah kamar mandi.
"Eh cukup kamar mandi aja, gue nggak suka banyak ruang. Buat aja walk in closet-nya gabung sama kamar mandi, cuman disekat aja", jawabnya membuntutiku dan kujawab anggukan saat menoleh ke arahnya.
.
"Oiya Zar, usahain jangan pake lo gue di rumah ini", kataku ditengah percakapan kita.
.
Malam harinya di ruang keluarga, keluargaku dan Nizar berkumpul. Mamahku sangat antusias mendengar kamar yang dipilih Nizar bersebelahan dengan kamarku dengan tema dark vintage sampai ke kamar mandinya.
"Kamu pasti nggak mau banyak ruang karna takut kan? Hahaha, ternyata anak mama satu ini penakut", ejek Aile.
"Nggak ya! Gue..a-aku cuman ngga suka ribet, terlalu banyak akses buat ke sana sini", sangkal Nizar dengan telinga memerah.
"Telinga Hyatt merah hahaha", tawaku.
Semua orang yang berada di meja makan setelah makan tertawa melihat telinga Nizar, bahkan ditambah muka Nizar yang ikut menggelap. Padahal kulit Nizar condong ke sawo matang, tapi semburat merah tetap terlihat di wajahnya.
Karena aku tak bisa pergi hari ini untuk menemani mamah membeli kebutuhan Nizar, jadi besok pagi kita akan pergi bersama-sama ke mall papa. Kebetulan Nizar juga akan pergi setelah makan malam, katanya dia ada janji dengan teman-temannya.
Setelah selesai berbincang ringan.. Nizar pamit pulang, aku lalu juga langsung naik ke kamarku bersiap-siap untuk pergi dengan Sean.
Setelah Sean memberi kabar telah sampai di depan rumah Embak Asmi, akupun langsung pergi setelah berpamitan dengan mamah di dapur. Kalau kalian bertanya dimana papa dan Kak Aile, mereka berdua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di kamar.
"Hey Se, yuk berangkat", kataku saat melihatnya bersandar di cup mobil.
Sean yang sedang menunduk memainkan hpnya lalu menoleh ke arahku dan tersenyum. Dia hanya mengangguk lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Romantis fikirku, sama seperti Farel.
Ah iya, Farel..dia masih belum menghubungiku.
.
.
.