At The Moment

At The Moment
17. Deg-Degan



LIAN POV


Aku mengerjapkan mataku akibat silau sinar matahari yang menembus gorden kamarku.


"Errgh, sudah pagi ternyata", batinku.


Aku meregangkan tubuhku lalu beranjak untuk duduk meminum air putih di atas nakas lalu pergi mandi. Selesai mandi aku beribadah, bersiap untuk sekolah lalu turun ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan.


"Pagi mah", ucapku melihat mamah sedang memasak nasi goreng dan si embak (art rumahku) yang sedang menggoreng telur. Aku lalu mencium pipi kanannya.


"Pagi sayang, Lofa udah bangun?", tanya mamah.


"Hah?! Adek lupa Lofa tidur sini, bentar ya mah!", ucapku lalu berlari ke atas.


Sesampainya di atas aku langsung membuka pintu kamar Lofa. Dia masih bergelung nyaman tengkurap di bawah selimutnya. Desain kamar yang gelap membuat sinar matahari sulit masuk membangunkannya.


"Lof, ayok bangun. Sekolah Lofaa", ucapku duduk di sampingnya sambil menggoyangkan badannya.


Kulihat Lofa membalikkan badannya telentang lalu menyibak selimutnya. Wow dan dia TOPLESS, sudah biasa memang aku melihatnya tapi tetap saja itu membuatku gugup dan jelalatan ingin menatap body six pack yang dia miliki. Kurasakan pipiku memanas dan bulu kudukku meremang saat dia bersuara.


"Emmh, jam berapa sih Tis?", tanyanya dengan suara berat, serak, dan sexy tercampur menjadi satu. Khas orang bangun tidur, oh Tuhannn.


"E-em Ma-Masih jam 5 sih, tapi kan kamu masih harus siap-siap Lof.. aku juga nggak mau telat ah kalok bareng sama kamu", kataku sambil menguasai kegugupanku sambil membuang muka ke arah nakas samping ranjang.


"Iyaa, bentar 5 menit lalu aku mandi bawel", ucapnya kembali menutup mata lalu beralih membenamkan mukannya di perutku sambil memelukku.


"Ihhh, geli Lofaa. Ja-jangan gini ah", kataku. "Udah ah, sana mandi. Mamah udah nyiapin makanan tuh di bawah. Aku turun yaa", ucapku lalu memindahkan kepalanya kembali ke atas bantal dan mencium pipinya cepat sebelum berlari menuju pintu untuk turun ke bawah. (fyi walaupun aku udah sering dicium atau nyium Lofa sama Cair tetep aja aku malu sendiri).


Saat aku hendak memegang gagang pintu,


"Tis.."


"Iya, kenapa?", ucapku sambil menengok ke arah Farel mengabaikan debar jantungku yang tak biasa.


"Tolong siapin bajuku ya, ambilin di pos satpam. Gue mandi dulu", katanya lalu ku jawab dengan anggukan dan turun ke bawah mengambil bajunya.


.


FAREL POV


Tidurku terusik ketika mendengar suara Lian disebelahku. Kurasakan dia akhirnya duduk di samping badanku lalu menggoyang-goyang badanku agar aku bangun. Sial,


"Ah, sial! Kenapa Lian harus menggoyang-goyang badanku sih. Dia nggak tau apa kalau aku juga pria dewasa normal yang saat pagi secara alami akan berdiri! Shit!", aku mengumpat kesal karena harus menahan gejolak di diriku.


Saat aku tak bisa menahan lagi, akupun membalikkan badan lalu menyibak selimut yang kugunakan. Aku hanya ingin membuat gundukan selimut dibagian bawah tubuhku. Kalian tau lah kenapa, ya agar Lian stop untuk menggoyang-goyang tubuhku dan agar selimut itu bisa menutupi gundukan lainnya.


"Emmh, jam berapa sih Tis?", tanyaku padanya sambil menekan gairahku.


"E-em Ma-Masih jam 5 sih, tapi kan kamu masih harus siap-siap Lof.. aku juga nggak mau telat ah kalok bareng sama kamu", jawab Lian. Aku memandangnya yang bersuara serak karena gugup namun bagiku malah terkesan sexy. Ah shit!


"Iyaa, bentar 5 menit lalu aku mandi bawel", kataku lalu tidur dipangkuannya dan membenamkan mukaku ke perutnya karena tergoda akan wangi Lian.


"Ah enak sekali wanginya, shit Lian seharusnya lo tanggung jawab. Argh!", umpatku dalam hati.


"Ihhh, geli Lofaa. Ja-jangan gini ah", kataku. "Udah ah, sana mandi. Mamah udah nyiapin makanan tuh di bawah. Aku turun yaa"


Setelah dia memindahkan kepalaku dia malah menciumku dan berlari ke pintu. Seandainya aku tak menganggap dia adikku sendiri mungkin aku sudah menghabisi dia. Aku yang merasa dia goda lalu memanggil dia yang akan membuka pintu,


"Tis.."


"Iya, kenapa?", aku melihat muka memerahnya. Ah menggemaskannn, apa dia tau apa yang kurasakan.


"Tolong siapin bajuku ya, ambilin di pos satpam. Gue mandi dulu", kataku sambil tersenyum menggodanya lalu dibalas anggukan olehnya. Setelah Lian pergi aku bergegas ke kamar mandi untuk memenuhi kebutuhanku juga mandi tentunya.


LIAN POV


Aku keluar dari kamar Farel tergesa-gesa. Sebelum menuju pos satpam untuk mengambil baju Farel, aku pergi ke kamarku untuk mengambil tasku dan sedikit berdandan. Selanjutnya, aku langsung turun ke pos satpam sambil menunggu baju Farel datang. Sekitar 10 menit berlalu akhirnya baju Farel datang. Akupun bergegas kembali ke kamar Farel untuk meletakkan bajunya di kasur.


Aku memasuki kamar Farel. Kulihat pintu kamar mandi masih tertutup, lama sekali Farel mandi fikirku. Akupun berjalan masuk dan menata bajunya di kasur hingga akhirnya aku mendengar suara pintu terbuka dari arah belakangku. Aku pun menoleh ke arah belakangku. Ya itu Farel, keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya.


Aku terpaku cukup lama memandangi Farel yang keluar dari kamar mandi. Sampai kurasa ada hembusan angin yang membuat glenyeran aneh di sekitar telinga dan leherku. Kudengar, ada sebuah bisikan di telingaku.


"Sampai kapan kamu mau berdiri dan menatapku mesum seperti itu?", bisikan Farel yang menunduk tepat di samping telingaku jelas ku dengar saat tersadar dari lamunanku. Aku pun secara reflek menoleh ke arah Farel.


.


.


Cup


.


.


What!


.


.


Mataku terbelalak disaat aku tersadar aku mencium Farel. Aku melihat Farel sama terkejutnya sepertiku, pandangannya melihat ke arah mataku.


"What! A-ku nyium Farel?! Sumpah! Gilaaa ini gila! Nggak ini nggak mungkin!", aku lalu memundurkan diriku mengerjapkan mata melihat ke arah mata dan bibir Farel secara bergantian.


Kita sama-sama terdiam, tenggelam difikiran kita masing-masing. Setelahnya akh tersadar lalu menetralkan debaran jantungku.


"Kita nggak ciuman kok Lof, itu cuman kena di sudut bibir! Iya-su sudut bi-bir!", kataku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tapi Farel tak bereaksi apa-apa, hanya memandangi dalam.


"A-ah Lof, jangan liat aku kayak gitu. Zina mata di agama kita Lof! Udah ah, aku ma-mau sarapan! Daa Lofaaa", ucapku lagi lalu berjalan cepat keluar.


Saat hendak menutup pintu, Farel berkata dengan cukup keras.


"GUE BERASA DI BIBIR! Bukan sudut Bibir! Lo nggak bisa bohongin gue Lian", katanya yang membuatku semakin malu dan memanas. Ah ada apa denganku Tuhan! Tanpa menjawab aku lalu bergegas turun untuk sarapan.


.


.


.


Di meja makan


.


"Pagi semua..", kata Farel berjalan ke arahku.


"Pagi Rel", ucap mamah, papa, dan kak Aile bersamaan.


"P-Pagi Lof" jawabku.


"Pagii", kata Farel mencium pipi kananku lalu duduk di sampingku. Membuat pipiku kembali memanas dan dengan segera aku menundukkan kepalaku.


"Lian, ambilkan Lofa sayang", kata papa mengalihkan degub jantungku. Segera aku mengangguk dan berdiri hendak mengambilkan Farel sarapannya.


"Mau makan apa? Bukan makanan berat kan ya", ucapku padanya.


"Iya, makan Sandwich aja sama Salad sayur, minumnya air putih", jawab Farel.


"Milk Farel, minum susu jangan air putih", kata mama. Akupun lalu mengambilkan Sandwich dan Salad untuk Farel dan menuangkan susu ke gelasnya.


"Yes Mom, tolong susu dan mineral water Tis", ucap Farel kujawab anggukan.


"Sudah? Selamat makan semua, jangan lupa berdoa", kata papa.


Kita semua makan dengan tenang, karena adat di rumahku tidak memperbolehkan makan sambil berbincang atau memainkan hp. Setelah sarapan, aku dan Farel ke sekolah dengan mobilku karena masih terlalu pagi, jadi tak perlu panik telat sampai ke sekolah.


Selama di mobil aku dan Farel hanya saling diam sambil mendengarkan musik yang Farel putar. Terkadang ku lihat dia menoleh ke arahku yang tak kurespon apapun.