
LASHON POV
Saat aku sedang makan makanan yang aku pesan, aku mendengar suara hp Farel berbunyi lalu dia mengumpat kecil. Aku tak merespon Farel, aku melanjutkan makanku karena aku tau Farel tak suka dicampuri urusannya dan kufikir itu bukan urusanku.
Setelah itu, kurang lebih 2 menit bunyi notifikasi hp Farel tadi.. Farel kembali mengumpat, kali ini lebih keras dan nadanya lebih dingin dari yang sebelumnya.
"Merde!" umpat Farel yang kudengar, akupun menoleh ke arahnya yang tepat di sampingku.
"Ada apa?", tanyaku pada Farel karna terlanjur kelo.
Kulihat Farel meletakkan hpnya kasar di tengah meja. Ternyata dia menunjukkan CCTV kantin, dimana Lian sedang dijambak oleh seorang perempuan.
"Shit!", umpatku lalu berdiri ingin beranjak menolong Lian.
"Tetap duduk Lashon, Lian mengatakan agar kita menghabiskan makanan kita baru dia memperbolehkan kita ke sana tanpa boleh ikut campur. Tapi kalau memang Lian sudah menjadi dia dulu, aku akan menghentikannya" ucap Farel lalu menarikku untuk duduk lagi.
"Maksudmu, Lian yang dulu apa? Dia pernah tak terkendali?" tanya Nizar pada Farel lalu dijawab anggukan.
"Memang dia pernah seperti apa?", tanya Gahar.
"Dia pernah hampir membunuh dengan tangan kosong, 1 kritis sampai koma 1 bulan dan 2 orang dikondisi parah saat di Middle School. Dia tidak terima temannya dibully sampai temannya harus pindah sekolah, saat itu Lian tak tau bahkan temannya tak memberi tau dia hanya karna dia merasa tidak pantas berteman dengan Lian yan-" ucapanku terpotong oleh Farel.
"Kau sudah menceritakan terlalu jauh Lashon" ucap Farel dengan suara rendah tak suka dan menatapku tajam.
"Shit! Hampir saja aku membongkar identitas Lian! Bodoh!", batinku.
"Apa? Kenapa?", tanya Ben merasa aneh Farel tiba-tiba berbicara formal. "Sebenarnya siapa Lian?", batin Ben bertanya-tanya.
"Tidak bisa, aku hanya bisa menceritakannya sampai disitu", ucap Lashon.
"Apa Lian semengerikan itu?", tanya Raid karena bingung kosa kata kedua sahabat itu berubah formal.
"Kurasa Lian tak sejahat itu, dia hanya tidak terima temannya dibully", ucap Tio.
"Yap, gue setuju tuh", kata Dane.
"Saat itu Lian memang murka, dia tak pandang bulu siapa yang berhadapan dengannya bahkan mungkin anak Hakim sekalipun akan tetap dia serang", kata Farel.
"Dan yaa yang dikatakan oleh Tio benar, dia bahkan akan mengorbankan dirinya untuk orang yang dia sayang", lanjutku.
"Keren!", ucap Gab. "Apa aku sudah dianggap orang yang dia sayang?"
"Mungkin. Orang terdekatnya biasanya adalah orang yang berharga untuknya. Menurutku dia telah menganggap kalian sahabatnya", ucapku karena kurasa Lian mau berbaur dan dekat dengan mereka.
"Tunggu, tunggu, jika Lian tak dipenjara atau dihukum berarti sebenarnya Lian bukan orang biasa?", tanya Dennis yang dari tadi hanya diam dan memikirkan itu.
"Semua sudah selesai makan kan? Ayo ke kantin, Lian sudah hampir emosi" ucap Farel dan mengeluarkan dompetnya mengambil 3 lembar uang seratus ribuan membayar makanan yang geng kami makan. Akupun langsung beranjak berlari untuk menuju kantin.
Sesampainya di kantin kulihat Lian sudah berdiri, dan menggunakan bahasa formal. Aku tau jika dia seperti itu tandanya Lian sedang mengendalikan emosinya antara sadar tak sadar. Aku hanya menunggu Farel yang memulai terlebih dahulu, karena aku tak yakin bisa menangani Lian ketika emosinya memuncak.
Saat Lian bergerak maju aku sudah merasakan aura lain dari Lian gerakannya seperti akan mencekik, Farel langsung berlari dari sampingku-menggendong Lian dibawanya ke parkiran dan menguncinya di mobil aku hanya bisa menyusulnya.
"Gue pergi dulu, lo tau kan harus apa? Percayain Lian sama gue. Jangan sampe lo keceplosan kayak tadi selama gue ngga ada", ucap Farel padaku kujawab anggukan.
Farel tersenyum lalu menepuk bahuku berlari memutari mobil dan pergi bersama Lian.
Kulihat mobil Farel sudah keluar dari sekolah, aku lalu mengusap kasar wajahku.
"Babe? Kamu okey?", tanya Chala di belakangku. Aku lalu berbalik dan memegang kedua lengannya dan mengangguk.
"Are you okey, Darl? Makasih udah bantu Lian, aku liat semuanya. Tapi jika ada kejadian seperti itu lagi, tolong jangan campuri Lian atau kamu akan terkena akibatnya. Kamu juga dengarkan kalau setelah ini Lian akan menghukumku? Jadi tolong lain kali jangan ikut campur walau niatmu baik, okeyyy", lalu kuusap pipinya.
Chala mengangguk.
"Apa Lian semenakutkan itu? Aku saja yang hanya digarap Lian sudah merasakan sakit seperti tamparan di wajahku, apalagi Aln. Aku melihat Lian menampar Aln sepertinya sangat keras dan sakit.. Babe, apa Lian akan dihukum?", tanya Chala padaku.
Sekelilingku ada sahabat Chala dan sahabat kelasku yang seperti menanti jawabanku.
"Lian tidak akan terkena hukuman apapun karna dia-" ucapanku terpotong.
"Ingat pesan Farel", ucap Nizar kujawab anggukan.
"Lian tidak akan terkena hukuman karna dia bukan yang memulai, CCTV yang dimiliki Farel akan menjadi bukti. Lian hanya tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, makannya dia melawan. Lian juga akan memberikan rekaman suara dihpnya sebagai bukti, dia tidak akan seceroboh aku sehingga bisa dengan gampang dihukum", jawabku lalu memeluknya.
"Ingat jangan bocorkan identitasnya, bahkan dengan sahabatmu", bisikku pada Chala yang tak bisa didengar yang lain karna aku sambil memeluknya.
Orang lain pasti mengira aku hanya memberi ketenangan untuk Chala dengan pelukan. Padahal, aku hanya memperingatkan Chala tentang bahaya yang bisa menimpanya. Setelah aku selesai membisikinya dan cukup memperoleh kenyamanan, aku lalu melepaskan pelukanku.
"Bro, gue harus selesaiin urusan Lian dulu. Kalian mau ikut cari si cabe itu atau balik ke kelas?" tanyaku.
"Aln sayang, bukan cabe", celetuk Chala.
"Dia Chili bagi kita sayang..", ucapku sambil mengusap ubunnya.
"Thanks, Darl kamu masuk kelas aja ya sama temen-temenmu, kita mau cari cabe tadi, kataku.
"Ayo!", ucapanku dibalas anggukan oleh Chala aku pun berlari ke arah kantin lalu membereskan urusan Lian dengan cabe itu.
.
AUTHOR POV
Pagi harinya, Lian berangkat diantar oleh Farel sedangkan peralatan sekolahnya dibawa oleh Lashon karena Lashon kemarin yang membawakannya pulang.
"Pagi", ucap Lian saat memasuki kelasnya.
"Pagi Li, lo gapapa kan?", tanya Anya kujawab anggukan lalu duduk dibelakangnya.
"Eh, ini Naya sama Rosa belum berangkat?", tanya Lian.
"Kayak ngga tau aja orang tersantui kayak mereka nyampe kelas habis bel bunyi", ucap Anya.
"Heh-heh, gosipin gue ya lo!", ucap Rosa berjalan dari arah pintu kelas.
"Eh ni bocah dateng, baru diomongin. Tumben lo dateng pagian", ucap Anya.
"NAH KAN BENER, KALIAN GOSIPIN GUE!", kesal Rosa.
"Heh diem dong kalian! Alay banget sih kayak gitu pakek teriak segala, di kelas ini ngga cuman kalian bertiga ya!", ucap Ara, Aranis Kirana Zanna.
Inget kan orang yang Lian rasa tidak akan cocok dengan Lian di kelas? Nah dia orangnya kalo kalian lupa.
"Alah, lo aja biasanya nyanyi-nyanyi teriak-teriak kegirangan juga kita diem kok. Ngga usah sirik deh lo!", balas Rosa.
"Gue nyanyi karna suara gue emang bagus ya, nggak kayak suara lo yang cempreng!", balas Ara.
"Udah deh, pagi-pagi nggak usah ribut", kata Lian ikut nimbrung.
"Nggak usah ikut-ikut deh lo, jijik gue sama lo. Kecentilan banget sama cowok-cowok, pantes Maya and the geng nggak suka sama lo. Sok kecantikan sih lo!", ucap Ara pada Lian.
"Lo apaan sih, ngga usah bawa-bawa orang lain deh. Perhatiin aja tuh mulut lo yang lebih berisik dari kita tiap hari! Nggak sadar diri banget. Heran", jawab Anya yang membuat Lian dan Rosa kaget. Savage batin mereka,
"Dasar geng centil! Ngaca woy, lo sama aja cabenya sama Lian", ucap Ara.
"Dari pada lo! Matre banget! Mana sana sini nemplok! Gue jadi bingung deh. Itu badan lo jenis badan orang atau badan cicak! Suka banget nempel-nempel", ucap Rosa.
"LO NGGAK US-", ucapan Ara terpotong oleh Tio yang datang dengan gengnya dan Naya berjalan ditengah mereka berempat.
"Ada apa neh!", ucap Tio keras melihat Rosa berdiri disamping mejanya dan Ara berdiri ditempat duduknya, sedangkan Lian dan Anya duduk mengarah ke Ara.
"Geng cabe dah komplit nih", celetuk Ara.
"Maksud lo apa?", tanya Naya lalu bersidekap dada.
"Kenapa? Bener kan gue, kalian kan geng cewek centil makannya geng Maya ngga suka sama kalian" jelas Ara yang ikut bersidekap dada melihat ke arah Naya.
"Udah deh, ngga usah berantem. Kamu juga nggak usah cari gara-gara, masih pagi udah ngajakin kita berantem", ucap Lian.
"Nggak usah sok manis deh lo, jijik gue-lo nyebut aku kamuan! Mentang-mentang ada para cowok lo!", kesal Ara karna dia berdebat dengan 4 orang sekaligus.
"LO!-", ucapan Rosa terpotong.
.
Tet!
.
Tet!
.
Tet!
.
"Masuk tuh, duduk semua. Udahan ributnya, kalok pada ribut lagi gue denda!", ucap Dennis selaku ketua kelas.
"Cih!", kesal Ara lalu duduk kembali.
Geng Dennis dan geng Lian pun duduk ditempat mereka masing-masing sambil berbincang juga menceritakan apa yang terjadi tadi. Pelajaran berlangsung seperti biasanya, tak ada yang berbeda dari kelas pada umunya.
Setiap hari di jam istirahat pertama, Lian pergi ke ruang musik sekolahnya karena dia didaftarkan mengikuti kompetisi piano. Dia akan memainkan 1 lagu, setelah itu Lian akan menyusul sahabatnya ke kantin. Lian memang sudah menyiapkan kompetisi ini dengan gurunya tepat pada saat Sean kembali berangkat sekolah.