At The Moment

At The Moment
28. Tanpa Izin



.


.


.


NIZAR POV


Semalam Farel memang menghubungiku, dia meminta tolong untuk aku selalu memantau Lian selama di sekolah. Farel memang harus kembali ke Rusia karena ada misi tingkat A, dimana tingkat A hanya boleh dipimpin oleh keturunan mafia yang telah terpilih sesuai dengan misi yang ada.


Misi tingkat A adalah misi yang tertinggi dengan level 4 sampai 0, level paling tinggi adalah misi A-Zero (A-0). Dalam misi tingkat B level 1 (B-1) bahkan A level 4 (A-4) sudah merupakan A-0 untuk mafia menengah ke bawah seperti mafiaku atau bahkan misi besar yang belum pernah kualami. Aku mengetahui hal semacam ini dari buku aturan permafiaan.


Farel tak memberi tau aku misi level berapa yang dia hadapi saat ini, hanya dia memberi estimasi waktu akan pulang 1-2 minggu. Lalu bagaimana aku harus menjaga Lian yang bahkan di hari pertama Farel pergi saja dia sudah menangis.


"Huh, sepertinya ini tak semudah yang kufikirkan", gumamku yang di dengar Raid.


"Kenapa Zar?", tanya Raid yang kujawab gelengan kepala.


Saat jam istirahat di hari pertama aku menjaga Lian, gengku mengajak untuk makan di warung depan. Sedangkan aku kebingungan karena harus mengawasi Lian, dengan malas aku membuat Lashon agar berpihak padaku untuk mau makan di kantin sekolah.


Aku mengingatkan Lashon bahwa tak ada Farel saat ini, yang membuat dia ingat bahwa satu-satunya orang yang harus menjaga Lian yaitu Lashon. Ditambah aku mengingatkan kondisi Lian yang tadi pagi menangis membuat Gab juga setuju untuk makan di kantin.


Saat pulang sekolah aku melihat muka kebingungan Lashon saat menjemput Lian di depan kelasnya untuk pulang bersama. Akhirnya Lashon mengatakan bingung harus pulang dengan siapa, sedangkan dia baru ingat akan mengantar Chala ke rumah sakit sekaligus menjenguk ayahnya yang sedang sakit.


Aku pun menghela nafas lalu menawarkan diri mengantar Lian pulang, sebenarnya ada Gab yang pasti mau mengantarkan Lian pulang atau Sean. Tapi setelah kufikir-fikir daripada aku bekerja dua kali untuk memastikan keadaan Lian, lebih baik aku yang mengantarkan Lian sekaligus berbicara berdua dengan Lian.


"Gue aja yang nganter Lian", ucapku.


"Eh mending gue aja, toh gue searah", ucap Gab.


"Iya, lo searah. Tapi rumah lo sebelum rumah Lian ogeb!", ucap Dane.


"Ya kenapa emang? Ngga masalah dong, ngga jauh ini", jawab Gab.


"Mending sama Nizarlah, dia juga searah walaupun ke rumah Lian itu ke kiri dia ke kanan. Cuman kan nggak jauh banget", kata Raid ikut berpendapat.


"Kenapa jadi ribut sih kali-", ucapan Lashon terpotong.


"Aku pulang sama Nizar aja", kata Lian yang tergesa-gesa keluar kelas karena mendengar keributan geng Lashon.


"Nah, ini bocahnya. Tuh Lian milih Nizar, kuy balik", ucap Raid diangguki yang lainnya.


"Yok keparkiran", ajak Lian ke geng ceweknya.


"Yok gaes!", jawab Rosa semangat sambil merangkul Naya dan Anya.


"Tadi nangis sama cowok pertama, eh sekarang pulang sama cowok ke lima dih", kata Ara agak keras ntah untuk siapa, tapi kuyakin menyindir Lian.


Kita semua tak meladeni perkataan Ara. Aku mengikuti geng Lian berjalan ke arah tangga untuk pulang. Sedangkan Ara hanya diam pura-pura tak terjadi apa-apa.


Kemudian Lian dan gengnya berjalan lebih dulu ke arah parkiran, diikuti gengku dan geng Dennis di belakang mereka. Kita di belakang sambil berbincang-bincang dan bercanda, tak peduli langkah kita memenuhi jalan.


"Hei bro, kenapa tu Lian tadi pagi?", tanya Dennis ke Lashon.


"Hooh, seharian dia di kelas diem doang asal lo tau", kata Ben.


"Oh, pantes aja si Metisnya Farel kayak raga tanpa jiwa", cicit Tio.


"Enak aja lo. Minta dislepet tuh bibir keknya", jawab Gab.


"Eh tapi maksud lo Farel bakalan balik ke sini lagi kan? Atau balik yang lo maksud bakal netep di Rusia?", tanya Gahar.


"Kagak lah ogeb, Farel pasti balik lah. Gila aja dia pergi nggak pamitan resmi sama kita, gue tebas juga palaknya!", jawab Lashon menggebu-gebu.


"Emang berani?", gumamku.


"Bhahhaha", tawa Dane.


"Kenapa lo?", tanya Raid.


"Itu si Nizar ngomong 'emang berani?' bhahaha, lucu banget njir. Bener banget sih, emang lo berani Shon sama Farel", kata Dane.


"Sialan lo Zar!", kata Lashon sambil memiting Nizar.


"Hahahah", mereka semua tertawa.


Sesampainya di parkiran Lian sudah menungguku di samping mobilku, sedang sahabat Lian telah memasuki mobil mereka kemudian membunyikan klakson mereka berpamitan. Saat akan mengajak Lian masuk, Sean mendatangi kami berdua.


"Hey Li? Pulang bareng Nizar hari ini?", tanya Sean.


"Iya, aku sama Nizar"


"Oh, pantesan chat gue nggak lo bales", kudengar nada Sean yang seperti tak suka.


"Yaudah, gue pergi ya"


"Gue duluan bro", kata Sean lagi sambil mengedikkan dagunya dan kujawab anggukan.


Kulihat Lian seperti ingin menjawab perkataan Sean tadi, namun diurungkannya mendengar ucapan Sean. Ntahlah.


"Masuk Li", kataku membuka pintu kursi kemudi lalu Lian juga ikut masuk ke mobil.


"Em, Zar lo tumben pake mobil?", tanya Lian saat aku mengemudi keluar area sekolah.


"Iya, gue udah antisipasi kalok lo bareng gue", kataku.


"Kok gitu?"


"Ya gimana, biasanya Farel kan kalok sama lo pake mobil. Kecuali waktu berangkat waktunya mepet sama tiba-tiba lo balik sama Farel waktu dia pake motor", jawabku.


"Maksudku kenapa pake mobil, aku gapapa pakek motor malah lebih seneng. Farel pakek mobil karena nggak mau aku sakit kena angin, takut aku kepanasan atau kehujanan juga sewaktu-waktu. Padahal aku kan nggak semanja itu, aku juga bisa kelahi walaupun nggak sehebat kalian", jelas Lian.


"Ya alasan Farel bisa lo pakek buat jawab pertanyaan lo tadi, toh Farel yang minta semalem buat awasin dan jagain lo waktu dia nggak ada. Jadi gue harap waktu nggak ada Farel lo jangan buat ulah, trus nggak usah minta dijemput supir lo pulang. Lo besok-besok pulang bareng gue aja biar nggak ribet semisal kayak tadi Lashon ada janji sama Chala. Bilang sama Lashon, biar lo nggak perlu tiap hari izin sama dia. Oiya, trus juga gue nggak bisa anter lo balik hari rabu sama kamis soalnya kan mulai minggu depan ekstra udah mulai lagi. Gue ada ekstra Anggar sama sepak bola, jadi mending lo sama Lashon janjian pulang di hari itu atau minta sopir lo", jelasku padanya yang di jawab anggukan.


"Tapi hari kamis aku mending ikut lo aja baliknya, gue juga ada ekstra renang di kolam indoor sekolah selesainya sih biasanya sebelum lo selesai. Emm, gue mau kok nunggu lo bentar, gimana?", kata Lian.


"Iya deh", jawabku.