At The Moment

At The Moment
20. Gagal! Tunggu Pembalasanku



.


.


.


Tag Tag Tag


.


.


.


Tag Tag Tag


.


.


.


.


Tag Tag Tag


.


.


(Suara derap langkah geng Farel dan geng Dennis yang memang saat itu nongkrong bersama di warung depan)


"LIAN!" ucap Farel dan Lashon bersamaan terhenti di depan pintu masuk kantin.


Kesekian kalinya aku melayangkan tanganku agar mereka tak ikut campur.


"Mrs.Aln, anda yang meminta jadi-"


.


Plak!


.


"Ngga usah songong lo karna pahlawan lo udah dateng lacur!" kata Aln lagi.


Aku hanya tersenyum manis lalu menggelengkan kepalaku, menunduk lalu melihatnya lagi dengan tatapan lebih tajam.


"Li-Lian!", ucap Farel dan Lashon yang takut aku tak terkendali.


"Tenang Lian, jangan bunuh dia. Tarik nafas Lian..", ucap Lashon yang tak kudengarkan.


Semua orang yang mendengar kata-kata Lashon langsung menghentikan aktifitas mereka, bahkan tak banyak diantara mereka melotot seperti tak percaya apa yang mereka dengar dan merasa mereka salah dengar. Tetapi berbeda dengan Lian yang malah membalas ucapan Lashon dengan senyuman.


"Apa anda sudah merasa takut dengan saya Mrs. Aln, mari tunjukkan lagi seberapa hebat anda tadi", ucapku.


"Lian... Sayang....", ucap Farel mencoba menenangkanku.


"Dasar bule lacur murah-"


.


.


.


Plakk!


.


Tamparanku kali ini agak kuberi tenaga karena Aln sudah berani merendahkanku di depan Farel dan Lashon, aku hanya tak suka mereka berdua mendengar aku direndahkan seperti itu. Tamparanku kali ini membuat hidung Aln mengeluarkan banyak darah hingga menetes ke baju dan lantai.


"Anj*ng lo lacur! Mati lo!", ucap Aln lalu memberontak ingin Sean lepaskan.


"Saya paling tidak suka jika ada oran-", ucapan dan pergerakanku untuk mencekik Aln terhenti saat Farel tiba-tiba berlari ke arahku menggapai tangan yang akan ku gunakan mencekik Aln, membalikkan aku ke arahnya dan menggendongku seperti karung beras berlari keluar kantin.


"AHH! Farel lepas! Turunkan saya atau kau yang akan menerima akibatnya! FAREL TURUNKAN ATAU KAMU AKAN MENDALATKAN HUKUMAN! PERS*TAN! LASHON KAU TAK AKAN SELAMAT!", kesalku karena mereka ikut campur urusanku.


Aku yang dibawa keluar kantin oleh Farel lalu langsung dibawa Farel ke parkiran sekolah untuk membolos. Ya, jika membiarkanku masih berada di lingkungan sekolah pasti aku akan tetap mencari Aln saat emosiku belum stabil dan Farel tau itu.


Aku sangat kesal karena belum menjawab hinaan dari Aln, aku hanya beberapa kali membalasnya dengan tamparan yang menurutku belum cukup adil. Geng Lashon menyusulku dan Farel ke parkiran diikuti geng Chala, sedangkan geng Dennis tetap di kantin menyelesaikan perkelahian antara geng sahabatku Rosa (kecuali aku tentunya).


.


.


.


Flashback


.


FAREL POV


.


.


.


Ting!


.


.


.


Suara notifikasi hpku mengalihkan perhatianku dari suapanku dan obrolanku bersama geng Dennis, Nizar juga langsung mengalihkan pandangan ke arahku karena mendengar notif berbeda dari hpku yang dia tau itu penting.


"Shit!", umpatku tertahan membaca chat Lian dan langsung memeriksa CCTV kantin.


Dek Litis (Lian Metis) <3


Cukup pantau cctv kantin, jangan ikut campur. Aku bisa menanganinya sendiri, aku tidak apa-apa.


Datanglah kalau kalian sudah selesai makan jika kalian ingin.


"Merde!" umpatku tak bisa kutahan lagi dan membuat yang lain menatapku.


"Ada apa?", tanya Lashon.


Akupun langsung menaruh hpku di tengah meja agar mereka bisa melihat cctv kantin.


"Shit!", umpat Lashon langsung berdiri hendak beranjak.


"Tetap duduk Lashon, Lian mengatakan agar kita menghabiskan makanan kita baru dia memperbolehkan kita ke sana tanpa boleh ikut campur. Tapi kalau memang Lian sudah menjadi dia dulu, aku akan menghentikannya" ucapku lalu menarik Lashon untuk duduk lagi.


"Maksudmu, Lian pernah tak terkendali?" tanya Nizar padaku, aku hanya membalasnya dengan anggukan.


"Memang dia pernah seperti apa?", tanya Gahar.


"Dia pernah hampir membunuh dengan tangan kosong, 1 kritis sampai koma, 2 orang dikondisi parah di middle school. Dia tidak terima temannya dibully sampai temannya harus pindah sekolah, saat itu Lian tak tau bahkan temannya tak memberi tau dia hanya karna dia merasa tidak pantas berteman dengan Lian yan-" ucapan Lashon kupotong.


"Kau sudah menceritakan terlalu jauh Lashon" ucapku dengan suara rendah dan tajam karena hampir saja dia membuka identitas Lian.


"Apa? Kenapa?", tanya Ben.


"Tidak bisa, aku hanya bisa menceritakannya sampai disitu. Maaf", ucap Lashon.


"Apa Lian semengerikan itu?", tanya Raid.


"Kurasa Lian tak sejahat itu, dia hanya tidak terima temannya dibully", ucap Tio.


"Iya aku setuju padamu", kata Dane.


"Saat itu Lian memang murka, dia tak pandang bulu siapa yang berhadapan dengannya bahkan anak presiden sekalipun", kataku.


"Ya benar, dia bahkan akan mengorbankan dirinya untuk orang yang dia sayang", tambah Lashon.


"Keren!", ucap Gab. "Apa aku sudah dianggap orang yang dia sayang?"


"Mungkin. Orang terdekatnya biasanya adalah orang yang berharga untuknya. Menurutku dia telah menganggap kalian sahabatnya", ucap Lashon.


"Tunggu, tunggu, jika Lian tak dipenjara atau dihukum berarti sebenarnya Lian bukan orang biasa?", tanya Dennis yang dari tadi hanya diam dan memikirkan itu.


"Semua sudah selesai makan kan? Ayo ke kantin, Lian sudah hampir emosi" ucapku mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribuan untuk membayar makanan, minuman, dan rokok gengku dan Dennis.


Akupun berdiri dan berlari meninggalkan yang lain menuju ke kantin sekolah.


"Mbok mbok! Ini duitnya di meja ya, kembaliannya buat simbok aja dari Farel. Meja 10 ya mbok! Assalamu'allaikum!" teriak Tio yang tertinggal, masih bisa ku dengar.


"Doain Lian baik-baik aja ya mbok!", ucapnya lagi.


.


.


.


Skip di kantin.


Kulihat Lian sudah di mode formalnya, itu menunjukkan bahwa pembicaraannya sudah serius dan dia sudah tak bisa menahan emosinya yang sedikit lagi akan meledak.


Kulihat pipinya memerah bekas tamparan tapi tak ada darah, sedangkan lawannya entah siapa akupun tak kenal telah berdarah-darah. Tebakanku Lian menamparnya juga hanya saja tenaga mereka jauh kalah banding dengan Lian yang yahhh memang telah aku ajarkan sedikit tentang bela diri dan persenjataan.


Kudengar wanita itu merendahkan Lian, dan Lian benci direndahkan dihadapan temannya apalagi dihadapanku. Aku ingin maju melerai tapi Lian tak memperbolehkan aku dan Lashon ikut campur.


Sampai pada saat kulihat matanya telah memerah dan gerakan tangannya akan mencekik, aku langsung berlari ke arah Lian dan menggendongnya. Bodoamat dia akan marah padaku atau mendiamiku, yang jelas aku tak mau Lian menjadi bahan omongan karena hampir membunuh lawannya lagi dan membuat identitasnya terungkap.


Aku berlari ke arah parkiran untuk membawa Lian keluar dari sekolah, aku tak mau dia berada di sekolah lalu kembali menyerang lawannya. Diperjalanan aku dan Lian hanya diam lalu kuberhentikan mobilku di apotek pinggir jalan untuk membeli salep memar.


Ya, kurasa Lian membutuhkan itu sekarang dan tak lupa juga aku membeli minuman, coklat, dan beberapa makanan lain untuk kubawa ke tempat yang bisa membuat Lian tenang. Aku membawanya ke Jatim Park bermain-main semua wahana lalu memulangkan Lian ke rumahnya kembali.