At The Moment

At The Moment
25. Dia Berbeda



AUTHOR POV


Saat ini terhitung sudah 1 minggu sejak Sean dan Lian pulang bersama dan mampir makan di Tellame Restoran. Mereka berdua terlihat sangat dekat setelah kejadian Sean meminta izin mengantar Lian pulang saat itu. Bahkan tak banyak orang berfikir kalau mereka berdua memiliki hubungan khusus, ya pacaran maksudnya hehe.


Sean dan Lian juga terlihat sangat sering berjalan ke kanton dengan Lian tiap kali istirahat. Karna Sean memang sering bolos dan Lian selalu latihan piano di ruang musik membuat mereka sering berjalan bersama menuju kantin. Perlakuan Sean terkadang membuat Lian semakin lama semakin terbawa oleh perasaannya. Sean sering memakaikan sepatu Lian,  menjahilinya saat berjalan, mengantar Lian pulang ke rumahnya, membaut Lian jadi tambah berfikir bahwa Sean menyukainya.


Sekarang, Lian berada di kantin sekolah saat istirahat ke dua bersama sahabatnya dan geng Farel. Geng Dennis dan geng Sean berada di warung depan sekolah karena mereka sedang ingin nongkrong di sana.


"Bagi dong Li", pinta Gab pada Lian yang sedang makan Lays rumput lautnya.


"Nih ambil aja", Lian menyodorkan Laysnya ke Gab.


"Ini nih yang dibilang diam diam menghancurkan eh menghanyutkan", celetuk Dane sambil mengaduk nasi goreng yang diberi bubuk cabe olehnya.


"Hooh ya, mulus banget si kutu modusnya", Raid ikut berbicara.


"Lo, ngomongin apaan sih. Gue nggak mudeng", kata Rosa.


"Buat yang tau-tau aja ya nggak sih Zar", jawab Dane.


"Heh!", dengus Gab.


"Eh, ini Li lo makan coklat gue aja. Lays lo tinggal dikit juga, biar gue gantiin coklat aja ya.


"Nah kan modus", celetuk Raid.


"Gab! Lo suka sama Lian?", Gab melihat ke arah Naya, membuat sahabatnya menoleh ke arah Gab.


"Ya-ya nggak lah! Pa-pawangnya aja nyeremin. Mana berani gue!"


"Pengecut", celetuk Nizar lirih namun masih bisa didengar.


"Eh udah sih, kok malah godain Gab. Kasian tuh mukanya udah kayak kaos belum disetrika, LECEK! HAHAHA", kata Lian basi.


"Hahaaha", ketawa semuanya untuk menghargai Lian.


"Dih, nggak usah pura-pura ketawa kalok nggak lucu!"


"Eh tapi Li, gue penasaran deh. Lo baru pdkt sama Sean ya? Deket banget akhir-akhir ini", tanya Lashon.


"Uhuk..uhuk", bukan-bukan bukan Lian yang batuk, melainkan Farel dan Gab yang batuk bersamaan.


"Ini nih minum dulu Rel", Naya menyodorkan minumnya ke Farel.


"Minum dulu Gab, pelan ih kalok makan", kata Lian.


"Woy, jawab Li. Malah nepukin Gab, dia mah kalo mati bisa gali lubang sendiri. Nggak usah dipeduliin", ucap Raid bercanda.


"Yeee, muncung kau sembarangan!", Rosa menoyor Raid.


"Apaan sih sayang, sakittt", kata Raid.


"Dih, apaan sayang-sayang"


"Padahal kalok pulang sekolah chatan", gumam Raid pelan.


"Oh, Rosa sama Raid yang pdktan ternyata. Udah chat-chatan saben hari, paham gue paham sekarang", Dane ikut menggoda.


"Selamat ya Ros, semoga langgeng", kata Naya.


"Lo juga semoga langgeng ya Nay sama Dane!", kata Rosa.


"Hoi! Ini apaan sih, malah jodoh-jodohan. Gue baru nanya Lian nih!", kesal Lashon.


"Huh, Cair apaan sih. Aku nggak deket siapa-siapa, cuman agak baper sih Sean tiap hari ada buat aku", cicit Lian pelan.


"Nggak, gue nggak setuju lo deket sama Sean. Dia tu keras kepala banget, nggak open minded nggak asik juga anaknya", kata Farel.


"Iya Li, gue juga kurang suka sama dia", kata Nizar.


"Gue sih percaya Farel jadi gue nggak setuju juga, sorry Li", kata Lashon.


Raid, Dane, dan Gab hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Ih, emang kenapa sih. Dia cool tauk, pinter juga. Mana kayaknya sopan banget lagi anaknya, keliatan banget waktu di depan ortu dia", kata Rosa.


"Hooh, anaknya juga keliatannya ngga suka aneh-aneh", kata Anya.


"Kataku sih, sopan banget depan ortu nggak ngejamin dia baik. Bisa aja malah dia cari kebebasan di luar gara-gara harus sopan di rumah buat dia tertekan deh", jelas Naya.


"SETUJU", kata Gab keras.


"Wahhhhh! Udah terang-terangan nih kalok cemburu", kata Dane.


"Apa sih lo!", kesal Gab membuat semuanya tertawa puas karena berhasil menggoda Gab.


Sementara Lian, dia  malah memikirkan pendapat sahabatnya terutama ucapan Farel dan Naya.


Skip, pulang sekolah


Tet..


Tet..


Tet..


"Loh Sean, ngapain?"


"Nunggu lo Li, pulang bareng gue ya", ucap Sean langsung menarik pergelangan tangan Lian.


"Woy Li! Mau kemana!", teriak Rosa saat melihat Sean menarik pergelangan tangan Lian. Sahabat Lian yang lain hanya diam memperhatikan. Sedangkan Lian,


Deg..


Deg..


Deg..


"Li? Hey, jangan melamun cantik, nanti lo jatuh dari tangga", bisik Sean di samping telinga Lian membuat Lian tersadar dari lamunannya.


"Hah, i-iya", melanjutkan langkahnya dengan tangan Sean tetap menggandengnya.


.


.


"Eh, gapapa. Aku malah yang makasih Sean mau anter aku pulang lagi", jawab Lian.


Sean pun tersenyum lalu mengacak rambut Lian, kemudian memeluk Lian.


"E..eh, ka-kamu nga-ngapain!", kata Lian tergagap saat Sean memeluknya dan dagunya ada di bahu Lian.


"Nih, biar cowok Lain nggak liatin paha kamu waktu aku goncengin", kata Sean lalu menunjuk ke arah rok Lian.


Ternyata Sean mengikatkan jaketnya ke pinggang Lian, sehingga perlakuannya seperti memeluk Lian.


"Hey", kata Sean.


"Lian, cantik.. hey", ucap Sean sambil sedikit mengguncang bahu Lian menyadarkan Lian yang sedari tadi tetap menunduk melihat ke arah roknya.


"Kamu kenapa, sering banget sih bengongnya", bisik Sean lagi agar menyadarkan Lian.


"Hah!", Lian tersadar lalu mendorong Sean. "Eh maaf Se-Sean"


"Nggak ah, aku nggak maafin. Aku maafin kamu kalok malem ini kamu mau nemenin aku ke mall", kata Sean.


"OK", seru Lian.


"Eh, em.. iya aku mau", kata Lian lagi lalu menunduk karena malu terlihat antusias.


"Seneng banget kayaknya. Yaudah yuk pulang, ntar malem kan kita harus ketemu lagi", ucapnya lalu menepuk pucuk kepala Lian kemudian memakaikan Lian helm yang khusus dia beli untuk Lian.


"Makasih", ucap Lian lalu menaiki motor sport Sean berpangku tangan kiri dan bahu kanan Sean untuk tumpuan naik. 


"Yuk, udah"


"Oke, let's gooooo", kata Sean.


Di rumah


Dreettt..


Dreettt..


Dreettt..


Hp Lian di atas nakas samping tempat tidurnya berbunyi, tanda panggilan masuk. Lian yang baru habis mandi lalu bergegas berjalan ke arah nakas.


"Halo, dengan Lian", kata Lian.


"Lian, kamu sudah sampai rumah?", tanya Farel.


"Sudah Lofa, maaf aku lupa kasih tau kamu kalau aku pulang dengan Sean", kata Lian. "Lofa jangan marah ya sama aku, aku takut kalau Lofa marah. Serem"


"Hahaha", di seberang sana Farel tertawa sampai perutnya sakit.


"Ih Lofa, kok ketawa sih. Jangan ketawain aku Lofa!", kata Lian.


"Hahaha", Farel masih mengendalikan tawanya. "Huh..huh..sorry sayang. Jangan marah, aku sempat kesal tadi karna kamu pulang tanpa memberiku kabar seperti biasa. Lalu aku melihat CCTV ternyata kamu pulang dengan Sean. Sialnya aku tak melihat sahabat-sahabatmu, geng Dennis juga tak melihat saat kamu pulang"


"Em.. Lof, mungkin kamu tak perlu khawatir lagi kalok aku pulang tanpa memberimu kabar. Aku pasti pulang dengan Sean atau supir rumahku, aku akan menghubungimu jika aku diajak pulang dengan seseorang yang jarang bersama kita", kata Lian.


Deg..


"Dia mulai berubah", batin Farel. "Kenapa? Selama ini, selama 3 tahun kita kenal kamu nggak pernah mengeluh untuk menghubungiku sebelum atau setelah pulang"


"Lofa, aku cuman.. aku fikir karena aku tak mau kamu khawatir seperti sekarang Lofa. Mungkin aku juga akan mulai lupa tak menghubungimu, lalu jika itu terjadi pasti aku tak enak denganmu"


"Kau masih saja tak enak hm? Apakah kurang lama untuk mengenalmu hingga kamu merasa nyaman denganku? Kamu mulai berubah Lian", kata Farel terang-terangan.


"Maksudku bukan itu Farel, aku hanya tak ingin menambah pekerjaanmu. Apalagi saat kamu ada misi, aku tak ingin membuatmu khawatir"


"Sudahlah, terserah kau saja. Selagi kau senang aku akan baik-baik saja", ucap Farel lalu menutup telfonnya secara sepihak.


"Fa-Farel? Ha-hallo", Lian panik Farel marah membuatnya ingin menelfon Farel lagi namun niatnya dia urungkan karena ada panggilan masuk.


Dreettt..


Dreettt..


"Hallo Lian?"


"Ya, kenapa?", tanya Lian.


"Kamu habis menerima telfon ya? Apa kamu sudah bersiap? Aku akan sampai rumahmu setengah jam lagi", kata Sean. Ya, yang menelfon Sean.


"O-oh iya sudah, aku baru selesai mandi"


"Aku akan berangkat sekarang kalau begitu", kata Sean.


"Baiklah, hati-hati Sean"


"Oke cantik, bye", Sean lalu menutup telfonnya sebelum Lian menjawabnya.


"Ah, lebih baik aku langsup siap-siap. Nanti aku akan menelfon Lofa setelah pulang", batin Lian.


Skip


Sesampainya Sean di rumah Lian


"Hallo Lian, aku sudah sampai di depan rumahmu. Kenapa rumahmu sepi sekali?"


"Orang tuaku belum pulang Sean, sebentar aku akan keluar", kata Lian lalu menutup telfonnya.


.


.


.