
.
.
.
Beberapa saat kemudian setelah motor Nizar berlal keluar komplek rumah Lian.
"Sorry ya mamahku emang gitu kalok suka sama orang. Dulu Lofa sama Cair juga digituin, malah lebih parah karena waktu itu mereka dateng pas pulang sekolah. Gengku aja nggak sampai digituin sama mamah, mamah emang pemilih sih", kata Lian.
"Gapapa sih gue malah seneng, cuman bingung aja maksudnya apaan, trus kamar tadi apaan juga maksudnya, sama rumah asli lo apaan dah gue nggak paham, asli! Beneran", jawab Nizar sambil mengendarai motornya menjauh dari rumah Lian.
"Huh.. Emmm.. Jadi sebenernya orang lain nggak tau rumah asli aku, tempat kita sarapan tadi. Mereka taunya rumah si Embak yang kerja di rumahku, rumah Embak ada di komplek belakang rumah aku tadi. Memang udah disiapin sama papa waktu bangun rumah ini, tapi kalau Rosa, Anya, sama Naya udah tau rumah asliku. Aku emang sengaja ngasih tau mereka rumah asliku, tapi kalau geng Dennis, gengmu, sama geng Sean sama sekali nggak tau rumah asliku", jelas Lian.
"Lah emang kenapa lo sampek sembunyiin identitas lo? Bukan karna lo deket sama Farel kan?", tanya Nizar.
"Bukan! Aku emang sengaja nutup identitas karna nggak suka ke sorot media aja selebihnya kujelasin nanti sepulang sekolah aja ya. Kan kamu masih harus mampir buat milih kamar sama jelasin desain interior kamar", kata Lian.
"Itu juga gue nggak paham tentang kamar tadi"
"Intinya kamu udah dianggap anak sama orang tuaku. Makannya tadi kamu diminta milih kamar supaya ada kamar sendiri waktu kamu baru nginep di rumahku. Kan nggak mungkin kamu yang bakalan sering diminta tidur di rumahku trus tidurnya di kamar tamu. Yaa, pokoknya pilih yang kamu mau trus bilang tema kamar yang kamu pengen seperti apa. Dulu Farel sama Lashon juga gitu, ntar kamu liat deh kamar Lashon biar kamu tau maksud detailnya gimana. Soalnya kalok kamar Farel cuman aku dan mamah yang boleh masuk dan bersihin", jelas Lian.
"Iya deh, terserah lo aja. Ngikut aja gue daripada nambah pusing kayak orang bego", jawab Nizar.
"Oiya, tapi kalau belanjanya jangan ntar malem ya. Aku nggak bisa, aku udah terlanjur janjian sama Sean buat pergi nemenin dia nonton", kata Lian.
Nizar hanya membalas dengan anggukan, lalu menambah kecepatan motornya.
"Ngapain sih Lian pake ada acara pergi segala, bikin kerjaan gue aja harus ngawasin dia. Buntutin ajalah, daripada retas CCTV mall kalau ada apa-apa ntar gue kelamaan geraknya. Shit, nambahin kerjaan gue aja bangs*t", batin Nizar.
Disisi lain
"Nizar kenapa sih, mukanya gitu banget. Mana bawa motornya nglebihin Lashon lagi. Mending-mending aku bisa pegang bahu atau peluk dia, boro-boro. Hhuh.. seenggaknya untung bisa pegangan ditasnya deh", batin Lian.
Sesampainya di parkiran sekolah, Nizar telah ditunggu oleh gengnya dan Anya baru saja turun dari mobilnya lalu melihat ke arah Lian yang hendak turun dari motor Nizar. Ara yang masih di dalam mobil juga melihat Lian yang berangkat dengan Nizar lalu menggerutu tak jelas.
"Lian, kok tumben bareng Nizar", kata Dane.
"Sebentar ya nanya-nanyanya, aku mau buka helm dulu soalnya susah aku baru pertamakali pakai yang kayak begini", jawab Lian melihat ke arah Dane masih menggunakan helmnya setelah turun dari motor.
"Sini, gue bantu", ucap Gab lalu maju selangkah di depan Lian.
"Yeee, lo mah mau modus aja lo. Watakmu cok, mwodus tenan", sambung Raid menimpali Gab. (Bisa-bisanya, modus banget)
"Hahaha, cok cok ngalusmu ki ketok tenan rek. Benke wae ndes, ben seneng arek iki", kata Dane. (Cah..cah.. rayuanmu itu keliatan banget. Biarin ajalah, biar dia seneng)
"Ora cok, niat ngewangi aku. Dongak dikit Li, biar nggak jepit lehermu", kata Gab lalu membantu Lian melepas helmnya. (Nggak ya, aku beneran niat bantuin)
"Makasih Gab, Anya! Sini!", seru Lian memanggil Anya.
"Lashon belum berangkat?", tanya Nizar.
"Udah tadi, sama Chala. Duluan katanya, mau nemenin Chala sarapan dulu di kantin", jawab Gab.
"Kapan ya, gue punya pacar", kata Raid.
"Lo mau nggak jadi pacar gue An", tanya Raid pada Anya yang baru saja sampai di depan Raid.
"H-hah? A-apaan, gue nggak d-denger", jawab Anya takut dia salah dengar.
"Njir, enak bener lo ngomong nggak pake difikir", kata Dane.
"Ciee-ciee Anya", goda Lian ke Anya.
"A - apaan sih gue nggak ngerti", kata Anya.
"Udahlah yok ke kelas!", kata Raid lalu berjalan lebih dulu.
"Lah lah ni anak kenapa jadi ngegas", kata Dane.
"Tungguin woy!", berlari menyusul Raid diikuti Nizar yang berjalan di belakang mereka berdua.
"Ciee Anya, pagi-pagi udah di tembak Raid nih", goda Lian.
"Ih, apaan sih Li. Bercanda doang itu mah, lagi pula si Raid kan emang suka bercanda", kata Anya.
"Hmm, kalik aja habis ini pendekatan", jawab Lian.
"Heh! Enak banget ya lo, cowok segeng aja lo embat semua", kata Ara yang berjalan di belakang Anya dan Lian.
Anya dan Lian lalu berhenti berjalan-melihat ke arah belakang dan mendapati Ara.
"Maksud kamu apaan?", tanya Lian.
"Ud-", ucapan Anya terpotong.
"Ya lo tu gatel, Farel lo embat, Chala diselingkuhin lo, Sean lo deketin, di kelas sok asik sama geng Dennis! Eh sekarang nggak ada Farel mulai pepet si Nizar! Mana sok-sokan nggak bisa buka helm lagi. Dasar cewek kegatelan!", cibir Ara lalu berjalan di tengah Anya dan Lian dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Udah Li, jangan diladenin. Kan udah tau dia sejak tengkar kemaren", kata Anya.
"Huh, yaudah yuk. Keburu bel", ajak Lian ke kelas.
LIAN POV
Hari ini Farel masih belum ada kabar. Semua serasa nggak nyaman tanpa Farel. Bahkan nggak ada yang bela aku waktu Ara ngomong hal yang nyakitin di parkiran tadi.
Kelas seperti hari biasanya, membosankan. Ntah kenapa aku masih saja memikirkan tentang Farel. Apa segitu salahnya aku, sampai kemarin dia bahkan nggak ngasih kabar dulu ke aku.
Huh. Kapan sih dia pulang?! Lashon juga acuh banget sama aku emang dia nggak khawatir apa aku sama Nizar terus.
"Ayo balik", kata Nizar memasuki kelasku saat aku sedang berkemas sambil memikirkan Farel.
"Iya, sebentar", jawabku.
Setelah selesai aku berjalan keluar kelas dengan gengku diikuti geng Nizar. Kalau kalian tanya dimana Lashon, dia ke kelas Chala nungguin Chala keluar kelas. Romantiskan,
Saat di selasar menuju lobby sekolah Sean menyapaku.
"Hei Li, nanti jadi kan?", tanya Sean.
Aku melihat ke arahnya yang berjalan ke arahku bersama gengnya dan menganggukkan kepala pertanda iya.
"Wihhh, nggak ada Farel eh Nizar. Dateng Sean, eh sama Sean jalannya", celetuk Knox lalu tertawa mengejek.
"Maksud lo apa!", tanyaku sedikit emosi karena memang aku sudah bad mood mengingat Farel yang tak memberiku kabar.
"Eittsss, santai cantik. Nggak perlu ngegas hahaha", jawab Knox cepat.
"Udahlah, nggak usah rusuh", ucap Nizar menatap Knox.
"Woles bro, santai santai. Takut gue sama lo, ntar gue lo tembak trus mati lagi ditangan lo", kata Knox lalu terkekeh, sedangkan Nizar menatapnya tajam.
"Kenapa Se?", tanya Naya berjalan mendekati aku, Nizar, dan Sean.
"Nggak kok, urusan sama Lian doang", jawab Sean.
"Trus kenapa panas gini?", tanya Dane lalu dijawab kedikan bahu oleh Sean.
"Ntar gue jemput habis Isya' aja ya?", tanya Sean.
"Iya, toh mulai jam 8", jawabku ketus karena masih kesal dengan Knox.
"Mau kemana kalian?", tanya Galvin.
"Gilak gilak Galvin gercep banget, cemburu bro! Kalah cepet lo bro!", kata Richard merangkul Galvin.
"Maksud lo?", Gab bertanya.
"Ck!", kesal Galvin lalu melepas rangkulan Richard lalu berjalan lebih dulu.
"Woy tunggu Vin! Kayak cewek perawan lo, ambekan", kata Richard mengejar langkah Galvin. (tukang ngambek)
"Nambah saingan lo Gab", celetuk Dane menanggapi Gab yang melihat ke arah Richard menyusul Galvin.
"Sorry ya, yuk duluan bro", kata Arran dijawab anggukan Sean.
"Pergi dulu ya bro, Lian..kalok yang lain udah nggak mau, udah bosen, call me baby!", ucap Knox lalu berlalu.
"Djanc*k! Dia itu kalok ngomong nggak bisa disaring dulu apa!", kesal Rosa.
"Udah-udah yuk pulang", kata Anya.
"Yuk sayang", jawab Raid ke Anya lalu menarik tangan Anya.
"Wah, ada apa nih! Ketinggalan gosip nih gue!", kata Rosa.
"Bisa ngalus juga tu bocah", kata Gab.
"Bukannya pagi tadi lo juga ***?!", goda Nizar ke Gab lalu terkekeh.
Kulihat Gab nyengir lalu menggaruk-garuk tengkuknya.
"Mati kutu kan lo!", kata Dane.
"Udah yok", ucap Naya.
"Yuk, babe", jawab Dane.
.
.
.