At The Moment

At The Moment
12. Menegangkan



.


.


.


Saat di lapangan upacara Lian langsung mencari barisan kelasnya dan berdiri disamping temannya. Untung belum mulai, masih cek soundsystem.


Sesampainya di barisan kelasnya, Lian langsung berjalan ke arah kerumunan gengnya karena sudah terlalu rindu dengan mereka.


"Huaa Lian! Gue kangen banget sama lo!", teriak Rosa sambil berjingkrak memeluk Lian sampai Lian terhuyung ke belakang, untung ada Farel yang sigap menyangga punggung Lian saat melihat ke arah Rosa yang berteriak menyebut nama Lian.


"Lo gapapa?", tanya Farel ke Lian setelah melepas sanggaan badan Lian dibalas anggukan oleh Lian.


"Lo bisa ati-ati ngga sih jadi orang, yang lo lakuin tadi itu bahaya tau ngga!" tegas Farel ke Rosa sambil menatap Rosa tajam.


"Ma-maaf gu-..", gugup Rosa lalu Lian potong.


"Apaan sih Lof, gue gapapa.", kata Lian lalu berbalik menghadap Farel.


"Lagian gue juga kangen banget sama Rosa, sama lo sama Cair juga kangggeennnn banget! Sumpah suer deh!", ucap Lian lagi sambil nyengir dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah seperti (peace).


Farel hanya menanggapinya dengan muka datar, namun setelahnya dia nampak kaget karena suatu hal.


"Loh! Tangan lo kenapa, lo gapapa? Mana lagi yang sakit?!", melihat telapak tangan Lian sampai siku Lian tergores dan memerah, lalu membolak-balikkan tubuh Lian mencari luka lain.


"Siapa yang buat lo kayak gini!" menatap tajam.


"A-a-ak-aku ga-gapap-.." gugup Lian tau kalau setelah ini Farel akan mengintrogasinya dan menghukum orang yang bertabrakan dengannya karena emosinya susah dikendalikan.


"Jawab LIA-.." ucapannya terpotong.


"Ada apaan sih Rel?!" kata Lashon datang dari arah barisan kelasnya membuat Farel dan Lian menengok ke arahnya.


"Loh! Metis! Kenapa lo Li! Mana lagi yang sakit? Ayok ke UKS! Bisa jalan nggak? Sini gue gendong!" berjongkok membelakangi Lian.


Perlakuan Farel dan Lashon membuat Lian meringis, ragu harus berbuat apa.


Teman-teman lain disekitarnya hanya berani melihat ke arah mereka bertiga tanpa berani menegur melihat muka dingin Farel. Kedekatan mereka bertiga sudah merupakan hal biasa bagi anak kelas Lian maupun Farel dan Lashon.


Saat upacara kelas mereka memang bersebelahan, jadi mereka bertiga hanya menjadi pusat perhatian teman-teman kelas mereka bertiga saja. Anak-anak kelas lain hanya bisa melihat dan saling berbisik dari kejauhan melihat mereka bertiga.


"****! Bangs*t! Ke UKS sekarang!", ucap Farel lalu berlalu ke UKS mendahului Lian dan Lashon.


"F*ck! Kena juga nih gue, ayo cepetan Tis naik! Keburu Farel tambah marah, serem!", ucap Lashon masih berjongkok sambil menengok ke Lian.


Lian bergerak mau menaiki punggung Lashon tapi diurungkan, matanya juga sudah berkaca-kaca karna takut Farel akan lepas kendali.


"Ma-malu Lashon. Aku jalan aja deh yaaa. Aku bisa kok..", ucap Lian lalu berjalan mendahului Lashon ke arah belakang barisan kelas setengah menahan pincang namun tetap keliahatan.


Lashon lalu mengusap wajahnya kasar.


"F*CK!", umpat Lashon keras sampai Lian menengok kebelakang.


Ternyata Lashon juga sedang menahan amarah, terlihat mukanya yang memerah. Lashon pun langsung menghampiri Lian yang mematung dengan air mata yang sudah menetes dipipi merahnya.


Lian yang terkejut sampai memekik, lalu reflek mengalungkan tangannya ke leher Lashon.


"Lashon, jangan ikutan marah..Li-lian ga-gapapa kok beneran", ucap Lian setengah menahan tangis karena takut Farel dan Lashon marah kepadanya.


"DIAM!", geram Lashon menyentak keras sampai didengar banyak orang di samping mereka. Kemudian berlalu ke UKS.


.


"Njirrr..itu tadi beneran Farel sama Lashon sohib kita? Ngeri njir!", ucap Raid dibuat merinding dengan sentakan Lashon terakhir.


"Hm..", dehem Nizar.


"Iya anjir, gue baru tau Lashon bisa marah sampe kayak gitu", ucap Tio yang berdiri bersebelahan dengan geng Lashon.


"Gue kicep ngliat tampang Farel malah", celetuk Raid.


"Eh, tapi Lian gapapa kan gaes? Mana sampe nangis gitu", tanya Rosa yang berada di depan barisan geng Tio.


"Ngga tau gue, gue tapi liat tangan Lian merah", ucap Gahar.


"Gue susulin ke UKS aja kalok yaa" tambahnya.


"Jangan! Lo ntar malah abis sama Farel", ucap Nizar sambil memainkan hpnya.


"Lah apa urusannya sama Agar, dia kan Cuma nengok", balas Dennis kemudian.


"Lo pada cuman belum tau Farel yang sebenernya aja", ucap Nizar.


"Udah tenang aja, Lian pasti aman sama mereka", ucap Naya.


"Dih, lo kok santuy banget sih. Temen kita luka tuh Nay, ih" ucap Anya gemas ke Naya.


"Lah! Lo kan tau Naya orang tersantuy sepanjang peradaban", jawab Rosa dibalas kekehan Anya.


"Udah cepetan baris lagi..", Ucap Naya.


Belum ada 1 menit berlalu dari ucapan terakhir Naya, instruktur upacara telah memandu upacara untuk dimulai. Jalannya upacara berlangsung khidmat seperti biasanya.


.


.


.


Disisi Lain, ada seseorang yang memperhatikan Lian sedari awal dia datang lalu bertanya.


"Cewek tadi siapanya Farel?", tanya seseorang yang berdiri di sebelah Dane setengah berbisik.


"Kenapa lo?! Suka? Mending jangan dehhh, ntar lo habis sama pawangnya.", celetuk Dane menanggapi.


"Ngga, gue heran aja mereka segitunya ke cewek itu", jawabnya.


"Si Lian itu spesial, macam nasi goreng karetnya 5", canda Dane lalu terkekeh pelan.