
Bersamaan dengan kedatangan guru muda yang masuk duduk dibangku guru, datanglah 2 perempuan yang mengisi meja depan Lian dan Rosa. Kedua orang itu pun menengok ke belakang lalu menyapa Lian dan Rosa.
Lian merasa kedua orang ini bisa menjadi temannya, bahkan sahabatnya sampai dia lulus nanti. Diapun lalu tersenyum karena merasa senang dan lega bisa mendapat teman baru dilingkungannya yang baru.
LIAN POV
"Hei!" sapa perempuan di depanku yang menengok ke arahku dan Rosa diikuti teman sebelahnya.
"Hei juga!" ucapku dan Rosa bersamaan.
Lalu guru didepan kelas membuka percakapan dan kelasku hari ini.
"Good Morning Class! Perkenalkan, nama saya Betari Ayudyana wali kelas kalian di kelas IPS 2 ini.. Emm, wali kelas sampai kalian lulus. Jadi, semoga ibu bisa membimbing kelas ini bersama kalian dengan baik dan mohon bantuannya ya. Salam kenal semua...", ucap wali kelasku yang merangkap menjadi Guru Bahasa Jawa.
Berhubung hari ini hari pertama kelas X masuk sekolah untuk memulai pelajaran, maka upacara ditiadakan dan diganti dengan perkenalan diri setiap siswa di kelas masing-masing.
Perkenalan diri akan dipandu oleh wali kelas dan kelasku memulai perkenalan diri menurut urutan tempat duduknya. Di awali dari baris pertama banjar pertama dekat pintu,
"Kamu.. iya kamu", ucap Bu Betari menunjuk teman sekelasku untuk memperkenalkan diri. Bu Betari mengarahkan jari telunjuknya, menunjuk temanku yang berada di ujung depan samping pintu untuk berdiri memperkenalkan dirinya di depan kelas dan begitupun seterusnya sampai barisan terakhir.
Sampai pada wanita itu. Kalian tau maksudku? Dia, wanita yang menatap ke arahku sebelumnya.
"Hai gaes, nama gue Aranis Kiranna Zanna biasa dipangil Ara. Gue dari SMP 1 Surabaya yang hits itu lohhh, salam kenal ya semua. Semoga pada bisa akrab sama gue, bisa banget kok save nomer gue. Ntar gue kasih setelah ini, follow ig gue juga. Araaanna a-r-a-a-a-n-n-a", katanya lalu tersenyum manis setelah selesai memperkenalkan diri. Ets, tapi tanpa melihat ke arahku ya. Bahkan sepertinya, melirikku saja dia enggan.
Aku semakin yakin akan ada hal yang tidak kuinginkan, jika aku berdekatan dengannya. Yang jelas pastinya akan membuatku pusing kepala atau bahkan merugikanku. Huh, aku hanya bisa menanti saat itu tiba.
Selesai perkenalan diri, Bu Betari meminta kita melanjutkannya dengan pembuatan struktur kelas dan jadwal piket. Aku ditunjuk Ara menjadi wakil ketua kelas.
Ah, sebenarnya aku tidak mau. Malas sekali harus melakukan ini itu, apalagi yang menunjukku dia! Huh, aku lebih suka melakukan hal yang kusuka bersama sahabat-sahabatku.
Sialnya, teman-teman sekelasku pun sama saja.. yang lain menolak karena terlalu merepotkan untuk menjadi struktur kelas. Mereka tidak mau ditunjuk, apalagi mengajukan diri.
Pada akhirnya mereka mendukung usulan Ara. Yaa, bahkan hari pertamaku sudah dia jadikan sebagai alasan kebenaran prediksiku atas karakternya. Sial,
Terpaksa aku mengalah dan membantu Ben dalam tugasnya menjadi ketua kelas, dan Rosa menjadi sekertaris.
Perdebatan masih belum berakhir. Sekarang kelasku memperdebatkan masalah bendahara kelas. Kalian pasti tau, memegang uang kelas tak semudah yang dibayangkan. Ditambah jika ada manusia-manusia yang nunggak bayar uang kas kelas. Iya kan??? Ah, merepotkan sekaliii..
Setelah lama saling tunjuk dan tak mau mengalah, Naya.. perempuan yang duduk di depanku mengalah. Dia akhirnya bersedia, bahkan menawarkan dirinya untuk menjadi bendahara. "Muak", kata yang dia keluarkan saat mendengar perdebatan teman sekelasku yang menurutnya tak penting. Buang-buang waktu. Itu alasannya, keren kan?
Jadi, tanpa disadari struktural inti kelas di kelasku semua berada di barisanku. Oiya, perkenalkan.. dua orang di depanku yang menjadi bendahara dan sebelahnya.
Namanya Naya. Bendahara itu, yang kemungkinan kandidat sahabatku dari SMA ini. Naya, Ivajovita Nayara Meisie dan di sebelahnya yaitu Anya sahabat Naya sedari SMP Naya.
Anya, Ayunindya Fawnya Gayatri. Kedua orang didepanku dan Rosa ini juga asli orang Surabaya. Bedanya Rosa masih ada keturunan Bali dari sang ibu.
Setelah semuanya selesai, Bu Betari memperbolehkan kami semua untuk beristirahat. Waktu istirahat hari ini sebenarnya pukul 10. Namun karna sesi perkenalan dan hal lainnya sudah selesai, kita sedikit memaksa Bu Betari untuk mengizinkan kelas kami istirahat lebih awal.
Ya, saat ini memang masih sekitar 15 menit sebelum tepat pukul 10. Namun karena kita semua sudah lapar atau memang kita yang nakal hehe..kita pun sedikit merayu Bu Betari dan akhirnya diizinkan untuk turun. Istirahat ke kantin.
Kantin memang berada di lantai dasar, dekat dengan lapangan outdoor. Hal ini dikarenakan kantin yang dimiliki sekolah ini sangat besar.
Ya harus besar memang. Sekelas saja ada 32 orang dikali 4 kelas di IPS, belum yang IPA dan Bahasa. Ditambah kelas XI, XII, guru dan staff lainnya. Jadilah kantin ini bisa muat sampai 1500an orang, tapi dibagi kantinnya dibagi ya..sayap kanan, kiri, dan tengah. Bayangin aja segede apa deh.
Aku, Rosa, Naya, dan Anya turun menggunakan tangga, kami tidak menggunakan eskalator atau lift karena malas antri berdesakkan dan yaa kami merasa sehat haha. Sesampainya di kantin sayap tengah..
"Eh, kita duduk dimana nih?", tanya Naya kepada kita bertiga,
"Sana aja ya yang deket sama kipas, aku ngga suka gerah soalnya", kataku kepada mereka.
" Yaudah lo sama Rosa tunggu aja disana, gue sama Naya pesen makan. Mana duit kalian sini, pesen apaan?", kata Anya sambil menengadahkan tangan meminta uang.
"Nih, pake uang aku aja. Kali ini aku bayarin.. itung-itung buat perkenalan kita, aku pesen siomay aja deh sama jus jeruk hehe", kataku sambil memberikan satu lembar uang berwarna merah ke Anya.
"Wis, si bos! Sering-sering deh yaa. Yuk Nya!", canda Naya lalu pergi dengan Anya. Aku hanya terkikik geli lalu pergi ke meja yang aku tunjuk tadi.
.
Beberapa saat kemudian..
"Loh, mana makanannya?", tanya Rosa kepada Naya dan Anya karena mereka datang ke meja kita tak membawa makanan ataupun minuman apapun.
"Dianter katanya, keren ya sekolah disini makanan aja di anter. Kita cuman tinggal pesen doang trus bayar", cletuk Naya.
"Hooh sebanding sih sama harganya.. tapi untung gue keterima masuk sini. Kalau ngga, ngga tau deh gue sekolah dimana", kata Anya menanggapi ucapan Naya.
Oiya, kita siswa baru memang baru pertama kali ke kantin sekolah. Alasannya karena saat MOS kita bawa bekal+cemilan sendiri dan nggak diperbolehin beli di kantin atau di luar sekolah.
"Eh btw lo asli mana sih Li? Lo bule ya? Kok pake aku-kamuan juga, ngga lo-guean?", tanya Anya kepadaku yang memperhatikan mereka berbicara.
"Aku bukan bule, cuman blasteran doang. Campuran Spanyol, Aussie, sama Indo tapi aku sebelumnya tinggal di Jogja, aku pake aku-kamu karena ngga terlalu nyaman pake lo-gue. Toh di Jogja jarang yang pake lo-gue, paling ya kecampur sama aku-koe. Hehehe", kataku menjelaskan.
"Em, tapi kadang aku juga pake lo-gue kok kalok lagi kepengen.", jawabku ke Anya.
"Unik ya lo! Di Surabaya juga masih pake koe-arek juga, cuman karna kita di International School jadi kebiasaan deh. Kebawa soalnya", ucap Naya ikutin menimpali.
"Ih jadi pen liat keluarga lo deh, mau liat keluarga temen gue yang blasteran kayak gimana. Haha norak banget gue, mau dong main ke rumah lo. Eh iya, trus lo sekarang tinggal dimana?", tanya Anya lagi.
"Iyalah norak, orang temen cuman gue", celetuk Naya sambil memainkan HPnya.
Kulihat Anya sedikit mendengus tapi juga tak menolak respon Naya itu.
"Aku tinggal di Utari Residen, kalian main aja ke rumahku. Kapanpun ayok aja, mamahku pasti seneng deh kalo kalian maen", ucapku antusias.
Karena memang aku dan mamah belum punya teman akrab di Surabaya. Kalik aja kan ortunya temenku bisa jadi temen maennya mamahku juga di Surabaya. Sekalian jadi temen geng mamahku dan mom Lashon sahabatku itu.
Oiya kalau kalian tanya Rosa, dia ada kok di sampingku dan duduk di depan Naya. Naya hanya manggut-manggut aja dan Rosa sibuk dengan memperhatikan percakapanku dan Anya, walau sesekali memainkan HPnya.
Kita pun melanjutkan perbincangan kita sambil menunggu makanan datang. Yaa itung-itung saling bertukar sedikit latar belakang kita, karna kurasa mereka memang sefrekuensi denganku.
Tak berselang lama, Dennis, Gahar, Ben, dan Tyo datang duduk dimeja sebelah kanan kita. Mereka menyapa gengku dan ikut berbasa-basi sebentar lalu mereka lanjut mabar.
Sambil mabar salah satu dari mereka juga kadang menanggapi obrolanku dengan ke 3 sahabatku. Kita berdelapan juga sempat saling tukeran nomor dan buat grup sebelumnya.
Geng Dennis memilih duduk di samping kita karena ingin duduk ditempat yang lebih jauh dari keramaian. Ditambah ada gengku, jadi paslah sekalian join biar lebih deket. Mereka bisa langsung duduk karena memang meja samping kanan dan kirikulah yang masih kosong di barisan ujung dekat tembok.
Iya, memang banyak meja yang kosong.. apalagi bel sekolah belum berbunyi saat itu. Tapi di barisan tengah sampai ke barisan yang dekat dengan stand makanan lebih ramai, berisik, dan tak terlalu cocok mungkin dengan orang-orang sepertiku. Sekarang saja sudah ramai karna ada yang antri membeli makan, apalagi nanti saat sudah bel istirahat.
Mungkin geng Dennis juga kurang suka duduk didekat stand makanan yang ramai. Sedangkan di barisan dekatku memang jauh dari stand makanan dan kasir, jadi otomatis lebih sepi.
Oiya satu meja di kantin bisa digunakan untuk 6-8 orang jadi memang mejanya agak luas seperti di warteg pinggir jalan gitu.
Tak berselang lama makanan kita datang, lalu kita langsung makan sambil sedikit mengisi keheningan dengan obrolan ringan. Tapi tiba-tiba..
.
.
.