
***Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.
Mohon dukungannya mentemen
❤️❤️❤️***
.
.
.
"Quen.."
.
"Quen.."
.
"Quenaaaa"
.
"Isss, yaudah. Jangan salahin aku kalok habis ini, si anak Metis ngga bakalan bisa berhenti diem", katanya.
.
Bentar...
.
"Maksudnya apaan?", batinku. Aku tetap membelakanginya pura-pura tidur.
.
"Quen..."
.
"Quenaaaa"
.
"Quen..."
.
"Quenaaaa"
.
"Ohh okey kalok Quena ngga mau jawab. Dasar anak Metis!", kata Farel.
Setelah Farel selesai mengatakan itu, Farel kemudian bergerak membuat ranjangku bergoyang. Farel mendekatiku, aku bisa merasakan itu. Saat ini Farel berada di belakangku, entah apa yang dia perbuat. Hening..tak ada pergerakan apapun dari Farell. Karna aku penasaran, kubuka mataku agak menyipit. Dan benar saja Farel berada di belakangku.
Melihat aku menyipitkan mata, Farel langsung mengungkungku dengan kedua tangan berada di kanan kiri bahuku. Farel kembali mendekatkan wajahnya membuat aku langsung terhenyak dan mendorongnya. Reflek aku langsung membalik badan ke arahnya. Dengan cepat Farel kembali mendekat ke arahku, lalu....
.
Klitik
.
Klitik
.
Klitik
.
Farel menggelitikiku di bagian samping badanku. Aku yang tak siap mau tak mau hanya bisa menerima perlakuan Farel.
.
.
"Hahahah udah Farel hahaha"
.
"Farel hahaha aku haha Farelll"
.
Sampai aku lelah tertawa dia baru melepaskanku dengan kebahagiaan di mukanya. Dia mendekatiku lalu mencium bibirku. Shit! Bahkan kita udah dewasa Farel! Apa dia tak pernah menganggapku sebagai seorang wanita. Sial!
"Farel ihh! Jangan cium-cium", kataku.
"Kenapa? Bahkan itu hanya kecupan. Bukankah lebih dari itu pun biasa untuk kita?", tanyanya.
Yup, harus kalian ingat gaes. Setengah dari kita darah orang western dan budaya kita pun begitu. Sahabat lawan jenis sangat biasa untuk sekedar ciuman bibir atau tidur satu ranjang (but no s*x you know?). Hanya karna terbiasa bersama sehingga tak ada batasan selain batasan yang memang harus dilakukan dengan seorang pasangan yang sudah menikah. Yah, kecuali yang berfikir itu juga tak apa-apa ya. Kita fleksibel aja ya kan, open minded oke?
"Iyaa, tapi kan kita lama ngga kayak gitu. D-dan kita kan udah hampir 17 tahun Lofaa..itu ngga boleh lagi", jelasku.
"Hm? Bukankah semakin kita bertambah tua, hal itu bebas untuk kita. Toh hanya sebuah kecupan, ah baiklah kalau kau tak mau lagi. Tak masalah. Lalu, ayo tidur kamu harus istirahat Quena", kata Farel lalu merebahkan badannya di samping menutup matanya dengan lengannya.
"Huft, apa aku keterlaluan? Pasti dia mengira aku menolaknya karna tak suka, padahal aku hanya takut kelewatan dan ngga bisa jaga batasan perasaanku. Dengan Lashon saja terakhir mungkin saat kelulusan", batinku.
"Lofaaa", panggilku tapi tak ada jawaban. Fix dia ngambek.
"Huh, apa yang harus ku lakukan.. Ck! Harus banget balik cium dia, huft ya sudah lah daripada dia ngambek malem ini. For God Sake!", batinku.
Dengan posisi duduk aku mulai mendekatkan wajahku ke wajah Farel. Untungnya dia menutup matanya dengan lengan, aku sangat akan malu jika dia bisa melihat mukaku saat ini. Karena dari dulu Lashon dan Farel yang lebih dulu menciumku, bukan aku. Aku hanya akan menerima perlakuan mereka saja. Mohon ya jangan berfikir ini negatif, budaya kami hal ini sangat biasa okey.
.
Cup
.
Bibirku menempel di bibir Farel. Farel? Bahkan tak terkejut, ada pergerakan pun tidak. Apakah dia pura-pura tidur? Saking biasanya ciuman dengan wanitanya? Atau memang sudah tidur? Fikirku bertanya-tanya. Akhirnya aku memperdalam ciumanku. Aku sedikit bermain di bibir Farel. Tangan kananku kupergunakan untuk menopang tubuhku di atas bahu kiri Farel. Sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk menggenggam rambutku yang saat ini tergerai agar tak mengganggu.
Kulumat bibir bagian atas Farel, tapi masih saja tak ada balasan darinya. Kusesap bibirnya, kugigit kecil namun tetap saja dia diam. Hanya hembusan nafasnya yang terasa menerpa wajahku. Karna seperti tak ada kemajuan, akhirnya aku mencoba berganti menyesap bibir bawahnya. Lama tak ada balasan aku langsung menarik lengan yang menutup matanya, lalu duduk di atas perutnya.
Aksiku membuat dia membuka matanya. Ya, hanya sekedar membuka mata. Karna kesal, aku menarik kedua lengannya membuat dia duduk. Setelah aku berhasil membuatnya duduk, kubuat kedua tangannya memelukku. Kedudukan diriku diposisi ternyamanku, lalu kutangkup wajahnya. Aku mulai mendekatkan wajahku ke wajah Farel lagi. Kucium bibirnya lagi, dengan pandanganku yang tak lepas dari matanya.
Akhirnya. Kali ini Farel membalas ciumanku. Yes, si bocil ngga ngambek lagi. Aku memejamkan mataku, mengalungkan tanganku ke lehernya. Salah satu tanganku mulai menekan tengkuknya, bermain di rambut bagian belakang kepala Farel. Kuperdalam ciumanku hingga tak sadar aku dan Farel sudah terlalu jauh. Tangan Farel mulai bergerak menyusuri tubuhku dan masuk ke dalam night gownku. Hanya menjamah di luar bagian sensitif seorang wanita. Tak lebih.
Lidah kami saling mengabsen setiap tempat di dalam sana. Sangat mengasyikkan hingga aku menyudahi ciumanku karna kehabisan nafas. Bahkan aku tak ingat seberapa lama kami berciuman. Kusandarkan badanku ke bahu kanan Farel dan memeluknya seperti koala bersandar dengan sang induk. Farel mulai mengangkat badanku lalu bergeser ke belakang agar dia bisa bersandar di sandaran ranjang kamarnya. Dia mencium leherku membuat satu cupangan disana.
Lagi-lagi itu hal biasa menurutku. Tapi aku tak tau untuk teman sekolahku disini karna aku belum pernah membuat cupangan sebelumnya. Karna aku tak mau dianggap buruk sendirian, aku juga membuat 2 buah tanda cupangan di leher Farel. Haha terlihat seperti gigitan ular. Karena kegerahan, Farel membuka kaos yang digunakannya untuk tidur. Tak lama akhirnya kita berdua sama-sama tertidur masih dengan posisi ini. Ah kurasa kakiku akan kram besok, pasti aku akan susah berjalan fikirku hingga ruang kosong menutup kesadaranku.
.
.
.
Pagi harinya, aku merasakan sebuah pergerakan di bawah sana. Yup, biasakan kalok cowok pagi-pagi. Dengan berat hati aku membuka mataku walau mentari masih malu-malu untuk menampakkan diri. Kucoba menegakkan badanku dan mendongak melihat Farel. Ternyata Farel masih tertidur, tangannya masih memelukku. Imutnya. Kuusap pipi garis rahangnya yang sudah mulai ditumbuhi oleh rambut. Perlakuanku membuat Farel membuka matanya. Akhirnya ku berikan kecupan untuk Farel di pagi hari.
Tak disangka Farel malah semakin mengeratkan pelukannya padaku. Matanya menyorotku dengan tajam lalu menarik tanganku yang masih berada di rahangnya. Farel meletakkan tanganku di agak bawah perut atletisnya. Tanganku mengusap lembut perut Farel, kutundukkan kepalaku hanya untuk melihat pergerakan tanganku di perut Shirtless Farel.
Tangan Farel mulai menelusup ke balik bajuku membuat aku lalu mendongak kembali melihat wajahnya. Kulihat matanya mulai sayu lalu Farel mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Farel mulai menciumku, ******* lembut bibirku, menyapu bibir bagian atas dan bawahku juga menekan tengkukku. Kuangkat pinggulku menyuruhnya untuk mengeluarkan miliknya agar bisa kuapit tanpa melihat ke bawah. Setidaknya aku membantu mengeluarkan apa yang menyiksanya sejak semalam, dengan sedikit menggerakkan badanku. Semoga saja itu terasa olehnya karna aku pun juga hanya menggunakan G-String. Harusnya sih bisa.
Berkali kami berpagutan hingga Farel menekanku ke bawah sampai aku bisa merasakan gesekan miliknya semakin intens. Aku masih dengan perlakuan yang sama, menggerakkan badanku membuat Farel keenakan. Yup dan berhasil, Farel mengeluarkannya membuat milikku beserta G string yang kukenakan dan pahaku ikut basah terkena cairannya. Kami lalu menghentikan ciuman kami, setelah nafas kita kembali normal aku mulai sadar lalu memandang ke arah Farel. Sejenak kita berdua saling memandang lalu tersenyum. Aku kemudian kembali ke kamarku untuk mandi di pagi hari, menghilangkan bau cairan Farel dan mencuci bajuku yang terkena cairannya.
.
.
.