At The Moment

At The Moment
14. Minta Maaf atau Tidak?



LIAN POV


"Li, lo gapapa? Gue kaget banget sama kejadian tadi gila! (Menoleh ke arah Lashon) Shon! Lo keren banget tadi sumpah! Kayak yang ada di film-film action anjir!" ucap Rosa ketika sudah berada di samping Lian.


"Aku gapapa, Lashon sama Farel aja yang terlalu berlebihan. Huh," jawabku.


Lashon pun mengacak rambutku dan terkekeh lalu duduk dibrankar sampingku, membuka HPnya.


"Tapi lo gapapa kan Li?", tanya Naya.


"Wih tumbenan si santuy nanya. Biasanya lo bodoamat, haha", potong Rosa ketika aku akan menjawab.


"Lian mah gapapa njir, yang parah tuh Sean anjay. Dia sampe pinsan digebukin Lashon sama ditonjok Farel. Gila emang nih manusia berdua!", kata Raid.


"Iya anjay, lo semua kalo tadi ikut ke tempat kejadian.. behhhhhhh parah! Plo semua pasti ikut merinding! Gue aja nih, yang misahin Lashon...kayak ngrasa cari mati tau nggak.", lanjut Dane.


"Hah? Trus si Sean Sean itu sekarang dimana?", tanya Anya penasaran.


"Udah, diurusin tuhhh sama si Lashon.", jawab Gab. "Tapi gila ya si Lashon bisa tenang banget habis gebukin orang. Cuman ngasih kartu nama trus udah deh kelar," Gab angkat suara.


"Wih, coba gue tadi lolos buat ikut lo pada. Kayaknya seru tuh liatin Lashon maen tonjok, hahha", Ben pun ikut buka suara.


"Sialan!", jawab Lashon ke Ben sambil terkekeh membuat yang lain ikut tertawa.


"Lo tapi tadi kenapa sih Li?", tanya Gahar karena dia kepo sejak tadi.


Akupun menceritakan kesialanku hari ini, Farel dan Lashon kulihat hanya memainkan hpnya tanpa peduli jalan cerita yang aku ceritakan.


"Gila, kayak gitu bisa bikin orang pingsan trus masuk rumah sakit?! Kagak berani-berani deh Li gue gangguin lo lagi di kelas!", ucap Dennis, membuat fokus Farel dan Lashon dari hpnya teralihkan menatap Dennis.


"Maksud lo?!", tanya Farel dengan suara rendah.


"Ih apaan sih Lof", potongku sambil memalingkan wajah Farel yang memandang Dennis tajam ke arahku.


"Duh, kenapa sih Dennis pake ngomong kayak gitu sekarang. Emosi Farel sama Lashon kan belum ilang, ih mau habis apa sama Farel", batinku.


"Dennis cuman kadang bercanda sama aku Lof, ngga berlebihan kok", tatapku ke Farel teduh agar dia percaya.


"Ampun bos! Aku bocahmu", celetuk Dennis cepat. "Biasalah kadang gue sama Tio sama Ben suka jailin Lian cs. Hehe", lanjutnya sambil menggaruk tengkuk.


"Lah, apa lo bawa-bawa gue!", sanggah Tio.


"Iya njir, lo yang kena bawa-bawa kita. Mana Agar-Agar ngga disebutin juga lagi, ngga setia kawin lo!", ucap Ben.


"Udah ih, kalian kenapa jadi ribut sih!", kesalku pada mereka.


"Pokoknya aku ngga mau tau nanti Cair sama Lofa harus minta maaf ke Sean Sean itu!"


"NGGAK!", jawab Farel dan Lashon serempak.


"Aku nggak mau tau ya pokoknya harus! Atau aku bilang ke Bang Zain biar dia terbang balik lagi ke sini!" ancamku pada mereka berdua.


"NGGAK! JANGAN!" ucap mereka bersamaan lagi.


"Iya, nanti gue minta maaf." ucap Lashon mengalah.


"Farel juga!", ucapku pada Farel.


"Nggak gue ngga mau, laporin aja ke Bang Zain. Gue mending hadepan sama Bang Zain daripada harus minta maaf ke dia", ucapnya padaku.


"Ck! (Cemberutku) Huh, tapi ikut jenguk ya nanti. Temenin aku, yaa", kataku pada Farel mengalah.


Ya, aku tau bagi seorang mafia sepertinya memang minta maaf seperti menjatuhkan harga dirinya.


"Iya, kewajiban gue emang jagain lo", katanya padaku. Akupun tersenyum menanggapinya.


AUTHOR POV


Farel menggendong Lian ke kelasnya karena Lian kekeh untuk mengikuti pelajaran. Lian cs termasuk geng Dennis dan geng Lashon setuju untuk ikut menemani Lian menjenguk Sean di rumah sakit sepulang sekolah.


Saat di kelas Lashon juga sudah mendapatkan kabar bahwa Sean siuman dan benar saja, rahang Sean retak akibat tonjokan Farel. Setelah bel pulang mereka pergi ke Rumah Sakit Affandi Surabaya menggunakan kendaraan mereka masing-masing.


Hari ini sekolah pulang lebih awal karena memang hari perdana semester ini, sehingga guru dan staf akan ada rapat awal semester.


Lian ikut bersama Lashon karena Farel tak membiarkan Lian bersamanya menggunakan motor. Mereka mampir ke cafe terlebihan dahulu untuk makan siang dan membeli cemilan untuk dimakan di rumah sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit mereka langsung menuju ke ruangan Sean.


"ASSALAMU'ALLAIKUM!", teriak Tio setelah membuka pintu.


"Wa'allaikumsalam", jawab Sean lirih.


"Ih, lo ngga jelas banget sih! Ini rumah sakit bocah!", ucap Rosa memukul punggung Tio.


"Bukan temen gue", kata Ben membuat yang lain terkekeh.


"Hiyaa ampunnn, muka lo rusak parah!", heboh Anya melihat muka Sean. Sean hanya mengangkat pipi kirinya untuk menanggapi karna bingung.


"Dasar lampir, gitu aja heboh!", celetuk Gab dibalas cicitan Anya menirukan ucapan Raid tanpa suara.


"Baik", jawab Sean.


"Kayaknya masih kurang nih Rel!", kata Lashon ke Farel lalu merangkulnya yang sedang berjalan masuk ke ruangan.


Farel hanya menaikkan satu alisnya lalu menatap Sean yang terbaring.


"Cair! Apaan sih, jangan coba-coba ya!", kata Lian yang masih berdiri kemudian berjalan menuju samping brankar Sean.


"Kamu, gapapa kan? Maafin Lashon sama Farel ya, mereka udah keterlaluan sama lo. Mereka khawatir banget sama gue karna lecet", katanya.


"Iya gapapa, gue juga salah", jawab Sean.


"Bagus deh kalok gitu", sela Lashon.


"Cair!", kata Lian menoleh ke belakang menatap Lashon. "Minta maaf!"


"Ck! Sorry! Gue sengaja, tapi gue ngga nyesel gebukin lo!", kata Lashon.


"Cair..", kata Lian. Melihat Lashon malah menarik Farel untuk duduk di sofa depan TV membuat Lian menghela nafas lalu kembali melihat ke arah Sean.


"Maafin mereka ya, mereka emang kayak gitu kalok berkaitan sama aku. Tapi sebenernya mereka baik kok"


"Iya santai aja lagi, btw jangan hubungin orang tua gue ya. Gue ngga mau mereka khawatir", kata Sean.


"Kita juga kaga tau kontak nyokap bokap lo", ucap Raid.


"Baguslah", kata Sean.


"Btw, jadi karena ini lo tadi tanya hubungan Farel sama Lian itu apa?", lanjut Dane.


Membuat Farel yang menunduk memainkan hpnya menoleh ke arah Sean.


"He-hah? Oh i-iya" jawab Sean terbata.


"Gue sebenernya tadi mau minta maaf dan ngga enak ke lo Rel karena udah buat cewek lo kayak gitu", lanjutnya.


"Lian bukan cewek gue, tapi dia setengah hidup gue", jawab Farel.


"Eemmmm, so sweet", tanggap Rosa.


"Apaan sih lo Ros!", lanjut Dennis menoyor kepala Rosa.


"Jangan pake noyor-noyor Dennisss", kata Anya.


"Tuh DENGERIN!", kata Rosa girang.


"Dibelain gitu doang seneng lo", kata Naya.


"Ih Nayaaa! Ngeselin!", kesal Anya membuat kita semua tertawa mendengar perdebatan mereka ya kecuali Farel, Lashon, dan Nizar tentunya yang hanya mengamati lalu terkekeh kecil.


Setelah berhenti tertawa suasana kembali sunyi, ya karna ditengah geng mereka ada Sean yang membuat mereka tak leluasa dan canggung. Kalian taulah pasti kalau ada orang lain tiba-tiba masuk ke circle kalian pasti awkward banget kan.


"Em, terus siapa yang bakalan jagain kamu? Oiya, kata dokter apa?", tanya Lian ke Sean.


Lian sudah duduk di kursi sebelah brankar Sean.


"Cuman harus nginep 3-4 hari nunggu rahang gue agak baikan sama nyeri diperut gue ilang", jawab Sean.


"Trus yang nungguin lo siapa?", tanya Gab.


"Gue bisa sendiri, toh cuman nyeri", jawab Sean.


"Trus bokap nyokap lo ngga nyariin?", tanya Gahar yang sedari tadi diam.


"Gue tadi udah bilang nginep di rumah Linch. Toh mereka bakalan keluar kota beberapa hari besok", jawab Sean.


"Oh yaudah, nanti ak-.." ucapan Lian terpotong oleh Farel.


"Nggak! Lo tidur di rumah, biar gue sama Lashon yang nginep disini", ucap Farel dengan nada rendah menatap Lian.


"Huh", hela Lian.


"Udah tenang Li, ntar gue bakalan nemenin mereka berdua", ucap Nizar pada Lian.


"Ntar gue sama Gab sama Dane ikut juga kok Li, lo tenang aja!", ucap Raid yang diangguki Gab dan Dane.


"Hooh, gue juga bakalan ikut main kesini sama anak-anak. Toh pasti sahabatnya Sean bakalan kesini", ucap Dennis.


"Iya, kamu ngga usah kesini. Tadi gue juga hubungin temen gue buat bawain tas, ntar lagi juga mereka dateng. Mereka baru mau ikut rapat seleksi panitia ultah sekolah soalnya", ucap Sean pada Lian.


"Oh, iya deh. Aku nanti kesini aja sesekali" jawab Lian.


Farel lalu beranjak berdiri, menarik tangan Lian untuk bangkit dari duduknya membawanya duduk ke samping Lashon. Farel hanya kurang suka Lian berdekatan dengan lelaki lain yang belum cukup dikenalnya, walaupun latar belakang Sean sudah ia cari.


Sean merupakan anak partai besar di Indonesia, ibunya Sean memiliki usaha restoran di Surabaya yang cukup terkenal. Sean juga memiliki kakak perempuan bernama Indira Khiyoko Chalondra Nasyir yang sebaya dengan Aile, namun dia kuliah di kampus swasta elit di Surabaya.


Mereka melanjutkan perbincangan dengan mengobrol dan bercanda, hingga sekitar pukul 5 sore sahabat Sean datang.