At The Moment

At The Moment
23. Heboh



LIAN POV


Aku masih tak bisa mengkontrol jantung dan kesadaranku saat aku berpisah dengan Sean. Ntah mengapa debar jantungku tak kunjung berdetak normal bahkan kurasakan wajahku masih terasa panas.


"Apa yang tadi bisa dibilang ciuman? Apa Sean telah mengambil firstkiss ku? Aaaaaaa, perasaan apa ini!", batinku berteriak.


"Li, lo kok bisa bareng Sean?", tanya Anya.


"He? O-oh i-itu, ta-tadi aku ketemu Sean waktu di ruang musik. Iya ruang musik"


"Kenapa lo balik-balik jadi gagap si Li. Aneh lo Li", ucap Rosa.


"Lo diapain Sean?", tanya Naya.


"H-hah? Nggak.", ucapku menggeleng lalu menyantap siomayku.


"Li, lo nggak minum dulu? Bukannya lo nggak bisa makan tanpa minum dulu?", tanya Anya.


"Oiya, aku lupa", kataku lalu meringis ke Anya kemudian meminum es tehku.


"Lo, diapain sama Sean. Jujur aja", kata Naya.


"Iya, gue curiga lo diapa-apain sama Sean trus buat lo jadi gagap gini. Sean mukul lo? Atau nglabrak lo? Dia nggak terima geng Aln kemaren kita gituin?", tanya Rosa tanpa sepasi.


"A-aku-"


"Udah jawab aja jujur Li, kayak sama siapa aja. Lo dicium Sean? Atau ditembak Sean?", tebak Naya.


"APA!", kaget Rosa dan Anya membuat atensi di kantin ke arah meja kita.


"Beneran?", tanya Anya.


"Maaf", kataku ke orang-orang di kantin sambil menyatukan tanganku.


"Apaan sih? Jangan teriak-teriak, malu!"


"Lo ditembak Sean?", tanya Naya lagi lalu kujawab gelengan.


Lalu kuceritakan apa yang terjadi padaku tadi ke mereka.


"WHAT!", ucap serempak mereka bertiga.


Aku yang malu pun menutup mukaku sambil menunduk lalu melihat sekitar sedikit tersenyum dan meminta maaf. Betapa malunya aku, kulihat di seberang sana Sean terkekeh kecil melihat ke arahku. Akupun memutuskan kontak mata kita berdua dan melihat ke arah tiga sahabat dagjalku.


"Ck! Malu anjay", ucapku kepada mereka.


"Sorry-sorry, jadi itu lo sempet kecium atau belum?", tanya Rosa.


"Nggak tau, menurutku sih belum", kataku berbohong.


"Lo ada rasa sama Sean Li?", tanya Naya.


"Apaan sih, ya ngga lah! Kenal aja baru", jawabku.


"Ya santai dong, ngga usah ngegas!", kata Anya.


"Lo juga ngegas Munaroh!", jawab Rosa.


"HAHAHA", kita pun tertawa bersama.


Skip sepulang sekolah


"Loh Se, lo ngapain disini?", tanya Ara di depan pintu kelas.


"Eh Sean, nungguin gue ya!", tanya Rosa.


"Hei Li", ucap Sean padaku ketika aku keluar kelas.


"Yok pulang"


"OHHH, JADI SEAN NUNGGUIN LIAN! NGAJAK PULANG BARENG TERNYATA!", teriak Ara keras niat mempermalukan Lian.


"Eh toa! Biasa aja dong lo, kampungan banget sih", ucap Tio.


"Iya tuh, udik banget gitu aja pakek heboh", lanjut Ben.


Ara yang niatnya mempermalukan Lian malah dipermalukan balik oleh sahabat-sahabat Lian.


"Ih apaan sih! Nggak usah ikut campur deh lo!", kata Ara sambil menunjuk Ben.


"Kaya belum pernah ada yang nungguin balik aja", kata Naya santai.


"Heeh, dia aja tuh yang alay", celetuk Anya lirih.


"APA LO BILANG! YANG KERAS KALO BERANI!", kata Ara emosi.


"DIA BILANG! LO AJA YANG ALAY BOLOT!", teriak Rosa membalas.


"Ini apaan sih malah jadi kelahi", potong Sean melihat pertengkaran di depannya.


"Yok Li, pulang", meraih pergelangan tangan Lian.


"Eh bentar, aku izin dulu sama Farel sama Lashon", kataku.


"Tunggu mereka keluar kelas bentar lagi ya" lalu di jawab anggukan Sean.


"Dih, gitu aja pake izin. Berasa princess banget lo!", kata Ara.


"Iya mending lo sekarang balik sama gue", ucap Naya.


"Dih ogah! Mending gue balik sendiri!", jawab Ara.


"Yaudah sono! Nggak ada yang minta lo berenti disini juga", kata Gahar.


"Awas ya kalian!", ucap Ara dan berjalan pergi meninggalkan mereka semua sambil menghentak-hentakkan kaki lalu ditertawakan mereka.


"Kenapa ribut-ribut?", tanya seorang guru yang keluar dari kelas Farel.


"Eh.. Bapak.. tadi, ada manusia toa nyasar Pak! Tapi sekarang manusia toanya sudah saya hempaskan ke alam baka!", jawab Rosa asal.


Guru itu hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Rosa.


"Ya sudah, cepat pulang daripada menimbulkan keributan di sekolah", ucap guru itu lalu berlalu pergi.


"Yah Bapak! Dikira kita preman apa buat keributan!", jawab Ben lalu ikut berjalan di belakang guru itu untuk pulang bersama gengnya.


"Yaudah ya Li, kita duluan nyusulin mereka tuh", kata Anya kujawab dengan anggukan.


"Daa LIAN! JANGAN KHILAF LAGI LO!", teriak Rosa sambil berlari mengejar Dennis dan gengnya.


Naya dan Anya hanya geleng-geleng kepala mengikuti Rosa, sedangkan aku hanya bisa menunduk salah tingkah.


"Kamu kenap-", tanya Sean terhenti saat mendengar deheman.


.


.


Ehem


.


.


Dehem Farel yang baru keluar kelas bersama gengnya termasuk Lashon.


"Lofa Cair! Aku pulang bareng Sean ya, tadi Sean ajak aku pulang bareng. Gapapa kan Lof?", tanyaku ke Lofa karena memang sejak semester baru ini Lashon lebih sering mengantar jemput Chala.


"Mau apa lo nawarin Lian pulang bareng?!", tanya Lashon.


"Ya cuman mau pulang bareng aja, apa salahnya", tanya Sean.


"Salahlah! Biasanya juga ga pernah", kata Lashon.


"Kenapa emang? Kalok mau pdkt harus izin juga gitu sama kalian?", tanya Sean.


"Iyalah!", jawab Lashon.


"Bilang aja sih bambuang kalo mau pdkt", celetuk Raid.


"Wow wow ada yang berani pdkt terang-terangan nih sama pawangnya", lanjut Dane memanasi.


"Lo, mau pdkt sama Lian? Punya apa lo? Perusahaan sendiri? Restoran? Rumah? Geng?", tanya Lashon.


"Emang harus banget punya itu semua buat bisa deketin Lian?", tanya Sean.


Aku hanya bisa diam, karena aku tau Farel dan Lashon seperti ini untuk kebaikanku.


"Kalau gue bilang harus, gimana?", tanya Farel.


"Apapun bakalan gue milikin, buat dapetin Lian", jawab Sean membuatku menunduk tersipu.


"Emang kenapa sih, Lian juga cuman orang biasa. Nggak butuh gituan"


Farel menjawab dengan senyuman, lalu menatap Lian.


"Tis, gih pulang sama Sean udah mulai gelap", ucapnya.


Inget kan jam pulang sekolah ini? Ada kok di prolog.


"Boleh memang?", tanyaku pada Farel.


"Boleh", jawabnya sambil mengacak rambutku.


"Ck! Berantakan", akupun menggembungkan bibirku lalu menarik tangan Sean untuk pergi.


"Itu gapapa Lian pulang sama Sean?", tanya Gab.


"Kenapa lo? Cemburu?", tanya Nizar sambil smirk.


"Apaan sih lo! Yok balik!" ucap Gab kesal lalu berjalan lebih dulu.


"Kenapa tuh anak?", tanya Lashon.


Farel lalu mengedikkan bahunya lalu berjalan mengikuti Gab, lalu Lashon mensejajarkan langkah Farel bertanya mengapa mengizinkan Lian pulang dengan Sean.


"Zar, Gab beneran suka Lian?", tanya Dane.


"Wah, nggak nyangka gue. Diam diam menghanyutkan", kata Raid ikut nimbrung.


"Gue nggak jawab apa-apa ya, kalian yang nyimpulin", kata Nizar.