At The Moment

At The Moment
35. Tanpa Farel 5



**Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.


Mohon dukungannya mentemen


❤️❤️❤️**


.


.


.


.


.


.


Di pagi hari


Pagi ini gue langsung ke rumah Lian buat jemput dia, jam 6 gue udah nyampe rumahnya trus nyelonong masuk. Yup, seperti kemaren gue langsung jalan ke dapur dan tebakan gue bener mereka semua baru sarapan. Mama Tisha langsung nyuruh gue buat duduk, sedangkan Lian seperti tugasnya nyiapin makanan gue. Nggak enak juga sih sama Lian karna dia harus hentiin makannya, tapi ya udah sih kayaknya emang tradisi keluarga ini gitu.


Waktu Lian ambilin gue makan, keliatan banget sih mukanya datar banget sedatar triplek. Ah, kenapa sih ni anak dari kemaren. Ribet banget Kon, beneran deh. Setelah sarapan gue sama Lian langsung berangkat, nggak keburu-buru banget sih soalnya jam masih nunjukin pukul 6.20 WIB. Di jalan gue langsung tuh tanya ke dia kenapa dia kayak orang hilang nyawa, lemes banget.


"Em, Tis. Lo sebenernya kenapa sih?", tanyaku pada Lian.


Lian memajukan wajahnya disamping kepalaku. (Ngertilah kalok orang digonceng pake motor trus diajakin ngomong. Ya gitu)


"Hah? Kenapa gimana? Aku..biasa aja tuh", jawabnya.


"Biasa aja gimana? Muka lo kemaren gue liat kayak orang habis nangis dan sekarang muka lo keliatan kayak orang nahan berak. Eh ngga ngga kayak orang g punya nyawa"


"Dih, nggak ya aku biasa aja", jawabnya.


"Udah jujur aja", kataku lagi.


"Haha, sekarang Hyatt udah mau banyak ngomong ya sama Quena. Gini terus ya sama Quena, jangan berubah kayak Lashon sama Farel. Yaa", katanya.


Aku terdiam beberapa saat mencerna ucapannya akhirnya kujawab dengan anggukan. Quena yang melihat aku kembali fokus ke jalanan akhirnya melihat ke samping sambil duduk bersandar ke badan gue. Gue sama Lian emang udah ngga canggung lagi sejak dari kemaren kita bareng terus, makannya dia berani nyandar ke gue. Beberapa saat kemudian waktu udah deket sekolah gue akhirnya buka obrolan lagi.


"Kalok lo kayak gini karna Farel, gue cuman mau ngomong jangan berlarut-larut aja. Soalnya semarah apapun Farel ke lo, dia juga g bakalan suka kalok lo sampe galau ngga jelas kayak gini. Bahkan lo yang biasanya cerewet, sekarang jadi kalah cerewet dari gue. Gue yakin, dia g ngabarin lo pasti ada alasannya ntah karna marah kemaren atau emang g sempet. Toh sampe sekarang gue juga ngga dia kabarin, jadi jangan terlalu difikirin. Dan kalok emang bukan karna dia, gue siap jadi bahu lo buat nyandar waktu ngga ada Farel. Lo pasti ngga enak kan mau curhat ke Lashon lagi karna dia udah punya cewek. Juga, lo pun udah tau gue kalok emang itu masalah orang lain gue siap lindungin lo atau kotorin tangan gue buat balikin suasana hati lo sebagaimana Farel perlakuin lo", terangku.


Sejenak aku merasa lega bisa mengatakan itu ke Lian. Apalagi sejak kemaren gue mulai deket sama dia dan keluarganya, entah kenapa gue ngrasa anggep dia adek gue sendiri. Secara gue anak tunggal, jadi langsung kebawa baper waktu punya adek-adekan. Haha


"Iyaa, makasih Hyatt", jawabnya lalu merubah pegangannya diransel gue jadi meluk gue.


Ada rasa seneng hinggap di hati gue, dia emang kekanakan, manja, terlihat jadi pusat perhatian, dan keliatan ketergantungan sama orang lain banget. Tapi yang gue tau setelah deket sama dia adalah itu semua salah sih yang bener karna emang dianya aja yang emang berharga banget. Beda aja sama yang lain.


"Huhh, ya udah kalok emang belum mau cerita. Tapi di sekolah di luar sekolah, lo wajib deket gue dan kabarin gue ya. Oke?"


Lian melepas pelukannya.


"Ih apaan sih, udah kayak Lofa sama Cair aja. Udah deh fokus nyetir aja, naik motor aja lama banget berasa naik mobil ih", ucapnya.


"Ck! Diingetin juga", kesalku.


"Iya, tau kok tauu. Udah ayo cepetan", perintahnya.


LIAN POV


Aku merasa sangat malas mengikuti upacara bendera. Ya , aku malas memang karna aku tak begitu suka berdiri terlalu lama tanpa bisa aktif bergerak. Maaf pahlawan, bukannya aku tak menghargai jasamu atau aku tau upacara terlalu ringan dibandingkan usahamu memerdekakan negeri ini. Tapi sungguh, aku benar-benar tak suka berdiri terlalu lama. Ah iya, ditambah Farel. Iya Farel. Sejak jumat lalu sampai sekarang masih tak ada kabar. Ya, dia berhasil membuatku tenggelam dengan rasa bersalah. Apa separah itu kesalahanku, padahal aku juga pernah melakukan hal itu sebelumnya. Atau memang dia kurang suka dengan Sean. Oh Tuhan, aku harus bagaimana.


Hari-hariku cukup biasa sejak Farel tak masuk sekolah, bahkan tetap tak ada kabar. Disela-sela sekolahku, aku juga masih melakukan latian untuk lomba piano yang dilaksanakan akhir bulan ini. Jadi terkadang aku selalu menghabiskan setengah jam istirahatku di ruang musik. Terkadang ada Sean menemaniku hingga aku selesai latihan lalu pergi ke kantin bersama. setidaknya aku memiliki teman untuk kuajak berbincang melupakan Farel sejenak.


Setiap hari Nizar selalu mengantar dan menjemputku. Pulang dari ekskul, aku juga dengan Nizar kecuali hari Rabu dimana aku dengan Lashon. Dihari Kamis ekskulku dan Nizar sama, jadi aku tetap pulang dengannya. Entahlah, ekskul Nizar selalu selesai lebih lama dari ekskulku dan aku sebenarnya cukup kesal karna hal itu. Tapi tak apa, toh ini tak berlangsung lama karna setelah ini pasti ada Farel yang selalu ada untukku. Yah..hanya kalimat penenang yang selalu kuucapkan dihatiku.


Ah Farel ya, aku jadi teringat dengannya. Sudah lebih dari seminggu dia tak ada kabar. Ini sudah 11 hari dia tak masuk sekolah, selama itu. Aku selalu resah dibuatnya setiap hari, walaupun tak adanya Farel menambah kedekatanku dengan geng Nizar dan geng Sean. Tapi tetap saja, rasa bersalah membuatku tetap merasa ada yang mengganjal ditambah karena dia yang tak memberi kabar.


Hari Rabu, hari ke 12 setelah Farel tak kunjung pulang, tak kunjung menghubungiku, dan tak berangkat sekolah. Seperti biasa aku bersama Nizar pagi ini, Lashon? Tentu dia bersama Chara. Cemburu, yaa..aku merasa ada yang hilang. Bukan cemburu seperti itu, tak ada nyeri didadaku saat melihat kedekatan Lashon dan Chara. Malah, aku senang mereka bertambah mesra dari hari ke hari. Hanya saja, jujur aku rindu saat-saat kebersamaan aku, dia, dan Farel.


Kalian pasti berfikir aku keterlaluan, serakah, dan tak tau diri. Aku bukan tipikal sahabat yang merusak hubungan sahabatnya karna terlalu dekat kok, aku tak masalah jika kita harus ber 4 ber 5 atau ber 6. Terpenting bagiku adalah momennya, aku selalu ingin membuat kenangan sehingga bisa kuingat suatu saat nanti. Atau mungkin kalau perlu bisa kuceritakan kepada anak-cucuku nanti. Huh..


"Woi Li! Daripada lo aduk terus mending tu minuman buat gue deh!", kata Knox.


"Ck! Ngagetin tau nggak", kataku setengah kesal dengan Knox yang membuyarkan lamunanku.


"Ya lo sih minum diaduk-aduk mulu, mending ntar malem deh gue yang aduk lo. Ya nggak Chard?", kata Knox lalu menoel Richard yang ada disebelahnya.


"Jaga tu mulut Cok!", kata Nizar.


"Maksud lo?!", kataku sedikit naik pitam tau arah fikiran Knox.


"Emang si mulut anj*ng bab* nih g ngotak!", kata Ben.


"Apaan sih, santai aja kalik", kata Knox.


"Iya, mana mungkinlah. Ya kan Nox? Tapi ntah ya kalok dimungkinkan, gue juga mau sih haha", saut Richard menanggapi candaan Knox. (Ya, menurutnya candaan ntah menurut Knox).


"Yoi Kon! Hahaha", kekeh Knox diakhir.


"Candaan lo kaga lucu Cok, jauh-jauh deh lo kalok mau candaan ngarah ke satu orang kayak gitu. Mending jangan dibawa ke circle ini", kata Dennis.


"Iya Nying! Sebar-barnya mereka, kita tetep kontrol Cok. Omongan kita universal ngga ngarah ke satu orang doang anjuk!", kata Dane.


"Bentar-bentar kalian ini debat masalah apaan sih, gue nggak mudeng", kata Anya yang diangguki oleh Rose.


"Mau tau?", tanya Knox.


"Si anj*ng memang ni Biawak satu!", kata Sean.


"Sans dong Bro, kalik aja ya kan. Haha", jawab Knox.


"Yoi..", kata Richard.


"Udahlah Kon", Galvin ikut angkat suara mengesampingkan mabarnya dengan geng Dennis dan geng Lashon.


"Mending kalok lo sendiri ngga bisa berhentiin tu mulut, kasih deh ke gue. Biar sekalian mulut lo gue lebarin", kata Nizar dingin tapi menusuk.


"Hyatt..", panggilku mengingatkan, aku takut Nizar kelepasan.


"Wow wow wow, ada hubungan apa nih kalian berdua. Atau udah pernah ngaduk Zar? Pantes lo emosi paling pertama. Ternyata setelah Farel ngilang Nizar yang gantiin, pantes tiap hari bareng. Haha gue baru tau Li lo tu-", ucapan Knox terhenti.


*Brakkkkk