
"Woi Se! Masih idup kan lo?", tanya sahabat Sean bernama Richard.
"Wih, rame banget ni tempat. Se! Lo habis berantem, malah ngadain arisan. Haha", ucap Galvin terkekeh.
"Setan lo semua!", ucap Sean membalas.
"Lo yang tadi narik Sean kan?! Lo keren!", seru Knox saat melihat Lashon.
Lashon hanya menatap ke arah Knox sambil terkekeh tanpa membalas ucapannya. Farel juga menatap Knox lalu berkata,
"Knox Marquez Z, heh?!", lalu bersmirk.
Hal itu membuat Knox beralih menatap Farel lalu menaikkan satu alisnya pertanda bingung, begitupun Lian dan semua orang yang ada diruangan itu.
"Dia tau marga gue, anj*ng siapa dia? Ngga ada yang tau nama marga mafia gue kecuali dia juga.. bangs*t!", batin Knox melihat Farel tersenyum tipis.
Farel lalu menunduk kembali memainkan hpnya, tak berselang lama hp Lian berbunyi.
.
.
.
Ting!
*derrrreeeedddddddddd
.
Suara notifikasi masuk itu mengintrupsi Lian dan lagi getaran hpnya yang tak berhenti menandakan bahwa itu adalah pesan penting dari Farel. Lian yang tau itu langsung menatap Farel tanda bertanya, karena dia tak mungkin membuka pesan di hpnya disaat ada Lashon di sebelahnya.
Farel lalu berdiri mengajak Lian untuk keluar ruangan itu dengan alasan menemani Lian untuk mengangkat telfon.
"Gue temenin dia dulu ngangkat telfon.", ujar Farel dingin.
"Ayo", lanjut Farel ke Lian.
Lian pun berdiri dari duduknya mengikuti Farel tanpa mengatakan apapun bahkan menengok ke arah manapun.
Mereka yang ada di dalam ruangan melanjutkan percakapan mereka, sambil memperkenalkan diri mereka satu persatu.
Knox dibalik obrolannya sempat berfikir kenapa Farel mengetahui namanya, bahkan mereka belum pernah kenal sebelumnya.
Nizar pun berfikir demikian, hanya saja dia langsung mengarahkan fikirannya ke geng atau mafia mana karena dari nama dan wajahnya saja dia pasti bukan asli orang Indonesia. Farel yang tau bahwa Lian pasti juga akan dekat dengan sahabat Sean langsung mengantisipasi hal itu dengan memberi tau identitas Knox.
.
Di lain tempat, di tengah taman rumah sakit Lian dan Farel sekarang duduk bersama.
LIAN POV
"Lo bisa buka disini sekarang", kata Farel.
Akupun mengeluarkan hpku lalu membuka pesan dari Farel di aplikasi "S" darinya. Aku melihat identitas Knox sampai menganga, dan menoleh lagi ke arah Farel.
Farel pun mengangguk lalu menyuruhku membaca identitas sahabat Sean lainnya.
Namun yang membuatku tercengang hanya Knox, karena dia merupakan anggota mafia besar di Spanyol. Walaupun hanya anggota, namun dia masuk ke mafia yang cukup kejam di Spanyol dan pernah menyelundupkan narkoba ke Rusia lalu digagalkan oleh mafia milik Farel. Hal itu membuatku bertanya-tanya untuk apa dia di Indonesia.
"Apa dia mata-mata? Apa dia mencari Farel? Oh tuhan ini membuatku tak tenang", batinku.
"Kamu harus berhati-hati dengan Knox, jangan sekali-kali berdua saja dengannya. Tetap didekatku, Lashon, atau Nizar. Dan kalaupun tak ada kita bertiga tetaplah dikeramaian. Paham?", jelasnya padaku.
"Seberbahaya itu? Huh, aku heran mengapa sekelilingku orang-orang seperti kalian. Bahkan aku masih tak percaya dengan hal-hal seperti ini", kataku.
"Di sekolah lain pun ada, hanya mereka tak tau dan tak mau tau sepertimu. Biasanya orang-orang akan berteman tanpa mencari tau latar belakang orang itu, namun untuk orang seperti kami hal itu sangat penting melihat resikonya adalah nyawa kami. Bahkan berpura-pura menjadi teman lalu menusuk dari belakang adalah cara termudah untuk menjalankan misi",ucap Farel menjelaskan.
"Aku tak mau kau terluka Farel, jaga dirimu", kataku lalu memeluknya.
"Tenang saja, jika aku melakukan misi.. kamu cukup harus selalu bersama Lashon atau meminta bantuan Nizar. Dan aku akan berusaha untuk tetap baik-baik saja", lanjutnya sambil membalas pelukanku.
"Terimakasih Farel", akupun melepaskan pelukanku.
"Ayo", ucapnya.
Aku dan Farel lalu kembali ke ruang inap Sean, agar mereka tak curiga karena aku pergi cukup lama dengan Farel. Bagaimana tidak, taman kan di lantai dasar.
Sesampainya di depan kamar Sean aku mendengar mereka berbincang dan tertawa, akupun meyakinkan hatiku dan berusaha membuat diriku bersikap biasa.
Farel pun membuka pintu ruangan lalu masuk, aku hanya mengekorinya di belakang.
Farel menarikku duduk dipangkuan Lashon karena memang sofa yang kita berdua duduki sudah diduduki oleh Naya dan Anya.
Tempat mereka sebelumnya dipakai untuk dua sahabat Sean duduk. Sedangkan Farel, dia hanya berdiri dihadapan Nizar yang menatapnya seolah bertanya lalu dijawab anggukan oleh Farel. Kulihat Nizar lalu menutup matanya,
"Ah apa dia juga merasa terkejut lalu berusaha menguasai keterkejutannya dengan menutup mata? Keren!", batinku.
"Duduklah", kata Farel.
"Wih enak banget lo Li, duduk aja dipangku cowok ganteng. Mau dong Shon", kata Rosa yang memang duduk lesehan dengan geng Dennis karena mereka tadi sedang mabar.
Ruangan itu cukup luas, hampir seluas kamarku di rumah malah. Namun memang sofanya hanya ada tiga sofa panjang muat untuk 10-12 orang, tak muat untuk kita yang berjumlah 18 orang.
Aku yang memang sejak dulu bersahabat dengan Lashon dan Farel memang tak keberatan dipangku Farel. Karena memang kita bertiga sudah biasa selayaknya saudara sendiri, bahkan orang tua kita bertiga dan Bang Zain tentunya memperbolehkan kita tidur bersama.
Mereka semua percaya jika Lashon dan Farel tak akan merusakku atau menyakitiku, apalagi Bang Zain yang tau Farel seorang mafia itu sebabnya dia percaya.
"Cih! Lashon mah ogah sama lo Ros", kata Ben.
"Iya, jangan ngarep deh lo Ros. Tio aja yang sahabatan sama lo ngga mau tuh pangku lo. Apalagi Lashon", kata Dennis ikut menggoda Rosa.
"Udah ih, kalian mah goda Rosa terus", ucap Anya.
"Iya hooh, biarin dia bahagia", aku ikut menimpali.
"Udah, deh lo diem aja Li. Lashon tuh urusin, posesif banget meluk lo..mana sambil main game lagi. Enak banget kayaknya", kata Dennis.
"Iya njir, modus lo Shon..Shon..", kata Gab.
Lashon hanya memanyunkan bibirnya lalu tambah memelukku makin erat.
"Shon, bengek ih", tukasku.
"Hooh sih Shon, anak orang bisa kabisan nafas tuh", Dane ikut menggoda Lashon namun malah membuatnya makin memelukku erat dan dagunya dia tempel ke bahuku.
"Lashon ih!", kataku. Lalu kulihat Farel mengayunkan tangannya ke bahu Lashon, Lashon yang tau itu lalu mengurangi dekapannya.
"Ck!", decak Lashon yang masih bisa kita semua dengar, lalu mengendurkan pelukannya.
"Haha, ngambek dia", ucap Dennis.
"Udah jangan digoda, mau lo jadi kayak Sean", kata Gahar. Lalu membuat yang lain terkekeh "Lo juga Shok, Inget Chala", terusnya.
"Eh iya, lo pacar Chala anak IPA itu kan?", tanya Richard yang dibalas anggukan Lashon.
"Selingkuh lo?" tanya Arran membuatku tak nyaman.
"Ngga usah ikut campur Ran", ucap teman? Sean, Galvin.
Aku pun hanya mengerutkan dahiku, mengapa Galvin membantuku apa dia kenal aku sebelumnya atau memang hanya sekedar menjawab. Dia yang merasa aku menatapnya beda lalu memperkenalkan dirinya.
"Gue Galvin Norman Allaidrus Malik, panggil aja Galvin. Kita belum sempet kenalan karna lo sama dia tadi keluar", mengarahkan matanya ke Farel.
"Eh gue dong gue, Knox Marquez. Panggil aja Knox, sayang juga boleh ntar kita tukeran nomor ya beb", katanya padaku kubalas senyuman.
"Ehem", Farel hanya berdehem.
"Nah kan pawangnya marah", ucap Dennis lalu terkekeh.
"Hooh, macem-macem sih lo Nox", ucap Raid.
"Lanjut deh, gue Richard Miller. Lo pasti tau kan keluarga Miller, panggil aja Richard ya cantik", ucapnya kubalas anggukan.
"Gue Marquez Daan Arran Qadrie, panggil gue Arran", sambil tersenyum padaku akupun tersenyum padanya lalu aku mengalihkan pandanganku ke Sean.
"Kalau kamu?" tanyaku ke Sean.
"Ya ampun, kalian belum kenal? Padahal lo yang buat Sean bisa sampe masuk ni tempat", ucap Knox membuatku sedikit kesal.
"Nama gue Finnsean Aarav Hartigan Nasyir, mereka sohib gue sekelas IPA 4", ucapnya kepadaku.
"Iya, em semua kenalin aku Grizellian Quenauriste Athena, panggil aja Lian", ucapku menatap Sean sambil tersenyum ramah.
"Oiya, dia Farel. Lieven Arlofarel, sahabatku abangku dan sama juga dengan Lashon", ucapku memperkenalkan Farel. Karena aku tau dia tak akan memperkenalkan diri, aku juga tak menyebutkan marganya karena aku takut itu membuat Knox tau identitas Farel sebenarnya.
Kami pun melanjutkan percakapan kami membicarakan banyak hal tidak jarang pula kami bercanda. Aku yang melihat Farel berdiri lama kelamaan tak tenang lalu mengajak teman-temanku untuk pulang.
"Cair pulang yuk, udah hampir maghrib nih", aku yang sedang bersandar di dada Lashon lalu mendongak menatap Lashon.
Lashon pun mengangguk "Lof, pulanggg", rengekku ke Farel.
"Ohh, yang diajakin pulang cuman pawangnya nih. Ngga inget tadi yang minta kita buat nemenin siapa?", ucap Dennis meledekku.
"Emang kebangetan ya Nis, dah yok kita balik sendiri aja", ucap Dane.
Akupun hanya mendengus, lalu mengadu ke Lashon.
"Cair, Dennis sama Dane nakal", cemberutku.
Lashon lalu menendang Dennis yang lesehan didekatnya.
"Wow wow singa marah lagi", kata Dennis.
"Mampus lo Nis", kata Richard membuat kita semua terkekeh.
"Yaudah, ayo balik", kata Nizar mengintrupsi kita semua.
"Kita semua balik dulu ya bro" ucap Raid.
"Iya, lo cepet sembuh ya biar bisa jadi samsak Lashon lagi", canda Rosa.
"Ck!", decak Sean.
"Udah-udah, yuk kita balik. Em, Sean kita pamit ya. Nanti biar Lashon sama Farel yang jagain lo, tapi mereka balik dulu buat beberes", ucapku.
"Nggak usah, biar kita aja yang malem ini jaga Sean. Kalian besok aja, kita udah terlanjur izin sama nyokap", kata Knox menimpali.
"Baguslah. Kalau gitu kita semua pulang. Selamat sore", ucap Farel lalu menarikku keluar diikuti yang lainnya.
"Lof, aku pulang sama kamu aja ya", kataku dibalas anggukan Farel.
Aku mengikuti Farel karena merasa khawatir terjadi sesuatu kepada Farel di jalan. Aku takut Knox sudah mencurigai sikap Farel, maka dari itu aku mau pulang bersama Farel.
Semua sahabatku yang lain juga pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan benar saja, di tengah perjalanan pulang Farel merasa ada yang mengikutinya membuat dia harus ngebut.
Sesampainya di rumah aku juga mengajak Farel untuk tidur di rumahku, aku tak tenang jika dia pulang ke rumahnya sendirian. Tenang, di rumah ada mamah, papa, dan kak Aile, Farel juga tidur di kamarnya sendiri.
Rumahku memang memiliki banyak kamar kosong dan mamah memberikan kamar tersendiri untuk Farel dan Lashon saking seringnya mereka menginap di rumahku. Ah, bukan hanya itu.. alasan lain ya karna mereka anak angkat orang tuaku. Saat di Jogja hampir setiap hari Farel menginap di rumahku. Kalau Farel tak tidur di rumahku karna dia tidur di markas atau orang tuanya pulang untuk menjenguknya. Sampai sehafal itu,
Isi kamar mereka di rumah ini adalah isi kamar Lashon dan Farel di rumahku sebelumnya. Mereka juga meninggalkan beberapa barang dan mengisi lemari mereka dengan beberapa baju. Sayangnya tak ada baju sekolah Farel, membuat Farel harus meminta seseorang mengantarkan baju sekolahnya untuk dipakai esok hari.