At The Moment

At The Moment
19. Hampir Murka



LIAN POV


"Udah deh lepasin Lin, jangan berantem kayak anak kecil", ucap Galvin.


"Iya! Lepasin tangan lo dari Lian!" kata Arran.


"Oh, lo belain si anj*ng itu Ran dibanding kita? Geng dia tuh yang salah!", kata Nara sudah emosi.


"Lepasin tangan lo sebelum lo rugi", kata Naya.


"Iya! Lepasin! Dasar nenek lampir sialan!", kata Rosa yang berdiri di sampingku sambil membantu menarik tangan Aln yang menjambak rambutku.


"Dasar cabe! Kelahi kok jambak rambut, nggak elit" celetuk Anya.


"Apa lo ikut-ikutan! Kalo berani sini berantem sama gue!", ucap Maya.


"Gue ngga suka berantem fisik, ngga elit", jawab Anya tenang.


Maya pun langsung mendatangi Anya dan mendorong Anya yang masih duduk, sehingga membuat Anya terdorong dari kursinya.


"Maksud lo apaan! Yang jelas kalok ngomong anj*ng! Sini berantem sama gue cupu!" kata Maya emosi di susul Richard menghalangi Maya menjambak Anya.


"Kampungan!" ucap Anya dan Naya bersamaan.


"Udah berhenti. Kalian ngga malu?" ucap Galvin.


"Mereka duluan Vin yang mulai, bukan kita", ucap Nara.


"Duhhh, ada yang ngemis pembelaan nih" celetuk Naya.


"Emang lo semua geng anj*ng!", kata Nara kemudian juga mendekati Naya untuk menjambaknya namun di cegah Arran.


"Awas! Awas gue bilang! Minggir Arran!", ucapnya pada Arran yang menghalangi jalannya.


"Udah woi jangan berantem, masalah sepele doang njir!", desah Arran yang kesal karena acara makannya terganggu.


Kembali ke aku,


"Lepasin rambut Lian!", ucap Rosa sambil menarik balik rambut Aln.


"Udah sih Lin, lepasin", kata Sean.


"Nggak akan sampe ni anj*ng minta maaf ke kita dan lo Se!", jawab Aln.


"Lepas" ucapku tenang masih duduk membalas chat Farel dan menyuruhnya menunggu yang lain selesai makan di warung depan.


"Minta maaf lo! Dasar lacur!" ucap Aln padaku.


"Repeat", ucapku padanya.


"Lo lacur!" katanya.


"Ngaca dong! Disini yang lacur tuh elo! Penggoda!", ucap Rosa yang sudah lelah lalu duduk kembali meminum jus alpukatnya.


"Tau dari mana?" tanyaku tenang.


"Jelas gue tau, lo aja deket sama banyak cowok. Nggak cukup tuh dua cowok yang gebukin Sean masih aja make yang temen-temennya juga. Mana jadi selingkuhan lagi! Ngga kasian lo sama Chala! Dasar lacur kere murahan!", jelas Aln padaku.


Aku sudah mulai emosi tapi aku tetap menahan dengan tenang. Aku takut jika aku emosi saat Farel dan Lashon juga ikut emosi. Takutnya tak ada yang bisa menghentikan mereka.


"Jangan bawa-bawa nama gue! Bahkan lo nggak tau siapa Li-", teriakan Chala jauh dari arah depanku yang mungkin ikut memperhatikan perkelahianku, terpotong dengan tanganku yang terangkat ke bibirku simbol untuk diam lalu tersenyum manis kepada Chala.


Membuat Chala malah terkesiap dan tegang, teman-teman Chala pun menyadarkan Chala yang masih terpaku takut dengan senyumanku.


"So? Apa itu bisa dibilang lacur?" tanyaku sambil memejamkan mata mengendalikan emosiku pada Aln dan Chala yang hampir membuka identitasku.


Chala memang sudah tau identitasku karena Lashon pernah memberi taunya, akupun bisa mengerti agar Chala lebih bisa memahami posisi hubunganku dengan Lashon.


"Udah Li, jangan diladenin" ucap Galvin.


"Udah deh Vin, salah mereka juga pake sok-sokan ngatain duluan", ucap Knox yang dari tadi diam.


"Kapan kita ngatain?", tanyaku sambil melihat ke arah Knox.


"Oh, lo ngga mau ngaku?! Emang ya kalok lacur pinter banget ngomong! Dasar bule tukang ngangkang, berapa cowok yang udah ngrasain tubuh lo, hah! Murahan lo!", ucap Aln lalu mengeraskan jambakannya di rambutku lalu menariknya kencang, lagi dan lagi.


"Lepas", ucapku mulai emosi.


"Nggak akan!"


"Lepas atau lo rugi", ucapku sambil meletakkan hpku.


"Sok-sokan lo bule anj*ng! Dasar Lacur murahan!"


Akupun yang berdiri tak bisa menahan emosiku lagi. Kulihat, Galvin, Knox dan Naya langsung ikut berdiri ketika melihat aku berdiri.


Ya, mereka berdua tau jika orang yang biasanya suka bercanda sepertiku kalau marah akan lebih seram daripada mereka. Sean sedari tadi hanya makan lalu memegang tangan Aln agar melepaskan tangannya di rambut Lian melihat situasi makin panas dan banyak siswa lain yang melihat pertengkaran mereka di meja masing-masing. Sementara penjual makanan di kantin tak ada yang berani ikut campur masalah siswa karena bisa saja malah merugikan mereka.


"Lian!", ucap Galvin dan Naya serempak.


Aku hanya mengangkat tanganku meminta mereka berdua tak ikut campur urusanku atau menghentikanku. Akupun menengok ke arah Aln dan menatapnya, sedangkan yang lain masih bertengkar dengan lawan masing-masing.


"Iya Li, ngga usah diladenin" ucap Sean.


"Kalian ngga usah ikut campur ya! Ini masalah kita sama bitchy ini! Apa lagi ni bule miskin yang belagunya selangit, lacur aja sok-sokan!" kata Aln.


.


Plak!


.


Bunyi tamparanku saat aku tak lagi bisa menguasai emosiku.


.


.


.


Plak!


.


.


.


.


Tamparku lagi karena dia tak melepas cengkraman di rambutku.


.


.


.


.


Plak!


.


.


.


.


Tamparku lagi karena emosiku belum reda, saat tamparan keduaku sebenarnya Aln telah melepaskan rambutku dan mundur dua langkah sambil memegangi kedua pipinya yang memerah dan darah mengalir di kedua ujung bibirnya.


Naya dan Galvin hendak beranjak dari tempat mereka berdiri ketika melihat tanganku terayun menampar Aln yang ke empat.


"Stop! Tolong jangan ikut campur urusan saya", ucapku sambil menahan emosi mengambil hpku, lalu maju mendekat ke arah Aln dan menggapai sejumput rambutnya yang tergerai lalu memainkannya dengan jariku.


"Asal anda tau Mrs. Aln, saya tak pernah melakukan hal yang anda katakan barusan. Lihat (menunjukkan layar hpku), saya telah merekam semua pembicaraan kita dari awal sampai sekarang. Saya bisa menuntut anda atas tindak pencemaran nama baik terhadap saya-"


.


.


.


Plak!


.


.


.


.


"Gue nggak takut sama bule miskin kayak lo!" ucap Aln.


Aku pun tersenyum indah, mungkin bagi mereka senyumku cantik manis dan lembut tapi bagi sahabatku dan mafia-mafia seperti Knox pasti tau maksud senyumku adalah pembalasan.


"Ah, saya sangat suka dengan kata-kata anda Mrs. Aln. Jadi mari kita selesaikan seperti apa yang anda mau", ucapku masih memandang bola matanya dan memasukkan hpku ke saku rokku.


"Apa maksud lo, nggak usah sok jadi lacur!", kata Aln lagi.


.


.


.


Tag Tag Tag