
.
**Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca "At The Memories" sampai episode ini.
Mohon dukungannya mentemen
❤️❤️❤️**
.
.
.
.
.
.
Farel yang namanya disebut oleh Nizar lalu menoleh sebentar ke arah Nizar lalu kembali melihat ke arah Lian, mengecup punggung tangan Lian. Hening.. bahkan Rose yang biasanya tak berhenti berbicara takut dengan aura ruangan Lian yang dingin atau memang karena Farel yang sedang merasa tidak enak hati. Suara Lashon memecah keheningan..
"Rel, maafin gue. Gue ngaku gue salah karna lupa sama Metis. Gue salah karna ngga tepatin janji gue dulu. Gue mau lo maafin gue, gue bakalan jadiin ini pelajaran buat gue", kata Lashon menatap Farel yang sedang memunggunginya.
Hening.. Farel tak menjawab apapun.
"Rel..gue juga butuh waktu, gue punya kehidupan sendiri selain harus jaga Metis. Lo juga ngga bisa hapus fakta itu. Lo juga tau gue butuh waktu sama dia tentang masalah gue ke dia. Gue-", penjelasan Llashon terhenti saat Farel mengangkat tangannya, memberi tanda kepada Lashon untuk berhenti berbicara.
Hening..
Nizar, Gahar, dan Rose sebenarnya terkejut dengan perkataan Lashon. Ah bukan, tepatnya ungkapan rasa Lashon yang seakan mengatakan Lian hanya bebannya saat ini dan Lian membuat Lashon tak bisa bergerak dengan bebas. Ya walaupun itu benar, bukankah Lashon tak harus mengatakan itu disini? Saat ini? Pantas saja saat kejadian Knox mengganggu Lian pun dia hanya bereaksi disaat Knox sudah keterlaluan. Tak seperti Nizar yang dari awal sudah mengingatkan Knox.
"Lof..gue-", perkataan Lashon kembali terhenti.
"Cabut janji dan perkataan lo dulu", kata Farel dengan suara rendah dan dinginnya.
"A-apa?", jawab Lashon tergagap.
"Cabut janji lo dulu ke Lian, lo udah ngga pantas janji apapun ke Lian", kata Farel tanpa menoleh ke ash Lashon.
"A-apa? Nggak, bu-bukan gitu maksud gue Rel. G-gue mm-maksud gue, gue minta waktu d-dan kelonggaran. Memang faktanya gue nggak bisa terus terusan ada buat Lian", kata Lashon tergagap dengan mata mulai memerah.
"Heh?", Farel tersenyum meremehkan. (Smirk)
"Lo lupa? Bahkan lo sendiri yang janjiin ke Lian, bukan dia yang minta ke lo. Dan sekarang, seakan lo bilang seakan-akan Lian atau gue yang minta dan nyuruh lo. Lo orang terlucu yang pernah gue temuin, haha lo selalu aja lucu seperti biasanya sampe lo lupa posisiin kelucuan lo", jelas Farel dengan suara semakin rendah dan dingin.
Hening.. ruangan itu hening, bukan hanya Lashon..bahkan Nizar, Gahar, dan Rose terkejut dengan perkataan. Tubuh mereka seakan menegang sampai bernafas saja rasanya sulit saat Farel menyelesaikan perkataannya. Lashon bahkan hanya berdiri mematung tak bergerak sedikitpun, seakan satu gerakannya dapat membuatnya jatuh ke dalam jurang yang dalam.
"LO Cairle Damlan Lashon Affandi, MULAI DETIK INI JUGA LO NGGAK PERLU URUSIN APAPUN TENTANG LIAN DAN LO BEBAS TANPA TERJERAT SAMA KITA BERDUA!", tegas Farel dengan bentakan yang teredam namun aura yang menguar sangat menunjukkan dia sedang marah.
"Ll-lof...g-gue m-minta mma-!", permintaan maaf Lashon terpotong oleh ucapan Farel.
"Keluar!", kata Farel.
"A-apa?", kata Lashon tergagap. Cairan bening sudah terkumpul di pelupuk mata Lashon, satu kedipan darinya saja bisa membuat cairan itu menetes.
Farel menoleh ke arah Lashon dengan mata merahnya dan otot dahi juga lehernya terlihat bermunculan. Menakutkan sekali.
"KELUAR!", bentak Farel yang tak bisa lagi menahan emosinya. Semua orang terkejut kaget dengan bentakan kemarahan Farel yang sesungguhnya.
LIAN POV
Suara samar yang kudengar menggangguku yang saat ini kurasa aku sedang berada di alam mimpiku. Samar suara itu seperti sebuah mimpi namun semuanya lama-kelamaan terdengar sangat jelas.
"LO Cairle Damlan Lashon Affandi, MULAI DETIK INI JUGA LO NGGAK PERLU URUSIN APAPUN TENTANG LIAN DAN LO BEBAS TANPA TERJERAT SAMA KITA BERDUA!", suara Farel seperti marah tapi terdengar seperti bisikan ditelingaku.
"Ll-lof...g-gue m-minta mma-!", suara Lashon?
"Lashon kenapa?", batinku.
"A-apa?", Lashon?
"Apa yang mereka sedang lakukan? Aku harus bangun. Harus..ayo aku mohon bangunlah Quena!", batinku.
"Quena ayo banguunnn!", batinku berteriak.
"KELUAR!", bentakan Farel menyadarkan aku membuatku terkejut karena suaranya sangat jelas dan keras di telingaku.
Pandanganku semakin lama semakin jelas. Kulihat Farel menoleh ke arah Lashon dengan muka marahnya.
"F-Farel", ucapku setelah terbangun.
Farel langsung melihat ke arahku.
"Li-lian.. kamu sudah bangun?", tanyanya padaku lalu mengecup punggung tanganku dan mengusap pipiku.
Aku menganggukkan kepala mengiyakan.
"Ma-maaff..", katanya kujawab dengan gelengan. Aku melupakan keberadaan Lashon yang tadi suaranya samar-samar ku dengar.
"Ll-lian..", gagap Lashon dengan mata dan hidung merahnya. Aku yang mendengar panggilan Lashon lalu menoleh ke arahnya yang berada diujung kaki ranjang sebelah kiriku.
"C-cair..kamu kenapa?", panikku melihat dia yang sedang menangis? Aku pun berusaha duduk tapi dicegah oleh Farel, membuatku menoleh ke arah Farel.
"Berbaringlah.. kamu baru saja sadar setelah pingsan", katanya yang ku jawab anggukan.
Aku menepuk-nepuk ranjang sebelah kiriku agar Lashon datang dan duduk di sebelahku. Lashon berjalan hendak duduk di ranjangku, sebelum duduk kulihat dia melirik ke arah Farel terlebih dahulu. Huh..pasti mereka bertengkar. Batinku.
"Mm-maaf..", cicit Lashon menunduk setelah duduk di ranjangku.
"H-hei..", kataku lalu menggenggam tangan Lashon memberikan kekuatan dan ketenangan.
"Huh..kalian berdua pasti berkelahi lagi.. kenapa?", tanyaku. Kulihat Farel membuang muka ke arah kananku.
"Huh..yang satu ngambek, yang satu nangis. Pasti yang satu gengsi buat ngalah nih", fikirku. Dasar kekanakan.
"Ck! Jangan kekanakan deh, udah gede juga. Baikan cepetan! Lofa ngga perlu ya ngambek-ngambek nggak jelas, pasti barusan marah-marah deh sama Cair makannya Cair jadi kayak gini!", kataku marah. Bahu Lashon kulihat bergetar, sedangkan Farel? Dia meletakkan tanganku dan mengambil hpnya di saku lalui memainkannya.
"Huh..", akupun bangun dari tidurku, lalu duduk dan memeluk Lashon menenangkan.
Lashon memelukku dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku sambil menangis. Saat itu baru kusadari ada Gahar, Rose, dan Nizar. Aku lalu nyengir ke mereka bertiga, menggaruk tengkukku karena agak canggung kebocilan ini ditonton oleh mereka bertiga. Ah pasti mereka lebih canggung dibanding aku. Aku lalu menepuk-nepuk punggung Lashon beberapa kali lalu menoleh ke arah Farel. Ku rebut hp Farel membuat sang empu menoleh melihatku sambil melotot. Aku balas memelototi Farel tajam dan mencubit perutnya yang keras itu membuat dia terlonjak bangun.
"Minta maaf!", kataku pada Farel.
Farel menggelengkan kepalanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Minta maaf Lofa! Lofa taukan Metis ngga suka kalian kelahi. Masak yang jagain Metis pada marahan, trus siapa yang jaga Metis?", tanyaku.
"Lashon udah ngga akan pernah jagain lo. Jadi nggak perlu khawatir karna kita marahan", kata Farel datar. Kurasakan bahu Lashon mulai bergetar lagi menandakan Lashon menangis kembali. Aku pun bergerak memukul Farel walau hanya memukul angin.
"Huh..berhenti menangis. Sudahlah, mulai sekarang aku tak membutuhkan kalian untuk menjagaku", kataku membuat Lashon langsung melepas pelukanku dan Farel seakan menegang.
"Em..kufikir kita sudah terlalu dewasa untuk saling menjaga dan saling ada satu sama lain. Saat Lofa pergi dan Cair nggak ada..Quena ngrasa mungkin ini saatnya kalian memang harus fokus ke diri kalian masing-masing. Toh Quena udah gede, Quena udah punya Rose yang baik saka Quena ngga seperti sahabat Quena dulu. Jadi..kalian ngga perlu siaga lagi", kataku sambil tersenyum kepada mereka berdua.
.
.
.
Hening
*Braakkk
.
..