At The Moment

At The Moment
45. Game



******Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.


Mohon dukungannya mentemen


❤️❤️❤️****


.


.


.


Farel dan Lian pulang bersama diikuti dengan Nizar yang memang diminta mama Tisha untuk berkunjung. Mau gimana lagi, karna memang Nizar tak memiliki pekerjaan yang penting maka dia mengiyakan saja. Toh itu menguntungkannya karna bisa lebih dekat dengan Farel. Lian pun juga senang karna Nizar mau berkunjung ke rumah Lian. Lian tak mau jika Nizar kembali jauh dengan Lian setelah Farel kembali.


Di rumah, Nizar disuguhkan dengan pemandangan Aile yang didekap seorang pria di ruang keluarga. Pria itu duduk melingkarkan tangannya, memeluk Aile dengan dagunya di bahu Aile. Penampakan yang sangat intim sekali untuk orang yang baru saja masuk ke dalam rumah. Mereka berdua sedang menonton film horror di Netfilm. Mendengar ada segerombolan orang memasuki rumah membuat Aile dan pria itu menoleh ke arah kami.


"Hei Rel! How are you?", sapa pria itu tanpa melepaskan dekapannya pada Aile. (Apa kabar?)


"Good. Long time no see Nich", jawab Farel dengan merangkul Lian. Yup. Nicholas. (Baik. Lama tak bertemu Nich)


"Wah, sepertinya ada anak baru disini. Mana Lashon?", melirik ke arah Nizar lalu kembali bertanya ke Fare dijawab kedikan bahu.


"Kenalan dulu sama arek baru gue, Hyatt namanya. Nizar Hyatt", senggol Aile ke Nicholas.


"Hyatt?", pandangnya ke Aile diangguki Aile.


"Heh, pasti Aile merubah namamu juga", kata Farel menoleh ke arah Nizar dijawab dengan anggukan tipis.


"Wah wah wah, sepertinya mama Tisha menambah stok anak patung disini. Bahkan Zayn dan Farel masih kurang saja", kata Nicholas cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Pfffthhh hahaha", ketawa Aile dan Lian.


"Ck!", cebik Farel dan Nizar.


"Wow wow, santai bro. Kenalin, gue Nicholas sahabat Aile..mantan calon anak angkat mama Tisha juga cuman gue nolak hehe", kata dia sambil tersenyum lalu mengangkat dagunya ala lelaki jika berkenalan.


"Gue Nizar Hyatt serah mau panggil apa", kata Nizar.


"Eh duduk dong, kita nonton bareng", kata Aile.


"Ck! Nggak. Kita bertiga ganti baju dulu baru turun ke bawah", kata Lian lalu menarik tangan Farel dan Nizar.


Akhirnya mereka tak jadi menonton horor bersama. Nicholas malah mengajak Farel dan Nizar untuk mabar, sedangkan Lian dan Aile nonton drama tentunya. Terkadang mereka bercanda dan saling melempar umpatan. Nizar bahkan langsung akrab dengan Nicholas dan tak bersikap dingin. Akhirnya Nizar juga tidur di rumah Lian atas permintaan Nicho. Nicholas bilang dia ingin menghabiskan waktu dengan wajah baru di keluarga Aile katanya.


LIAN POV


Pagi hari aku berangkat dengan Nizar. Kenapa? Karna Farel memakai motornya dan pemenang debat adalah Farel tentu saja. Bukannya aku tak mau atau tak suka dengan Nizar, tapi dibanding mobil aku memang lebih suka memakai motor. Tapi bagaimana lagi, Farel tak mengizinkan dan aku malas berdebat di pagi hari. Andai aku bisa membawa motor sendiri.


Di kantin, Dennis dan Tyo memesankan kita makanan dan minuman. Sebuah hal biasa untuk kita kalau lelakilah yang memesan makanan. Karna jarang makan di kantin ini, aku agak risih dengan beberapa kakak kelas yang kurasa memperhatikanku. Bukan. Bukan pria. Tapi kakak kelas perempuan! Sial. Sepertinya mereka menggosipiku. Ini bukan aku yang kePDan, tapi coba deh..kalian pasti tau kan gimana tatapan orang yang perhatiin lo trus saling berbisik setelahnya. Apalagi ada yang terang-terangan nengok ke lo setelah berbincang dengan temannya. Ngerti kan gimana rasanya. Huft..


Pandanganku mulai liar, memutar mengamati sekitar sampai akhirnya pandangan mataku bertemu dengan Kak Linch.


Deg


Tek. Tek. Tek. Beberapa detik pandangan kita bertemu hingga aku sadar dan memutuskan pandanganku padanya. Kalian tau, aku langsung salah tingkah dibuatnya. Hei ingetkan? Kak Linch pria pertama yang kupuja saat masuk di sekolah ini. Kufikir sekarang mukaku memerah karna aku merasa hawa panas di wajahku. Ahh Tuhan...


Dengan berani aku mencoba melihat ke arah Kak Linch lagi dan dia cekikikan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Oh sial. Apa dia menertawakanku?! Sialnya aku malah terpaku dengan senyumnya yang menghasilkan sebuah cekungan di pipinya. Manis... Gantengnya jadi nambah 10 kali lipat!


Makanan datang membuat fokusku teralih dan memulai makan makananku. Geng Farel datang saat aku sudah selesai makan. Fyi, aku kalok makan laamaaaaaa banget. Padahal aku itu udah cepet. Tapi pasti masih kalah cepet sama yang lainnya. Entahlah, g paham gue.


Farel langsung duduk di sebelahku, seperti biasa tak mau jauh-jauh dariku selagi memang bisa. Geng Farel mengatakan bahwa istirahat hari ini lebih lama karena guru-guru mengadakan rapat dadakan karena ada informasi lomba sekolah terbaik dengan banyak hal yang dilombakan. Hal itulah yang membuat guru mengadakan evaluasi dan rapat dadakan yang mungkin akan memakan waktu berjam-jam. Harapanku sih sampai pulang sekolah, tentunya dengan tugas tiap mata pelajaran.


Pengumuman perpanjangan istirahat terdengar melalui pengeras suara di kantin sekolah. Sorak sorai tiap siswa terdengar heboh tak terkecuali gengku. Mengingat waktu istirahat masih panjang, aku memutuskan untuk memesan minum dan siomay untuk cemilanku beserta titipan sahabat laknatku. Sedangkan beberapa orang lainnya menitipkan pesanan mereka kepada Farel yang pergi memesan bersamaku.


Farel dan aku pergi berjalan dengan arah berbeda saat sampai di outlet makanan karna pesanan kita berbeda. Tak lama aku menuju loket kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang kupesan lalu akhirnya berjalan kembali ke meja circleku. Sedangkan Farel? Dia masih mengantri untuk membayar makanan, hanya tinggal beberapa 3 orang lalu baru dia jadi tak akan lama.


*Set


"Shit*!"


Makiku lirih saat kulihat ada kaki seseorang sengaja menghadang saat aku berjalan sambil memainkan hpku. Kalian tau? Tinggal beberapa langkah lagi aku bisa tersandung-tersungkur, jika aku tak segera menyadarinya. Sial! Dia fikir aku benar-benar tak memperhatikan jalan dan kemudian terjatuh secara tak elit? Yang benar saja!


Tentu karna geram, aku langsung menginjak kaki orang satu langkah di depanku yang entah milik siapa itu. Aku tak peduli. Kuinjak kakinya dengan keras sekuat tenaga tanpa menoleh ke arah orang itu. Kudengar teriakan menyakitkan darinya dengan umpatan disana.


"As*! Berhenti lo!", makinya berteriak mungkin kepadaku. Karna aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Umpatan dan perkataannya yang keras membuat orang-orang di circleku menoleh ke arahku. Ah tidak, sepertinya semua orang juga di kantin juga menoleh ke arahnya. Aku? Aku hanya memasang ekspresi meringis ke arah mereka dengan hpku masih kupegang dengan kedua tanganku di depan dadaku. Mereka lalu melirik orang yang baru saja kuinjak, -mungkin? Entahlah. Toh aku memunggunginya dan terus berjalan hingga...


***Sreeetttt


Praggg***


"F*ck!", umpatku tertahan.


Draggg (suara meja tergeser)


Sedikit kurasa ada yang tiba-tiba berdiri dari arah belakangku. Em, yaa..pasti antara Lashon dan Nizar.


Sial hpku jatoh ya ampun! Mana screennya masih nyala. Ntar kalok orang ada yang liat aplikasi "S" bisa gawat. Kulihat siapa yang membalikkan badanku tanpa permisi. Cih! Salah satu Chili gengs rupanya. Dan? Berarti dia yang tadi mau ngerjain gue kan.


Oke, let's the game baby. (Smirk)