At The Moment

At The Moment
7. Teman Baru



AUTHOR POV


Perdebatan ketiga sahabat di depan pintu masuk lobby sekolah terhenti akibat Lian yang marah kepada kedua sahabatnya. Lian merasa bahwa ada yang dirahasiakan kedua sahabatnya itu darinya, bahkan sampai membuat seorang Farel yang notabenenya tegas dan dewasa mematung.


Lian berfikir bahwa kedua sahabatnya tak adil dan tak terbuka lagi kepadanya. Ntahlah,


Saat Lian berada di depan papan pengumuman dia melihat bahwa namanya tak sekelas dengan Lashon dan Farel. Terbesit dihatinya menyayangkan hal itu, tapi memang kapasitas otaknya tak sama dengan Lashon dan Farel. Toh dia sedang marah dengan mereka, jadi dia tak mempermasalahkannya saat itu.


Lashon dan Farel berada di satu kelas yaitu X IPS 1 dan Lian di X IPS 2, ya mereka tak mengambil IPA karena mereka akan menjadi pebisnis sedangkan Lian tak diizinkan memilih IPA. Di SMA Internasional Airlangga ini memang proses seleksi dibagi menjadi 2 tahap, seleksi pertama yaitu seleksi sekolah dengan nilai ujian nasional.


Yang ke 2 yaitu seleksi jurusan (IPA/IPS/Bahasa) yang ditentukan dengan tes setelah diterima di sekolah ini. Semua siswi diperbolehkan untuk menentukan sendiri jurusan yang diminati, setelah itu hasil rankingnya yang akan menentukan kelas mereka. Sehingga tidak ada siswa yang merasa salah jurusan karna itu memang pilihan jurusan mereka sendiri.


.


Setelah Lian tau kelasnya, dia pun bergegas untuk pergi menuju kelasnya, karena memang dia berangkat cukup siang dan dia tak mau bertemu dua sahabatnya itu di area papan pengumuman. Kelas X memang berada di lantai 3, kelas XI di lantai 2, dan kelas XII di lantai 1, sedangkan lantai dasar adalah lobby, aula, ruang guru, laboratorium, ruang musik, dll. Hal ini dikarenakan mengurangi resiko hal negatif untuk kelas XII ditengah banyaknya ujian kelulusan dan tes masuk keperguruan tinggi.


.


SMA Internasional Airlangga memang dikenal dengan sekolah yang sangat teratur dari semua hal. Bahkan sekecil apapun halnya, telah teratur dan memiliki arti sendiri. Sehingga inilah yang membuat sekolah ini menjadi favorite pertama di Surabaya. Bahkan sekolah elit ini ramah untuk siswi-siswi yang tergolong menengah kebawah.


Sesampainya di dalam kelas, Lian tak mengenali siapapun (jelaslah, orang dia pindahan dari Jogja) dan bangku belakang telah full terisi tinggal memilih bangku-bangku deretan pertama dan kedua.


Tatanan meja model 4x4 deret, dimana 1 meja untuk 2 orang (kebayangkan?) baris pertama dekat pintu masuk, baris ke 2 tengah sebelah kanan, baris ke 3 tengah sebelah kiri dan baris ke 4 barisan depan meja guru.


Lian yang berdiri di depan pintu pun melihat wajah teman-temannya, lalu dia mulai memilih mana orang yang bisa menjadi temannya. Tak lama, tiap orang hanya sekilas saja. Sampai pada akhirnya dia berjalan ke tempat duduk baris nomor 2 didepan meja guru dan mendekati seorang siswi yang duduk sendirian.


Baris pertamanya kosong, baris ke 3 dan ke 4 telah terisi dengan para laki-laki. Siswi itu hanya menunduk memainkan HPnya tanpa melepas tas gendongnya.


"Hei, boleh aku duduk disampingmu? Sampingmu kosong kan?", kata Lian mendekati wanita itu.


"Oh, hei. Iya kosong kok, silahkan aja. Aku juga belum punya teman sebangku kok.", kata wanita itu lalu tersenyum senang karena mendapatkan teman duduk. Dia pun berdiri dari duduknya, mempersilahkan Lian masuk.


"Makasih," ucap Lian sambil tersenyum dan duduk disebelahnya disamping tembok.


"Kenalin, nama aku Grizellian Quenauriste Athena panggil aja Lian. Aku orang baru di Surabaya, semoga kita bisa akrab ya hehe", cicit Lian lagi.


"Wah anak baru ya, asal mana? Kamu blasteran ya? Keliatan banget tauk. Aku Cleopathe Zanna Azkiea Rosalind, panggil aja beb haha. Nggak..nggak bercanda gue. Panggil aja Rosa, aku asli dari Surabaya. Tulen deh pokoknya. Lo kalok mau kemana-mana pergi aja sama gue, dijamin nggak akan nyasar", ucapnya antusias padahal sebelumnya dia nampak seperti orang yang pendiam.


"Hhahaha kamu lucu, oke deh beb boleh deh. Iya nih aku blasteran, campuran Spanyol, Aussie Indo gitu, tapi jiwa raga Indonesia banget kok. Hihi", Kekeh Lian mencoba akrab dengan Rosa.


Lian yang memang orangnya supel lalu menengok kebelakang, dan berkenalan dengan lelaki belakang bangkunya dan Rosa.


"Hei, aku Lian..Grizellian Quenauriste Athena. Nama kalian siapa?",


"Gue Dennis yang ini Agar belakang kita Ben sama Tyo", balasnya pada Lian.


"Njir, gue bisa kenalan sendiri ya! Elah," ucap Ben.


"Ck, iya nih apaan coba nama gue diganti-ganti. Nama gue Gahar Li, bukan Agar..jangan mau percaya sama orang yang namanya Dennis! Oiya, gue sahabat Dennis dari SMP", kata protes Gahar lalu menatap Lian dalam.


"Dih, siapa yang sahabat lo?!", canda Dennis.


"Hahaha. Tapi Agar juga gapapa, biar kayak makanan", kata Lian lalu tersenyum ke Gahar yang mendengus.


"Hei Agar-Agar! Makan dikit boleh?", Lian pun tertawa ngakak.


"Wih, main makan aja nih cewek! Makan gue aja deh, rela gue", ucap Tyo menyela.


"Yeeee, otak mesum mah gini", ucap Ben sambil menoyor kepala Tyo.


"Jadi udah keliatan disini siapa yang paling mesum! Haha, iiihh takut guee", ucap Rosa sambil tertawa.


Keseruan mereka tak luput dari penglihatan seorang wanita yang duduk dibangku baris ke 2, deret sama dengan Lian. Wanita itu memang baru saja datang dari kamar mandi, itu sebabnya saat Lian masuk kelas tidak melihat wanita itu.


Lian yang merasa diperhatikan lalu menengok dan melihat wanita itu. Dia merasa bahwa wanita itu tidak baik untuknya dan Lian harus waspada terhadapnya.


Lian pun hanya menanggapi wanita yang belum ia ketahui namanya itu dengan senyumannya dan memutuskan kontak mata diantara mereka lalu kembali bercakap-cakap dengan teman sebarisnya.


Keseruan percakapan Lian, Rosa, Dennis, Gahar, Ben, dan Tyo pun terhenti akibat bunyi bel dan masuknya seorang guru muda diikuti beberapa siswa di kelas Lian yang belum masuk.