At The Moment

At The Moment
2. Aku Saat Ini



LIAN POV


"Hah?! Apa-apaan banget sih tu cowok, baru juga aku jawab udah main pergi aja. Bodo amat ah, eh tapi aku juga salah sih. Ini kan di Jerman yak bukan di Indonesia. Ngapa aku jalan disebalah kiri ya, pantesan aja aku ketabrak sama cowok tadi.", batinku masih berdiri ditempat yang sama sambil melihat laki-laki itu menuruni tangga.


"Ih anjir ngapain gue malah diem disini sih, anjirrr telat telattt moga ngga dimarahin deh!", sadarku kemudian melangkah cepat menaiki tangga di sebalah kanan menuju kelasku yang berada di lantai 3.


Sesampainya di depan kelas, aku ngga langsung masuk ke dalem kelas. Aku celingukkan dulu di depan pintu dan liat ke dalem lewat bagian tengah pintu yang terbuat dari kaca.


"Alhamdulillah, belum ada dosen di depan. Wuih rame juga ya mahasiswa s2 yang sejurusan sama aku, moga dapet temen deh", batinku sambil membenahi rambutku lalu mendorong pintu setengah kaca itu ke dalam.


Saat aku mendorong ke dalam pintu kelasku, semua orang menengok ke belakang menatap ke arahku. Benar saja, memang pintu yang kugunakan adalah pintu akses bagian belakang kelas jadi siapapun harus menengok kebelakang jika mau melihat siapa yang datang. Dan karna memang aku orangnya cuek, aku hanya sedikit tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam kelas.


Akupun bergegas mencari tempat duduk kosong dan pilihanku jatuh ke kursi bermeja didekat jendela yang mengarah ke parkiran dan jalan gedung fakultas kedokteran. Bisa aku lihat rata-rata orang di kelasku adalah orang Jerman, mungkin hanya seperempatnya saja orang luar negeri..ya termasuk aku. Oiya, bentuk tempat duduk kelasnya semacam bioskop jadi bayangin aja bioskop yang tempat duduknya semakin jauh dari layar semakin tinggi (naik). Untuk meja-kursinya, tiap baris ada 15 kursi dibagi 3 dan 2 jalur untuk berjalan dan sekelas sih muat sekitar 120 orang.


Saat aku datang pun mungkin jumlah mahasiswanya sudah mencapai 50 mahasiswa, padahal di kelas pertama kemarin mungkin hanya 30 orang termasuk aku. Memang kata teman asramaku biasanya di kelas pertama banyak orang yang malas untuk datang, bahkan dia juga tak datang ke kelas pertama..katanya karena kelas pertama hanya akan dimulai dengan perkenalan. Tapi nyatanya tidak, kemarin kelas pertamaku langsung diisi dengan materi dan mungkin itu yang membuat kelas hari ini cukup ramai. Ada penambahan poin juga di kelas kemarin..mungkin apresiasi dari dosennya aja sih, tapi untungnya aku berangkat jadikan nambahin poin. Hihi


Setelah aku duduk, ada beberapa kali pintu belakang terbuka lagi. Jadi kusimpulkan bahwa yahh teman-teman seangkatanku cukup banyak dan sepertinya banyak juga yang masih seumuranku. Karna memang dasarnya aku cuek, aku malas menengok ke belakang, aku hanya terus menerus melihat ke arah parkiran di bawah melihat orang-orang berlalu lalang.


Program pascasarjana sekelasku setengahnya diikuti oleh orang yang lebih tua dariku, mungkin 2-3 tahun di atasku dan yang setengahnya sebayaku. Selain itu kulihat ada 4-5 temanku yang berhijab, duduk di barisan agak depan dekat dengan layar. Kufikir selama aku kuliah di Jerman aku tidak akan menjumpai teman muslim, kecuali temanku sesama orang Indonesia yang mendapatkan beasiswa seprogram denganku. Lamunanku sesaat buyar karena aku mendengar tarikan kursi di sebelahku duduk, otomatis aku langsung menengok ke arah kananku.


"Guten Morgen, sorry may I sit here, next to you?", kata wanita berhijab itu kepadaku yang kulihat kita sebaya. ("Halo, bolehkah aku duduk disini, disebelahmu?")


"Morgen.. Yes, of course. My name Grizellian Quenauriste Athena Maheswari, you can call me Ell. I'm from Indonesia, nice to meet you!", kataku menatapnya sambil mengulurkan tanganku. Wanita itu lalu membalas uluran tanganku dan memperkenalkan dirinya. ("Ya, tentu. Namaku Grizellian Quenauriste Athena Maheswari, kamu bisa memanggilku Ell. Aku dari Indonesia, senang bertemu denganmu!")


”Hei, Ell. Nice to meet you too, my name is Jihan Jauharah, Jihan. I'm Turkise, can we be friends? Honestly, I don’t have friends yet, yesterday's class I couldn’t attend due to family matters.", jawab wanita itu sambil menatapku penuh minat sampai aku ingin menggodanya. Ya kalian tau sendiri kalo aku biangnya jail haha. ("Hei, Ell. Senang juga bertemu denganmu, namaku Jihan Jauharah, Jihan. Aku orang asli Turki, bisakah kita berteman? Sejujurnya, aku belum memiliki teman, karena di kelas kemarin aku tidak bisa hadir karena acara keluarga.")


"Sorry, I can't. I don't need friends, thanks!", tukasku cepat dan ketus sambil tetap memperhatikan raut wajahnya yang seketika terlihat terkejut dan sedih. ("Maaf, aku tak bisa. Aku tidak butuh teman, terimakasih!")


"Hahahaha..", tawaku cekikikan melihat raut wajahnya, sambil menutup mulutku karena aku masih menjaga sopan santunku takut mengganggung orang lain di kelasku.


Jihan yang sadar aku hanya mengerjainya lalu menatapku dengan kesal. Jihan pun langsung memukul lenganku membalas rasa kesalnya akibat candaanku padanya. Hal itu malah membuatku semakin tertawa dibuatnya.


"Hih! You make me shock and disappointed at the same time, Ell!", keluhnya kesal. ("Hih! Kamu membuatku kaget dan kecewa disaat bersamaan!")


"Hahaha, I'm so sorry Jihan. That so funny", jawabku lagi. ("Hahaha, maafkan aku Jihan. Itu sangat mengasyikkan,")


"Hm, yaa.. okey, so I know that this one friend of mine likes to joke. Haha, oh and this is my number", ucapnya tertawa sambil memberikan Hpnya kepadaku. ("Hm, yaa.. okey, jadi aku tau kalau temanku yang satu ini suka sekali bercanda")


"Ah, I forgot, my phone fell earlier and cracked before. So you just keep my number, I'm afraid that if I use it..it will only increase the damage", kataku menghela nafas dan mengembalikan HP Jihan lalu menyebutkan nomor HPku. ("Ah, aku lupa. HPku tadi terjatuh dan retak. Jadi kamu aja yang menyimpan nomorku, aku takut jika aku menggunakannya malah memperparah kerusakannya")


"Why your phone can fall, Ell?", tanyanya ingin tau padaku. Aku pun menceritakan kejadian dimana aku terjatuh tadi. Dan kalian tau reaksi Jihan apa? Jihan, dia malah tertawa dan mengolokku bodoh, dia menertawakan kecerobohanku.


Oh dasar, sepertinya aku salah memilih teman. Aku pun memutar bola mataku jengah saat dia tertawa membayangkan bagaimana aku terjatuh. Setelah puas menertawakan kebodohanku, kita hanya berbincang bertukar latar belakang kita berdua. Diawal aku melihatnya aku tau kalau dia satu frekuensi denganku, server sarap haha.


Seketika perbincangan kita terhenti dan Jihan menoleh saat terdengar suara pintu dibuka dari arah pintu bagian depan ruang kelas yang membelakanginya. Akupun ikut reflek menengok ke depan dan melihat ada seorang pria berpostur tinggi tegap berada di depan pintu membelakangiku untuk menutup pintu kembali. Ah, dosennya fikirku.


Pria itu lalu masuk dan berjalan ke arah podium dosen, sedangkan aku..setelah melihat pria itu menutup pintu aku langsung kembali berbincang dengan Jihan. Saat kulihat lagi pria itu sudah sampai di podium-menunduk meletakkan semacam draft tebal dan menyeting mikrofon.


Aku pun yang melihat dosen itu bersiap, akhirnya juga ikut bersiap. Aku mengeluarkan tablet buah tergigitku dari dalam tas lengkap dengan miniboard dan pensilnya. Saat aku berkutat menyiapkan perlengkapanku, terdengar suara dosenku memulai kelasnya dan memperkenalkan diri diikuti mahasiswa lainnya urut mengikuti absen. Aku tak memperhatikan dosen itu, aku fokus mengotak-atik tabletku, menyambungkan wi-fi kampusku lalu akhirnya melihat ke arah temanku yang memperkenalkan diri lalu kutulis namanya ditabletku.


Fokus pandanganku mengarah ke setiap teman-temanku yang memperkenalkan diri di tempat duduknya sambil berdiri. Aku juga mencatat nama mereka yang menurutku lucu dan bisa akrab berteman denganku..dan mana yang tidak. Tak lupa aku juga sedikit menuliskan deskripsi singkat saat melihat mereka, seperti gambaran karakter saat pertama melihat mereka. Yaa, itulah aku sekarang..harus lebih jeli saat menilai seseorang.


Ketika namaku dipanggil aku masih saja berkutat menulis deskripsi singkat orang sebelumku. Karena aku masih saja belum sadar setelah 2x panggilan, Jihan langsung menyenggol lenganku karena dia melihat aku yang masih saja fokus menulis ditabletku. Ya, aku tau jika aku akan dipanggil lebih dulu daripada Jihan karena nama diabsen mengikuti abjad. Namun aku tak tau kalau namaku akan dipanggil secepat ini.


Akupun melihat ke arah Jihan lalu saat aku mengerti maksudnya, aku langsung berdiri dari dudukku dan memandang ke depan ingin memberikan salam penghormatan ke dosenku. Tapi aku malah terkejut saat melihat siapa dosenku itu dan menatapnya dalam sampai aku terpaku. Kalau kalian berfikir aku terpaku karena dosenku kelewat tampan maka kalian salah.


Yang membuatku terpaku melihat dosenku adalah karena dosen itu.. orang yang menabrakku tadi. Ya itu dia. Dia orangnya.