
*****Mentemen semua, jangan lupa like-vote-comment ya.. tinggalin kritik, saran, perasaan kalian setelah baca At The Memories sampai episode ini.
Mohon dukungannya mentemen
❤️❤️❤️***
.
.
.
"F*ck!", umpatku tertahan.
Draggg (suara meja tergeser)
Sedikit kurasa ada yang tiba-tiba berdiri dari arah belakangku. Em, yaa..pasti antara Lashon dan Nizar.
Sial hpku jatoh ya ampun! Mana screennya masih nyala. Ntar kalok orang ada yang liat aplikasi "S" bisa gawat. Kulihat siapa yang membalikkan badanku tanpa permisi. Cih! Salah satu Chili gengs rupanya. Dan? Berarti dia yang tadi mau ngerjain gue kan.
Oke, let's the game baby. (Smirk)
Setelah menoleh kemana hpku terjatuh secara refleks, aku langsung mengangkat wajahku menatap ke perempuan yang sedikit lebih pendek dariku. Ah, siapa namanya..gue lupa. Em.. Maya?
Kutundukkan kembali pandanganku dengan tenang dan pelan. Aku sedikit melangkah mengambil hpku yang terjatuh. Memungutnya, lalu melihat keadaan hpku dari layar hingga body hpku. Huh, sayangnya Iphone 8+ (saat Lian SMA yak) yang baru masuk kelas XI ini kubeli layarnya retak karna ulah si cabe satu ini.
Melihat layarku yang retak aku kemudian menoleh ke arah belakang, melihat Maya yang sedang menatapku menantang. Pelan..aku membalikkan badan menatap nyalang ke arahnya.
"Sial! Layar hp gue retak bego!", geramku lalu setelah itu membanting hpku ke arah daerah circleku.
Oh bukan.. bukan aku emosi lalu sebodoh itu merusak hpku. Aku membanting hp itu karna memang ingin balik menantang Maya. Toh hp itu tak bisa kugunakan lagi walaupun layarnya hanya retak. Karna apa? Jika aku membawa hpku ke tempat servis, Farel akan melarangku karna takut hpku akan di retas datanya oleh seseorang dari mafia yang menyamar menjadi tukang servis. Pun, akhirnya malah Farel yang akan membelikanku hp baru jika itu terjadi. Jadi daripada begitu, lebih baik aku sekalian merusaknya bukan?
"Wahhh", pekik beberapa orang ketika aku membanting hpku.
Smirk
*Tap
Tap
Tap
Srakkkk
Heg*
Begitulah kira-kira suaranya ketika aku berjalan beberapa langkah lalu dengan gerakan cepat dan tak terbaca langsung mencekik leher maya. Senyumanku memudar.. kukencangkan cengkeramanku di lehernya. Sahabatku? Kulihat dari ekor mata mereka, mereka langsung berdiri. Benar saja Lashon langsung berlari ke arahku. Ah, jadi yang berdiri tadi Lashon.
Tak jauh berbeda kedua geng cabe lainnya juga berdiri dan keluar dari meja mereka. Entahlah, mereka mematung di belakang Maya. Takut? Atau tak mau ikut campur? Tak penting untukku saat ini, bukan? Dan terakhir Farel.. sepertinya dia belum selesai membayar tapi langsung berjalan ke arahku. Kembali lagi ke Maya.
Heg
"Bangs*t! Apa yang lo lakuin! Lepas!!!", rontanya yang tak kuperdulikan.
"Lepas as*!", umpatnya lagi ketika cengkeramanku bertambah kuat.
Heg
Wajah maya mulai memerah tapi juga memutih, sedangkan kedua tangannya ia gunakan untuk menarik tanganku. Tangan Maya juga mencakar punggung tanganku namun kuhiraukan. Kudengar helaan nafas tercekat, pekikan orang kantin, juga beberapa orang ikut berdiri ketika melihat wajah naas Maya dengan tangan kaki mencoba memberontak. Ah, senangnya...
"LE-PAS BIT-CH!", rontanya masih sempat mengataiku.
Smirk
"K-KAU! K-KAU YANG LEBI-H DULU MENGINJAK KA-KIKU SIALAN!", jelasnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan sedikit tersenyum manis.
"Kamu yang mencoba melukaiku cantik.. aku hanya..hm, melakukan perlindungan diri.. kurasa", ucapku dengan tampang kubuat polos.
"SSTTT! SA-KIT! LE-PASSSSTT!", teriakannya meminta melepaskan.
"Metis.. lepas yaaa" kata Lashon yang ku dengar.
Aku langsung menoleh menatap Lashon yang berada 5 langkah di sebelah kiriku. Aku memberikan senyum lembut dan tulus kepadanya lalu mengarahkan jariku membuat simbol "Oke", lalu mengarahkan telunjuk kiriku ke bibir membuat simbol "sssttt diam" dan kembali tersenyum.
Ditanganku, Maya masih meronta dengan air mata mulai berlinang. Hal itu kembali tersenyum. Rontaannya semakin berkurang membuatku melihat ke arah Farel lalu mengangguk. Ah, aku hanya memberi kode untuknya. Semoga dia paham.
Dengan masih mencekik Maya, aku menariknya keluar dari kantin. Semua orang mulai berdiri ingin mengikutiku mencari tau apa yang setelahnya terjadi namun urung. Farel lebih dulu mengatakan bahwa mereka harus duduk kembali atau Maya mati sambil terus mengotak-atik hpnya. Aku yang mendengar itu hanya tersenyum ditengah langkahku meninggalkan kantin.
"Q-Quena", panggil Lashon lirih saat aku sudah berada di pintu keluar kantin.
LASHON POV
Lian dan Farel pergi membeli beberapa cemilan untuk kita makan sambil menunggu jam istirahat yang di perpanjang 1 jam karna rapat. Geng Lian saling bercengkrama dengan geng sekelasku dengan asik. Sebenarnya saat kita semua bersama, itu lebih terasa seperti geng kelasku dan Lian menjadi satu. Anggaplah 14 serangkai.
(*ya udah next kalok geng Farel, Ben, sama Lian kumpul..aku bilangnya 14 serangkai ya biar mudah -author)
Kami masih saja saling melempar candaan ketika Farel dan Lian pergi. Hingga candaan kami berhenti ketika mendengar suara perempuan mengaduh.
"AW!", pekiknya yang kudengar membuatku mendongakkan kepala melihat sekitar.
Lian? Dia berjalan ke arah meja kami dengan hp ditangannya dan meringis memamerkan senyuman gigi putih rapinya. Huh, pasti dia yang berulah batinku. Tak berapa lama fikiranku terjawab. Yup, benar.
"As*! Berhenti lo!", kata seseorang di balik Lian.
*Tap
Tap
Tap
Sreg*
Kulihat hp Lian terlempar saat dirinya dibalik dengan paksa oleh seseorang. Oh Maya. Aku tau dia, salah satu geng cabe yang dulu melawan Lian. Ah bukan, yang dilawan Rosa kalau tidak salah. Terbesit ingatan itu sesaat hingga aku terfokus ke arah mereka berdua. Entahlah, aku tak begitu mendengar ucapan mereka karena kantin yang ramai walau sesat hening. Tapi sekarang mulai kembali ramai karna banyak dari mereka memekik juga saling berbisik dan berkomentar.
Fokusku masih ke arah Lian. Di depan sana Lian masih berdiri menghadap Maya entah melakukan apa. Tak lama dia menunduk lalu berjalan mengambil hpnya yang tadinya jatuh. Saat memungut hp dan memeriksanya, tak lama kulihat Lian memejamkan matanya sejenak dan kemudian menoleh-berbalik melihat ke arah Maya lagi.
Jantungku berdebar.. Lian tiba-tiba membanting hpnya ke arahku? Ah, perasaanku langsung tak enak saat dia mulai melangkah. Refleksku langsung berlari mendekat ke arahnya, tapi.. Sial! Lian sudah lebih dulu mencekik Maya. Ah. Aku tau setelah ini akan lebih sulit.
Pandanganku teralih melihat Farel yang berjalan santai mendekat ke arah Lian. Aku dan Farel saling menatap lalu mengangguk. Kufikir dia tau maksudku begitupun aku. Ini memang bukan sekali Lian seperti ini. Saat di SMP bahkan lebih parah, aku masih cukup tenang yaa walau takut juga jika Lian kelewatan di depan banyak orang yang notabene kakak kelas.
Tangan Lian memerah akibat cengkeraman dan cakaran Maya. Terdapat banyak garis cakaran disana-sini. Kulihat Farel mengangguk namun pandangannya bukan ke arahku. Lian. Itu ke Lian. Tak lama Lian mulai melangkah menyeret Maya dengan masih menyekiknya berjalan keluar dari kantin. Lian sempat mengedipkan sebelah matanya saat melewatiku dan hal itu malah membuatku mematung.
"Sial! Bisa-bisanya dia menggodaku saat situasinya begini", batinku.
Situasi mulai ramai namun di redam oleh Farel. Aku? Aku hanya mengikuti Lian dari belakang namun sebelum itu sempat mengeluarkan 2 lembar uang seratusan di meja kantin tempat kami makan. Setelahnya aku sedikit agak berlari mengejar Lian yang sudah jauh di depan.
....
*maaf ya aku telat-telat update, aku baru bantuin jaga balita..yaa semacam jadi ibu asuh, padahal w aja belum punya anak..boro-boro punya anak nikah aja belum hehe jadi sabar ya, tetep setia nungguinnya