At The Moment

At The Moment
30. Anak Angkat



Di depan rumah


"Kok kamu udah dateng sih, kan aku bilang jam 7", kata Lian mendekati Nizar yang masih duduk dimotor dengan memainkan hpnya.


"Katanya lo nggak mau telat, yaudah gue jemput sekarang. Mana tau kepagian menurut lo", jawab Nizar kesal. Emang cewek selalu bener, haduhhhh.


"Yaudah tunggu bentar ya, aku baru sarapan", kata Lian dijawab anggukan lalu hendak berbalik untuk masuk rumah.


"Eh ada temen Quena.. jemput Quena ya?", kata Tisha mendekati Lian dan Nizar.


Nizar pun melihat ada mama Lian langsung turun dari motor dan memasukkan hpnya di saku celana.


"Quena?", fikir Nizar.


"Iya tante, perkenalkan nama saya Nizar, Luzman Qadr Nizarhyatt", jawab Nizar.


"Nizar sahabat sekelas Lofa sama Cair mah, makannya tau rumah asli Lian. Lofa yang nitipin Quena ke Nizar soalnya Lofa lagi pulang ke Rusia, trus Cair baru sibuk sama pacarnya", kata Lian menjelaskan ke Tisha yang pasti bingung dengan Nizar yang bisa menjemput Lian ke rumahnya, bukan rumah Embak Asmi.


"Oooh gituuu.. yaudah yuk masuk, sarapan dulu sama keluarga tante kenalan sama keluarga Quena", ajak Tisha.


"Eh, nggak usah tante. Nizar udah sarapan kok", tolak Nizar sopan walaupun sebenarnya dia belum sarapan.


Ya gimana, masa baru kenal udah diajak sarapan sama keluarganya. Canggunglah. Walaupun emang belum sarapan gara-gara kepagian jemput Lian.


"Sorry aja.. tante itu nggak suka di tolak. Nah, udah yuk! Masuk", kata Tisha tak mau dibantah lalu menarik Nizar masuk dan mendudukkan Nizar di sebelah Lian.


Posisinya Lud papa Lian duduk sendiri di kursi untuk kepala keluarga, lalu ada Tisha berhadapan dengan Zain tapi karena Zain di Jakarta kursi dibiarkan kosong, samping Tisha ada Aile kakak Lian berhadapan dengan Lian, dan samping Lian saat ini ada Nizar.


"Pagi om, kak", sapa Nizar.


"Pagi", jawab mereka berdua dan karena ada anggota baru maka sarapan kali ini diperbolehkan untuk ngobrol saling mengenal.


"Jadi ini namanya Nizar, sahabat Lofa sama Cair di kelasnya. Ini Lud papa Quena papa kamu juga sekarang, ini Aile kakak Quena, kursi kosong sebelah Lian itu punya Bang Zain tapi sekarang baru kuliah di Jakarta makannya kursinya kosong. Nah papa, karna Lofa pulang ke Rusia dan Cair pacaran, Quena dititipin ke Nizar sama Lofa. Mamah mau ya pah jadiin Nizar anak kayak Cair sama Lofa, soalnya Lofa aja mau percayain Quena ke Nizar jadi mamah percaya juga deh sama Nizar. Nizar.. nanti pulang sekolah mampir yaaa, pilih kamar yang Nizar suka, biar Quena nanti yang anter. Terus nanti bilang kamu mau desain kamar kayak apa ke Quena sama barang yang kamu suka apa, biar papa Lud nanti yang pesenin. Buat baju-baju kamu nanti kamu boleh ambil dari rumah kamu atau belanja sama mamah pulang sekolah nanti juga gapapa. Kan hari ini hari sabtu, sekalian malem mingguan bareng atau besok juga gapapa kan minggu tuh. Soalnya lemarinya gede, masak kosong. Mamah kadang suka kesel sama lemari Lofa, soalnya lemari Lofa aja isinya dikit banget. Udah diminta tambahin, tapi tetep aja cuman dikit barangnya. Padahal kan malah nyiapinnya lemari yang besar ya pah ya. Huh. Mamah ngga suka ih, pokoknya kamu nanti belanja sama mamah sama Quena. Papah sama kakak boleh kok kalok mau ikut. Jadi mau belanja kapan?", kata Tisha panjang membuat Nizar terbengong dan bingung.


"Ehem.. itu biar Quena yang ngasih tau Nizar, biarin Nizar makan dulu kasian dia sampai belum milih mau sarapan apa", kata Lud.


"Ya ampun!!! Iya! Mamah sampai lupa nawarin kamu makan", kata Tisha lalu menepuk dahinya.


"Mamah sih kalau ngomong nggak di jeda, liat tuh muka Nizar sampe bingung gitu", kata Aile membuat Nizar meringis lalu menggaruk tengkuknya.


"Maaf ya, mamah seneng", kata Tisha meringis.


"Quena, ambilin Nizar makan"


"Yaudah semuanya lanjut makan ya", ucap Lud diangguki semua orang di meja makan.


"Mau makan apa Zar?", tanya Lian sambil berdiri dari duduknya.


"Aku nasi uduk aja pake mie Jawa jangan kasih kering tempe", kata Nizar.


"Lauknya mau telur balado apa ayam rendang?"


"Ayam rendang aja", kata Nizar.


"Ini", kata Lian meletakkan sarapan Nizar di depan Nizar, lalu menuangkan air putih untuk Nizar.


"Minum susu juga ya yang low fat high calcium punya Lofa sama Cair ya, mamah buatin dulu. Biar makin tinggi berotot kayak Lofa", kata mama sambil beranjak membuatkan susu untuk Nizar tanpa mendengar jawaban Nizar.


Nizar hanya bisa terpaku menatap kepergian Tisha, terbengong melihat tingkah unik Tisha yang tak disangka-sangka.


"Lanjutkan makanmu Nizar, kamu harus mulai terbiasa dengan mamahmu itu", kata Lud yang diangguki Nizar lalu memulai makan sarapannya.


"Hah, mamah? Kapan dia nglahirin gue? Gue aja belum iyain apa-apa juga, lalu tadi juga kamar apaan. Ah bodo ah, makan aja lah biar cepet kelar ntar gue malah makin bego lama-lama disini", batin Nizar saat mulai memakan sarapannya.


"Lah enak banget masakannya", batin Nizar lagi lalu melanjutkan suapannya.


"Ini susunya ya", kata Tisha menaruh susu lalu kembali duduk di tempatnya.


Beberapa saat kemudian Lian dan Nizar sudah selesai dengan sarapannya, Lian kemudian pamit untuk ke sekolah.


"Semua, Quena sama Nizar udah selesai sarapan. Terimakasih sarapannya, kita berdua berangkat dulu ya", kata Lian lalu menarik Nizar untuk pergi.


"Terimakasih semua, kami berangkat Assalamu'allaikum", kata Nizar sambil berjalan karena sudah ditarik oleh Lian.


Tisha hanya terkikik melihat tingkah Nizar yang kikuk dan bingung, sedangkan Lud dan Aile hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Tisha itu.


"Nih helm buat lo, gue beliin yang full face soalnya gue sering ngebut jadi resikonya makin tinggi", kata Nizar memberikan helm polos berwarna hitam.


"Kok lo repot-repot beliin sih? Padahal helm yang biasa aku pakek kalau bareng Farel sama Lashon kan ada, berapa harganya nanti gue ganti", kata Lian.


"Lo suka banget ya ngrendahin harga diri orang, nggak usah diganti! Duit jajan gue juga masih banyak. Lagi pula helm yang suka lo pakek nggak bakalan bisa nglindungin kepala lo kalok jatoh", ketus Nizar lalu menaiki motornya.


Lian pun memanyunkan bibirnya lalu menepuk bahu Nizar setelah melihat Nizar sudah naik ke motornya.


"Bantuin dong", kata Lian kemudian Nizar mengulurkan tangannya untuk dijadikan tumpuan.


"Aku bukannya rendahin harga diri kamu, cuman aku nggak enak sama kamu. Toh kita belum sedekat itu buat saling ngasih", kata Lian setelah duduk di atas motor dengan nyaman.


"Lo lupa kalok lo adek gue sekarang? Dahlah, nggak usah dibahas", ucap Nizar lalu menjalankan motornya tak lupa menekan klakson saat melewati pos satpam rumah Lian.


.


.


.