Ambiguous

Ambiguous
<Liburan? Eh>



__________


"Saraa, kamu sudah bawa sesuatu untuk pesta barbeque malam terakhir?" Tanya darwin yang sedang memasukkan koper-koper kedalam bus.


Saraa membuka cooler box berisikan Daging sapi, "Apa ini tidak cukup?


Semua terpukau melihat apa yang dibawa Saraa, "Itu daging sapi kualitas mahal, bukan?!"


Saraa menggeleng, "Tidak. ini murah."


"wah ... Apa kau sangat kaya, Saraa??"


"Tidak, orangtuaku yang kaya!"


Mereka semua tertawa bersama. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi mereka.


Ya. Liburan! Gratis lagi. Karena semua kariawan telah berkerja keras pada peluncuran produk minggu lalu, Levian memberi apresiasi berupa liburan ke tempat yang sudah ditentukan setiap masing-masing tim. Biaya sudah ditanggung oleh perusahaan dan hari ini giliran Tim marketing untuk berlibur.


"Ayo! Jangan sia-siakan waktu kita!" Ucap jean mengomandokan teman-temannya agar masuk ke dalam bus.


"Lest Go!!!" Zain berteriak bersamaan lagu milik Coldplay- Adventure of a lifetime diputar.


Setelah hampir dua jam mereka didalam bus, bus mereka berhenti tepat didepan vila besar di tengah hutan, satu persatu orang turun dari bus.


"Wow ... Amazing!" Kagum Vanya melihat vila megah nan mewah berhadapan langsung dengan pemandangan kota dibawah.


"Apa kalian menyukainya?" Tanya Saraa.


"Ini luar biasa! bagaimana ada tempat seperti ini ditengah hutan?!" Ucap Diana yang tak percaya.


"Aku senang jika kalian suka."


Semua orang mulai menuruni barang bawaan mereka lalu masuk ke dalam vila.


"Wah ... Saraa, kamu sangat pintar memilih sesuatu!" puji Yuri.


"Tidak! Aku mendapat rekomendasi dari temanku."


"Bila nanti aku sudah punya banyak uang, aku akan mengajak keluargaku berlibur kesini."


Saraa tertawa mendengar impian Yuri.


"Oh iya ... Disini ada 3 kamar, 1 kamar utama dan 2 kamar biasa."


"Apa para pria akan tidur bertiga dalam satu kamar?!" tanya Jean yang tak terima.


"Kalian akan menempati kamar utama, Aku sudah mempersiapkan dua kasur di dalamnya." Jelas Saraa.


"Aku mau menjelajah vila ini dulu!" Ucap Jean.


"Aku ikut!"


"Ayo kita ke kamar terlebih dahulu." Ajak Vanya.


Kamar masing-masing ditempati dua orang,


Saraa-vanya dan Yuri-Diana.


Saraa dan Vanya masuk kedalam kamar besar.


"Aku tidak bisa berhenti kagum dengan hal ini! Kamar biasa saja sebesar ini, apa lagi kamar utamanya." Ucap Vanya.


Saraa tertawa, ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


"Kita istirahat saja dulu, Siang nanti kita akan Mendaki keatas gunung."


"Baiklah!"


~~ 


Semua orang berkumpul diruang tengah untuk bersiap mendaki.


"Apa semua perlengkapan sudah dibawa?" Tanya Jean yang sudah siap.


"Sudah."


"Baiklah, Apa kalian sudah siap?"


"Kami siap ketua tim!" teriak semua orang dengan semangat. Rasanya ingin cepat-cepat mendaki lalu melihat pemandangan dari atas gunung.


"Menurut peta, kita akan sampai di puncak dalam tiga jam pendakian."


"Ayo! Kita bergegas!"


Semua orang berjalan keluar Vila, tetapi saat didepan pintu mereka terkejut dengan suara ketukan keras dari luar vila.


"Siapa yang mengetuk? apa ada yang memesan makanan pesan antar?" Tanya Darwin bingung.


Semua orang menggeleng. "Tidak ada yang memesannya."


Jean membuka Pintu, betapa terkejutnya mereka saat penampakan seseorang yang berdiri tegap dengan setelan jas rapi dan parsel buah ditangannya, tidak lupa dibelakangnya ada pria berpakaian jas hitam.


Semua orang menutup mulutnya, tak percaya bahwa orang ini akan datang ke sini.


"Pak direktur!" Jean berdiri tegap dan menundukan kepalanya.


Jean menatap teman-temannya yang masih terkejut melihat seorang direktur ada di tengah-tengah mereka.


"Apa yang kalian lakukan?! cepat berdiri dengan tegap!" Suruh Jean.


Semua menurut perkataan Jean.


"Ini!" Levian memberikan parcel kepada Jean.


"Oh ... terimakasih ...." Jean menerimanya dengan tangan gemetar.


"Aku akan ikut liburan bersama kalian!" Ucap Levian to the point.


Semua orang melongo mendengar apa yang dikatakan Levian barusan. Setan apa yang merasuki direktur mereka.


Jean menelan ludahnya dalam-dalam, "Maksudnya, pak direktur ingin berlibur disini?" tanya Jean memastikan.


Levian mengangguk. Raut mukannya masih sama, dingin.


Saraa terdiam, mengapa Levian tiba-tiba kesini tanpa memberitahu. Lagian dia itukan direktur, apa bisa ia meninggalkan pekerjaan dikantornya.


"Bagaimana bisa seorang direktur berlibur bersama kita?!" tanya Vanya berbisik pada Saraa.


Sara menggelengkan kepalannya, "Aku juga tidak mengerti."


"Apa pak direktur sedang sakit?" Tanya Zain membuat Levian menatapnya tajam.


Jean menyenggol lengan Zain, "Apa yang kau katakan?!" Bisik Jean.


"Maaf pak direktur, mereka sedikit bingung melihat pak direktur berada bersama kami disini." Ucap Jean menjelaskan.


"Apa aku tidak boleh berlibur bersama kalian?"


Semua orang menggeleng cepat lalu tersenyum dengan terpaksa, mereka masih tak percaya melihat Levian disini.


"Tidak pak direktur .. Tentu sangat boleh ..." Jawab Darwin sambil tersenyum.


"Bagaimana ini?! Kalau ada pak direktur disini, kita tidak bisa bebas bertindak!" Bisik Vanya.


Saraa mengangguk, Ia harus bertanya pada Levian mengapa dia tiba-tiba datang kesini. Tidak seperti biasanya.


"Apa kalian tidak membolehkan aku masuk?"


"Tidak ... tidak pak direktur. silahkan masuk!"


Mereka mempersilahkan Levian untuk masuk ke dalam.


"Kalian mau kemana?" Tanya Levian sambil duduk disofa.


"Ka— kami akan mendaki gunung pak direktur!" Jawab Jean.


"Jangan sampai dia ikut!" ucap Saraa dalam hati. Jika sampai Levian ikut, mereka tidak bisa beraktifitas seperti biasanya.


"Aku akan ikut dengan kalian!"


Saraa mendesah pelan. Pria ini mengganggu sekali.


"Apa?!" Kaget Vanya membuat Levian mengedipkan matanya tak percaya, baru kali ini ia dibentak oleh bawahannya sendiri.


"Oh ... ma— maafkan aku pak direktur ..." Vanya langsung meminta maaf agar Levian tidak menggolongkannya ke dalam kelompok yang sudah bosan bekerja di perusahaannya.


"Apa aku tidak boleh ikut?" Tanya Levian memasang tampang dingin, tidak ada yang berani menolaknya.


"Ah ... boleh pak direktur!"


"Kami akan senang jika pak direktur ikut ..." Jawab Diana memperlihatkan senyum terpaksa.


"Tapi aku tidak membawa baju untuk mendaki." Ucap Levian memberikan harapan kepada semua orang, jika Levian memakai jas begitu, dia tidak akan ikut bukan?


"Aku membawa dua, pak direktur bisa memakainya!" kata Darwin membuat semua orang menatap tajam Darwin. Mengapa ia tidak satu pemikiran dengan mereka.


Darwin menunjukan muka bingungnya.


"Boleh aku meminjamnya?"


"Boleh sekali!"


"Baiklah, aku akan berganti baju. kalian tunggu saja diluar!" Suruh Levian lalu beranjak untuk berganti baju, tak lupa Darwin mengikutinya.


Diluar vila mereka menunggu Levian dan Darwin, sesekali berbisik-bisik.


"Darwin, bagaimana dia menyimpang dengan pemikiran kita!" Ucap Zain sedikit kesal.


"Jika begini, kita tidak bisa bebas!" lanjutnya.


"Bagaimana jika kita melakukan kesalahan, kita akan menjadi salah satu golongan yang sudah bosan bekerja diperusahaannya!" keluh Vanya.


Jean berkacak pinggang, " Sudahlah ... tidak usah dibahas lagi, jika pak direktur mendengarnya, dipastikan kita ditendang dari sini sekarang juga!"


Levian keluar dari vila menggunakan hoodie berwarna putih dipadu padankan dengan jeans dan sepatu gunung. Terlihat muda dan segar.


"Pak direktur kita tampan sekali memakai pakaian santai seperti itu!" kagum Yuri melihat Levian.


"Hm ... benar sekali! Baru pertama kali melihatnya berpakaian begitu. biasanya hanya setelan jas." ucap Diana yang setuju dengan apa yang dikatakan Yuri.


Saraa menatap tajam Levian, Ia tidak berubah sedikitpun. Masih sama saat mereka pacaran dulu.


"Silahkan pak direktur lewat sini!" Jean mempersilahkan Levian untuk berjalan duluan, disusul oleh yang lain dibelakangnya.


"Siapkan mental kalian, mungkin dijalan tanpa ada lawakan!" Ucap Zain. Mereka mulai berjalan untuk mendaki.


"Levian, pergilah ke planet lain!"


________________________________________________