
__________
Rumah sakit kota Y.
Aku ikut berlari mengikuti langkah Nadia yang tergesa-gesa, kekhawatiran melanda dirinya. Sesampainya didepan UGD, ibu Nadia telah menunggu kedatangannya.
Nadia memeluk ibunya. Bisa ku lihat lingkaran mata yang menonjol dan rambut terurai berantakan pada ibunya, tangisan antara mereka tidak terelakan lagi.
"Nadia ..." Isak ibu Nadia.
"Bagaimana keadaan ayah?"
"Ibu tidak tahu, ibu menemukan ayahmu sudah tergeletak di dalam kamar mandi. Ibu sangat khawatir ..."
Aku menatap iba kearah mereka. Apa yang mereka rasakan saat ini belum pernah aku rasakan dalam hidupku, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk mereka.
"Sabar bu. Kita harus kuat demi ayah ..."
Seorang suster keluar dari ruang UGD dengan membawa selembar kertas ditanganya, "Apa kalian keluarga dari bapak Nugraha?"
"Benar suster, saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya?" Ucap ibu Nadia sambil menahan isaknya.
"Begini bu, pak Nugraha mengalami gagal jantung, Kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan. Dokter menyarankan untuk melakukan tindakan operasi katup jantung untuk menyelamatkan nyawa suami ibu. Ini surat pengajuan operasinya." Suster itu memberikan selembar kertas kepada ibu Nadia.
"Itu semua biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan operasi katup jantung." jelas suster.
"Banyak sekali!" Kening Nadia mengkerut.
"Bu, uang darimana. Tabunganku tidak sebanyak ini." lanjutnya, ia menatap ibunya yang seperti tidak ada jiwa di dalam raganya.
"Lakukan operasinya!" Ucapku membuat mata mereka beralih menatapku.
"Soal biaya, biar aku yang tanggung!"
"Levian!"
"Tidak apa. Hal kecil seperti ini, kamu bisa mengandalkanku."
Nadia berbinar melihatku, "Levian ... terimakasih."
"Cepat lakukan operasinya!"Perintahku membuat suster itu langsung mengiyakannya dan pergi untuk berkonsul dengan dokter.
Setelah itu.
Depan ruang operasi
"Levian ... terimakasih sudah membantuku." Ucap Nadia sambil mengusap air matanya.
"Tidak apa. Kau teman Saraa sekaligus temanku, jika aku mampu melakukannya mengapa tidak."
"Aku akan mengganti uang yang kau keluarkan untuk operasi ayahku."
"Tidak usah! Aku tidak perlu uang." Tolakku dengan cepat.
"Lalu, bagaimana aku membayarnya?"
"Aku butuh bantuanmu!"
"Bantuanku?" Tanya Nadia bingung.
"Aku menguping pembicaraanmu dengan Saraa di restoran tadi,"
Nadia terkejut, "Kau menguping? berarti kau mendengar semua yang kami omongi?"
"Aa ... sepertinya." Jawabku sedikit ragu.
Wajah Nadia memerah. Aku tebak dari raut wajahnya, ia takut jika aku mengetahui curhatan hatinya kepada Saraa.
"Begini, aku tidak mendengar semuanya. Hanya saat Saraa meminta pekerjaan kepadamu." Jawabku agar tidak menimbulkan salah paham bagi Nadia.
Nadia seperti menghembuskan nafas lega mendengar penjelasanku tadi, "Oh ... syukurlah. Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Begini, Tawarkan Saraa untuk bekerja diperusahaanku."
"Maksudmu perusahaan ayahmu?"
"Bukan. Perusahaanku."
"Levian, kamu punya perusahaan?" Tanya Nadia.
Aku mengangguk, Nadia terlihat cukup terpukau dengan pernyataanku tadi.
"Sejak kapan, Levian?" Tanya Nadia lagi.
"Sekitar satu tahun lalu."
"Nama perusahanmu?"
"Lesaagiant compeny."
"Le, Lesaagiant Compeny? Perusahaan yang sedang naik daun itu punyamu?!" Tanya Nadia seperti tak percaya denganku.
"Iya."
Nadia menutup mulutnya yang menganga. menatapku tak percaya, "Aku benar-benar tidak percaya! Bagaimana bisa?"
Aku hanya tersenyum simpul, tidak tahu harus menanggapinya dengan apa.
"Memangnya Saraa tidak tahu perusahaan milikmu itu?"
"Tidak. Sepertinya dia tidak mengetahuinya."
"Baiklah. Aku akan membantumu."
"Terimakasih."
"Tapi, mengapa kamu ingin dia bekerja diperusahaanmu? bukankah kalian sudah putus?" Tanya Nadia penasaran.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jujur akan membuat malu, Bohong akan mempersulitku.
"Aku punya alasan tertentu." Ucapku tidak ingin memperpanjang.
"Alasan? Baiklah."
"Tetapi, aku tidak menjamin jika Saraa mau dengan tawaranku." lanjutnya tak yakin dengan rencanaku.
"Dia sangat penurut, tenang saja."
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk membantumu!" Ucap Nadia dengan mantap.
"Terimakasih."
~
"Ada apa denganmu, Levian?" Tanya mama yang melihatku hanya melamun memainkan makanan dipiringku tanpa memakannya.
"Tidak ada, ma." Jawabku tanpa melirik mama yang berada tepat didepanku.
Ddrrrtttt!!ddrrtttt!!
Ponselku bergetar. Terpampang nama Nadia dilayar ponsel, buru-buru ku angkat telponnya. Siapa tahu ada kabar baik.
"Halo!"
'Levian, aku punya kabar baik untukmu!'
"Benarkah?" Seruku.
'Saraa menerima tawaranku, ia akan segera ke kantormu siang ini.'
Aku tersenyum lebar dengan kabar baik ini, tidak salah aku bertemu mereka saat itu.
"Baiklah! aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!" Ucapku penuh tekad.
"Terimakasih, Nadia. Semoga ayahmu cepat sembuh."
'Sama-sama, Levian. aku juga berterima kasih padamu untuk bantuanmu dalam pengobatan ayahku."
"Sama-sama."
'Baiklah. Aku doakan kesempatanmu itu. Kututup telponnya.'
"Hm ... sekali lagi terimakasih."
Ku tutup panggilannya setelah Nadia menutupnya. Bahagia rasanya mendengar Saraa menerima tawaran untuk bekerja diperusahaanku.
"Levian, Siapa Nadia?" Tanya mama dengan raut dingin, memandangku penuh curiga.
"Nadia? Ah ... dia temanku." Jawabku pendek.
"Apa karena wanita itu kamu putus dengan Saraa?"
"Tidak! Dia teman Saraa juga. Bagaimana bisa dia menusuk temannya sendiri."
"Kamu tidak berbohong?" Tanya mama sambil memicingkan mata. Takut diriku berbohong padanya.
"Aku tidak berbohong, ma. Dihatiku masih dipenuhi oleh Saraa, bagaimana bisa pindah secepat itu." Jelasku agar mama tidak salah paham.
Mama masih melirikku dengan sangat tajam, entah apa yang ada dipikirannya.
"Eum ... kemana papa? mengapa tidak sarapan bersama kita?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Masih dikasur, tidur. Tidak tahu kapan papamu itu akan bangun."
Aku hanya mangut-mangut sembari mengunyah nasi didalam mulutku. Pikiranku lebih ringan mulai sekarang.
~
Lessagiant Compeny
Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju ruang HRD, mencari orang yang saat ini memegang kepala staf HRD.
"Dimana kepala tim kalian?!" tanyaku dingin kepada orang-orang yang sudah berdiri dengan sopan sesaat sampai diruangan mereka.
"Mbak Arina sedang melakukan pemeriksaan berkala di kantor produksi, pak direktur." Ucap salah satu dari mereka.
"Cepat panggil dia!" seruku sambil duduk dikursi didekatku.
Terlihat wajah mereka yang tegang dan bingung melihatku. Aku mengerti mengapa mereka bersikap demikian, karena memang diriku jarang mengunjungi lantai dibawahku.
Hampir lima menit aku menunggunya, hingga seorang wanita kira-kira berumur 30 tahun muncul dengan nafas tersengalnya akibat berlarian.
"Ma.. af kan saya, pak.. Direktur." Ia membungkukkan badan dihadapanku, meminta maaf karena telah membuatku menunggunya terlalu lama.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengatakan kata selanjutnya, "Aku Arina Dwi, kepala staf diperusahaan anda."
"Aku harus bicara denganmu!" Ucapku lalu beranjak masuk ke ruangan miliknya.
Aku memicingkan mataku, melihat betapa berantakannya ruangan yang aku masuki ini.
"Ma— maafkan aku ... pak direktur. Aku belum membereskannya."
Ucapnya sembari membereskan berkas-berkas yang memumpuk diatas meja. Aku hanya terdiam sambil menyilangkan tanganku menunggunya lagi hingga ia selesai membereskan meja kerjanya.
"Silahkan, pak Direktur."
Aku duduk didepannya sambil menyilangkan kakiku, "Langsung pada intinya. Tuntun wanita ini hingga ia benar-benar masuk sebagai pegawai baru disini." Ucapku tidak bertele-tele.
Aku meletakkan map berwarna merah yang berisikan data diri dari Saraa di depannya.
Ia membuka map itu lalu membacanya, "Dia akan menjadi pegawai baru tim marketing?" Tanya Arina sambil membolak-balikan kertas dimap itu.
"Iya."
"Tapi, bukankah tim marketing tidak membutuhkan pegawai baru?" Tanya Arina sambil menatapku bingung.
Aku menatap balik kepadanya dengan tatapan tajam nan dingin.
"Ba— baiklah. Saya akan mengurusnya." Ucapnya sedikit gugup karena tatapanku kepadanya.
"Siang ini dia akan ke kantor ini, jangan sampai dia mengurungkan niatnya karena kesalahanmu!" Kataku dengan nada mengancam.
"Ba— Baik, pak direktur."
Aku memberikan map baru kepadanya, "Ini kontrak yang harus ia tanda tangani jika memang dirinya menerima pekerjaanya, jangan sampai dia membaca kertas terakhir!"
Ucapku memperingati Arina. Karena kertas terakhir itu berisikan syarat yang harus dipenuhi jika pemutusan kontrak atau pengunduran diri.
"Baiklah. Saya akan semaksimal mungkin untuk membuatnya meneken kontak dengan perusahaan ini."
"Kabari saya jika sudah berhasil!" Pesanku, lalu berjalan keluar ruangannya menuju ruanganku.
Sedikit lagi, Levian. Tinggal sedikit lagi!
________________________________________________