
__________
Author Pov
Jam makan siang sudah dimulai, segala aktivitas dikantor mulai mereda. Semua pegawai berbondong-bondong keluar dari ruang masing-masing menuju kantin ataupun area beristirahat yang sudah disediakan disekitar kantor.
Saraa dan kawan-kawannya sudah duduk manis dikursi piknik yang berada pada taman buatan dekat kantor mereka. bercengkrama, mendumel maupun bergosip dengan riangnya.
"Kemarin, pacarku memberikan kalung ini kepadaku. Indah bukan? Aku tidak menyangka ia akan membelikannya tanpa memberitahuiku dulu." Senyum Yuri merekah sembari memamerkan kalung berlian yang diberikan oleh kekasihnya.
"Kalungmu indah sekali ...." Kagum Diana melihat kalung berlian yang berkilauan hingga menusuk retina mata.
"Pastinya. Pacarku baru pulang dari singapore dan membawa oleh-oleh untukku berupa ini."
"Kau sangat beruntung Yuri." Ucap Saraa lalu menyedot kopi dingin dari cupnya.
"Aku sangat iri padamu! Aku juga ingin sekali mempunyai pria yang romantis dan bisa membahagiakanku dengan baik." Harap Vanya.
"Tapi ... Mana ada pria yang menyukaiku, mereka akan lari setelah melihat wajah dan badanku yang gempal ini." Lanjutnya dengan raut muka yang berubah muram.
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu iri, maafkan aku, Vanya ..." Lirih Yuri merasa bersalah.
"Tidak apa, tidak perlu meminta maaf. Aku tidak tersinggung atau merasa marah kepadamu. Kau tahu bukan, aku wanita seperti apa?" Ucap Vanya sambil menyunggingkan senyumnya.
"Aku sangat tahu!" Ujar Yuri sembari memeluk Vanya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa bertemu? Apa dulunya saling mengenal?" tanya Saraa kepada Yuri.
"Ah ... Aku bertemu dengannya melalui kencan buta yang diadakan disosial media." Jawab Yuri.
"Kencan buta?!" Ketiganya terbelalak mendengar apa yang barusan dikatakan Yuri.
"Aku baru tahu kamu mengikuti kencan buta." Ucap Diana.
"Aku sedikit malu untuk memberitahu kalian. Banyak yang melakukan kencan buta tetapi baru sebentar memikat hubungan, mereka menyelesaikan hubungannya. Aku hanya takut dan malu, siapa tahu aku juga begitu." Jelas Diana.
"Tidak semuanya. Teman kuliahku sepertimu juga, mengikuti kencan buta dan sekarang, mereka sudah memiliki anak."
"Apa?! Mereka sudah memiliki anak tanpa melakukan pernikahan?!" Seru Vanya mengejutkan Saraa dan yang lain disekitar mereka.
Diana langsung menutup rapat mulut Vanya dengan tangannya agar tidak membuat salahpaham antara mereka dan orang-orang disekitar.
"Kecilkan suaramu Vanya ... Bagaimana jika mereka salahpaham terhadap kita!!"
"Mmmm..mmm.."
"Kalau mulut Vanya ditutup begitu, dia tidak bisa bicara." Ucap Yuri menyadarkan Diana.
"Oh maaf." Ucap Diana langsung melepaskan tangannya.
"Fiuhhh ... Aku hanya terkejut saja setelah mendengar mereka sudah memiliki anak." Kata Vanya.
"Mereka sudah menikah, Vanya!!" Ucap Saraa, gemas dengan sifat telmi Vanya.
"Ah ... Begitu rupanya ..." Ucap Vanya sambil nyengir kuda.
"Apa aku harus ikut kencan juga?" Lontar Saraa tanpa berpikir.
"Hah?! Kamu Saraa?" Ucap Diana tak percaya.
"Saraa. Tanpa kamu mengikuti kencan buta, para pria sudah mengantri untuk menjadi pacarmu. Lihat sekelilingmu, banyak yang tak bisa berpaling darimu."
Saraa melihat sekeliling. Benar apa yang dikatakan Diana, banyak sekali pria yang menatapnya kagum serta bahagia melihatnya. Hanya saja ia tidak sadar dengan mereka semua karena terlalu sibuk mengurus Levian yang selalu membuatnya tertarik lagi.
"Aku tidak menyadarinya ..." Ucap Saraa dengan pelan.
"Apa kau ingin melupakan pak Direktur?" Tanya Yuri penasaran.
Saraa berpikir sesaat, apa ia melakukan ini hanya untuk menghilangkan bayang-bayang Levian saja atau benar-benar ingin melupakannya. Hatinya benar-benar bingung sekarang.
"Aku harus cepat melupakannya, sebentar lagi dia akan bertunangan. Aku tidak ingin ada sedikitpun ketidakrelaan dihatiku." Terang Saraa tetapi ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Kasihan sekali temanku yang satu ini ..."
"Aku mendukungmu, Saraa!" Tambah Vanya sembari menggelayut dilengan Saraa.
"Aku juga!" Begitu pula Yuri.
"Apalagi aku!" Dan Diana.
"Terimakasih ... " Saraa tersenyum, rasanya bahagia mempunyai teman-teman yang selalu mendukung apapun yang akan ia lakukan.
"Aku harus mencobanya!" Batin Saraa dengan penuh keyakinan.
_____
Saraa pov
|Hari pertama|
"Halo cantik ... "
Aku menelan ludahku dalam-dalam, menatap pria didepanku yang menjadi pasangan kencan buta pertamaku. Dari perawakan dan wajahnya, aku bisa menebak ia sudah memiliki lebih dari dua istri.
"Umm... "
"Papa!! Apa yang kamu lakukan disini?! Kau berselingkuh lagi!! Kamu tidak puas dengan tiga istri dirumah! Pulang! Papa pulang sekarang!"
"Ampun ma! Ampun!!"
Aku benar, bukan. Tiga istri!
Next—
|Hari Kedua|
"Ha— Hai ... Salam kenal. Namaku Raditya ... " Sapa pria keduaku. Penilaianku, pasti anak mama. Culun sekali.
"Halo." Sapaku dengan senyum terpaksa.
"Namamu?"
"Ah ... Namaku Sa— " Ucapanku terpotong karena suara dering ponsel darinya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Ponselmu ..."
"Ah maaf, maaf. Aku harus mengangkat telpon dulu ... Ini dari mamaku."
Benar lagi.
Next—
Next—
Muda sekali. Apa ia tidak sekolah? Mau jadi apa dia nanti saat besar jika umur segini sudah mengikuti kencan buta.
Next—
Hm... Apa yang harus aku lakukan?!
Nexttttt—
|Hari kesepuluh|
"Ada apa? mengapa kau diam saja?"
"Ah ... Maaf."
Aku menatapnya pria didepanku, mungkin dia adalah pria ternormal yang aku semenjak memulai kencan buta sembilan hari lalu.
Wajahnya lumayan dan mengenakan pakaian berjas, bisa aku duga dia adalah eksekutif muda yang kaya. Aku mungkin harus mencobanya.
"Apa ada sesuatu yang mengusikmu?" Tanyanya tanpa sedikitpun canggung terhadapku, seperti— orang yang sudah lama kenal.
"Tidak ada. Hm ... Namamu?"
"Ya ... Namaku Thomas Alva Edison." Jawabnya sembari mengulurkan tangannya.
"Sepertinya aku pernah mendengar namanya, tapi dimana?" Batinku. Nama yang tidak asing.
"Namaku Saraa Andrea." Ucapku sembari menerima jabat tangannya.
"Saraa? Bukankah namamu, Cinderella?" Tanyanya bingung?
"Hah? Cinderella?" Tanyakku lebih bingung. memangnya kami sedang berlakon, mengapa ia memanggilku Cinderella? Jangan-jangan dia ...
"Kau bukan cinderella?" Tanyanya sembari bangkit dari duduknya.
"Hah?"
"Jangan bohong! Kamu pasti cinderella bukan?! Ini aku pangeran charming! kau tidak mengenaliku?!" Ucapnya sembari menarik-narik tanganku dengan keras.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriakku sembari memberontak melepaskan diri.
"Kau Cinderellaku, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Ayo kita kabur dari sini!"
"Lepasin!!"
"Tidak!"
"Tolong!!"
Tiba-tiba segerombolan orang berpakaian baju perawat muncul dari berlainan arah dan segera menarik tubuh pria gila itu yang mereka panggil dengan sebutan Farhat.
"Mas Farhat.. Sadarlah! Lepaskan! Itu bukan pengantinmu." Ucap pria yang memakai baju perawat sembari berusaha melepaskan tangannya dari lenganku.
"Tidak! Dia pengantinku! Cinderellaku! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum membawanya bersamaku!" Ucapnya tidak ingin melepaskanku.
Apa?! membawaku? Ogah sekali!!
"Tolong lepaskan Aku!" Rengekku. Ingin menangis rasanya ditarik-tarik orang gila seperti ini dan malu juga.
"Segera beri obat penenang!" Suruh temannya satu temanny yang bertugas melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku.
"Lepas! Aku harus membawa dia bersamaku!" Teriaknya. Sendari tadi, kehebohan ini menjadi pusat perhatian. Banyak yang menonton dan segelintir orang merekam apa yang terjadi disini.
"Ah sakit!!" Jeritnya saat jarum suntik menembus kulit lengannya, berangsur-angsur kesadarannya melemah hingga pingsan ditempat.
"Bawa dia ke dalam mobil!" Suruh pria berpakaian perawat itu, lalu mendekatiku.
"Maafkan kami! Mas Farhat adalah pasien rumah sakit jiwa, tadi pagi ia kabur dari kamarnya saat pengamanan sedang lenggang. Sekali lagi maafkan kami karena ia telah menganggu dan menakutimu." Ucapnya sembari membungkuk meminta maaf.
"Tidak apa. Akupun tidak tahu jika dia— Tidak. Aku baik-baik saja." Cakapku sembari membungkuk pula.
"Kalau begitu ... Kami akan membawanya kembali. Sekali lagi maafkan kami!"
"Tidak apa. Hati-hati."
Beberapa menit kemudian.
Fyuhhhh. Sial, benar-benar sial. Mengapa tidak ada yang normal bagiku, lelah sekali menghadapi mereka.
Aku menadahkan kepalaku diatas meja, "Kalau pria gila itu bukan pasangan kencanku, lalu dimana yang asli?" Gumamku.
Seseorang menoel bahuku dengan pelan, karena masih dalam keadaan takut, otomatis tanganku reflek membentuk bogem mengarah orang yang menoelku. Tetapi sebelum sampai, tanganku dicekal tepat didepan wajahnya.
"Ups!"
"Wanita yang tangguh." Ucap pria didepanku.
"Dan aku suka itu ..." Imbuhnya sembari memberikan senyum berlesung.
Cepat-cepatku tarik kembali tanganku dan meminta maaf, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud— "
"Tidak apa. Aku tahu saat seseorang melakukan tinjuan tiba-tiba untuk mempertahankan diri, maaf telah mengagetkanmu." Kata pria itu dengan lembut.
"Ah ... Tidak. Maafkan aku juga telah berniat meninjumu."
"Tidak apa. Eum ... Omong-omong apa kau disini menunggu pasangan kencanmu?" Tanyanya seperti membaca pikiranku.
Aku mengangguk, "Bagaimana kau tahu?" Tanyaku balik.
"Aku pasanganmu."
"Kamu?"
"Kau Saraa Andrea, bukan?" Tanyanya lagi.
"Benar! Aku Saraa." Ucapku membenarkan tebakannya.
"Ah ... Aku sangka bukan kau. Maafkan aku karena telat menemuimu."
"Tidak apa. Aku tidak menunggu lama, kok."
"Mari duduk dulu!"
"Terimakasih." Pria itu langsung duduk menghadapku.
"Akhirnya, aku menemukan pria normal dari sebelumnya."
________________________________________________