Ambiguous

Ambiguous
<Aku bodoh.>



__________


Levian Pov.


Aku tersenyum saat melihat Saraa yang sedang duduk di pinggir jendela cafe favorite kami, hampir dua bulan kami tidak bertatap muka karena kesibukanku dan dirinya. Aku berjalan dengan penuh kesiapan antara jasmani dan rohani, hari ini akan menjadi sesuatu yang spesial bagiku dan dia.


Ya. Hari ini aku berencana melamarnya di sini. karena hampir 7 tahun kami berpacaran. Aku tahu umur kami terbilang masih muda tetapi aku ingin memiliki dia seutuhnya, aku ingin membahagiakan dia hingga kami tua nanti.


Aku telah mempersiapkan cincin berlian di saku jas milikku, sengaja aku beli saat pergi ke kanada lusa kemarin. Aku harap ia akan menyukainya dan menerima lamaranku ini.


Jantungku mulai berdegup kencang saat memasuki cafe. Aku menatap Saraa sambil menyunggingkan senyumku yang berlesung, aku jamin ia tidak akan menyangka aku melakukan ini semua.


Aku duduk berhadapan dengannya, ia hanya tersenyum tipis padaku lalu mengalihakan pandangannya keluar jendela.


Mengapa hari ini ia sangat dingin kepadaku?


"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku sedikit dingin. Aku ingin mengujinya hari ini, apakah dia rindu padaku atau tidak.


"Kau tidak bisa melihatku?!" Saraa menjawab dengan nada lebih dingin dariku, tidak pernah sekalipun dia berkata seperti ini padaku.


Aku memperhatikan Saraa dengan seksama, ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya ke arahku. Mengapa dia sangat ketus berbicara denganku hari ini. Apa aku melakukan sesuatu yang membuat dia marah atau kecewa.


"Sepertinya kau baik-baik saja!" Ucapku sambil mengambil ponsel dibalik jaket lalu memainkannya. Aku tidak tahu, apakah akan baik-baik saja jika aku memainkan ponselku saat bertemu dengannya. Biasanya ia sangat cerewet kepadaku untuk mematikan ponsel saat kami berdua bertemu.


Saraa masih saja tidak menatapku, ia hanya berdehem lalu meminum kopi capucinno kesukaannya. Aku menghela napas, benar-benar perubahan besar dari sikapnya. Dulu ia sangat manis dan penyayang, berbeda sekali dengan sosok di depanku yang terkesan dingin dan ketus.


Aku menghela napas. Aku masih berpikir logis, Saat wanita hanya membalas ucapanmu dengan pendek, bisa di pastikan dia sedang berada dalam masa datang bulannya.


Aku melihatnya mengambil ponsel di tas, lalu membuka sosial media. Bisa dilihat dengan jelas dari balik kaca di belakangnya.


Bukankah Saraa tidak menyukai bermain sosial media, mengapa tiba-tiba ia aktif begini?


Aku mulai memonitorinya dengan membuka akunnya untuk mengetahui sedang apa dia hingga begitu lupa dengan diriku yang berada didepannya.


Aku mulai melihat isi sosial medianya, hanya ada fotoku dengannya 6 tahun yang lalu saat kami pergi ke taman hiburan untuk merayakan kelulusan kami.


Notifikasi muncul di layar atas ponselku, terbaca Saraa Andrea menambahkan postingan baru.


Aku meliriknya sebentar lalu membuka postingam barunya yang hanya berisikan tulisan putih diatas background hitam.


Apa hati bisa berubah atau hanya bosan untuk sementara waktu?


Aku menegakkan badanku untuk berpikir, apa maksud Saraa pada postingan ini. jelas di pikiranku, ia tidak akan mau menuangkan isi hatinya di media sosial dengan segampang ini.


Aku meliriknya sebentar saat ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu mengisap lagi kopinya. Tidak pernah aku melihat sikapnya yang terkesan angkuh di hadapanku.


"Mari putus!" Ucapan Saraa yang tiba-tiba membuat diriku tersentak hebat. Ada apa dengan perkataannya, mengapa segampang itu ia menyebutnya.


Aku meletakan ponselku di meja, "Kenapa?" Tanyaku sambil menahan keguncangan dihatiku.


"Tidak ada, aku hanya bosan denganmu." Saraa memberi Jawaban yang sebenarnya aku tidak menyukainya.


Apa aku harus setuju atau menolaknya? Apa hari ini akan menjadi hari terakhirku bersamanya sebagai pasangan kekasih.


Aku mengangguk tanpa mendengarkan hati, toh dia yang sudah bosan padaku. Meski aku masih menyayangi dirinya, tetapi ia tidak.


"Okey!" Ucapku lalu berdiri berjalan meninggalkannya sendirian di cafe itu.


Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, apa sebegitu gampangnya hubunganku dan Saraa berakhir begitu saja.


Aku berjalan keluar cafe dengan tegap menahan gemuruh di dadaku. Aku berhenti sebentar lalu menatap ke arah Saraa, apa aku harus kembali lagi atau membiarkannya begitu saja.


Arghhh!!


Aku berlari ke arah mobilku, membanting pintu dengan keras lalu menyandarkan kepalaku diatas stir mobil.


Rencana yang aku buat sebulan lalu harus gagal dalam sekejab. Aku ambil kotak kecil dibalik jaketku lalu melemparnya ke luar mobil, aku tidak membutuhkannya. Tidak bisa kembali untuk apa di simpan.


Aku membawa mobil dalam kecepatan tinggi, tidak peduli kemacetan yang menghadangku atau orang-orang berlalu lalang dihadapanku. Rasanya mengendarai seperti ini membuatku menggila.


ttttiinnn..!! ttttiinn..!!


Pria paruh baya yang memegang tongkat berjalan keluar area pejalan kaki membuatku harus melakukan pengereman mendadak hingga tubuhku tergelonjak kedepan. Aku menghembuskan napas lega, saat ku lihat pria itu masih berdiri di depan mobilku tanpa cidera maupun luka.


Beberapa kali aku benturkan kepala ke stir mobil, menyadarkan diriku yang tak kunjung mengerti keadaan. Kenyataan bahwa aku sudah tak bersama Saraa lagi.


Levian, Kau sangat bodoh!!


Tak terasa sebongkah air mata jatuh mengenai jas yang aku pakai, dadaku terasa sesak hingga ke kepala. Aku benar-benar tidak bisa melepaskannya begitu saja dari hidupku, sangat dipastikan ini sebuah penyesalan terberat bagiku.


Baiklah, mari kita break dulu untuk sementara waktu. Saat waktunya datang aku tidak akan melepaskanmu lagi walau kau menolaknya.


Aku beri waktu untukmu untuk bebas berkeliaran sendiri tanpa diriku. Pada waktunya, aku akan membuatmu kembali meski cara yang aku lakukan sangat membuatmu lelah!


----------Flashback.


________________________________________________