Ambiguous

Ambiguous
<Pria yang memiliki banyak rencana.>



__________


Waktu menunjukkan pukul 22.30, kantor mulai sepi. Lampu dikantor bagian marketing sudah mulai dimatikan, hanya pencahayaan dari komputerku saja yang masih menyala. Mata dan pikiranku masih terfokus di depan komputer, karena aku harus bekerja lembur untuk merevisi presentasi tadi pagi.


Meskipun hanya kesalahan kecil yang diriku perbuat, aku harus mengulang kembali bahan presentasiku agar sama dengan apa yang diinginkan direktur licik itu.


"Lelah sekali!" keluhku sambil sesekali merenggangkan badan. Tulang-tulangku rasanya ingin patah akibat duduk seharian dikursi ini.


Brakkkkk!


Suara benda jatuh dikesunyian malam membuat jantungku ingin copot dari tempatnya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian, mencari benda apa yang barusan jatuh hingga mengagetkan seluruh tubuhku. Tetapi ruang sudah gelap tak berpenghuni, cahaya terlalu minim disekitarku, aku tidak bisa melihat apapun.


"Siapa yang berbuat jahil seperti ini?!" Kesalku dalam hati.


Fiuhhhh, Suara hembusan nafasku yang terdengar hingga langit-langit ruangan. Aku mulai tidak peduli dengan yang terjadi disekitarku, kembali ku fokuskan semua pandanganku ke komputer agar pekerjaan ini cepat diselesaikan.


'tuk..tuk..tuk..tuk'


Tubuhku bereaksi saat suara itu mulai semakin nyaring terdengar.


"Apa lagi?!" ku telan salivaku dalam-dalam dan mulai beranjak dari dudukku untuk menyalakan lampu agar pengelihatan tak terhadang lagi. Ku langakahkan kaki menuju pojok ruangan tempat saklar lampu dengan kaki yang masih terasa sakit akibat kejadian tadi siang.


"Mengapa hari ini seram sekali rasanya!" Batinku.


"Eh!"


Langkahku terhenti ketika samar-samar bayangan seseorang berdiri didekat saklar lampu, dari bentuk rambutnya terlihat sepertinya ia adalah seorang pria.


"Siapa kau?!" Seruku.


Apa ini, apa ada penyusup yang bisa masuk dengan pengamanan perusahaan ini? Dia ingin memerasku atau mencoba membunuhku? Apa aku berbuat salah kepada orang lain? tapi siapa? Aku lupa.


Kakiku mulai berjalan mundur saat bayangan itu mulai mendekat ke arahku, "Jangan mendekat!"


Aku menyomot benda disekitar yang bisa ku gunakan untuk melindungi diriku jika orang itu mulai melakukan perbuatan yang membahayakan. Tetapi kesialan menimpa diriku, tidak ada satupun benda yang bisa ku gunakan.


"Siapa kau?! Apa kau punya urusan denganku?! Jangan mendekat!!" Teriakku dengan kencang, tetapi pria misterius itu semakin mempercepat langkahnya mendekat kearahku.


"Tolong!" Jeritku agar terdengar hingga luar ruangan, siapa tahu ada yang berjalan didekat sini dan bisa menyelamatkanku.


"Pergi!" teriakku Lagi, tapi sepertinya pria itu tidak mendengar dengan baik.


Langkahku terhenti saat punggungku sudah menabrak dinding ruangan, sepertinya aku sudah berada disudut ruangan yang gelap dan tak bisa kemana-mana lagi.


"Apa yang harus ku lakukan?" Gumamku.


"Tolong, tinggalkan aku ..." Pintaku dengan air mata mulai menyeruak keluar dari pelupuk mataku.


"Jangan sakiti aku ..."


"Tolong ..."


Prok!


Ting.


ting.


ting.


Satu persatu cahaya lampu mulai menampakan sinarnya bersamaan dengan suara satu tepukan tangan darinya, mataku kehilangan daya pengelihatan akibat sinar yang tiba-tiba masuk ke dalam retina mata. Samar-samar wajah itu mulai terlihat dan tak asing dimataku dan pikiranku.


Ada apa? mengapa dia muncul disaat seperti ini? Dia tidak akan menggodaku-kan? Sebentar lagi dia akan bertunangan, apa ini kali terakhirnya bertemu berdua begini sebelum ia mulai mencampakanku? Tolong, jangan buatku bingung! Pergi ya pergi saja, jangan membuatku seperti orang yang sudah dicampakan!


"Levian?!" Ucapku sambil mendongkapkan kepala agar aku bisa melihat wajahnya, tetapi pria itu memberi tatapan dingin dan terkesan kejam kepadaku.


"Sedang apa kau disini?!" Tanyaku sembari membuang muka kearah lain. Melihat wajahnya itu, membuat pikiranku tak karuan.


"Penakut tetapi sok merasa tegar!" Ujarnya dengan suara yang terkesan merendahkan.


"Apa yang kau katakan?!" Tanyaku bersungut-sungut.


Secara tiba-tiba Levian mencengkram tangan kananku dengan sangat kuat, membuat rintihan kesakitan keluar dari bibir kecilku. "Sakit ... Levian! Lepaskan tangaku ... ini sangat menyakitkan!" Aku mencoba beberapa kali untuk melepas cengkramannya, tetapi kekuatan kami tidak setara.


"Pria gila, lepaskan!"


Lagi-lagi, Levian tidak mengindahkan permintaan dan rintih kesakitan yang timbul akibat cengkramannya dipergelangan tanganku. "SAKIT SEKALI!!" sekali lagi rintihan kesakitan menjebakku.


"Lepaskan aku, Levian ..."


"Apa Lebih menyakitkan cengkraman tanganku dari pada berita diluaran sana?!" Ucapnya dengan suara sedingin es.


"Apa maksudmu?"


"Menangislah. Aku suka melihatmu menangis disaat seperti ini!" Bisiknya.


Kesal. Aku muak dengan tingkah lakunya yang selalu memojokanku begini, seperti dirinya yang bisa melakukan apapun terhadap diriku.


Beberapa bongkah air mata sudah jatuh ke atas pipi, cengkraman dan perkataannya membuatku harus mengeluarkan air mataku yang berharga.


Ia tersenyum menyeringai kearahku sembari tangan kanannya mulai bergerak dibagian leher dan tengkukku, menuntun kepalaku agar sejajar dengannya. Ku pejamkan mata dengan rapat, pria licik itu mungkin akan melakukannya lagi.


"Buka matamu dan lihat aku!" Suruhnya.


Tetapi aku takut melihat sorot matanya yang tajam, "Tidak mau ..." Tolakku.


Aku buka mataku dengan cepat, "Tidak! Mana mungkin!" Geramku. Jika tanganku tidak berada dicengramannya, sudah pasti kepalanya tidak akan selamat.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa melupakan wajah ini seumur hidupku." Lontarnya dengan senyuman yang tidak dapat diartikan oleh mataku.


"Ishh ... pria licik ini!" Gumamku.


"Lepaskan aku! Jika tidak, aku akan berteriak sekencang mungkin!" Ancamku.


"Huh? Berteriaklah. Siapa yang akan mendengarnya."


'Ah ... benar, siapa yang akan mendengar jeritan malam dikantor ini. Jika ia bukan manusia.'


"Kau! Jangan mempermainkanku! Jika kau ingin menghukumku, tidak dengan cara seperti ini. Aku sangat muak mengikuti cara mainmu!" Sungutku dengan berapi-api.


Levian menghela nafasnya lalu perlahan-lahan melepas cengramannya dari tanganku dan kembali berdiri dengan angkuh.


"Apa untungnya aku bermain-main denganmu."


"Lalu, mengapa kau disini?" Tanyaku sambil mengelap air mata yang masih menempel pada pipiku.


"Ini perusahaanku. Aku bebas berkeliaran kemana saja." Jawabnya.


"Ah ... Begitukah? Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Selamat tinggal, pak direktur!" Ucapku sembari membungkuk ke arahnya lalu berjalan keluar dari zona berbahaya.


"Eh ... Kau ingin kemana?" Hentinya sembari memegang kerah belakang bajuku, "Bukankah tugas yang Aku berikan belum selesai?"


"Aku bisa mengerjakannya besok."


"Aku tidak mengizinkan kamu pulang sebelum tugas itu selesai!"


Aku menoleh kearahnya dengan tatapan sinis bercampur malas untuk menanggapi keinginanya, "Ini sudah malam. Orangtuaku akan khawatir jika aku tidak pulang sekarang."


"Aku akan menelponnya."


'Ish ... benar-benar pria keras kepala ini membuat akalku semakin lama semakin buruk.'


"Jika kau memaksaku, aku akan melaporkan atas perbudakan diperusahaan ini ke pengadilan dan menuntutmu dengan berat!" Ancamku kedua kalinya.


"Laporkan saja. Aku juga akan melaporkanmu dengan tindak pencemaran nama baik."


"Huh?! Pencemaran nama baik? Apa maksudmu?!"


"Pria gila, pria penggoda, licik, picik, bodoh, umpatanmu termasuk dalam pencemaran nama baik."


"Pfft." Aku tertawa dengan keras mendengar pemikirannya yang dangkal itu.


"Benar, memang kau pria bodoh. Tentang hukum saja kau masih salah, bagaimana kau bisa menjadi direktur dengan akalmu yang dangkal itu ..." Ejekku dengan gembira. Kapan lagi bisa mengejeknya dengan seru seperti ini.


"Kau sedang menertawakanku?" Raut wajah Levian berubah jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.


"Menurutmu?"


"Aku akan menghukummu karena telah menertawakanku!" Murkanya sambil menarikku pergi dari ruangan ini menuju taman yang berada diatap kantor.


"Mengapa kau membawaku kesini?!" Tanyaku setelah ia melepaskan cengkramannya dari tanganku.


"Tunggu sebentar." Levian mengambil ponsel dari sakunya lalu melakukan panggilan entah dengan siapa.


"Bawa kesini!" Ucapnya dengan singkat.


Hingga beberapa orang tiba-tiba muncul dari segala arah dengan membawa sesuatu pada masing-masing tangan mereka. Terlihat beberapa hidangan dan karpet yang mereka gelar ditengah-tengah taman.


"Apa ini? Apa yang mereka lakukan dengan bawaan mereka?" Gumamku dengan bingung.


Setelah hampir semenit, mereka selesai menatap hidangan disana. Lalu beranjak pergi meninggalkan kami berdua.


"Apa yang kau pikirkan? Duduklah!" Suruhnya sambil menarik tanganku untuk duduk disebelahnya.


"Ada apa dengan semua ini?" Tanyaku dengan bingung.


"Hukuman untukmu." Jawabnya.


"Apa otakmu sudah terbalik? Hukuman apa yang menghidangkan makanan lezat seperti ini!"


"Agar kau menjadi gendut dan buruk rupa." Jawabnya dengan enteng.


"Apa kau bilang?!" Raungku dengan menakutkan. Bisa-bisanya ia berpikir untuk membuatku menjadi buruk rupa.


"Sudah ... sudah. Makanlah! Aku sangat lapar!" Ujarnya mengalihkan kemarahanku.


"Aku tidak lapar!"


kruyukkkk....


"Oh perutku ... mengapa kau tidak bisa diajak kompromi denganku."


"Makanlah. Sebelum cacing yang ada diperutmu semakin memberontak." Suruhnya sembari mencicipi makanan yang ada didepannya.


"Ini enak. Makanlah yang ini."


"Perut sialan!"


________________________________________________