
__________
----------Present time
"Apa kau akan menghisap rokok itu terus menerus?!" Cibir Davin sembari memperhatikanku sedang menghisap rokok manis ini.
"Apa urusanmu?" Tanyaku tak peduli.
"Tidak baik untuk udara dikantor ini."
"Ini kantorku. Area milikku! aku bebas melakukan apa saja!" Ucapku sembari menaikkan kakiku ke atas meja.
Lesaagiant Compeny. Perusahaan yang aku bangun satu tahun lalu. Bergerak di bidang teknologi khususnya barang-barang elektronik. Perusahaanku mampu menyaingi perusahaan bersar lainnya, meskipun baru berjalan satu tahun.
Aku memulainya dari nol, tidak meminta bantuan orangtuaku ataupun keluargaku. Meski bulan-bulan pertama kantorku tidak terlihat, sekarang berkat tim yang handal, perusahaanku menjadi salah satu terbaik pada ajang-ajang bergengsi.
Davin bangkit, "Maafkan aku pak direktur. Bawahanmu ini sudah lancang terhadapmu." Tuturnya sambil membungkuk badannya terhadapku.
"Apa yang kau lakukan? Cepat duduk kembali! aku tidak membawamu ke sini untuk meledekku!"
Aku mendengus. Mengundang dia ke kantorku adalah suatu kesalahan.
"Baiklah." Davin mendudukkan kembali tubuhnya.
"Ada apa kau memanggilku kemari?" Tanya Davin.
Aku mematikan puntung rokok lalu membuangnya ke dalam asbak.
"Tidak ada. Tunggu disini sampai jam kerja berakhir!" Perintahku berhasil membuat kerutan di dahi Davin.
"Kau bercanda?! Kau sangat mengganggu pekerjaanku, Levian!" Gerutu Davin.
"Ini juga sebuah pekerjaan. Tidak usah membantah!" Ucapku membuatnya mengepalkan tangannya sekencang mungkin.
"Levian!!" pekiknya membuat telingaku serasa ingin pecah.
"Apa?"
"Kau memberiku banyak pekerjaan, tetapi kau membuang waktuku dengan sia-sia. kapan aku akan mendapat cutiku?!" Ucap Davin.
"Minggu depan. Aku akan memberimu cuti selama sebulan." Tuturku membuat dirinya menganga. Bibirnya membentuk lengkuanga kearah atas.
"Benarkah?! Kau tidak bercanda,kan?!" Serunya membuatku harus menyumpal telingaku agar tidak mengalami ketulian dini.
"Hm!"
Davin berseru. Sebagai menejer di perusahaan ini, ia belum pernah mendapatkan jatah cuti karena giat membantu melebarkan sayap perusahaan.
"Baiklah bos. Hari ini saya akan menemani bos hingga bos bosan pada saya!"
"Aku sudah bosan padamu! pergi ke ruanganmu dan kerjakan semuanya agar tidak ada dateline untukmu!" Suruhku.
Davin mengepalkan tangan didadanya, "Aku akan mengerjakannya sekarang juga. Hingga saat nanti aku mendapat cuti, tidak akan ada pekerjaan yang menumpuk diruanganku!" Katanya dengan penuh tekad dan ambisi.
"Keluar dari ruanganku!" Usirku sambil menyangga kaki kanan diatas kaki kiri.
Davin berdiri lalu membungkuk sopan, "Terimakasih pak direktur. Saya pamit pergi keruangan miliku dan menyelesaikan semuanya." Ucapnya dengan sopan, lalu mundur perlahan-lahan hingga ambang pintu.
"Sampai bertemu lagi Levian. Muachhhh!!" Pamitnya dibarengi dengan kissbye'an membuat diriku ingin muntah rasanya.
"Merinding!!"
~
Esok Hari
"Levian, Mama sudah menghubungi agen pembantu harian untuk membersihkan rumah dan membuatkanmu makan, mama dan papa hanya pergi untuk dua hingga tiga malam." Ujar mama sebelum naik ke mobil. Hari ini mereka harus menghadiri acara keluarga di luar kota.
"Baik ma." Anggukku.
"Baik-baik dirumah. Jika ada sesuatu hubungi ponsel mama atau papa, ya!" Pesan mama membuatku terkekeh.
"Levian bukan anak kecil lagi ma. Levian bisa jaga diri."
"Mau sampai kapan kalian berpamitan?!" protes papa dari dalam mobil.
"Ini sudah, sayang. kau tidak sabaran sekali." Cibir mama kepada papa. Aku hanya terkekeh mendengar pertengkaran abal-abal antara mereka.
"Mama pamit dulu!" pamit mama lalu masuk kedalam mobil.
"Hati-hati!"
Aku tersenyum sembari melambaikan tangan hingga mobil mereka tak terlihat dalam pengelihatanku.
"Siap-siap pergi ke kantor!" Ucapku sambil merenggangkan badanku yang rasanya ingin remuk ini.
"Levian ..."
Aku menengok ke sumber suara, menampakan sekretarisku, Bianca.
"Mau apa kamu kesini?!" Tanyaku dengan dingin. Benar-benar sesuatu yang tidak membuatku senang.
"A- aku ingin memberimu berkas-berkas yang harus kamu tanda tangani." Ucapnya sembari berjalan mendekatiku.
"Mengapa harus diantarkan sepagi ini?! aku bisa menandatanganinya nanti dikantor!"
Aku mengerti mengapa Bianca datang kemari. Bianca adalah anak perempuan dari rekan bisnis diperusahaanku, Ayahnya ingin aku dan dia berkencan lalu menikah. Belum sampai situ, aku menolaknya. Tidak ada minat dariku. Kecerobohanku yang ku perbuat, membawanya menjadi sekretaris pribadiku.
"I-ini ... "
"Berikan padaku!"
Aku merebut dokumen-dokumen dari tangan Bianca lalu secepat menandatanganinya satu persatu diatap mobilku.
"Sudah selesai!" Desisku lalu melemparkan dokumen itu ke tangan Bianca.
Wajahnya agak kesal melihat perilakuku. Tapi memang beginilah diriku yang baru, Dingin dan tidak memiliki perasaan terhadap orang.
"tunggu apa lagi? cepatlah pergi!" Usirku. Bianca masih berdiri didepanku tanpa reaksi apapun.
"Antarkan aku pulang." Pintanya membuat darahku naik. Bisa-bisanya menyuruhku untuk mengantarnya pulang.
"Kau menyuruhku?!" Geramku.
"Ya!" Serunya.
"Levian, apa kau tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?" Ucapnya dengan lirih.
Aku mendesis, wanita ini tidak memiliki harga diri didepan pria.
"Lihat dirimu. Apa kau pantas mendapat cintaku? Tidak sedikitpun! Kau hanya wanita lajang yang mengejar cinta palsumu itu. Aku tidak akan sudi dekat ataupun menikah denganmu. Tidak akan!"
Hinaku berhasil membuat setitik air mata jatuh di pipinya, aku tidak bergeming maupun iba terhadapnya. Tatapanku terhadapnya masih sama, Dingin.
Aku mengedarkan pandanganku kelain arah, kulihat Saraa sedang berjalan sambil menundukan kepalanya sembari menendang batu dijalanan.
Saraa? kebetulan sekali.
Aku menarik tangan Bianca agar mengikutiku, "Berdiri didekatku. Jangan bicara apapun!"
Kesempatan bagiku untuk mengawali rencana membawa dia kembali ke sisiku. Sudah cukup bagiku membiarkan dirinya sediri, aku harus menjadikan dia milikku lagi.
Aku berdehem keras, "Apa yang salah dengan batu-batu itu?" Ucapku dengan dingin kepadanya. Ia hanya diam menatapku kikuk. tak lama kemudian ia membalikan badannya ingin kabur dari pandanganku.
Segera aku mencibirnya, "Kenapa putar balik? bukannya kamu ingin bertemu denganku?" Lontarku sambil menyilangkan tangan di dada. Membuat Saraa akhirnya memutar kembali langkahnya menghadap kearahku.
"Kamu mengenalku?" Tanya saraa dengan suara terkesan malas.
Bagaimana jika kita mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu.
Aku berjalan mendekati Saraa, terlihat dirinya mulai gusar melihatku. Tepat didepannya, aku berjongkok lalu membetulkan tali sepatunya yang copot.
"Teman semasa kecil dan kekasih hingga tahun lalu," kataku dengan lembut lalu tersenyum.
"Awal yang baik, Levian." Batinku.
Saraa diam tak bergerak, ia hanya terpaku melihatku. Entah apa yang ada dipikirannya, aku hanya ingin ia mengingat semua perlakuan manisku semasa kami bersama.
"Sudah selesai," Lanjutku, selesai merapikan tali sepatu miliknya.
Aku mengadahkan kepalaku keatas, wajahnya masih sama seperti dulu. cantik dan manis.
"hm ... kapan kamu akan berkerja lagi? kamu ingin menjadi pengangguran hingga tua nanti? aku tidak masalah, tapi aku kasihan kepada orangtuamu." Kataku membuat wajahnya berubah seketika.
"apa urusanmu mempertanyakan itu dan mengomentari masalahku?!" jawabnya dengan angkuh. Ia berjalan meninggalkanku yang masih berjongkok menatap kepergiannya.
"Levian, kau ditanya apa urusannya denganmu. Apa kamu akan terus begini? kapan akan mulai mengurus urusannya, tak lama lagi dia akan benar-benar melupakanmu. "Setan kecil berbisik ditelingaku membuatku mendesis.
Aku tersenyum pahit, lalu bangkit sembari memasukan tanganku ke dalam saku celana, berjalan kembali ke dalam rumah.
"Levian ..." suara Bianca yang seperti tikus terjepit membuatku geram.
Aku berhenti sebentar. Menatapnya tajam, "cari taksi sendiri, aku malas mengantarmu!" kataku lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Awal yang tidak terlalu buruk, Levian.
________________________________________________