
__________
Aku dan Levian mulai melahap hidangannya tanpa pembicaraan antara kami, karena perutku sudah sangat lapar dan sepertinya Levian mengerti dengan keadaanku.
"Apa kau menyukai hidangannya?" Tanya Levian dengan lembut kepadaku.
Hatiku sedikit bergetar, "Apa ini? mengapa pria licik ini berubah lembut dan baik kepadaku, aku yakin dia memiliki dua kepribadian." Batinku.
"Hm. Ini sangat lezat." Jawabku
Angin malam mulai menerpaku, rasa dingin membuat badanku bergetar karena pakaianku yang tipis, "Hacih!!"
"Aku tahu kau kedinginan, pakailah ini! Aku tidak mau kamu sakit." Levian memberikan jasnya kepadaku.
"Tidak. Aku baik-baik saja!" Tolakku.
Levian memasangkan jasnya ke tubuhku, "Dasar wanita keras kepala."
"Tidak usah!" Aku melepas kembali jas Levian, tetapi lenganku dicekal olehnya.
"Pilihan untukmu, pakai jasku atau tubuhku?!"
"Terimakasih!" Aku tidak jadi melepas jasnya. Kedua pilihan yang diberikan Levian sama-sama tidak ada untungnya untukku.
"Lihatlah ke atas!" Suruh Levian otomatis membuat kepalaku ikut mendongkap ke atas.
"Kau sangat menyukai bintang, bukan?"
"Aku sangat menyukainya." Ucapku sembari mengamati bintang yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan akal, mereka berkelap-kelip diantara hitamnya langit.
"Aku ingat. saat kita masih kecil, kau menangis hingga ingusan memintaku mengambilkan salah satu bintang yang ada dilangit. Karena itu mustahil dan aku tidak ingin membuatmu lebih menangis, aku berlari ke toko mainan dekat rumah dan membeli beberapa bintang mainan lalu aku berbohong kepadamu bahwa bintang-bintang itu yang ku ambil dari atas sana." Kata Levian dengan sesekali tertawa kecil.
Aku hanya tersenyum mendengar cerita masa lalu kami, karena hanya segelintir kenangan yang aku ingat. Memang Ingatan Levian paling kuat diantara kami, akal dan kepintaran juga selalu melampaui batas untuk seumuran kami dulu.
"Kau sangat senang saat itu hingga memberiku pelukan dan kecupan dipipi." Tambahnya.
Aku melebarkan mataku mendengar ucapan terakhir yang dikatakan Levian, "Apa?! aku, aku memberi apa? ... Mustahil ... Aku tidak akan memeberi semua itu kepadamu!" Ucapku menolak kenyataan itu.
"Tidak percaya? Aku masih memiliki buktinya. Kau ingin lihat?" Tanya Levian sembari mengambil ponsel di saku celananya.
"Lihat ini, Lihat! Kau selalu berada dipelukanku saat kita berswafoto." Levian menunjukkan foto kami saat kecil.
"Saat itu, kau sangat imut tapi jika sudah menangis, hidungmu selalu ingusan dan memakai bajuku untuk mengelapnya."
"Kau bohong! Aku tidak begitu, jangan mengarang cerita!"Sanggahku.
"Ah ... Lihat ini. Fotomu saat sedang ingusan."
"Levian! Sinikan ponselmu!" Aku berusaha merebut ponsel dari genggamannya, aku yakin Levian menyimpan lebih banyak foto-foto aibku saat kecil, karena dulu ia sangat menyukai fotografi.
"Levian, berikan ponselmu!" Aku mendorong tubuh Levian hingga ia terjungkal kebelakang, tetapi tanganku ikut diraihnya hingga, tubuhku sekarang berada diatasnya.
Deg!
Deg!
Kami saling memandang satu sama lain dari jarak yang sangat dekat, tanganku kananku didalam genggamannya dan tangan kiriku menopang tubuhku. Detak jantung kami sama-sama menderu seperti melodi yang sedang diputar dibeberapa orkestra.
"Kau suka berada diatasku?" Ucap Levian membuyarkan pikiranku. Buru-buru aku mencoba bangkit dari atasnya, tetapi pinggangku langsung ditarik olehnya hingga diriku jatuh didalam pelukannya.
"Biarkan begini." Ucapnya sembari mempererat pelukan ditubuhku.
Aku hanya diam, tak berkomentar maupun memberontak. Aku hanya menikmati pelukan yang diberikan olehnya, tidak mengerti dengan diriku lagi. Setiap Levian melakukan sesuatu yang membuat hatiku bergetar, terkadang tubuhku menolak dan terkadang tubuhku merespon dengan baik.
"Levian, kamu akan bertunangan sebentar lagi ... Apa kamu akan membuatku selalu berprasangka kepadamu?"
Pertanyaan itu langsung keluar saja dari mulutku. Memang ada beberapa pertanyaan selalu mengganjal didalam pikiranku, tetapi belum bisa terungkap dengan benar.
"Apa pertanyaan itu selalu bersarang didalam hatimu?" Tanyanya balik.
"Bagaimana ya ... Aku memang akan bertunangan dengannya, tapi aku sangat menginginkanmu juga. Begini saja, apa kau ingin menjadi selingkuhanku?"
Aku buru-buru melepaskan diri dari pelukannya, "Aku tidak akan mau dan tidak akan pernah!" Bergegas meninggalkan Levian yang masih berbaring disana.
"Kau mau kemana?! Tunggu aku!"
"Humph ... Menyingkirlah dari hidupku!"
"Tidak akan. Aku akan menjadikanmu sebagai selingkuhanku."
"Ogah!"
~
Kediaman Saraa.
"Kau tidak mengijinkanku untuk masuk?"
Aku masih menatap Levian dengan tajam, pria ini sangat keras kepala dan tidak ingin mendengarka aku sudah menolaknya berkali-kali tetapi dia bersikeras mengantarku pulang.
"Aku tidak memintamu untuk datang kesini. Pulanglah!" Usirku.
"Tempat tinggalku sekarang jauh, tahu!"
"Hanya terpaut beberapa rumah dari sini, jauh dari mananya?!"
"Aku sudah— "
"Pergilah!!" Aku mendorong Levian agar cepat-cepat pergi dari rumahku.
"Iya.. iya.. Aku pulang."
"Sekarang!"
"Hm ... Aku pulang."
Levian melambaikan tangannya tetapi aku langsung masuk ke rumah dan tidak memperdulikannya.
Ku rebahkan badan dikasur king size milikku sesaat setelah sampai didalam kamarku, lelah dengan pekerjaan dan pikiran membuat kasur ini seperti surga bagiku. Hari ini hatiku terasa sangat berat dan pikiran dipenuhi bayang-bayang pria picik itu, entah apa dan mengapa semuanya terjadi dalam sehari.
"Levian, kau sangat menyebalkan!" Teriakku sambil menikam guling kesayanganku.
"Bintang?" Aku bangkit dari kasurku lalu membuka satu persatu laci, mencari sebuah kotak yang berisikan barang-barangku saat masih kecil dulu.
"Ini dia!" Aku membuka dan mengobrak-abrik isi kotak itu hingga berserakan dilantai. Aku menemukan bintang mainan itu masih terbungkus dengan baik.
"Levian, kau dulu sangat perhatian kepadaku. Aku sangat nyaman denganmu. Tetapi ... sekarang kita sudah tidak bersama, kamu sudah bersamanya dan aku harus bersama dengan seseorang juga. Semoga kamu bahagia dan aku pun bahagia."
Aku meletakkan kembali bintang itu, tetapi tiba-tiba sesuatu jatuh dari pinggiran kotak. Aku ingat, ini adalah kotak berisikan cincin berlian didalamnya.
Saat aku putus dengan Levian, aku menemukan kotak ini tergeletak dijalanan depan cafe. Aku mencari pemiliknya tetapi tidak ada yang mengakuinya, menunggu tidak ada kepastian, akhirnya aku membawanya pulang dan menyuruh pelayan kafe untuk memberitahuku jika ada sesorang yang mencarinya, aku akan mengembalikannya.
"Ini indah sekali ... Siapa yang meninggalkan barang semahal ini didepan cafe. Orang itu pasti sangat bodoh!" Desisku.
Jika seorang pria memberiku cincin ini, aku pasti akan langsung menerimannya dan membawanya ke altar pernikahan.
Aku menyimpan cincin itu diatas meja rias sebelah foto masa kecilku dengan Levian, agar sewaktu-waktu pemiliknya mencarinya, aku bisa mengembalikannya.
"Aku harus mencari laki-laki yang akan membuatku bahagia hingga maut menjemputku."
"Besok aku akan mulai mencarinya, hari ini aku harus tidur dan mempersiapkan diri untuk besok. Aku harus istirahat ..."
"Aku harus istirahat ..."
________________________________________________