Ambiguous

Ambiguous
<Baiklah.>



__________


"Saraa, bangun!" Vanya membangunkan Saraa dini hari.


Saraa membuka matanya perlahan-lahan, lalu duduk sambil mengucek matanya.


"Ada ... apa?" Tanya Saraa yang masih setengah sadar.


"Pak direktur, dia mengigau terus!" Ucap Vanya.


"Memang mengapa kalau dia mengigau?" tanya Saraa berbaring kembali lalu menarik selimut untuk tidur kembali.


"Saraa! tidak ada yang berani membangunkannya!"


"Lalu?"


"Keluar dulu!"


"Aku mengantuk sekali Vanya!" Tolak Saraa.


"Saraa, cepatlah keluar!" Suara Zain yang masuk secara tiba-tiba ke dalam tenda Saraa dan vanya.


"Kau mengejutkanku!" Ucap Saraa yang langsung terduduk.


"Mereka semua menunggumu diluar!"


"Mengapa menungguku?" Tanya Saraa bingung.


"sudahlah ... keluar dulu!"


Zain menarik tangan Saraa agar keluar dari tendanya.


"Mengapa lama sekali!" Tanya Jean yang sendari tadi di depan tenda yang ditempati Levian.


"Kenapa kalian semua bangun? ini masih malam."


"Sini!" Diana menarik tangan Saraa mendekati tenda milik Levian.


"aku sangat ke dinginan, tolong aku ..."


"Tolong ..."


"Aku sangat membutuhkanmu."


"Hampir 15 menit pak direktur mengigau seperti itu." Jelas Jean.


"Ada apa dengan pak direktur, aku sangat khawatir!" Ucap Diana.


"Kalau kalian khawatir kepadanya mengapa tidak ada yang mengecek keadaannya?!" Tanya Saraa.


"Kami tidak berani." Ucap Jean.


"Hanya kamu Saraa yang berani berbicara langsung dengan Pak direktur." ucap Zain


"kata siapa?" Tanya Saraa.


"Kami mempercayaimu!"


"Aku tidak mau!" Tolak Saraa yang enggan masuk ke dalam tenda Levian.


"Tolong, hanya masuk, mengecek keadaan lalu keluar lagi!" Pinta Zain.


"Kau masuk mengecek keadaan pak direktur atau tidak tidur hingga pagi?!" Ucap Jean memberi dua pilihan kepada Saraa.


Saraa berpikir keras untuk memilih pilihan satu atau dua, Rasanya keduanya tidak memiliki keuntungan untuknya. Yang ada hanya kerugian yang di dapatnya.


"Baiklah! aku akan masuk ke dalam!" Saraa memilih pilihan kesatu, lebih baik begitu agar ia bisa tidur kembali saat sudah selesai.


"Ah ... aku tidak bisa!" Saraa mundur beberapa langkah, rasanya berat untuk masuk kesana.


"Ayolah Saraa ..."


"Kenapa kalian sangat memaksaku?!" Protes Saraa.


Saraa menghela nafas sebentar lalu masuk ke dalam tenda Levian. ia melihat Levian yang sedang meringkuk dibawah selimut sambil menggigil kedinginan.


"Kenapa dia tidak memakai Sleeping bag?" gumam Saraa.


Saraa melihat wajah Levian yang pucat pasi dan bibirnya berwarna biru pucat,


"Dingin ..." gumam Levian.


Saraa memegang kedua pipi Levian, dingin sekali tubuhnya.


"Bagaimana Saraa? apa pak direktur tidak apa-apa?" Tanya Jean dari luar tenda.


"Sepertinya ia terkena hipotermia,"


Saraa terkejut saat tangan dingin menumpuk tangannya, Levian membuka matanya perlahan, "Aku sangat senang melihatmu ..." gumamnya pelan.


"Apa otakmu tidak berjalan?! Mengapa hanya memakai selimut tipis sedangkan disebelahmu ada sleeping bag?!" Jengkel Saraa.


"Aku tidak menyukainya, terlalu sempit." Tanya Levian sambil tersenyum simpul.


Saraa menghela nafasnya, ia keluar tenda dan meminta selimut yang tebal untuk Levian.


Saraa memakaikan selimut untuk Levian hingga seluruh tubuhnya tertutup oleh selimut.


"Terimakasih ..."


Saraa berdehem, "Tidurlah!"


Levian memegang tangan Saraa, "Peluk aku ... aku tidak bisa tidur ..." Pinta Levian dengan suara parau.


Saraa mengetuk pelan kepala Levian, "Kau gila ya!"


"Sakit!"


"Ada apa Saraa?" Suara Jean membuat Levian dan Saraa terkejut.


Saraa keluar dari tenda, "Pak direktur baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir."


"Baiklah. Kita balik ke tenda masing-masing!" Ucap Jean.


"Kamu tidak masuk?" Tanya Vanya saat melihat Saraa masih berdiri ditempatnya.


"Aku akan menemani pak direktur."


"Hah!!" Teriak Vanya.


"Vanya! jangan berteriak!" Saraa menutup mulut Vanya agar tidak berteriak.


"Aku sangat yakin Saraa, kau dan pak direktur memiliki hubungan spesial yang tidak diketahui oleh orang-orang!" selidik Vanya.


"Sudahlah, kau masuk dulu. Aku akan menceritakannya padamu nanti!"


"Okey."


Saraa masuk kembali ke dalam tenda Levian.


"Apa kamu mau memelukku?" Tanya Levian sambil tersenyum licik.


"Apa kamu ingin aku memukulmu lebih kencang?!" Ucap Saraa mengancam.


"Baiklah ... maafkan aku."


"Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kamu tidur!" Ucap Saraa.


"Baiklah, aku tidak akan tidur kalau begitu."


"Aku akan ke tendaku!" Saraa bangkit, tetapi ditahan oleh Levian.


"Iya ya ... aku akan tidur." Ucap Levian.


Saraa duduk disebelah Levian sambil memeluk kedua lututnya.


"Apa kamu tidak tidur disebelahku?" Tanya Levian.


"Apa kau Bercanda?! Cepatlah tidur. Aku juga mengantuk, tahu!"


"Yasudah tidur saja di sini." Ucap Levian yang membuat Saraa ingin memukul kepalanya dengan keras.


"Sepertinya kamu benar-benar mau pukulan dariku!" Ancam Saraa sambil mengepalkan tangannya.


"Ampun ... ampun ... Aku tidur sekarang." ucap Levian mengalah.


Levian memejamkan matanya, "Kau tahu Saraa, aku sangat merindukan kenangan kita dulu." Ucap Levian.


"Kenapa memangnya?" Tanya Saraa.


"Saat itu rasanya aku sangat bahagia memilikimu di sisiku, hari-hariku tampak selalu cerah tanpa adanya awan kelabu disekitarku." Ucap Levian sambil memikirkan masa bahagianya bersama Levian.


Saraa melirik Levian yang sedang mengoceh sendiri, memandang penuh Lekat wajah pria yang sangat tampan itu.


"Mengapa memandangiku begitu?" Tanya Levian yang sudah membuka matanya sejak tadi.


Saraa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Tidak ada!"


"Apa kamu suka memandangiku?"


"Tidak!" Sangkal Saraa.


"Jika kamu suka memandangku begitu, aku akan mau menjadi objek pandanganmu."


"Jangan membuatku mengarahkan tanganku kepadamu lagi, Levian!" Ancam Saraa.


"Baik— "Badan Levian tiba-tiba bergetar, deru nafasnya semakin cepat membuat panik Saraa yang melihatnya.


"Ada apa Levian?" Tanya Saraa yang tampak khawatir.


Saraa memegang kening dan pipi Levian bergantian, "Badanmu semakin dingin!"


"Aku ... tidak ... apa!" Ucap Levian sambil mengatur nafasnya.


"Peluk ... aku ...!" Pinta Levian.


Saraa menggigit kecil bibir bawahnya, "Ba- baiklah!" Saraa mendekati Levian lalu mendekap Levian dengan erat.


"Hangat sekali ..." gumam Levian.


"Kamu tidak apa?"


"Nafasku hampir habis karena dekapanmu terlalu kencang ..."


"Ah ... Maafkan aku." Saraa melonggarkan Pelukkannya.


"Aku akan tidur ..." Ucap Levian.


"Kau mau tidur atau pingsan?"


"Aku hanya tidur ..."


"Baiklah!"


Saraa diam tak bersuara selama beberapa menit.


"Aku sangat menyukaimu, Saraa." Ucap Levian lalu tertidur di dekapan Saraa.


Saraa membelai rambut Levian dengan pelan, sudah lama sekali ia tidak melakukannya. Dulu saat masih berpacaran dengan Levian, hal ini adalah suatu kewajiban saat bertemu dengannya.


'Aku mulai jatuh cinta lagi padamu Levian ...'


Gumam Saraa dalam hati lalu mencium pucuk rambut Levian.


________________________________________________