
__________
"Fyuhhhh ..." Saraa menghembuskan nafasnya dengan kasar, lagi-lagi Levian berulah dihadapannya, membuatnya bingung atas dirinya.
"Mengapa dia selalu mengusikku! padahal hubungan kita sudah selesai satu tahun lalu!" Saraa gusar, lalu mengambil minuman yang telah disediakan didepannya.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Bianca muncul dan mengganggunya.
'Mau apa lagi wanita ini ke sini?bukankah dia sudah dipecat oleh Levian?' tanya Saraa dalam hatinya.
"Halo wanita licik! pasti kau bingung bagaimana aku bisa disini? kau harus tahu jika ayahku adalah pemegang saham sekaligus rekan bisnis Levian!" ucap Bianca sambil memainkan minumannya.
Saraa melirik Bianca, 'Bodo amat!' ucapnya dalam hati.
Saraa tak perdulikan ucap bianca, ia asik memandang orang-orang yang berseliweran didepannya.
"Aku sedang menyapamu! apa kamu tidak mendengarnya?!" ucap Bianca mulai jengkel.
"Siapa kau? apa aku mengenalmu?!"
Bianca menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Aku? Aku adalah calon istri dari direktur perusahaan ini!" ucapnya dengan Pede.
Saraa tersenyum merendahkan, "aku tidak bertanya tuh!"
Bianca tidak tahan dengan sikap Saraa kepadanya, Ia mendekati Saraa pura-pura tidak sengaja menumpahkan minumannya di atas gaun milik Saraa
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Saraa saat minuman itu mengenai gaunnya.
"oh ... maafkan aku Saraa, aku tidak sengaja menumpahkannya ..." Ucap Bianca pura-pura merasa bersalah.
'Rasakan itu, Saraa!' ucap Bianca dalam hatinya.
Semua orang mengalihkan pandangan kepada mereka.
Saraa menahan amarahnya, jika saja ini bukan ditempat umum, sudah pasti ia akan menjambak rambut bianca.
"Dasar wanita penggoda!" ucap Saraa lalu pergi ke toilet untuk membersihkan gaunnya.
Bianca tersenyum licik, ia mengikuti Saraa.
Didalam toilet Saraa membersihkan gaunnya dengan air dan tissue, warna dari minuman itu tidak bisa hilang membuat Saraa kesal.
"Jelas-jelas dia menumpahkannya dengan sengaja! kalau saja itu bukan tempat umum, sudah aku jambak rambutnya hingga ke akarnya!"
ceklek.
Suara pintu terkunci terdengar oleh Saraa, "heh ... mengapa ini tidak bisa dibuka?"
Ia menggedor-gedor pintu dari dalam agar siapapun diluar bisa menolongnya.
"Tolong! siapapun diluar, tolong bukakan pintunya!" Teriaknya.
byurrrr!!!
Tiba-tiba seseorang menyiram Saraa dari atas, baju dan dandanan Saraa basah dan lusuh.
"Siapa itu! apa kau gila menyiram orang?!"
tidak ada yang menjawab, suara kunci terdengar kembali. sepertinya dari arah luar toilet wanita.
"Apa dia gila!" umpat Saraa.
"Bagaimana ini?! Gaunku!" ia memeras gaunnya yang basah kuyup, kalau begini ia harus pulang.
Saraa menghela nafasnya, ia menebak-nebak siapa yang mengunci dan menyiram dirinya.
"pasti wanita penggoda! Bianca."
Diluar Toilet Bianca berjalan meninggalkan toilet, tersenyum licik sambil memainkan sebuah kunci, "Diamlah disana untuk beberapa jam, aku sangat tidak ingin melihatmu disini!"
"Apakah diluar ada orang?!" Teriak Saraa memastikan apakah ada orang diluar.
Hasilnya masih sama, Nihil. Sudah lebih dari 30 menit dirinya didalam toilet, tapi mengapa tidak ada satu orangpun yang masuk kedalam toilet.
"Aku harus bagaimana??"
"Dingin sekali!"
~~
"Apa kalian melihat Saraa?" tanya Levian kepada semua orang yang ia temui.
semenjak insiden Saraa dan Bianca tadi, Levian tidak melihat kehadiran Saraa. Acara utama belum dimulai, tidak mungkin ia pulang duluan.
"Stop!" Levian memberhentikan Vanya dan Diana yang sedang berjalan ke aula utama.
"Apa kalian melihat Saraa?!" Tanya Levian dingin.
"Ta— tadi kami lihat Saraa masuk ke dalam toilet 30 menit yang lalu, tapi sekarang kami tidak tahu Saraa ada dimana." Jelas Vanya.
Levian beranjak untuk pergi ke toilet yang di katakan Vanya.
Levian tampak bingung, apakah benar ini adalah toilet yang dimasuki Saraa. mengapa ada tulisan toilet rusak dipintunya.
"Sepertinya bukan yang ini." Levian beranjak untuk mencari toilet yang lain, tetapi langkah ta terhenti saat mendengar suara minta tolong dari dalam toilet.
"siapapun yang diluar, tolong bukakan pintunya!"
Buru-buru Levian mendobrak pintu Toiletnya dan masuk mencari asal suara itu.
Saraa yang mendengar bahwa ada yang mendobrak pintu langsung berteriak, "aku disini! tolong buka pintunya!" pintanya.
Levian membuka kunci toilet mendapati Saraa yang terlihat lusuh dan basah kuyup karena air.
"Saraa! bagaimana bisa begini?" Levian menatap iba kepada Saraa, siapa yang melakukan ini padanya?
Levian kesal dengan dirinya sendiri, mengapa ia sangat terlambat menemukan Saraa. Jika saja ia menemukan Saraa lebih cepat, ia tidak akan begini.
Saraa memeluk badannya sendiri, ia menggigil kedinginan setelah lama berada ditoilet. dengan sigap Levian membuka jasnya dan memasangnya di tubuh Saraa.
"kamu baik-baik saja?" Tanya Levian khawatir.
Saraa hanya mengangguk, bibirnya terlihat pucat.
Levian dengan sigap membopongnya lalu membawanya keluar menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, Levian mendudukan Saraa disofa lalu menelepon asistennya untuk membelikan dress wanita untuk Saraa.
sesudah itu ia membuat teh hangat untuk saraa, "Minumlah.. agar badanmu lebih hangat." Suruh Levian.
Saraa menurut saja, ia merasa badannya sangat membutuhkan sesuatu yang hangat.
"Terimakasih!" ucap Saraa setelah meminum teh yang dibuat Levian.
Levian tersenyum, "tunggulah sebentar lagi, asistenku akan membawakan baju untukmu."
"Tidak usah!" tolak Saraa, "Aku akan pulang saja!"
Saraa melepas jas milik Levian lalu berjalan untuk keluar. Tetapi Levian tidak membolehkannya, ia mencekal tangan Saraa lalu tanpa ijin, memeluk erat Saraa.
"Apa kamu tahu, betapa khawatirnya aku saat melihatmu ditoilet tadi ..." ucap Levian.
Saraa tidak memberontak, ia hanya diam tak bersuara. Dirinya tidak mengerti mengapa hari ini ia membiarkan Levian memeluknya tanpa memberontak.
Levian semakin mempererat pelukannya,
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya, tetapi tidak ada jawaban dari Saraa.
"Siapapun itu, rasanya aku ingin sekali membuat orang itu menderita!"
"Aku sangat senang, bahwa kamu yang menyelamatkanku tadi." Ucap Saraa sambil memeluk balik Levian, membuat Levian tersenyum lebar. Apakah Saraa akan menerimannya kembali jika dirinya mengungkap isi hatinya.
"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya ..."
Saraa tidak bisa berpikir kata apa yang akan keluar dari bibirnya, kata itu hanya keluar begitu saja dari hatinya. mengapa Saraa? apa kamu merindukan sosok yang memelukmu ini?
'Tok..tok.. tok..'
Ketukan di luar pintu ruang Levian membuyarkan keromantisan mereka, buru-buru Saraa mendorong Levian agar menjauh darinya.
"Pak direktur, saya bawakan baju yang diminta oleh pak direktur." kata seseorang dibalik pintu.
"Dasar penganggu!" umpat Levian dalam hati.
Levian membuka pintu lalu memasang raut muka datar nan dingin, mengapa asistennya ini datang saat yang tidak tepat.
"Ini ya pak direktur inginkan." memberikan tas belanjaan berisi dress dari merek terkenal.
"mengapa kamu sangat cepat!" ucap Levian lalu langsung menutup pintunya dengan kencang.
"Apa aku salah?" tanya asisten yang bingung.
"gantilah pakaianmu!" suruh Levian.
Saraa mengambil tas belanjaan dari tangan Levian tanpa menolak, ia harus berganti pakaian agar tidak masuk angin. ia berjalan ke toilet pribadi Levian, "Kau, tidak berganti pakaian?" tanya Saraa menunjuk pakaian Levian yang basah karena pelukan tadi.
"Apa kamu menawarkanku untuk berganti baju bersamamu?" ucap Levian yang sedikit vulgar membuat Saraa ingin memukul kepalanya.
"Pergilah dari muka bumi ini!"
"Aku akan mengambil pakaiannya dulu ..." goda Levian
"Tidak!! keluar dari sini!" Usirnya.
"Ini ruanganku, mengapa aku harus keluar dari sini?"
"Kalau begitu, mengapa kamu tidak berganti baju disini saja?" lanjutnya.
"Levian!! Dasar pria mesum!!"
"Hahahaha ... aku suka umpatanmu!"
________________________________________________