Ambiguous

Ambiguous
<Lagi.>



__________


"Eum ..." Saraa membuka matanya perlahan setelah ia merasakan sebuah tangan mengelus pipinya.


"Selamat pagi, Ratuku." Sapa Levian yang hanya berjarak beberapa inci dari Saraa.


"Apa yang kau lakukan!!" Buru-buru Saraa mendorong tubuh Levian lalu terduduk tak percaya.


"Bagaimana— "


"Kau yang menyuruhku untuk tidur, tetapi apa yang terjadi, kamu yang tidur secara tiba-tiba," Ucap Levian yang terduduk juga.


"Kau mau tahu, seagresif apa kau tadi malam?"


Pipi Saraa berubah memerah saat Levian membisikan kata-kata itu, "A— aku tidak melakukan apa-apa!"


"Mana ada maling mengaku!"


"Levian!" Saraa menjambak rambut Levian.


"Sakit!!" Seru Levian dengan keras.


"Berisik tahu!" Saraa menyumpal mulut Levian dengan tangannya.


"Kau menjambakku dengan keras, bagaimana aku tidak berteriak?!"


"Kau dulu yang mulai!"


"Kau duluan yang membuatku ingin mulai!"


"Dasar pria licik!"


"Tapi kau suka, bukan?"


"Tidak!"


"Kau mau kemana?" Tanya Levian sambil menahan tangan Saraa.


"Balik ke tendaku!"


"Disini saja."


"Ogah!"


Brukkk


"Levian!!"


 


~


 


Di vila


Saraa memasuki kamar lalu melempar badannya diatas kasur.


"Lelah sekali!"


Vanya melakukan hal yang sama dengan Saraa, "Aku juga!"


"Pagi-pagi sudah harus turun dari gunung, rasanya kakiku sudah tidak bisa berjalan lagi!" Kesah Vanya.


"Aku tidak ingin keluar kamar untuk hari ini!"


"Aku juga!" Ucap Vanya satu pemikiran dengan Saraa.


"Saraa," Vanya melirik ke arah Saraa.


"Eum?"


"Ceritakan padaku apa yang terjadi antara kamu dan pak direktur!"


Saraa melirik balik ke arah Vanya, "Tidak ada yang perlu diceritakan!" ucapnya sambil menutup Badannya dengan selimut.


"Curang!" Ucap Vanya sambil menarik selimut Saraa.


"Kemarin malam kau bilang akan menceritakannya padaku, ceritalah!" ucap Vanya memohon.


Saraa mengubah posisinya dari berbaring menjadi terduduk, "Apa yang harus kuceritakan, Vanya?"


"Semuanya."


"Aku akan to the point saja, Jangan berteriak!"


"Okey."


Saraa mengambil nafas dalam-dalam, "Aku dan Levian adalah mantan sepasang kekasih."


"Apa!!" teriak Vanya.


"Aku sudah bilang jangan berteriak!"


"Maafkan aku, aku kaget sekali ..."


"Bagaimana bisa? aku sama sekali tidak percaya Saraa!!" lanjutnya.


Saraa menceritakan semuanya kepada Vanya, mulai dari awal perkenalannya dengan Levian hingga bagaimana bisa ia bekerja sebagai bawahan Levian diperusahaanya.


"Jadi kamu harus membayar denda 100 juta dollar atau menjadi pembantu dirumahnya?" Ucap Vanya tak percaya.


Saraa mengangguk, "Bukankah dia pria yang sangat gila?"


"Sangat! Tapi aku berpikir bahwa dia itu menginginkan kamu bekerja di perusahaannya." Vanya terdiam, "Aku tahu!"


"Tahu apa?"


"Dia masih mencintaimu!" Ucap Vanya langsung mendapat balasan lemparan bantal di mukanya.


"Kau sama-sama gilanya dengan direkturmu!" Ucap Saraa.


"Aku berkata apa yang ada dipikiranku. Di drama yang sering aku tonton pasti begitu, tahu!" ucap Vanya.


"Kebanyakan nonton drama!"


Saraa mulai berpikir, apa benar yang sering di katakan oleh Levian itu jujur atau hanya menggodanya saja.


"Eum ... Tidak sering." Ucap Saraa tak yakin.


"Apa tentang masa-masa indah kalian?"


"Ya ... sepertinya."


"Sudah dipastikan, pak direktur masih mengharapkanmu, Saraa!" Ucap Vanya menyimpulkan semuanya.


"Aku tidak berpikir begitu." Ucap Saraa.


"Kau tidak percaya sekali, kita buktikan!"


"Buktikan apa?" Tanya Saraa bingung.


"Buktikan kalau pak direktur masih menyukaimu."


"Tidak mau! Ngapain harus membuktikannya. meskipun memang dia masih menyukaiku, aku tidak akan menerimanya lagi!" Jelas Saraa.


"Jangan Saraa. Bukankah dulu kamu yang memutuskan pak direktur?"


Saraa mengangguk, "Dia setuju."


"Bukan begitu, Pasti pak direktur memiliki alasan mengapa dia mengiyakan permintaan putus darimu."


"Alasan apa? Aku dan Levian sudah lama tidak berhubungan, ia mengiyakan begitu saja saat aku meminta putus darinya, bukankah memang dia sudah bosan padaku?" ucap Saraa yang masih berpikiran logis.


"Bagaimana seorang pria bosan padamu Saraa ... Lihat wajah dan sikapmu saja membuat pria betah dekat-dekat denganmu."


"Aku dan Levian sudah kenal sejak masih kecil, bagaimana dia tidak bosan denganku?!" Ucap Saraa yang masih berpendirian teguh dengan pemikirannya.


"Baiklah, kalau memang itu pemikiranmu. Jika memang Levian ingin bersamamu lagi, aku Sarankan untuk tidak menolaknya!" Ucap Vanya yang menyerah dengan kata-kata Saraa.


"Sebentar ... mengapa kamu yang memaksaku, Vanya?" Kata Saraa tak terima.


Vanya nyengir, "Aku hanya tidak ingin kamu melewatkan kesempatan langka itu."


"Jika mau, untuk kamu saja!" Saraa beranjak dari kasur untuk pergi ke dapur.


"Mau kemana?!"


"Dapur!"


~


Di dapur


"Mengapa sepertinya Vanya mendukung hubunganku dengan Levian." Ucap Saraa sambil mengambil air mineral dari kulkas lalu meminumnya.


"Siapa yang mendukung?" Suara Levian mengejutkan Saraa hingga membuatnya tersedak.


"Kau tidak apa?" Tanya Levian sambil mengepuk pelan punggung Saraa.


"uhuk.. uhukk.. Kau!" Saraa menatap tajam Levian.


"Kenapa?" Tanya Levian memasang muka bingung.


"Mengapa aku selalu bertemu denganmu?!"


"Karena kita berjodoh." Ucap Levian sambil tersenyum menggoda.


Saraa menyelentik dahi Levian, "Maumu!"


"Mengapa sekarang kamu sangat kejam kepadaku?"


"Karena kau sangat menggangguku!"


"Benarkah?"


Levian tesenyum licik lalu tanpa ijin dari Saraa ia mengangkat tubuh Saraa dan mendudukkannya di meja dapur.


"Apa yang kau lakukan!" Protes Saraa yang tidak terima dengan kelakuan Levian kepadanya.


"Agar kamu tidak bisa pergi dariku." Ucap Levian.


"Bagaimana jika ada yang melihat?!"


"Tidak akan. aku sudah memblokade pintu kearah sini."


"Kau gila, ya?!"


"Aku gila karenamu!" Levian memeluk erat Saraa hingga rasanya tidak ingin melepaskannya.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan!" Saraa memukul punggung Levian, memberontak agar melepaskannya.


Bukannya melepaskan pelukannya, Levian semakin mempererat pelukannya.


"Levian! aku tidak bisa bernapas!"


"Aku akan memberimu napas buatan."


Saraa memejamkan matanya sesaat setelah bibir Levian menubruk bibirnya dengan lembut, rasanya seperti bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya.


Semakin Saraa mendorong tubuh Levian, semakin dalam ciuman yang di akan ia terima.


"Eummm ... Lepaskan!" Berontak Saraa disela-sela ciuman mereka.


'mengapa kamu melakukan ini kepadaku Levian!'


"mmm.."


Hampir semenit mereka berciuman hingga akhirnya Levian melepasnya karena merasa pasokan oksigen di antara mereka mulai menipis,


"Kau.. benar.. benar.. gila!" Ucap Saraa sambil Mengatur kembali nafasnya.


"Aku sudah bilang padamu, kegilaanku hanya ku tunjukkan di depanmu." Ucap Levian sambil tersenyum penuh pemikiran licik.


"Awas kau!" Saraa mendorong tubuh Levian lalu turun dari meja dan berlari meninggalkan Levian.


"Manis sekali bibirnya."


________________________________________________