Ambiguous

Ambiguous
<Kamu dan aku, kita masing-masing.>



__________


Para readers yang Qryuii cintai dan sayangi♡♡ Maafkan ketidakhadiran diriku beberapa hari ini kerena kehidupan asli yang sangat super super sibuk, jadi yah ... baru hari ini bisa mengupdate kelajutannya. Terimakasih yang sudah menunggu updatean dariku ...


(kenyataannya gaada yang nungguin:' Sad😅) Sudahlah, Nextt——


__________________________________________________________


"Dari segimanapun, pria ini sangat unggul. Dari bentuk dagunya yang lancip, matanya yang besar, hidung mancung, pipi berlesung dan senyumnya ... Eumm ... Menggugah selera!" Batin Saraa sembari mengamati dengan serius pria yang sedang meminum kopi dari cangkirnya.


"Apa diwajahku ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanyanya yang sadar dengan tatapan Saraa yang memandangnya dengan serius.


"Ahh ... Eum, tidak ada." Jawab Saraa cepat.


"Aku lupa memberitahu namaku," pria itu mengulurkan tangannya, "Salam kenal, namaku Adrian Cullen!"


Setelah mereka duduk dan merasa canggung hingga akhirnya mereka memesan kopi dan beberapa dissert yang cocok untuk pendamping mengobrol ringan, hingga lupa untuk menyapa dan bertanya satu sama lain.


Saraa tersenyum lalu menerima tangannya. "Namaku Saraa Andrea."


"Benar-benar normal! Terimakasih tuhan, sekian lama kau memberiku pria yang tak jelas sekarang pria didepanku sangat normal. Semoga bisa berjalan dengan mudah, dan secepat mungkin melupakan pria picik itu!" Batin Saraa bersuara terus menerus, merasakan keadaan yang canggung tapi seru untuk dilanjutkan.


"Nama yang indah ... seperti orangnya." Lontar Adrian membuat kedua sudut bibir Saraa terangkat.


"Tidak, tidak ... Aku tidak seperti itu ... " ucap Saraa merasa malu dengan pujian dari Adrian.


"Aku tidak sedang merayumu, Saraa. Itu kenyataannya, kamu cantik."


"Terimakasih ..." Balas Saraa yang bingung harus menanggapi dengan apa, pertama kali bertemu orang baru tanpa teman rasanya sangat canggung dan malu dengan apapun yang ia lakukan.


"Tidak usah canggung, aku benar-benar pria yang langsung akrab dengan siapapun. Tak perlu risau ataupun takut kepadaku." Ujar Adrian sesekali terkekeh kecil hingga matanya hanya nampak berbentuk garis.


"Maafkan aku ... Aku benar-benar bingung harus mengobrol tentang apa denganmu." Saraa tersenyum simpul sembari memainkan jarinya dibawah meja.


"Aku akan bertanya duluan. Apa kamu punya pekerjaan?" Tanya Andrian menetralisir kecanggungan Saraa.


Saraa menarik nafasnya dalam-dalam, mungkin ini takdir untuknya agar cepat memiliki pengganti seseorang dihatinya. Pria didepannya memang bisa membuat jantung siapa saja yang melihatnya berhenti sementara karena senyumannya.


"Aku salah satu pegawai diperusahaan lokal." Jawab Saraa sudah tak merasa canggung lagi.


"Wah ... Aku pertama kali bertemu dengan wanita yang berkarier seperti kamu ..." Pujinya sembari bertepuk tangan kecil, menyunggingkan senyum khas yang tidak akan mudah dilupakan.


Wajah Saraa merona mendengar pujian yang baru pertama kali ia dengar, semua kata-kata manis yang keluar dari mulut Adrian benar-benar membuat siapapun akan terancam perasaannya.


"Tidak. Banyak wanita karier diluaran sana, aku hanya sebagian kecil orang yang bertemu denganmu saat ini."


"Ini pertama kalinya, aku serius. Aku punya perusahaan juga, tetapi tidak ada wanita lain sepertimu!"


"Kamu punya perusahaan? Berarti kamu CEO?" Tanya Saraa.


"Bisa dibilang begitu." Jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak merasa gatal.


"Mengapa banyak sekali direktur tampan dinegara ini?! apa negara ini memproduksi direktur-direktur kaya nan tampan sebagai produk unggul untuk mengembangkan negara? apa ada sebuah konspirasi terselubung untu memunculkan bibit-bibit unggul agar nantinya bisa menjadi tameng untuk mengurangi dampak ancaman dari luar? aku ingin tahu bagaimana ini bisa terjadi!"


Pikiran Saraa sepertinya mulai konslet, hingga Adrian yang sendari tadi memanggil namanya saja tidak tergubris.


"Saraa!!" Seru Adrian mengejutkankan Saraa hingga jantungnya berhenti berdetak sebentar.


"Ka— kau mengejutkanku ..."


Adrian menghela nafasnya dengan pelan, "Maafkan aku. Aku hanya tidak suka jika seseorang tiba-tiba mencuekanku." Jelas Adrian dengan suara Lembut, berbeda sekali saat tadi berseru.


Saraa mulai mengerti keadaan, pria didepannya ini agak terasa berbeda setelah ia merasakan kehentakan yang terjadi sesudah mendengar teriakan dari Adrian.


"Kau tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena terlalu banyak memikirkan hal lain." Cakapnya sembari mengibas-ngibas tangannya.


"Omon-omong, apa nama perusahaanmu?" Tanya Saraa mengalihkan pembicaraan.


"Botanicullen."


Saraa berpikir sejenak, sepertinya tidak asing dengan nama itu. "Perusahaan Botanicullen ... Ah ... yang bergerak dibidang pemanfaatan bioteknologi itu?!"


Adrian mengangguk, "Benar. Kau mengetahuinya?"


"Bagaimana tidak, perusahaanmu yang membuat gempar baru-baru ini karena memperkenalkan bahan bakar seperti Biofuel yang bisa didaur ulang dan ramah lingkungan, tentu banyak sekali orang yang menerimanya!" Jelas Saraa yang kemarin baru saja membaca artikel tentang perusahaannya.


"Itu bukan aku yang menciptakan, tetapi para peneliti yang ada diperusahaanku saat ini ...."


"Sama saja! Kau yang— " ucapan Saraa terhenti sesaat ia merasakan hawa dingin disekitarnya.


"Mengapa bulu kudukku tiba-tiba berdiri semua, seperti ada angin yang sangat dingin menerpa tubuhku." Batin Saraa.


"Ada apa, Saraa?" tanya Adrian yang menyadari perubahan mimik diwajah Saraa.


"Tidak apa— " lagi-lagi ucapan Saraa terhenti ketika terlihat pria yang sangat ia kenal memasuki cafe dengan wanita yang menggelayut manja dilengannya.


"Aku paham sekarang!" Mata Saraa mengikuti langkah mereka hingga mereka berdua duduk tepat dimeja belakang yang menghadap langsung dari padangan Saraa.


"Pria itu adalah atasanku." Jawab Saraa.


"Bukankah pria itu Levian Putra?"


"Benar. Kau mengenalinya?" tanya Saraa.


"Hm. Baru-baru ini pria itu menjadi sorotan publik akibat perusahaannya yang menggemparkan pasar nasional dan berita pertunangannya yang secara tiba-tiba, lagi dia adalah putra dari presdir perusahaan terkenal, siapa yang tidak mengenalnya." Jelas Adrian bagaikan omong kosong dikuping Saraa.


"Ah ..." Saraa memutar bola matanya, acuh dengan omongan Adrian yang memuji pria licik itu.


"Kau bekerja diperusahaannya?" tanya Adrian.


"Eum." Jawab Saraa.


"Apa kau senang bekerja disana?" Tanya Adrian lagi.


"Bagaimana jika kita tidak membicarakan soal pekerjaan itu." Ucap Saraa dengan memerkan senyum palsunya menutupi kekesalannya.


"Baiklah. Sepertinya kau tidak senang membahas tentang pekerjaan khususnya pria disana itu." Ucap Adrian sedikit menyeringai kecil, "Kita bahas yang lain saja."


"Baiklah."


"Kau lucu sekali ... " lontar Adrian yang tidak sejalan dengan pikiran Saraa


"Mengapa tiba-tiba mengataiku lucu?" tanya Saraa bingung.


"Kau bilang kita harus bahas yang lain ... aku harus mencari topik yang lain,bukan?"


Saraa terkekeh kecil, "Aku tidak mengerti, tetapi itu sesuatu yang lucu ..."


"Hahaha."


Disisi lain, Levian menggertakan giginya menatap Saraa dan pria didepannya sedang tertawa lepas, Entah apa yang mereka bicarakan tetapi berhasil membuat hatinya seperti tertekan suatu benda.


Fiona yang sendari tadi menggelayut dilengan Levian pun tak mendapat respon yang pasti. Fiona senang saat Levian tiba-tiba mengajaknya untuk makan malam bersama, tetapi bukan untuk dicuekin seperti ini.


"Levian ... Apa kamu akan diam saja? ... Bagaimana jika kita membicarakan tentang acara pertunangan kita? Aku sudah tidak sabar untuk mencoba gaun pertunangan dan melihatmu memakai jas yang serasi denganku, aku juga tidak sabar membuat wanita lain iri melihatku." Ujar Fiona sembari menopang dagunya dilengan Levian.


"Aku ingin menunjukan didepan wanita manapun bahwa kamu adalah miliku ... tidak akan ada yang bisa merebut kamu dariku. Aku jamin, jika seorang mengambilmu, aku ... tidak akan membiarkannya!"


Fiona Agranian. Wanita angkuh nan sombong ini membuat wanita lain akan menjauh dari apapun yang ia miliki. Harta, tahta dan wajahnya yang ia miliki saat ini membuat para wanita akan menunduk saat bertemu dengannya dan pria akan terpesona dan berangan-angan untuk memilikinya. Gelar yang baik dan keluarga yang notabenya konglomerat membuat pria berpikir dua kali untuk mendekatinya jika tidak sebanding dengannya.


"Levian! Kamu tidak mendengarkanku?!" Fiona mulai kesal dengan sikap Levian yang benar-benar cuek.


"Apa yang kau lihat?!"


"Tidak ada!" Levian langsung menutup mata Fiona agar tidak melihat apa yang ditatap Levian sendari tadi, bisa-bisa Saraa akan menjadisendari inceran baru Fiona.


"Akhirnya kamu berbicara. Dari tadi hanya diam terpaku, sama sekali tidak memperdulikan aku! Aku kesal tahu!"


"Maaf."


Levian menyesal dan tidak menyangka rencana yang ia buat ini akan lebih mempersulit dirinya. Pertunangan yang sebatas rencana belaka malah menjadi bumerang baginya, karena Fiona adalah wanita yang sangat egois dan tidak bisa dijinakan begitu saja. Ia harus mencari cara lain agar keluar dari lingkaran kelam Fiona.


"Pesanlah yang kau mau! kita harus mulai makan malamnya." Suruh Levian.


"Baiklah!"


Saat Fiona dan Levian sedang memilih hidangan dibuku menu, tanpa disadari Saraa sudah tidak ada ditempatnya melainkan sudah berada ditoilet, sedang membasuh wajahnya dengan air dan menghela nafasnya berkali-kali.


"Hummp! Mengapa aku bisa bertemu dengan pria licik itu dan wanitanya. Apakah dunia ini sempit? Tidak tidak ... kota ini, apakah sempit? tidakkah ada cafe lain dikota ini? mengapa kami harus bertemu disini!"


"Aku sedikit kesal melihat mereka!"


"Untung saja ada Adrian, tidak terlalu malu untukku jika bertemu dengannya. Agar si pria licik itu tidak menganggap bahwa aku masih sendiri, tidak seperti dirinya yang berganti wanita terus!"


Oceh Saraa sembari menatap dirinya didepan cermin toilet, sesekali menyelentik wajahnya dicermin untuk menyadarkannya.


"Sebenarnya, tidak sia-sia aku mengikuti kencan dalam sepuluh hari ini. Pikiranku tidak lagi terpusat pada Levian, seperti berkurang sepertiganya."


Saraa mulai berpikir, merencanakan sesuatu untuk esok hari, "Bagaimana jika besok aku meminta Adrian untuk menemaniku jalan-jalan, bukankah besok hari minggu? Aku ingin merasakan jalan-jalan berdua dengan pasangan, sudah lama aku tidak merasakannya."


"Baiklah, aku akan mengajaknya! Sepertinya Adrian akan senang."


"Apa hari ini tidak cukup bagimu untuk bertemu pria lain!" Suara itu, tiba-tiba muncul dari balik pintu toilet membuat Saraa terkejut setengah mati.


"Le— Levian! apa yang kau lakukan disini?!" tanya Saraa yang masih terkejut.


"Memberimu pelajaran kecil karena sudah membiarkanmu berkeliaran selama sepuluh hari ini!" Levian berjalan kearah Saraa dengan aura kemarahan disekitarnya.


"LEVIAN!"


________________________________________________