
__________
Lesaagaint compeny.
'Tuk.tuk.tuk.tuk'
Suara yang timbul ketika aku adukan antara jari telunjuk dengan meja kerja, sesekali ku ketukan kepalaku ke meja akan memberi efek suara yang lebih besar. Bosan bercampur bingung baru-baru ini muncuk dalam diriku.
Bosan dengan kehidupan yang selalu flat belakangan ini, bingung karena pikiran terus-menerus menuju dirinya. Ya, kepalaku terisi oleh bayang-bayang pria picik itu. Setelah seminggu pulang dari liburan, aku belum melihat atau pun bertemu dengannya meskipun hanya batang hidungnya.
Biasanya pria picik itu akan menggangguku dan mengusik kegundahan hatiku, tetapi belakangan ini ia tak terlihat di kantor maupun dikomplek rumah. Rasanya ada yang berbeda saat ini, tidak ada yang membuat darahku berdesir, bulu kudukku naik, jantungku berdetak lebih kencang dan makian yang keluar dari mulutku. Seperti kehilangan sesuatu komposisi dalam hidupku.
"Apa pria picik itu sudah menyerah? Bukankah ia sudah berjanji untuk membuatku kembali padanya?" Batinku.
Ke jedorkan kembali kepalaku ke atas meja dengan sedikit lebih keras, menyadarkan akal sehatku untuk kembali ke dalam dunia nyata.
"Saraa?!" Tegur Vanya menyadarkan pikiranku. Ku dongkapkan kepala menatap Vanya yang sudah berdiri di depan meja kerjaku.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Tiga kali ku panggil namamu, tetapi kau tidak menjawabnya. Kau sedang memikirkan apa, Saraa?" Tanya Vanya sedikit jengkel padaku.
"Tidak ada, hanya saja telingaku sedang bermasalah ..." Alibiku.
"Alasanmu bagus sekali, Saraa."
"Hehehe ..."
"Kau sudah siap, bukan?" Tanya Vanya.
Aku mengerutkan dahiku hingga beberapa lekukan, "Siap? Siap untuk apa?" Tanyaku sedikit bingung.
"Jangan bilang kau lupa dengan presentasi kita?"
"Presentasi?"
"SARAA!!" Seru Vanya membuatku harus menyumpal kumpingku dengan rapat.
"Hari ini kita akan mewakili tim marketing untuk mempresentasikan didepan para direktur dalam rapat bulanan. bagaimana kau bisa lupa!!" Jelas Vanya.
"Aku lupa!" Ucapku sembari mengecek komputer, berharap aku sudah membuat bahan presentasinya.
"Seingatku, aku sudah membuatnya!"
Vanya menghela nafasnya, menunggu diriku yang masih membuka satu persatu folder untuk menemukan bahan presentasi hari ini.
"Dimana ya?" Tanyaku pada diri sendiri. Gara-gara memikirkan pria licik itu, aku tidak bisa berpikir lebih terang.
"Sebentar lagi pukul sembilan, Saraa. Kau tidak punya waktu untuk membuatnya kembali ..."
"Ketemu!" Seruku saat file itu ditemukan disalah satu folder tersembunyi.
"Ketemu? Syukurlah ... Aku takut kau lupa membuatnya atau membawa file itu ..." Ucap Vanya dengan lega.
"Cepat! Kita tidak punya banyak waktu, Saraa!"
"Hm. Baiklah!"
~
Kami telah tiba didepan ruang rapat, terlihat para direktur sudah duduk di kursinya masing-masing. Aku meremas rok coklat tua yang ku gunakan, gugup rasanya bertemu dan berbicara di depan para petinggi perusahaan. Setahun yang lalu saat aku bekerja diperusahaan besar lainnya, aku tidak pernah merasa segugup ini.
"Apa akan terjadi sesuatu padaku?" Batinku merasa sedikit gelisah.
Aku melihay Vanya masih mondar-mandir didepan pintu masuk ruang sambil menghafal bahan presentasinya.
"Silahkan masuk, rapatnya akan segera dimulai." Ucap salah satu penanggung jawab dalam presentasi ini.
Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya dengan perlahan, "Ini bukan apa-apa Saraa dibandingkan saat kamu sudah menjadi presdir diperusahaan papa Ringga! Semangat!" Ucapku meyakinkan diri.
Aku masuk ke dalam ruangan disusul oleh Vanya yang berjalan dengan malu, aku menyapa para direktur yang sudah berkumpul memutari meja lonjong. Sekitar 14 orang sudah duduk manis dan siap mendengarkan presentasi yang akan aku dan Vanya bawakan.
"Selamat pagi ..." Sapaku sambil membungkuk sopan dihadapan mereka, tak lupa senyum manis menghiasi wajah *Charming*ku.
Mereka semua serentak menjawab sapaanku dengan nada indah yang membuat gugupku sedikit menghilang.
Vanya duduk ditepian ruang menunggu presentasiku selesai dilanjutkan dengan presentasi yang dibuatnya. Aku berdiri di depan mereka semua dengan tablet ditangan kiriku dan mimbar dengan mic di depanku sebagai prantara suara agar terdengar lebih jelas ditelinga mereka.
"Perkenalkan nama saya Saraa Andrea. Saya wakil dari tim marketing pada rapat bulanan yang diselenggarakan pada hari ini. Keberadaan saya disini untuk mempresentasikan strategi marketing yang dapat dipergunakan dalam meningkatkan peminat untuk membeli dan menggunakan produk dari perusahaan Lesaagiant Compeny." Paparku.
Semua orang mulai memperhatikan ucapanku dengan presentasi dilayar depan mereka, "... Inovasi yang bisa kita gunakan untuk memperbanyak-"
Mengapa dia datang saat aku tidak menginginkannya.
"Lanjut!" Ucap Levian sembari duduk dikursinya yang menghadap persis ke arah monitor depan.
Aku berdehem sebelum berbicara, menyingronkan suara agar tidak terdengar seperti orang yang sedang gugup, "Selamat datang pak direktur, saya disini sebagai moderator untuk rapa- "
"Langsung pada intinya!" Potong Levian dengan dingin. Aku melirik padanya sebentar lalu melanjutkan presentasi.
"Bisa lihat dilayar, ini adalah prosentase dari ..." Aku membedah satu persatu tayangan dilayar dengan selengkap-lengkapnya.
"Kenaikan jumlah penjualan bisa mencapai lebih dari 23,6 persen dibandingkan— "
"Bukan 23,6." Sanggah Levian. Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Levian.
"Maaf?" Tanyaku bingung terhadap sanggahnya.
"Jika kamu mengandalkan titik penjualan dari strategi pemasaran yang kamu buat, prosentase itu akan dicapai 23,674 persen bukan hanya 23,6 persen." Jelas Levian.
"Begitukah?" Tanyaku sambil menjumlah ulang.
"Meski hanya sebuah angka dibelakang koma, sesuati seperti itu akan mempengaruhi jumlah penjualan. Jangan menyepelekan angka kecil!"
"Baiklah, sepertinya ada kesalahan saat saya menjumlah. Maafkan saya." Ucapku sambil membungkuk ke arah Levian.
"Dasar pria ini, menuntut yang tidak diperlukan. Itu hanya sebuah angka, menyusahkanku saja!" Gerundelku dalam hati.
Setelah permasalahan itu, ku lanjutkan presentasi dengan gugup karena setiap pernyataanku selalu dikomentari oleh Levian membuat rapat hari ini berjalan dengan lambat, hingga satu jam kemudian kami baru bisa menyelesaikan presetasinya dengan beberapa kekurangan karena ucapan Levian yang selalu detail menyanggah.
~
Kantin.
Aku dan Vanya duduk dimeja tengah, menunggu pesanan makan siang kami tiba. Karena presentasi yang melelahkan tadi, perut kami terasa sangat kosong dan kerongkongan rasanya kering sekali.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Vanya memperhatikan diriku yang lusuh tak bersemangat.
"Sepertinya." Ucapku tak bertenaga.
"Tidak usah dipikirkan dengan ucapan pak direktur tadi, dia tidak akan benar-benar berbicara seperti itu padamu, bukan?"
Aku mengingat kembali ucapan Levian sesaat setelah aku menyelesaikan presentasiku, begitu kejam hingga menusuk uluh jantungku dan membuatku down.
"Jika presentasi sekecil ini saja kamu tidak bisa, jangan berpikir untuk berbicara dihalayak luar. Tidak pantas!"
"Levian!!" Saraa meremas botol air mineral yang sudah kosong hingga mengkerut kecil.
"Kalian dengar tidak, pak direktur Levian akan bertunangan?"
Deg!
"Apa aku tidak salah dengar?" Batinku setelah mendengar rumpian orang disebelah mejaku.
"Bertunangan? omong kosong lagi?"
"Aku tidak berbohong, tahu! Ini sudah dibenarkan oleh sekretaris baru direktur. Ia mendengar percakapan antara pak direktur dengan calon mertuanya yang tak lain adalah presdir dari perusahaan XionAir!"
"Lagi. Kau baik-baik saja?" Tanya Vanya lagi.
Aku mengangguk sambil mendengarkan pembicaraan mereka, apa ini alasan Levian tidak menggangguku akhir-akhir ini? karena ia ingin bertunangan?
"Wow ... lihat ini! Sudah dimuat dalam web perusahaan!!"
Aku cepat-cepat membuka lama web perusahaan dengan ponselku.
"Apa ini benar?"
Berita terkini;
Direktur perusahaan Lesaagiant, Levian putra akan melangsungkan pertunangan bulan depan dengan putri dari presdir XionAir, Fiona Agranian.
Deg!
Jadi apa yang dikatakan dia saat itu memang benar, dia tidak berbohong. Dadaku terasa sesak. Ada apa denganku? Saraa, ada apa denganmu?!
________________________________________________