
__________
"Biar aku yang putar." Levian merebut botol dari tangan Darwin lalu memutarnya dengan cepat.
"Tolong berhenti ke arah Saraa!!" Batin Levian, ia menelan ludahnya menunggu botol itu berhenti. Berharap tepat ke arah Saraa.
Levian mengangkat sudut bibirnya, "Terimakasih botol!"
Berkat doa dan tangan Levian, ujung botol itu mengarah ke arah Saraa. Sesuai dengan harapannya.
"Oh ... Saraa! Ini pertama kalinya ia mendapat tantangan!" Seru Yuri.
Saraa terlihat tak senang, yakin dengan pemikiran bahwa Levian akan bertanya yang membuatnya tak nyaman.
"Aku akan bertanya!" Ujar Levian. Bagaikan naik roller coaster, hati dan pikiran orang disekitarnya benar-benar ditekan dan dihempas saat Levian mengatakan sepatah atau lebih.
Saraa mendesis pelan, "Pria ini, benar-benar pembunuh mood!" Batinnya.
Saraa menatap ke arah Levian, memberi isyarat agar tidak bertanya tentang masa lalunya. Mereka sudah sepakat bukan, agar tidak mencampur masa lalu dengan masa kini.
"Siapa nama mantan pacarmu?"
"Pertanyaan macam apa itu?! Apa dia sengaja agar kedok kami terbuka didepan umum? Ia mau jika semua orang tahu bahwa kami dulunya sepasang kekasih? Untuk apa dia bertanya seperti itu?!" Batin Saraa. Ia mendengus sebelum menjawab pertanyaannya.
"Mengapa tidak menjawab?" Tanya Levian.
Mereka menunggu jawaban yang pasti keluar dari mulut Saraa, pertanyaan seperti itu tidak bisa disangkalnya.
"Bagaimana ya ... aku memiliki banyak pria yang sudah menjadi bekasku, aku tidak mengingat semuanya." Jawab Saraa dengan sedikit angkuh, tidak ada yang tahu apa yang dikatakannya adalah bohong belaka kecuali Levian dan Vanya.
"Bohong!" Gumam Levian. Satu-satunya mantan yang dimiliki Saraa hanyalah dirinya, tidak ada yang lain. Selama satu tahun ini juga, Saraa sangat menikmati kesendiriannya, tidak ada pria lain disampingnya.
"Sungguh? Wah ... orang rupawan seperti dirimu memang harus memiliki mantan yang banyak, Saraa!" Lontar Zain membuat Saraa terkekeh. Kebohongan kecilnya berhasil mengelabuhi semuanya.
"Hehehe ... kalau begitu, aku juga mau jadi mantanmu ..." Kekeh Darwin. Semuanya tertawa mendengar candaan darwin, kecuali Levian. Ia geram mendengarnya.
"Lanjutkan!" tegas Levian seketika membuat semuannya diam tak bersuara.
Levian memutar lagi botol itu hingga pemberhentian terakhir ke arah Saraa, lagi.
"Wah ... permainan botol pak direktur sangat bagus!" Decak Diana.
Levian menyunggingkan senyumannya, bukan senyum manisnya melainkan senyum liciknya yang terlihat.
"Aku mau ber— " Belum selesai berbicara, Omongan Yuri sudah ditangkas oleh Levian.
"Saya akan bertanya!" Potong Levian dengan suara dinginnya. Yuri Hanya terdiam tak berkomentar.
"Levian licik!" Sungut Saraa dalam hati.
Levian berdehem sebelum bertanya, "Apa sekarang kamu sudah mempunyai pasangan?"
"No comment!" Jawab Saraa dengan cepat. Ia lebih memilih untuk meminum b*r dari pada harus menjawab pertanyaan konyol dari Levian.
Levian memutar botol itu lagi dan lagi Saraa harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Levian. Tidak ada yang bisa bertanya selain dirinya, mereka hanya mendengarakan pertanyaan dan jawaban antara Direktur vs pegawai baru.
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Levian membuat Saraa harus meminum banyak b*r sebagai hukuman karena tidak ingin menjawabnya.
Kepalanya mulai mengalami pening dan kesadaraannya beransur-ansur hilang. Mual bercampur
"Saraa, kamu mabuk?" Bisik Vanya khawatir dengan keadaan Saraa. Dilihat dari botol didepannya, Ia sudah meminum lebih dari tiga botol.
Saraa mengangguk, "Aku baik-baik saja, hanya sedikit pening dikepalaku."
"Aku permisi ke kamar kecil dulu." Ucap Saraa lalu beranjak dari kursinya menuju kamar kecil dengan langkah sempoyongan. rasanya berat sekali kepala ini.
Vanya bangkit dari tempat duduknya, bermaksud mengikuti Saraa dari belakang, tetapi langkah pertamanya terhenti karena suara serak dan dingin mengehentikannya.
"Kau mau kemana?!" Tanya Levian.
"Aku ingin mene— "
"Jangan ada yang beranjak dari kursi kecuali jam kalian menunjukan pukul sebelas malam!" Tegas Levian lalu beranjak dari kursinya, bermaksud mengikuti Saraa.
"Kalian berpikiran sama denganku?" Celetuk Jean sembari menatap kepergian Levian.
Uweekkkk!
Saraa terduduk dipinggiran kloset. Kepalanya pening dan perutnya terasa sangat mual, pengelihataannya kabur dan tubuhnya terasa gusar.
"Kepalaku!!"
'tok..tok..tok'
Pintu kamar mandi terketuk dari luar, "Saraa ... kau baik-baik saja?" Tanya seseorang dari balik pintu.
"Aku.. baik-baik.. saja.. uweeekkk!!"
"Aku akan membuka pintunya!"
"Tidak! Jangan masuk!" Teriak Saraa.
"Aku akan keluar."
Saraa membuka pintunya, menampakan pria didepannya sedang berdiri menunggunya.
"Hehehe ... pria, kau tampan sekali.." Lantur Saraa. Kesadarannya sudah hilang jika begini.
"Apa hanya tiga kaleng b*r kamu akan mabuk hingga begini?" Levian sedikit terkekeh melihat wajah Saraa yang sangat menggemaskan karena mabuk.
"Wah ... kamu punya roti sobek juga!!" Saraa menyentuh bagian perut Levian, sesekali mengelus-elusnya dan memeluknya.
Levian tertawa kecil, "Harus diabadikan!" Ia mengambil ponsel disakunya lalu merekam perlakuan mabuk Saraa atas dirinya.
"Kau suka?" Tanya Levian sambil merekam Saraa yang sedang mengelus-elus perutnya.
"Aku sangat menyukainya ... hehehe ..." jawab Saraa senang.
"Kamu mau memilikinya?"
"Hm! Mau sekali!"
Saraa mendongakkan kepalanya, "Oah ... wajahmu tampan sekali!!"
Saraa mengalihkan tangannya dari perut Levian ke arah wajahnya, mengelus hingga mencubit dengan pelan.
"Hey pria. Apa wajah ini sudah ada yang punya?"
"Tidak ada. Kau mau juga?"
"Aku ingin semua yang ada pada dirimu ... Hihihi ..."
Levian terkekeh, ia mengarahkan kameranya ke arahnya dan melakukan wink, "Saraa, Kau masih menyukaiku, bukan? Lihatlah dirimu."
"Hey pria! Kau lihat kemana?! pandang aku!"
"Lihatlah!" Levian tertawa senang.
"Apa kau ingin sebuah ciuman?" Tanya Levian sambil mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Saraa.
"Hehehe ... aku mau sekali!!" Jawab Saraa dengan lantang.
Saraa memanyunkan bibirnya mendekati bibir Levian, Kesempatan yang baik. Sedikit lagi bibir mereka akan bertemu, sedikit lagi.
"Eing??"
Saraa tumbang dibahu Levian, sepertinya kesadarannya sudah hilang sepenuhnya.
"Dasar wanita ini ..." Levian terkekeh kecil, ia menyudahi rekamannya lalu membopong Saraa hingga ke kamarnya.
Levian meletakan tubuh Saraa diatas ranjang, lalu duduk dipinggirannya, mengamati wajah Saraa yang sedang tidur dengan seksama.
"Saraa. Kamu harus membiarkan aku mencintaimu, biarkan aku menjadi orang yang memberimu semua yang kamu inginkan dan butuhkan." Levian mengelus pipi Saraa lalu beralih mengelus bibir kecil Saraa dengan lembut.
"Apa pun yang terjadi. Apa pun yang kamu lakukan dan apa pun yang akan kamu lakukan. Aku akan selalu mencintaimu." ucap Levian lalu mengecup bibir mungil Saraa.
"Selalu dan selamanya."
________________________________________________