Ambiguous

Ambiguous
<Aku sedikit senang.>



__________


Hallo Chingu-deul👋👋


Aku mau memperkenalkan Visual dari pemeran Ambiguous nih. Semoga sesuai dengan imajinasi kalian yahh😄😄


1.Levian Putra.



2.Saraa Andrea



3.Bianca



4.Jean



5.Zain



6.Darwin



7.Vanya



8.Yuri



9.Diana



Itulah mereka Chingu-deul😊


Maaf yah kalau tidak sesuai dengan ekspetasi kalian🙏, karena jujur saja Qryuii sangat menyukai korea😁😁


kalian bisa mengganti sesuai imajinasi kalian kok😊😊


Salam hangat dari Qryuii kepada kalian pembaca setia sekaligus penyemangat Qryuii.❤❤


*****


Dalam perjalanan mendaki gunung, semua tampak diam tak ada suara, tidak ada canda maupun tawa yang terdengar. semua dalam pikiran masing-masing.


"Ada apa dengan kalian?!" Tanya Levian yang bingung melihat bawahannya diam dari saat mereka berangkat.


"Ti— tidak pak!" Jawab Levian gugup.


"Tidakkah kalian membuatku terhibur?!" Ucap Levian membuat semuanya menelan ludah dalam-dalam.


Hiburan apa yang membuat direktur tertawa? bisa-bisa, malah menjadi bumerang bagi mereka.


Semua tampak berpikir untuk memulai topik untuk diobrolkan.


"Pak direktur, bisakah menaikkan gaji kita?"


Semua terkejut mendengar ceplosan dari Darwin, bagaimana bisa ia sejujur ini didepan pak direktur.


"Apa yang kau katakan!" Ucap Jean berbisik sambil mencubit keras perut Darwin.


"Ah ... Sakit!!"


Levian memberhentikan langkahnya, otomatis semua berhenti.


"Apa kalian ingin dinaikkan gajinya?" Tanya Levian sambil melipat kedua tangannya.


Semuanya tampak diam, tidak ada yang berkomentar.


"Aku akan menaikkan gaji kalian dengan satu syarat," Levian membalikkan tubuhnya ke arah mereka, "Siapa yang bisa mencapai puncak terlebih dahulu, akan aku naikkan gajinya. Dua kali lipat!"


Semua orang melebarkan mata, apakah yang dikatakan Levian betul-betul atau bercanda semata.


"Kalian tidak mempercayaiku?!" Tanya Levian meninggikan suaranya.


"Ka— kami percaya pak direktur!"


"Tunggu apa lagi? Cepat pergi!"


Semua orang mulai berlari agar sampai puncak lebih awal, saraa yang berada dibarisan terakhir dicekal oleh Levian.


"Kamu mau kemana?!"


"Mengikuti mereka!" Jawab Saraa sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Levian.


"Kenapa? apa gajimu kurang?"


"Aku tidak ingin bersamamu, paham!"


Levian menarik tangan Saraa agar semakin dekat dengannya, "Temani aku saja!"


"Aku menolaknya!"


"Tidak ada penolakan!"


Levian menarik tangan Saraa agar mau mengikutinya.


"Lepaskan!"


 _


"Aku? Aku berubah. kau tidak melihatnya?" tanya Levian sambil memutar badannya.


"Dimataku kau tidak berubah!"


Levian mendekatkan wajahnya hingga mata mereka bertemu.


"Jika dimatamu itu aku tidak berubah, mengapa kau masih membenciku?"


Saraa hanya diam tak berkomentar, ia tidak mengerti bagaimana dia mulai membenci Levian. Apa yang levian lakukan padanya hingga ia sangat membencinya, apakah semua orang yang mempunyai mantan akan begitu pula?


"A— aku benci sikapmu!" Jawab Saraa gugup.


Levian semakin mendekatkan wajahnya ke arah Saraa, "Jika aku mengubah sikapku, apa kamu mau balikan lagi denganku?"


Jantung Saraa tiba- tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, darahnya memanas hingga membuat pipinya mengeluarkan warna merah merona.


"A— apa yang kau— " belum selesai Saraa berbicara, kecupan kecil mendarat di bibir Saraa, membuatnya melebarkan pupil matanya.


Levian tersenyum lebar, ia sangat suka melihat ekspresi Saraa yang sedang malu seperti ini.


Tubuh Saraa bergetar, ciuman pertamanya harus direnggut oleh pria itu tanpa meminta ijinnya.


"Itu juga ciuman pertamaku, tahu!" Ucap Levian sambil terkekeh, Saraa memanyunkan bibirnya.


"Jika kamu begitu, aku ingin melakukannya lagi!" Ucap Levian menggoda Saraa.


"Levian!!"


Saraa memukul pelan dada Levian, bagaimana jika Levian membuatnya jatuh cinta lagi.


Levian terkekeh Lagi, "Sudah jam 5 sore, kita harus bergegas agar sampai puncak tepat waktu!"


"kau yang membuat perjalanan ini semakin lama!" Ucap Saraa menyalahkan Levian.


"Bukan aku! tapi kamu yang membuatku ingin berlama-lama disini!"


Saraa menahan senyumnya agar Levian tidak merasa Geer kepadanya.


"Tidak lucu!"


"Menurutmu aku sedang bercanda?"


Di lain waktu


"Dimana..Pak direktur..?!" Tanya Zain ngos-ngosan akibat berlari.


Jean menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkan suara, " Apakah benar pak direktur akan memberi kita kenaikan gaji?"


"Apa.. kau.. tidak.. mempercayainya.. ,ketua tim?" Tanya Darwin yang baru sampai dipuncak.


"Semoga kita tidak dibohongi."


Vanya, Diana dan Yuri datang bersamaan, mereka kehabisan nafas karena ini pertama kalinya mereka mendaki gunung.


Jean tidak melihat Saraa bersama mereka, "Tunggu, dimana Saraa?!" Tanya Jean.


"Tadi.. ada dibelakang.. kita.." jawab Vanya.


"mungkin dia.. tertinggal di.. belakang."


"Hu.. Sekarang masih jam 5, apa yang kita lakukan disini?" Tanya Diana sambil duduk dibatang pohon yang sudah tumbang.


"Menunggu matahari terbenam!"


"Masih lama sekali!"


"Aku lelah sekali!" keluh Vanya.


"Seharusnya kau banyak-banyak naik turun gunung agar badanmu tidak segempal ini." Ledek Darwin kepada Vanya.


Vanya yang tak mau terima menyerang balik dengan ledekkan, "Kau juga, banyaklah berpikir agar otakmu bisa meloading dengan baik!"


Semuanya tertawa melihat pertengkaran antara Darwin dan Vanya.


"Sepertinya jika tidak ada aku, kalian bisa tertawa lepas!" Suara dingin tiba-tiba muncul membuat semuanya terdiam.


"Lanjutkan saja, aku tidak keberatan!"


Saraa menyenggol tangan Levian agar berhenti memojokkan mereka.


"Ayo, kita siap-siap untuk bermalam disini." Ucap Saraa mencairkan suasana.


Semuanya mulai bergotong royong membangun tenda, menyiapkan kayu bakar, menyiapkan untuk makan malam hingga matahari pun sudah diambang ufuk.


Mereka duduk sambil memandang matahari yang berbentuk bundar sempurna, perlahan turun hingga bintang-bintang mulai menyeruak mengeluarkan cahayanya satu-persatu.


"Indah sekali ..." Ucap Saraa menatap bintang-bintang dilangit.


Levian yang duduk disebelahnya memandang lekat-lekat Saraa, Betapa cantik ciptaan tuhan yang berada di sebelahnya ini.


Levian membisikkan sesuatu kepada Saraa, "Dirimu lebih indah dari bintang-bintang itu."


Pipi Saraa merona mendengar gombalan darinya.


"Tidak usah membuat gombalan untukku, aku tidak tertarik!" Komen Saraa.


"Jika kamu tidak tertarik, mengapa wajahmu memerah begitu."


Saraa memanyunkan mulutnya menahan senyumannya agar tidak tampak.


Levian membisikan lagi ditelinga Saraa.


 "Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku, jadi tunggu saja!"


________________________________________________