Ambiguous

Ambiguous
<Mungkinkah?>



__________


Levian menghentikan mobilnya didepan rumah Saraa, lalu keluar dan membukakan pintu untuk Saraa, "Kamu tidak mau turun?" Tanya Levian.


Saraa tampak pusing akibat Levian membawa mobilnya dengan ngebut-ngebutan dijalan tadi.


"Memangnya kamu pembalap?! Membawa mobil dengan ugal-ugalan! Untung aku tidak terkena serangan jantung!" Kesal Saraa.


Levian tertawa kecil, "Ayo!" Katanya sambil mengulurkan tangannya.


Levian menuntun Saraa sampai depan pterke "Sampai sini saja!"


"Kamu tidak membiarkanku mampir dulu?"


Saraa menggeleng cepat, "Rumahmu hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, pulang sana!" Usir Saraa.


"Baiklah ... aku pulang dulu." Pamit Levian, tetapi ia masih berdiri ditempat enggan melangkahkan kakinta pergi.


Saraa bingung, "Mau apa lagi?"


"Kamu tidak mengatakan sesuatu padaku?"


"Apa?"


"Aku sudah membantumu .."


"Terimakasih! Pulang sana!" Usir Saraa lalu mendorong Levian untuk pulang.


Levian tersenyum lalu berjalan mundur sambil melambaikan tangannya kepada Saraa, ia tidak ingin berpisah dengannya walau sehari saja.


Saraa membalas senyuman Levian dengan manis, "Apa yang aku pikirkan, Sadarlah Saraa!" ucap Saraa saat kembali pada kesadarannya.


Setelah Levian pergi, Saraa segera masuk dengan kaki yang masih terasa sakit ke dalam rumah untuk bertemu papanya.


Ia masuk keruang kerja Aringga, "Papa!"


"Ada apa? Mengapa kamu teriak-teriak begitu?" Tanya Aringga yang sedang menandatangani kontrak.


"Benar papa mau meluncurkan produk baru minggu depan?" Tanya Saraa duduk dihadapan Aringga.


Aringga melepas kaca mata kerjanya, "Benar ... memang kenapa?"


"Undur tanggal peluncurannya!" Ucapan Saraa membuat Aringga bingung.


"Mengapa?"


"Kantor tempatku bekerja akan meluncurkan produknya juga minggu depan, jika papa meluncurkannya bersamaan, perusahaan itu akan mengalami kerugian besar!"


"Apa urusannya dengan papa?"


"Papa, Perusahaan itu terbilang masih baru, jika mengalami kerugian besar tidak ada satupun investor yang menanamkan saham kepada mereka," ucap Saraa


"Dan juga, kasihan para pekerja. Aku tidak tega ..." Lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.


"Jika papa mengundur waktu peluncurannya sama saja perusahaan papa yang rugi, apa kamu tidak memikirkannya?" Tanya Aringga sambil melipat tangannya.


"Aku tahu pa ... tapi kerugian papa bisa diminimalisir, cuma diundurkan, tidak dibatalkan. Tolonglah pa ..." mohon Saraa.


Aringga memijit pelipisnya "Siapa nama direkturnya? Papa ingin bertemu dengannya!"


"Hah? Mengapa?"


"Berani sekali ia menyuruhmu untuk membujuk papa agar mengundur tanggalnya!" Kata Aringga, dimatanya tersirat api.


"Tidak pa!" Elak Saraa, "Saraa sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya, sungguh!" Tegas Saraa.


"Lagian dikantorku tidak ada yang tahu kalau Saraa putri direktur perusahaan Airnet, tidak ada yang memaksaku ..." imbuh Saraa.


Aringga mengetuk-etuk meja kerjanya, ia berpikir keras. Ia akan mengalami kerugian jika menuruti permintaan anaknya atau menolak permintaan anaknya dan membuat Saraa ngambek berhari-hari.


"Baiklah! Ini demi anakku bukan kantor tempat kerjamu bekerja!" Keputusan Aringga membuat saraa mengembangkan senyumnya,


"Papa Saraa memang terbaik!!" Puji Saraa.


Aringga tersenyum melihat anaknya, ia berdehem, "dikantor tidak ada yang tahu kamu anak papa?" Tanya Aringga.


Saraa mengangguk, "Iya, kecuali direktur!"


"Direktur? Kamu mengenal direkturnya?" Tanya Aringga penasaran.


"Papa juga sangat mengenalnya!"


Aringga berpikir sejenak " Sangat mengenalnya? Siapa?"


"Anak bapak Syarif!"


Aringga sangat terkejut mendengar perkataan Saraa, Anak pak Syarif? Berarti Levian!


"Levian?!"


"Hm ..."


"Levian punya perusahaan? Papa baru tahu. Apa nama perusahaannya? Sejak kapan ia mendirikan perusahaan sendiri?" Tanya Aringga bertubi-tubi.


"Lesaagiant, baru setahun lalu katanya." jawab Saraa malas.


"Kenapa pak syarif tidak pernah memberitahu papa ya?"


"Tidak tahu, tanya saja ke pak Syarifnya sendiri."


"Oh iya, apa kalian balikan?" Tanya Aringga.


Saraa mengatakan tidak dengan cepat, "Mana mungkin aku balikan dengan pria licik itu!"


"Lalu bagaimana kamu bisa berkerja di perusahaan Levian?"


"Kesalahan terjadi!"


"Mengapa? Apa kamu berhutang kepada Levian?"


"Mana mungkin!" Kilah Saraa, Ia bangkit dari tempat duduknya.


"Aku pergi ke kamar dulu, mau tidur! Selamat malam papa!" Ucap Saraa lalu keluar dari ruang kerja papanya menuju kamarnya.


"Semoga takdir menyatukan mereka kembali." Doa Aringga dalam hati.


~~


Besoknya..


"Selamat pagi semua!" Sapa Saraa, orang-orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Saraa, aku sudah mengirim bahan untuk presentasi siang ini. Cek dan susunlah dengan apik." Suruh Yuri.


Saraa bingung, bukannya peluncuran produk kembali ke rencana awal ya? Mengapa mereka masih bekerja dengan keras?


"Kalian belum diberi tahu?" Tanya Saraa mengalihkan perhatian, "Peluncuran produk sudah kembali ditanggal semula?"


Mereka tercengang, "Bagaimana bisa?!"


Semua yang mendengar ucapan Saraa tak bergeming, mereka masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Saraa.


"Aku harus cek!" Ucap Vanya.


Ia membuka situs pencarian dan menemukan berita pengunduran tanggal peluncuran dari perusahaan Airnet.


Vanya menutup mulutnya tak percaya, "Sulit dipercaya!"


Mereka menggerubungi Vanya, "Bagaimana bisa? Airnet mengundur Jadwalnya dan mengalami kerugian jutaan dollar?!" Ucap Zain tak percaya yang ia lihat.


"Apakah ada yang membujuk direktur perusahaan itu?" Pertanyaan milik Darwin membuat Saraa bergeming.


"Bagaimana kamu tahu Saraa? Sedangkan kabar ini baru diterbitkan 5 menit yang lalu." Tanya Vanya membuat pandangan semua orang beralih kepadanya.


Saraa gugup, "a— aku mendengar dari temanku yang bekerja membuat artikel." Bohong Saraa.


Mereka hanya ber-oh ria mendengar kebohongan Saraa. Saraa menghela nafasnya, untungnya tidak ada yang mencurigainya.


"Lalu kalau begini? Kita harus bagaimana?" Tanya Darwin.


"Meski peluncuran produk kembali ke rencana awal, kita harus bekerja seakan-akan besok adalah hari-Hnya." Kata Jean.


"Kembali bekerja!"Lanjutnya dengan tegas.


"baik ketua tim!"


~~


HARI -H


"peluncuran produk terbaru dari perusahaan Lesaagiant menghebohkan pasar nasional, barang-barang yang berkualitas tinggi dan harga terjangkau membuat para pesaing berpikir— "


"Bahkan produk-produk ini akan diekspor ke berbagai negara terdekat seperti China, hongkong, jepang— "


"Direktur Lesaagiant yang memikat hati para wanita ini mengaku dirinya genap berusia 26 tahun ditahun ini. Levian Putra menjadi direktur muda yang mengguncang bursa nasional."


"Ck ck ck. Pak direktur menjadi selebriti baru akhir-akhir ini." ucap Darwin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"memang direktur kita terbaik!" puji Vanya yang tampak anggun dengan riasan flawless.


Semua orang digedung tampak memakai gaun dan jas yang indah, ditambah lagi pernak-pernik perhiasan yang berkilauan terkena sinar.


Saraa yang tampak memakai gaun berwarna merah dengan nuansa batik menambah kesan anggun dan kalem pada dirinya.


"Tampan, mapan, muda, Bijaksana! Pokoknya sempurna sekali!" Pujian lain dari Diana.


Saraa hanya mendengarkan tanpa berkomentar, ia hanya terpaku pada dekorasi langit-langit gedung yang ditempeli bunga warna-warni disetiap sisinya.


"Saraa! Saraa!!" Panggil Vanya membuyarkan lamunan Saraa.


"Ada apa?"


"Itu ..." menunjuk kearah Levian yang sedang berdiri tegap, memakai setelan jas warna abu-abu dengan kemeja warna putih membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Levian mengacungkan jari telunjuknya menyuruh Saraa mendekat kepadannya.


Saraa memutar bola matanya, "Ah ... malas sekali!" Pikirnya.


Tetapi kaki ia tidak menuruti apa kata hati, ia berjalan menuju Levian.


*Brukkk*kkk


"Aduh!!" Saraa meringis kesakitan.


"Maaf ... maaf, aku tidak sengaja." ucapnya pria yang menabrak Saraa.


Tangan pria itu terulur untuk membantu Saraa, "Mari aku bantu ..."


"Terimakasih."


"Hah ... Saraa! Kamu Saraa andreakan?!" Tanyanya antusias.


Saraa melihat dengan seksama, "Iya aku Saraa, tapi maaf aku tidak mengenalmu ..."


"Aku Malvin, Saat SMA dulu kita pernah mewakili sekolah untuk lomba di kota Z!"


Saraa meloading otaknya, mengimput lagi data masa dulu.


Saraa menutup mulutnya tak percaya,


"Malvin?! yang dulu gendut, jerawatan, terus pake kacamata. Itu kamu? Benarkah?" Tanya Saraa tak percaya.


Malvin berdehem, "Itu dulu, lihat penampilanku sekarang!" Ia memutar badannya dengan percaya diri.


Saraa tercengang, dulu dan sekarang dari Malvin tampak berbeda sekali, "Kamu tampak berbeda sekali, Malvin ..."


Malvin tertawa, "Dulu aku sering dibully oleh orang lain, sekarang saat aku punya banyak harus merubah diriku untuk mendapat pendamping hidup! Banyak uang tapi gendut dan hitam, siapa yang mau?!"


Saraa tertawa mendengar celotehan Malvin.


"Aku tidak menyang— "


Saraa hampir terjatuh saat tangannya ditarik paksa dari belakang, Malvin kaget saat melihat Levian sudah ada didepannya.


"Astaga!" Teriak Saraa.


Levian menatap dingin Malvin, "Kau! Dari tim apa?!"


Malvin menundukkan kepalanya, "Sa— saya Malvin, pak direktur!" Ucapnya gugup, "Saya dari tim administrasi kantor."


"Dalam 2 detik kembali ke timmu!" Suruh Levian dengan dingin.


"Ba— baik!"


"Saraa, kapan-kapan kita berbincang lagi!" kata Malvin lalu pergi meninggalkan Saraa dan Levian.


Levian menatap Saraa dengan tatapan dingin bercampur marah.


"Lepaskan!" Menarik tangannya yang berada dalam cengkram Levian.


"Aku menyuruhmu datang kepadaku! Mengapa kamu malah ngobrol dengan pria lain!"


"Apa salahnya?!"


"Salah! Aku tidak suka!" Bentak Levian membuat Sara jengkel.


"Kenapa?! Memangnya kamu siapa?!"


Levian terdiam, ia tidak tahu harus memberi jawaban apa, sekarang Saraa buka lagi kekasihnya.


Saraa tersenyum meremehkan Levian yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, "Yang aku tahu kamu hanya Direktur dari tempatku bekerja!" Ucapan menohok Saraa membuat hati Levian down.


Saraa pergi meninggalkan Levian yang masih berdiri tanpa bersuara, ucapan itu terniang dibenaknya.


"Sial!"


________________________________________________