Ambiguous

Ambiguous
<Teman baru.>



__________


"Dasar pria penggoda, picik, sok kalem, sok pin—"


Dalam perjalanannya menuju ruangan Arina ia mengumpat dengan kesal, bisa-bisanya pria itu melakukan kebohongan dihadapannya.


Saraa menghentikan langkahnya, "mengapa aku tertipu dihadapannya, Saraa sadarlah!"


"Sadar kenapa Saraa?" tanya seseorang dari belakang yang membuat Saraa kaget, ternyata Arina.


"Oh mbak Arina," kaget Saraa "tidak ada mbak, hanya saja hari ini tampak panas." Jawab Saraa dengan kaku.


"Baru saja aku mau ke ruangan mbak Arina." lanjut Saraa mengalihkan pembicaraan.


"kebetulan, mbak mau menunjukan ruangan tempat kamu bekerja."


"Kebetulan sekali, memangnya dimana mbak?"


"Mari ikut Mbak!" Saraa mengikuti Arina sambil sesekali menengok kanan dan kiri. dekorasi dari perusahaan ini cukup unik, perpaduan modern dan industrial menambah kesan eksentrik disetiap sudutnya. tiba mereka diruangan yang berada dilantai 7, Saraa memasuki ruangan barunya dengan malu.


"perhatian semua!" Ucap Arina menghentikan kariawan yang sedang sibuk pada pekerjaan masing-masing.


Diruangan itu terdapat Enam pegawai yang terlihat sudah lama bekerja disana, 3 pria dan 3 wanita.


"Aku ingin memperkenalkan rekan baru kalian, Dia adalah Saraa Andrea. Mulai saat ini akan bekerja disini bersama kalian,"


Semua diruangan itu tersenyum melihat Saraa, mungkin karena pesona Saraa yang membuat lelaki jatuh cinta padanya dan wanita iri padanya.


"Hallo, saya Saraa Andrea. mulai hari ini akan bergabung bersama kalian, mohon kerja samanya." ucap perkenalan diri Saraa, ia membungkuk memberi salam.


Semua orang bertepuk tangan sesudah Saraa memperkenalkan diri. Saraa tersenyum canggung melihat rekan-rekan barunya, ia berdoa semoga dirinya bisa beradaptasi dengan mudah.


"Saraa, mulai sekarang tempatmu disana." menunjuk salah satu kursi lengkap dengan meja dan komputernya.


"Baik-baik dengannya, bantu jika ia tidak mengerti." pinta Arina kepada semua orang disana.


"Baik Senior!" Jawab mereka serentak.


"Saraa, mbak tinggal dulu ya. Jika perlu apa-apa bisa langsung ke ruangan mbak."


"Baik mba Arina!"


Saraa menuju tempat bekerjanya, sedikit nyaman.


"Salam kenal, aku Vanya!" Ucap seorang wanita dengan mata bulatnya, pipi tembam dan badan berisi.


Saraa tersenyum canggung,


"Tidak apa,namanya juga teman baru, pasti rasanya sangat canggung," ucap Vanya untuk memecah kecanggungan Saraa.


"aku akan memperkenalkan rekan barumu, yang pojok itu Diana, sebelahnya Yuri dan sebelah kanan itu Darwin, lalu sebelahnya ada Zain," Vanya memperkenalkan satu persatu rekan kerja Saraa, ia mengamati dengan seksama agar tidak salah menyebut nama orang.


"Dan yang terakhir vasual tim kita sekaligus ketua tim kita, Jean!" Vanya menunjuk Pria manis dengan setelan jas rapi sedang berdiri menyangga pada meja tepat ditengah. Ia melambaikan tangannya lalu tersenyum manis kepada Saraa.


"Jika perlu sesuatu, bisa minta padaku." ucap Jean dibalas anggukan oleh Saraa.


"Sebentar lagi jam makan siang. Aku, Diana dan Yeri akan menemanimu berkeliling kantor ini. kamu mau?" Tawaran Vanya.


Saraa mengangguk, "Terima kasih."


Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing, Saraa yang masih dibantu oleh Vanya sedikit demi sedikit mengerti apa yang harus dikerjakannya.


Jean yang sedang duduk santai berdiri lalu mendekati Saraa, "Semoga kita menjadi rekan tim yang akur!" ucap Jean sambil menyandarkan badannya dimeja milik Saraa dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


Saraa hanya tersenyum canggung lalu tak menghiraukan lagi kata-kata Jean. Jean yang melihat sikap acuh Saraa kembali mengajaknya untuk bercakap-cakap.


"Apa kamu sudah punya pasangan?" Tanya Jean lagi.


Saraa menghentikan pekerjaannya lalu melirik Jean yang masih menunggu jawaban dari Saraa.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain, ketua tim Jean?!" tanya balik Saraa kepada Jean.


"Bukannya aku ingin menyombongkan diri kepadamu Saraa, tetapi IQku diatas Rata-Rata, pekerjaan seperti ini sangat mudah bagiku!"


Saraa memutar bola matanya, jelas-jelas pria ini sedang menyombongkan dirinya tapi berlagak merendah.


Saraa hanya ber-oh ria menanggapi perkataan Jean yang sangat mengusiknya.


"Saraa, sudah waktunya istirahat. Ayo!" Ajak Vanya, Saraa berdiri untuk mengikuti Vanya.


"Eh tunggu ... kamu belum menjawab pertanyaanku!" Tahan Jean.


"Maaf ketua tim Jean, aku sudah punya Pasangan yang sangat kaya, tampan dan pastinya lebih pintar dari mu!" Jawab meledek Saraa lalu berjalan meninggalkan Jean yang merasa malu karena kata-kata Saraa.


"Haha ... Sepertinya ketua tim kita sudah ditolak oleh wanita tangguh itu." Ledek Darwin.


Jean melototi Darwin, "Shut up!" lalu meneteng tangannya berjalan keluar ruangan.


~


Saraa dan ketiga teman barunya berjalan ke kantin untuk membeli beberapa minuman dan cemilan, diperjalanan mereka mengobrol dengan seru.


"Betul tuh, kemarin Zanaya dari tim sebelah saja ia goda!" tambah Yuri.


"Memang sifat Jean dari dulu sudah begitu, kita sebagai teman timnya tidak lagi aneh dengan kelakuannya," Jelas Vanya sambil menggandeng lengan Sara, "oh iya Saraa, memang benar kamu sudah punya?"


Saraa menaikan satu alisnya "Punya apa?"


"Pasangan kaya raya itu."


Saraa tertawa, "Hahaha ... apa kalian mempercayainya?"


"bagaimana kita tidak percaya, kamu cantik dan rupawan. Tidak ada seorangpun yang tidak tertarik padamu, Saraa." Komen Yuri membuat Saraa tersipu malu.


"Tidak ada, aku hanya mengarang agar si ketua tim itu tidak menggodaku lagi!" kata Saraa mengelak.


"Memangnya sepopuler apa ketua tim kita?" tanya Saraa penasaran.


"Nomor 2 dari kategori kepintaran dan nomor 3 di kategori pesona." Jelas Diana sambil mengambil roti lapis dari meja kasir.


"memangnya ada penilaiannya untuk itu?"


"Setiap tahun akan diadakan."


Saraa memesan kopi Capuccino kesukaannya dan langsung membayarnya, lalu berjalan untuk kembali keruangannya bersama yang lain.


"Memangnya siapa yang berada diurutan pertama?" tanyanya setelah meneguk kopi miliknya.


"Siapa lagi kalau bukan—


"Direktur muda kita, LEVIAN!!" Jawab mereka serempak.


"Beliau mendapat peringkat pertama dalam semua kategori!" sambil menunjuk papan mading yang menunjukan peringkat.


"Memang sempurna sekali direktur kita itu!" tambah Yuri dengan gaya sok manis yang membuat Saraa ingin muntah disaat itu juga.


Saraa menggidikan badannya tanda tidak mengerti mengapa banyak yang memuja Levian. Saraa mendekat ke mading karena disalah satu kategori tidak terdapat nama Levian, setelah membacanya Saraa tertawa dengan keras.


"Haha ... lihat ini, dalam kategori sikap yang baik ia tidak ada," Saraa tidak bisa menghentikan tertawanya, ia salut dengan kariawan yang sangat jujur.


"Aku suka kariawan disini," katanya hampir menangis karena terlalu banyak tertawa.


sangking senangnya tertawa, saraa tidak menyadari bahwa dibelakangnya sudah ada Levian yang berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangannya. ia mengangkat jari telunjuknya untuk menyuruh teman-teman Saraa pergi ke ruangan mereka segera.


"Apa kalian juga merasa bahwa direktur itu sangat ke— jam?" tanya Saraa sambil membalikan badan untuk melihat teman-temannya, tetapi yang ia lihat hanya orang yang sedang ia bicarakan berdiri tegap didepannya.


"Sudah tertawanya?" tanya Levian dengan memasang tatapan dinginnya.


"Sedang apa kau disini?!" tanya Saraa kikuk "Dan kemana mereka?" tanyanya lagi sambil menengok kanan dan kiri.


"Ketidak sopanan kepada direktur itu harus dibundari dan diberi pelajaran!" Levian menarik tangan Saraa lalu memojokannya lagi ke dinding.


Saraa memberontak, "apa yang kau lakukan! bagaimana jika ada yang melihat?!" ucap Saraa sambil berontak untuk melepaskan diri.


Levian hanya menatap Saraa dan tersenyum jahat kepadanya.


"Lepasin! dasar pria penggoda!" Umpat Saraa.


"Aku tidak menggoda, hanya saja aku ingin memberi pelajaran kepada kariawan yang tidak sopan kepadaku!"


"aku minta maaf, tolong lepaskan aku!" Saraa mengalah, ia tidak ingin ada yang melihatnya dengan direktur. Bisa-bisa menjadi bahan gosip yang heboh diseluruh kantor.


"aku tidak mendengar!" Levian menguji kesabaran Saraa.


Saraa menahan amarahnya dengan sekuat tenaga, "aku minta maaf pak direktur!" ucapnya sambil membuang muka.


"katakan lebih lembut lagi!" Pinta Levian.


"apa kau menguji kesabaranku?!"


"Sepertinya kau yang menguji kesabaranku, Saraa!" Ucap Levian sambil menatap mata cerah Saraa, didalam hatinya yang berkecamuk ingin sekali memeluk dan mencium bibir wanita didepannya. Tetapi apa daya, ia harus membuang niatnya agar Saraa tidak semakin membencinya.


Levian perlahan melepas genggamanya dari Saraa "Kau boleh pergi!" Ucap Levian dingin.


Saraa menatap Levian sebelum akhirnya segera berlari menuju ruangannya.


 ~


"Saraa, kamu baik-baik saja? Apa yang pak direktur lakukan padamu?!" tanya cemas Diana sesaat setelah Saraa sampai diruangannya.


Saraa mengangguk, "Aku hanya dimarahi sebentar lalu disuruh kembali keruangan." kata Saraa berbohong.


"syukurlah, sepertinya suasana hati pak direktur sedang baik rupanya. Sangat melegakan!"


melegakan apanya! dia akan membuat gosip yang menghebohkan jika ada yang memergoki ia bersama direktur sialan itu.


Saraa tersenyum lalu duduk kembali ditempatnya, ia menadahkan kepalanya diatas tangan kanannya.


"Levian, kenapa kamu selalu melakukan hal seperti itu kepadaku!" ucapnya dalam hati.


________________________________________________