
__________
'Ting tong'
Pintu itu terbuka, menampakan pria berkacamata dan wajahnya terlihat lumayan untuk dipandang, Dia adalah teman baikku. Davin Mahendra.
"Levian?!"
Davin menatapku bingung plus terkejut, karena diriku yang terlihat kacau. Jas yang lusuh, dasi dan rambut berantakan, lagi wajah yang tertekuk sempurna.
"Ada apa denganmu?!" Tanyanya sambil menarikku untuk masuk ke apartemennya.
"Berikan aku wine milikmu!" Ucapku tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaanya. Hari ini benar-benar kacau.
Aku duduk disofa panjangnya sambil menaikkan kakiku di meja. Davin duduk disebelahku lalu memberiku pertanyaan bertubi-tubi.
"Wine? bukankah kamu sudah tidak minum-minuman lagi?" Davin menurunkan kakiku dari atas meja. Dia anak yang sangat sopan dan menjunjung tata krama, berbanding balik denganku.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau kelihatan kacau sekali!" Tanyanya lagi. benar-benar, hari ini Davin sangat cerewet.
"Berikan saja!"
Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku, rasanya aku tenggelam dalam kelamnya hidup. Ditinggal olehnya sungguh menyakitkan.
Davin pergi ke dapur lalu kembali membawakanku wine dan 2 gelas anggur yang sangat cocok bila di padukan.
"Ada apa dengan sikapmu?Apa ada yang mengusikmu?!" Tanyanya lagi.
"Hari ini sangat kacau!" Ucapku sambil menghela napas berkali-kali.
Davin menuangkan wine ke dalam gelas lalu memberikannya kepadaku. Aku langsung menghabiskannya tanpa tersisa sedikitpun.
"Apa ada masalah dengan perusahaan ayahmu?"
Aku menggeleng sambil menuangkan kembali wine kedalam gelas lalu meminumnya hingga tegukan terakhir.
"Keluargamu?" Setiap jawaban yang diberikan Davin membuatku menggelengkan kepala.
"Dengan Saraa?" jawabannya membuat tanganku berhenti seketika dari aktivitas menuangkan wine ke gelas.
"Levian," Davin memegang pundakku, lalu memberi nasehat kepadaku,
"Dalam hubungan, pasti memiliki bumbu ke pahitan, tidak hanya manis saja yang terus berjalan. seperti saat kita makan, kita akan melewati rasa manis lalu beranjak pergi masuk untuk mencicipi rasa lain, hingga diujung kamu akan merasakan kepahitan untuk sampai di tujuan akhirmu." Ucapnya seperti sedang bersyair.
Setelah berbicara banyak ia meneguk dan menikmati wine miliknya.
"Aku putus dengannya!" Ucapanku membuat Davin tersedak hingga batuk-batuk.
"Apa!!" Serunya. Suaranya yang cempereng membuat diriku harus menutup telingaku rapat-rapat.
"Kau bercanda, bukan?" Tanyanya seperti tak percaya dengan omonganku.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Aku meneguk kembali wine ungu ke hitaman itu, rasanya manis dan membuatku candu.
"Bagaimana bisa? Bukankah hari ini kamu akan melamarnya?"
"Sebelum itu terjadi, dia memutuskanku!"
"Kamu setuju?"
Aku mengangguk lalu meneguk lagi wine manis itu.
"Mengapa tidak meghentikannya?!" Ucapnya seperti jengkel kepadaku.
aku tidak menghiraukannya. aku tuang kembali wine lalu meneguknya.
"Levian!" Davin menghentikan tegukanku yang terakhir, "Sudah cukup! mau berapa teguk lagi!"
Aku tertawa, sepertinya kesadaranku mulai menurun akibat terlalu banyak meneguk wine itu.
"Kamu harus pulang!" Usirnya membuatku merengek.
"Tidak mau!!"
Kesadaranku menurun hingga——
Keesokan Hari.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali, memanggil kesadaranku. Kepalaku terasa pening sekali, rasanya berat sekali.
"Arrgghhhhh!" Aku berteriak tatkala kulihat Davin tidur disebelahku sambil memeluk erat tubuhku.
Ku dorong tubuhnya hingga terjatuh dari atas sofa, bagaimana dia bisa diseblahku. Davin mengaduh saat tubuhnya terlempar ke bawah.
"Levian! kau jahat sekali!" Kesalnya.
Aku memeluk diriku sendiri, "Kau berbuat apa padaku semalam?!"
"Kau gila? mengapa aku harus melakukan sesuatu yang menjijikan denganmu!"
"Kamu tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Tanyanya membuatku berpikir.
"Apa?! memangnya aku melakukan apa?!" Ucapku mempertahankan diri.
"Kau memelukku, mencegahku untuk pergi dari sini, Menyebutku dengan nama Saraa. memintaku untuk tidur denganmu! Kamu yang sudah gila!" Jelasnya.
Apa benar aku melakukan itu?
"Mau kemana?" tanyaku.
"Membersihkan diriku yang kotor ini!" Ucap Davin lalu meninggalkanku yang masih terduduk di sofa.
Aku menepuk kepalaku sendiri, "Kau sudah gila Levian!"
Aku bangkit dari sofa, memakai jasku lalu pergi dari apartemen Davin untuk pulang kerumahku.
~
Kediaman Levian.
Aku masuk kedalam rumah, terlihat mama dan papa sedang sarapan pagi di ruang makan.
"Levian!" Suara berat memanggil namaku.
Aku menengok lalu berjalan kearah ruang makan untuk bertemu dengan mereka.
"Dari mana saja kamu?! mengapa baru pulang pagi ini?!" Tanya papaku. Dia orang yang sangat disiplin akan hal apapun.
Aku duduk lalu meminum segelas jus jeruk segar, "Levian menginap di apartemen Davin pa."
"Mengapa tidak mengabari dulu?" Tanya mama dengan penuh kekhawatiran diwajahnya.
"Eum ... Batrai ponsel aku habis ma, jadi tidak bisa mengabari."
Mama menuangkan nasi ke piringku, "Kamu tampak lusuh, Apa yang terjadi?"
"Tidak ada." Bohongku. Jika aku katakan aku sudah tidak bersama Saraa lagi, tidak tahu bagaimana reaksi mereka setelah itu.
"Makanlah ..." Suruh mama dengan lembut. Aku memakannya beberapa sendok lalu meneguk segelas air putih sesudahnya.
"Levian sudah kenyang." Kataku lalu bangkit.
"Baru beberapa sendok yang masuk ke mulutmu, nanti kamu sakit Levian." Ucap mama menghentikanku.
"Aku lelah ma, aku ingin mandi lalu membaringkan tubuhku."
Mama tidak berkomentar lagi, "Baiklah. Pergi ke kamarmu." Ucapnya.
Aku pergi ke kamarku untuk membersihkan diri. Sesudahnya, aku membaring tubuhku diranjang sesekali membuka ponsel untuk melihat apa ada pesan yang masuk untukku.
'Tok tok tok'
Ketukan pintu menghentikan aktivitasku.
"Levian, mama membawakanmu teh chamomile kesukaanmu!" ucap mama dari balik pintu, aku turun dari ranjang untuk membuka pintu.
Mama berjalan masuk kedalam kamarku lalu meletakkan nampan berisikan teh diatas nakas.
"Kamu sedang memiliki masalah?" Tanya mama sambil menyuruhku duduk disebelahnya.
"Tidak ada." Jawabku menyembunyikan.
"Kamu ini anak mama. Kamu berbohong, mama pasti mengerti." Ucap mama sambil tersenyum memperlihatkan kerutan didaerah matanya.
Aku memeluk mama dengan erat, tempma terbaik berlindung adalah dirinya. Dia selalu mengerti perasaanku, tingkahku dan diriku. Mama membuatku merasa nyaman jika di dekapannya. meskipun umurku sudah tidak kecil lagi, bila didekat mama, aku suka bermanja dengannya.
"Cerita pada mama!"
Aku menghela napas sebentar lalu menceritakan semua yang terjadi antara aku dengan Saraa, apa yang aku rasakan dan bagaimana aku menyikapinya. Mama tidak berkomentar selama aku berbicara, dia mendengarkanku hingga selesai berbicara.
"Kamu masih menyayanginya, bukan?" Tanya mama dengan lembut. Aku mengangguk.
Mama membelai rambutku lalu memberiku pelukan yang hangat. "Levian. Di setiap hubungan pasti memiliki permasalahan kecil, tidak akan selalu lancar tanpa adanya ke renggangan."
"Dulu mama dan papamu sempat putus sepertimu, hingga papamu menjadi manajer dan mama menjadi kariawan biasa. Semakin lama rasa itu muncul kembali dan akhirnya papamu melamar mama dan mempersunting mama. Itu bisa terjadi dengan pasangan manapun Levian."
"Kamu hanya perlu yakin bahwa Saraa itu adalah jodohmu, kalian ditakdirkan untuk bersama. Jangan putus asa karena Saraa memutuskanmu. Mama juga pernah bosan pada papamu dulu, tapi mama melihat papamu yang semakin hari semakin berbeda membuat mama akhirnya jatuh cinta lagi."
"Tidak perlu sedih akan hal itu, kamu harus menguatkan hatimu dan berpikir untuk kedepannya. Jika kamu merasa tidak ingin melepaskannya, bawa dia ke arahmu lagi. Hingga dia benar-benar tidak bisa melepaskanmu."
Aku tersenyum kepada mama, ucapannya membuatku membulatkan tekadku. Benar kata mama, kalau jodoh pasti bersatu kembali.
"Kamu paham dengan ucapan mama?"
Aku mengangguk. Benar-benar lega setelah menceritakan semuanya kepada mama, apa yang aku ragukan sekarang menjadi tekadku.
"Terimakasih ma." Aku memeluknya lagi, tingkat kepercayaan diriku naik menjadi 100% dibanding kemarin.
"Sama-sama. Kamu harus janji pada mama, kamu akan membawa Saraa kembali!"
Aku mengagguk dengan pasti. "Aku janji ma!"
Saraa, tunggu aku.
Aku akan membawamu kembali ke dekapanku!
++Quotes++
Kau sempurna untukku seperti mimpi, seperti bermain di air di musim panas
Hidupku adalah sebuah aliran udara dan kau seperti cerita tentang musim semi.
________________________________________________