Ambiguous

Ambiguous
<Coba saja kalau bisa!>



__________


"Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku, jadi tunggu saja!"


Saraa menatap mata Levian, "Coba saja kalau bisa!" ucap Saraa menantang Levian.


Levian menaikkan sudut bibirnya lalu bangkit menuju tenda. Ia sudah memikirkan beribu cara agar Saraa mau kembali kepadanya.


"Saraa, bantu aku menyiapkan makanan." Ucap Vanya yang sudah siap memakai apron.


"Hm ... baiklah!"


Saraa dan Vanya membuat makanan untuk makan malam, dan yang lain menyiapkan kayu bakar untuk api unggun.


"Saraa, aku ingin bertanya ..." Tanya Vanya disela-sela pekerjaannya.


"Mau tanya apa?"


"Ini hanya aku yang menyadari atau semuanya sudah tahu,bahwa— "


Vanya menelan ludahnya dalam-dalam lalu mendekati Saraa dan membisikan sesuatu yang membuat Saraa terkejut.


"Apa kamu dan pak direktur punya hubungan khusus?"


Saraa berdehem. Apakah hubungannya terlalu mencolok bagi mereka.


"Bicara apa kamu?" Tanya Saraa gelagapan.


"Aku melihat pak direktur tersenyum menatapmu dan, sepertinya kamu sangat dekat dengan pak Direktur."


"Tidak! ini hanya hubungan antara atasan dan bawahan, tidak ada yang khusus!" jelas Saraa agar Vanya tidak salah paham terus menerus.


"Benarkah? Bukankah pak direktur kesini untuk menemuimu?" Tanya Vanya membuat Saraa terpojok.


"Tidak! Bukan karenaku!" sangkal Saraa.


"Baiklah, lalu mengapa pak direktur ikut bersama kita ya?"


"Tidak tahu!"


"Apa kalian membicarakanku?!" Tanya Levian yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Pak direktur!"


'Ngapain dia kesini!'


"Sepertinya benar!"


Vanya gelagapan menghadapi tuduhan benar Levian.


"Ka— kami tidak membicarakan pak direktur!" jelas Vanya.


Levian melirik Saraa yang hanya diam tak berkomentar.


"Kau ... mengapa diam saja?!"


Saraa melirik tajam Levian, "Kami baru saja membicarakanmu pak direktur!" Ucap Saraa datar.


Vanya terkejut, rasanya setengah keberuntungannya terbang entah kemana,


"Saraa!" ucap Vanya berusaha menyadarkan Saraa, jika Saraa jujur terus menerus, pasti akan mengancam pekerjaanya.


"Kamu sangat jujur, aku suka itu." Levian mendekati Saraa.


Saraa mulai merasa tidak nyaman dengan pergerakan Levian yang semakin dekat dengannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Saraa hanya menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.


Levian tersenyum licik, "Kau! carilah kayu bakar dengan yang lain. Aku akan membuat makan malam dengan nona Saraa disini!" Suruh Levian kepada Vanya tanpa membalikkan tubuhnya.


"Dan pastikan kamu tidak mencari kayu bakar di sekitar sini!" Lanjut Levian dengan suara dingin.


Vanya buru-buru melepas apronnya lalu memberikannya kepada Saraa.


"Kamu mau kemana?" Tahan Saraa.


"Aku mencari kayu bakar dulu, baik-baik disini!" ucap Vanya lalu berlari entah kemana.


"Vanya!"


Saraa menghela nafasnya, mengapa dia harus ditinggal berdua dengan Levian disini. Bisa-bisa Levian bertindak aneh kepadanya.


"Kau kecewa ditinggal berdua denganku?"


"Aku sangat kecewa!" Sewot Saraa.


Levian terkekeh mendengarnya, "Pakaikan aku apron itu!"


"Pakai saja sendiri!" Saraa melempar apron ke arah Levian, lalu melanjutkan memanaskan panci untuk membuat mie.


Levian tersenyum melihat Saraa yang sedang merajuk kepadanya.


"Aku tidak mengerti bagaimana memakainya."


"Pasang saja di badanmu!"


Levian mencoba memakainya dengan sedikit pengetahuannya.


"Begini?"


Saraa menahan untuk tertawa melihat Levian yang memakai apron terbalik, jadinya seperti rok pendek baginya.


"Apa kamu sedang memakai rok pendek?!" Ucap Saraa datar.


Saraa membantu membetulkan Apron milik Levian, "Menghadap ke belakang!"


"Pengetahuanmu sangat minim!"


"Mengapa aku harus mengetahuinya sedangkan kamu akan menjadi istriku kelak." Ucap Levian membuat Saraa tersipu, pipinya memerah kembali.


Saraa mengencangkan ikatan dipinggang Levian, "Ah ... terlalu kencang!" Levian.


"Rasakan itu! tidak usah Merayuku!"


"Baiklah ..."


Levian membalikan badannya, "Terimakasih sayang ..." ucap Levian sambil tersenyum.


'Sayang?'


Saraa menjitok kepala Levian, "Jangan mengubah nama seseorang sesukamu!" Ketus Saraa.


"Mengapa aku tidak boleh? kamu juga memanggilku pria licik, picik, pria penggoda, pria gila, pri— "


Saraa menyumpal mulut Levian dengan stawberry agar berhenti berbicara, "Berisik tahu, diamlah!"


Malam hari.


Semua sudah masuk ke tenda masing-masing untuk pergi tidur, Saraa yang sendari tadi hanya membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri merasa tidak nyaman akhirnya memutuskan untuk pergi keluar untuk berjalan-jalan sebentar sampai ia mengantuk.


"Apa yang kau lakukan diluar sendirian?" Suara Levian mengejutkan Saraa, terlihat ia sedang duduk sendiri didepan tendanya.


"Kenapa kau keluar?!" Tanya baliknya.


"Dari tadi aku disini!"


"Oh ..."


"Kau, tidak tidur?" Tanya Levian sambil membunuh satu-persatu nyamuk yang mendekatinya.


"Aku tidak mengantuk!" Jawab Saraa ketus.


"Sini duduk disebelahku, aku akan membuatkanmu kopi!"


"Tidak mau!" Tolak Saraa.


Levian bangkit lalu mendekati Saraa, "Aku memaksamu!" Menarik tangan Saraa agar mau duduk bersamanya.


"Duduklah!" Suruh Levian.


"Dasar pria pemaksa!" Umpat Saraa.


"Tidak apa, aku suka!"


Levian memberikan selimut untuk menutupi badan Saraa agar tidak kedinginan, lalu membuatkan kopi cappucino sachet untuknya.


"Kopimu!"


"Terimakasih!"


Levian menatap lekat wanita disebelahnya, jika saja hari itu ia tidak mengiyakan untuk putus dengannya. dipastikan wanita ini sudah menjadi orang yang sangat berharga baginya.


"Ada apa? katakan!" Tanya Saraa yang menyadari tatapan Levian.


"Tidak ada, Hanya saja aku teringat saat kita putus satu tahun lalu. Jika saja aku tidak mengiyakan untuk putus denganmu."


"Itu masa lalu, mengapa harus mengungkitnya lagi?!"


"Aku tidak mengungkitnya, Hanya saja— "


"Aku tidak mau membahasnya!" Potong Saraa dengan suara dingin.


Levian terus-terusan menatap Saraa tanpa mengedipkan matanya, Berharap Saraa menatapnya balik.


"Aku mau pipis, antarkan aku!"


"Kau mengganggu saja!"


Suara Darwin dan Zain!


Saraa dan Levian menatap satu sama lain. Jika mereka berdua melihatnya bersama Levian, bisa menjadi bahan gosip saat masuk kantor lusa depan.


Buru-buru Saraa menarik tangan Levian untuk masuk ke tenda dan menutup jalan masuk.


"Aku melihat tenda pak direktur tertutup sendiri!" Suara Darwin dari luar tenda.


"Sadar Darwin!"


"Tapi—


"Ayolah!"


"Kau mengujiku Saraa!" Ucap Levian sambil memandang Saraa lekat-lekat.


Mata mereka bertemu, selama beberapa detik tidak ada pergerakan dari mereka. Yang ada hanya suara jantung yang berderu menjadi satu irama.


Levian mendekati wajah Saraa tanpa memotong tatapan matanya, Semakin dekat hingga hanya beberapa cm antara mereka. Levian menutup matanya dan,


Plakk.


Pukulan mendarat dikepalanya.


"Ah ... sakit!" Levian mengaduh saat tangan Saraa menyasarkan pukulannya dikepalanya.


"Berani macam-macam, habis kau!" Ancam Saraa.


Levian memanyukan bibirnya, Momen romantis harus diakhiri dengan pukulan dikepala.


"Aku mau tidur!" Saraa ingin bangkit tetapi tangannya ditahan oleh Levian.


"Tidur disini saja!"


Saraa mengerutkan dahinya lalu mencoba memukul kepala Levian kembali.


"Ah ... Sakit tahu!" Protes Levian.


"Lepaskan!" seru Saraa.


Levian melepas tangan Saraa, lagi-lagi ia kena pukul oleh Saraa.


Saraa keluar dari tenda sambil mengamati diluar, apakah ada orang yang melihat atau tidak.


"Tidurlah!" Ucap Saraa kepada Levian lalu pergi ke tenda miliknya.


"Dasar Levian, membuat jantungku ingin copot rasanya!"


________________________________________________