Ambiguous

Ambiguous
<Persaingan.>



__________


Sudah seminggu Saraa bekerja diperusahaan milik Levian, banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Untungnya seminggu ini ia tidak bertemu dengan pria picik itu karena ia sedang pergi keluar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis.


Saraa menghela nafas, sesekali merenggangkan badan untuk merilekskan otot-ototnya. Ia berpikir apakah saat ia menjadi CEO perusahaan ayahnya akan lebih berat dari pekerjaannya saat ini.


"GAWAT!" teriak Yuri membuat kaget saraa dan mengundang perhatian yang lain.


"Ada apa, Yuri?" Tanya Vanya.


"Aku baru mendapat kabar, perusahaan Airnet akan meluncurkan produk barunya minggu depan!"


"Minggu depan?!" Tanya Zain tak percaya.


"Bukankan minggu depan perusahaan kita akan meluncurkan produk juga?" Tambahnya.


"Gawat! Kita akan kalah melawan perusahaan Airnet!"


"Airnet?perusahaan papa!" Gumam Saraa dalam hati.


"Bagaimana ini! Apa yang harus kita lakukan, bagaimana kita kabarkan ke direktur!" ucap Diana gelisah.


Tiba-tiba Levian muncul dari pintu, sontak semua kariawan berdiri menghadapnya. Tak lupa Saraa pun berdiri.


"Kalian sudah dengar kabarnya?!" Tanya Levian begitu dingin.


"Sudah pak direktur." Jawab Jean dengan suara yang bergetar.


"Kalian harus mempersiapkan semuanya lebih cepat lagi! Perusahaan ingin kalian memajukan peluncuran produk dalam 2 hari kedepan!"


Semua orang menganga dengan perkataan Levian.


"Bagaimana bisa pak direktur, kita masih perlu mempersiapkan lebih banyak lagi," tolak Jean.


Levian menatap dingin, "Itu urusan kalian! Jika kalian tidak bisa ... kalian tahu apa akibatnya!" Ucap Levian membuat merinding semuanya.


Saraa menatap Levian, jadi ini alasan tidak ada yang memilihnya dalam kategori itu. Sikapnya yang dingin dan pengancam itu membuat semua orang takut padanya.


"Ba— baik pak direktur." Ucap Jean pasrah mewakili semua orang yang ada ditempat.


Levian mengalihkan pandanganya menuju Saraa, tatapannya tidak berubah, masih tampak dingin dan menakutkan.


"Kamu anak baru! Tahukan apa yang harus kamu lakukan?!" Tanya menohok Levian.


Saraa mengangguk pasrah, "Saya tahu pak direktur!"


"Kerjakan dengan cepat, presentasi akan dimulai besok!" Kata Levian beranjak dari tempat berdirinya untuk kembali keruangannya.


"Pastikan kalian tidak bermain-main dalam hal ini!" Tegas Levian lalu pergi.


Semua yang ada disana menghela nafas dengan kasar, apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikannya dalam dua hari ini.


"Aku ingin menangis!" Keluh Vanya sambil menutup muka dengan kedua tangannya.


"Come on ... kita harus semangat agar ancaman dari pak direktur itu tidak akan pernah terjadi!" Ucap Jean untuk menyemangati rekan-rekannya.


"Saraa, apa yang dimaksud oleh Pak direktur menyuruhmu menyelesaikan apa?" Tanya penasaran Yuri.


"Membantu kalian menyelesaikan ini, mungkin" jawab Saraa asal.


Yuri hanya mangut-mangut tanda mengerti, Saraa berpikir untuk membujuk papanya agar bisa memundurkan jadwal peluncuran produknya agar tidak berbarengan dengan perusahaan milik Levian.


"Apa pak direktur memberi ancaman kepada seluruh pegawainya atau hanya kita saja?" Tanya Saraa yang baru pertama kali diancam oleh atasan.


"Tidak. Seluruh kantor akan terkena imbasnya!" Jawab Yuri.


"Oh ... begitu ...."


"Ayo.. kerja!!" Perintah Jean. Terlihat semua mulai fokus terhadap pekerjaannya.


"Saraa, tolong cek apakah surel dari tim produksi sudah masuk!" Suruh darwin, Saraa mengangguk lalu mulai terfokus kembali.


~~


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.35 malam, mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tidak ada seorangpun yang berani beranjak pulang tanpa ijin dari direktur.


"Aku lelah sekali!!" Keluh Vanya tidak sanggup melakukannya lagi.


"Aku juga, badanku ingin remuk rasanya duduk disini sepanjang hari!" Keluhan lain dari Diana.


Jean kesal dengan keluhan para rekannya ini, semua kariawan diperusahaan ini pun semuanya harus bekerja lembur agar pekerjaan mereka bisa terkumpul tepat waktu.


"Ada apa dengan kalian semua?!" Ucap Jean dengan kesal, "Bagaimana pekerjaan bisa cepat kelar jika kalian mengeluh terus menerus seperti ini!"


"Kalian bisa pulang, jika kalian tidak ingin kembali bekerja disini!" Kata Jean dingin. Mereka semua terdiam lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing tanpa adanya keluhan.


Saraa yang melihat semua rekannya bekerja keras tidak tega, ia segera berdiri untuk Pergi keruangan Levian untuk mengizinkan mereka untuk pulang dan beristirahat.


"Kamu mau kemana Saraa?" Tanya Darwin yang melihat Saraa beranjak dari kursinya.


"Aku akan meminta izin untuk memulangkan kalian semua." Jawab Saraa.


"Hentikan!" Henti Darwin, "bisa-bisa kamu dimarahi oleh pak direktur!"


"Tidak perlu khawatir, aku akan kembali tanpa dHentika." ucap Saraa.


"Benarkah?"


"Iya ..."


"Baiklah. Hati-hati Saraa, jika disuruh kembali, cepat-cepat kembalilah!" peringatan dari Zain.


"Sip!" Kata Saraa sambil mengacungkan jempolnya.


Selang beberapa menit ia sudah sampai didepan ruang Levian, tapi ada penampakan seseorang yang sama sekali tidak ingin ia lihat.


"Lihat siapa yang datang, Wanita penggoda!" Ucap Bianca sambil menghadang jalan Saraa untuk masuk keruangan Levian.


"Aku tidak ada urusan denganmu!" Jengkel Saraa.


"Aku tahu, kamu ingin menggoda Levian agar ia kembali kepadamu kan?!" Tebak Bianca yang membuat darah tinggi Sara naik.


"Aku tidak ada waktu untuk menggoda pria licik itu!"


"Apa katamu?! Pria licik?!" Bentak Bianca kepada Saraa.


"Mengapa? Kau tidak suka?" Tanya Saraa dengan nada menantang, "Lebih baik pria penggoda bersatu dengan wanita penggoda sepertimu!" Ucap Saraa merendahkannya.


Bianca naik pitam mendengar ucapan Saraa "Kau!" Lalu mendorong Saraa hingga terjatuh.


Saraa mengaduh karena badannya terlempar ke lantai, ternyata kekuatan wanita penggoda itu lebih besar darinya.


"Rasakan itu!" Olok Bianca, tanpa sepengetahuan mereka berdua. Levian melihat semua peristiwa tersebut.


"Sudah selesai mengolok-oloknya?!" Tanya Levian kepada Bianca, ia sangat kaget dengan suara berat dan dingin dari Levian yang tiba-tiba


muncul dari arah belakangnya.


"Le— Levian! a— aku tidak sengaja.." jawab Bianca gugup, apa yang harus ia lakukan jika sudah begini.


Saraa hanya bisa meringis saat pergelangan kakinya dipegang oleh Levian, "Sakit!"


"Kakimu terkilir, aku akan memapahmu!" Tanpa persetujuan dari Saraa, Levian memapah Saraa untuk masuk keruangannya.


Saraa memberontak, "apa yang sedang kau lakukan! Turunkan aku!"


"Jangan bergerak, aku akan jatuhkan kamu jika bergerak!" Ancam Levian.


Saraa berhenti bergerak dan mengikuti apa yang dikatakan Levian.


Levian mengalihkan pandangannya ke arah Bianca yang sendari tadi hatinya tidak tenang karena takut dengan apa yang akan Levian lakukan.


"Lihat yang akan aku lakukanan kepadamu besok!" Ucap Levian dengan Nada yang sangat dingin.


Bianca merinding "Maafkan aku Levian ..." permohonan maafnya dengan tatapan bersalahnya.


"Lancang sekali kamu memanggil namaku!"


"Ma— maafkan aku pak direktur ..."


"Enyahlah!" Ucap Levian dengan kejam, lalu berjalan untuk masuk keruangannya.


Bianca tidak bisa berkata lagi, ia jengkel dengan perlakuan Levian kepadanya. Ia lebih-lebih jengkel kepada Saraa yang membuatnya naik pitam.


"Saraa! Lagi-lagi kau membuatku direndahkan lagi! Aku akan benar-benar membuat perhitungan untukmu!" Niat jahat Bianca,ia tidak perduli dengan yang lainnya. Ia hanya ingin melihat Saraa menderita dan enyah dari hidupnya dan Levian.


Levian mendudukkan Saraa disofa miliknya, "Dibagian mana yang sakit?" Tanya Levian kembali melembutkan suaranya, beda sekali saat berbicara dengan kariawan lainnya.


"Aku tidak apa!"


Levian memegang pelan bagian pergelangan kakinya, Saraa menjerit kesakitan.


"Apa ini yang dimaksud tidak apa?"


Saraa memanyunkan bibirnya.


"Jika kamu memanyunkan bibirmu seperti itu, aku tidak bisa menahan untuk tidak menciummu!" Kata-kata vulgar yang keluar dari mulut Levian membuat Saraa meledak.


"Dasar pria berotak mesum!" Umpat Saraa didepan Levian.


"Sepertinya panggilan kesayangan darimu banyak juga ya." ucap Levian sambil memijit pelan kaki Saraa. Raut senang diwajah Levian tergambar dari sudut bibirnya yang mengembang.


"Pede sekali kamu! Itu kelakuan dirimu, tahu!" Kata Saraa dengan tegas.


"Tidak apa, aku senang." Ucap Levian sambil tersenyum manis.


Saraa bingung dengan kelakuan Levian, kadang ia terlihat manis, kadang terlihat kejam dan dingin. Di otaknya masih Tergambar jelas perilaku Levian, ia orang yang kalem terhadap orang lain. Tidak sepeti sekarang, terlihat dingin dan kejam.


"Mengapa kau kesini?" Tanya Levian membuyarkan ingatan Saraa.


"Aku ingin meminta ijin untuk memulangkan timku!" Jawab Saraa


"Jika timmu pulang, otomatis semua pegawai disini juga harus pulang!"


Saraa berpikir, "Tidak bisakah mereka beristirahat sampai besok? Aku kasihan kepada mereka sudah bekerja dari pagi hingga dini hari." Rujuk Saraa,


"Kamu tahu, jika ini tidak berhasil—


"Aku tahu" potong Saraa, "Aku akan berbicara dengan papaku untuk mengundur tanggalnya,"


"Tolong Levian ..." ucap Saraa sambil memancarkan tatapan hangatnya.


Levian menghela nafas, jika sudah begini ia tidak bisa menolak permintaan Saraa.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti aku tidak bisa menolaknya!"


"Kau ijinkan?" Tanya Saraa meyakinkan.


Levian berdehem tanda setuju.


Saraa sesegera mungkin mengabari Vanya untuk memberi tahu bahwa ia sudah mendapat ijin untuk memulangkan semua kariawan Levian.


Saraa bangkit dari sofa buru-buru pergi dari ruangan ini.


"Kau mau kemana?" Tanya Levian menghentikan Saraa.


"Pulang! Tadi kau sudah mengijinkan semua kariawan untuk pulang, bukan?"


Levian menyipitkan matanya, "aku akan mengantarmu pulang!"


"Tidak! aku bisa naik taksi sendiri!" tolak cepat Saraa.


"Dengan kaki begitu?" sambil menujuk kaki Saraa, "Aku tidak mengijinkanmu pulang!" Larang Levian.


"Aku akan kabur!" Kesal Saraa Lalu melangkahkan kakinya keluar, ia menahan sakit dipergelangan kakinya.


"Kau ini berani sekali ya!" Selip Levian langsung membopong Saraa dipundaknya.


"Turunkan aku!!" teriak Saraa saat badannya diangkat oleh Levian.


"Salah sendiri tidak mendengarkan perkataanku!"


"Tasku!"


"Sudah ada dimobilku."


"Hah?!"


"Levian, Turunin aku! aku bisa jalan sendiri!" Teriak sara berkali-kali tapi tak dihiraukan oleh Levian.


Sampai mereka di depan kantor Levian mengambil kunci mobil sport mewahnya lalu mendudukan Saraa disebelah kemudi.


Saraa masih cemberut tak terkendali, ia sangat kesal dengan Levian, seenaknya saja ia membopong orang. Untung saja kantor sudah sepi, jadi tidak ada orang yang lihat selain satpam didepan.


Saraa melihat dari dalam mobil Levian sedang berbicara dengan satpam disana, setelah itu ia masuk untuk mengemudikan mobilnya.


Levian melihat Saraa belum memakai sabuk pengaman, "Pakai sabuk pengamannya, jika ditilang akan mengeluarkan banyak uang!" ucap Levian mengingatkan.


Saraa memakai sabuk pengaman masih menekuk mukanya.


"Sampai kapan kamu akan cemberut seperti itu?"


"Sampai kamu tidak menggangguku!"


Levian tertawa kecil, "Dasar wanita yang keras kepala."


"Biarin!"


"Pegangan! aku akan mengemudikan dengan kecepatan penuh!"


Levian mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan penuh, karena jalanan yang lenggang dan tidak banyak yang mengemudi.


Saraa teruji adrenalinnya, Ia seperti sedang menaiki rollercoaster ditaman hiburan.


"Levian pelan-pelan!!"


________________________________________________