
__________
Ruang Direktur.
"Bagaimana? apa dia menerimanya?" Tanyaku sembari memainkan game di leptopku.
Didepanku sudah berdiri Arina dengan map kontrak yang aku berikan tadi, ditangannya. Arina maju menuju mejaku, meletakan map itu dengan sopan diatas mejaku. Ia kembali mundur beberapa langkah lalu mulai memberikan jawaban atas pertanyaanku.
"Saraa Andrea menyetujui dan menandatanganinya tanpa berpikir. Kontrak itu sudah ditanda tanganinya."
"Apa dia tidak curiga?" Tanyaku sambil memainkan jari jemariku.
"Tidak, pak direktur. Ia berkata percaya kepada saya, lalu menandatanganinya tanpa sungkan." Jelas Arina.
Aku tersenyum kecil, "Baiklah. Kau tahu selanjutnya bukan?"
Arina mengangguk, "Saya akan melakukan yang terbaik!" Jawab Arina dengan sungguh-sungguh.
"Saya akan memberimu bonus. Tunggulah diruanganmu!" Ucapku dengan tegas sembari membalikan kursiku menghadap jendela.
"Baiklah. Terimakasih pak direktur." Ucap Arina lalu berjalan keluar ruanganku dengan perlahan-lahan hingga suara sepatunya pun tidak terdengar olehku.
Aku tersenyum hingga gigi rapiku terlihat, membayangkan ekspresi Saraa saat tahu aku adalah atasannya mulai sekarang. Terkejut pastinya, marah pastinya, mengumpat pastinya dan wajahnya, aku pasti menyukainya.
Hari cerah mendatangiku, matahari bersinar memantulkan cahaya dari jendela ruanganku. Burung-burung berkeliaran mengitari kantorku, alunan musik menebarkan hati membuat diriku semakin bersemangat untuk melakukan apapun.
"Hari yang bagus untuk berjalan-jalan! Jangan pernah melewatkannya!" Ucapku lalu bangkit, memakai jas coklat kegemaranku, melangkah keluar untuk menikmati kesendirianku. Mulai besok aku mungkin akan sibuk untuk mengejar Saraa kembali.
~
"Anda ingin pergi kemana tuan?" tanya supir pribadiku yang sudah siap untuk melajukan mobil sedan hitamku.
"Hari yang cerah, bagaimana kita berjalan-jalan berkeliling kota?" Tanyaku balik.
Supirku tampak mengerutkan dahinya, menyerap kata-kataku yang klise menurutnya. Bagaimana tidak, ini kali pertama pengucapanku terdengar lebih hangat kepadanya. Mungkin ia masih tidak percaya dengan ucapanku, ia diam.
"Pak, Ayo jalan!" Seruku dengan sedikit keras.
Supirku bergeming setelah seruanku, ia mulai mengemudikan mobil dengan perlahan, melewati basement dan melaju keluar kantorku. Diiringi lagu My tipe milik IKon, aku menyanyikannya dengan suara yang menurutku lumayan bagus untuk mengikuti lomba menyanyi tingkat nasional sekalipun.
Mobilku menyusuri jalanan kota yang sedang senggang, di lihat dari jumlah mobil dan pejalan kaki yang bisa ku hitung dengan jari disetiap sudutnya. lampu penanda jalan didepan sudah berubah dari warna hijau, kuning lalu ke merah, menandakan setiap pengemudi harus memberhentikan mobilnya sebelum zebra cross.
"Cafe itu," Batinku setelah menyadari aku berada di persimpangan ini. Aku mengedarkan pandangan pada cafe itu, dari parkiran hingga gedung dua lantainya. Biasanya aku dan Saraa duduk bersama dimeja pojok pinggir jendela dalam dan aku melihatnya. Mobil mulai melaju lurus ke depan dengan pelan karena lampu sudah berganti hijau.
Tunggu, Apa mataku tidak salah lihat? Itu dia!
Aku berseru pada sopirku, "Pak, putar balik kepersimpangan tadi! berhenti dicafe geri bildirim!" Perintahku.
Supirku langsung putar balik tanpa melihat keadaan sekitar, lalu menghenti mobil tepat diparkiran cafe depan.
"Benar, itu dia!" Batinku.
buru-buru aku keluar setelah pintu mobil terbuka, "Sepertinya dia tahu aku disini." gumamku lalu berjalan cepat menuju pintu yang akan dilaluinya.
'Brughhh'
"Saraa!!"
Aku segera menangkap tubuh mungilnya yang hampir terjatuh akibat bertabrakan dengan tubuh kekarku.
'Tik..tik..tik'
Tidak ada suara dari kami berdua, yang ada hanyalah tatapan mata antar mata. Kami dalam pikiran masing-masing, tidak peduli dengan keberadaan manusia di dekat kami.
Takdir sejalan dengan hati, bukan? Aku senang melihatmu lagi, besok kamu akan berada dalam pengawasanku terus menerus. Persiapkan dirimu!
"Lepaskan!" Serunya sambil mendorong tubuhku dengan keras setelah kesadarannya beranjak masuk kembali,
"Jauh-jauh sana!" Ucapnya mengusirku dengan jengkel.
Diriku mengedipkan mata beberapa kali, tidak mengerti dengan sikapnya yang semakin kasar padaku, "Bukannya seharusnya kata terimakasih?" Ucapku sambil menyilangkan kedua tanganku didada.
"untuk apa?!"ucap Saraa dengan ketus.
Saraa beranjak dari tempatnya, berniat pergi dari hadapanku, tetapi dia tidak tahu cara mainnya. Tanganku mencekal lengannya, lalu menariknya masuk dalam pelukanku.
"Aku sangat rindu denganmu!" Bantinku, sembari mempererat pelukanku padanya.
Saraa mulai memberontak di dalam pelukanku, tetapi bagaimanapun aku ingin lebih lama memeluknya.
"Lepaskan!" Teriak Saraa dengan keras. Beransur-ansur ku longgarkan pelukannya.
'Plakkkk'
Mataku melebar, tubuhku diam tak bergerak. Darahku seperti berdesir didalam tubuhku, urat-urat pipiku mati rasa akibat tamparan keras yang ku terima darinya.
"Tamparan itu untuk kamu yang sudah lancang terhadapku!" ujar Saraa lalu bergegas meninggalkanku yang masih diam. Nyeri dipipiku menjadi faktor utama dan malu adalah faktor kedua.
Aku mengangkat satu sudut bibirku, benar-benar sudah menjadi wanita tangguh setelah kita berpisah.
"Saraa, kamu mulai berani! lihat saja nanti!" gumamku lalu berjalan kembali kedalam mobilku diikuti supirku yang hanya membisu tak berkomentar.
"Kembali ke kantor!" Ucapku sedingin salju yang ada di antartika.
tangaku memegang pipi bekas tamparan darinya, masih memerah dan nyeri. Pertama kalian aku mendapat tamparan keras, dan satu-satunya oleh Saraa.
Aku memandang langit biru yang mulai tampak ditutupi oleh awan hujan.
Mengapa, mengapa langit mulai kelabu? Mengapa seperti hatiku? Tidak usah mengikuti! aku tidak menyukainya! Cerahlah kembali. Perintahku!
~
Esok hari
Aku sudah duduk manis di kursiku, membelakangi pintu yang nanti akan muncul wanita yang sudah ku tunggu dari subuh pagi. Aku sudah bersiap untuk menerima pertanyaan hingga penolakan dari mulutnya.
Mungkin juga ia akan mengumpat kepadaku atau kabur atau lari atau menamparku lagi dan lain-lain, sudah aku rencanakan solusinya agar itu tidak akan menimpaku.
'Tokk..tokk..tokk'
Ketukan dipintu menandakan mereka sudah didepan ruanganku.
'Krreeettttt'
decitan pintu menandakan mereka sedang membuka pintu.
'Tuk..tuk..tuk..'
suara ketukan sepatu high heels menandakan mereka mulai masuk ke dalam ruanganku.
"Pak direktur, saya membawa nona Saraa kesini." kata Arina dengan sangat lembut dan sopan kepadaku.
"Arina, kamu boleh pergi!" Ucapku tanpa membalikan kursiku menghadap mereka.
Suara pintu tertutup terdengar, aku mulai menarik dirinya untuk mendekat ke mejaku.
"Nona Saraa, mendekat!" Ucapku.
Ia maju, mendekat ke arah mejaku. Perlahan ku putar kursiku menghadapnya sambil menunjukan senyum licikku.
Aku mengamati perubahan mimik diwajahnya, tersenyum hingga manyun.
"Levian!" Serunya setelah melihat wajahku.
Aku tersenyum menyeringai kepadanya, kegembiraan dihatiku dan penyiksaan dibatinya. Benar-benar, aku sudah gila karenanya.
Tidak, benar-benar tidak akan ku lepaskan lagi dirinya. Meski ia mundur, aku akan tetap maju hingga ku gapai lagi tangannya. Meski dia menghilang, aku akan mencarinya hingga keujung dunia manapun. Meski dia tidak mencintaiku lagi, aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku.
Aku, tidak akan pernah mundur, berpaling dan menghilang. Aku, adalah pria yang sanggup membawamu kembali dan Pria yang tak akan pernah berhenti, mencintaimu.
Karena aku, Levian Putra.
_________________________________________________