
__________
"Nona Saraa, mendekat!" Suara direktur itu seperti familiar ditelinga Saraa.
Saraa mendekat, ia masih berprasangka baik agar apa yang dipikirannya itu tidak benar dan tidak akan terjadi.
Kursi itu berputar, prasangka baik itu tiba-tiba berubah menjadi kenyataan yang buruk dan pahit. Saraa menatapnya tidak percaya, bagaimana lagi-lagi Pria busuk ini!
Apakah dunia ini sempit? ataukah takdir itu mempersulit? mengapa pria ini selalu menampakan diri didepanku? oh tuhan bagaimana aku menyingkirkan pria ini?
Levian!
~~
"Kamu! ba— bagaimana bisa?!" tanya Saraa tak percaya bahwa direktur dari perusahaan ini adalah Levian.
"Sekarang kamu mengenalku setelah tamparan keras dipipiku kemarin?" jawab Levian dengan santai.
"Aku tidak mau disini! aku akan menundurkan diri!" Saraa cepat-cepat keluar dari ruangan Levian.
"Jika nona Saraa mengundurkan diri maka ia harus membayar denda atau menjadi pembantu bagi direktur selama satu bulan."
Saraa menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?!"
"Kamu tidak membaca kontraknya dengan benar?" Levian menunjukan kontraknya. dibawahnya tertuliskan pemutusan kontrak yang berisikan apa saja yang harus dipenuhi jika ingin mengakhirinya.
Levian menyeringai, "Berarti benar, Nona Saraa tidak membacanya."
"Apa kamu menjebakku,dasar pria gila!" ucap Saraa dengan nada tinggi, ia muak dengan permainan Levian.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin bermain denganmu." kata Levian sambil merenggangkan badannya.
Saraa menggigit bibirnya lalu melemparkan lembaran kontrak tepat dimuka Levian.
"Aku tidak akan sudi bermain denganmu! aku akan membayar dendanya!"
"100 juta dollar!"
Saraa menelan ludahnya, denda apa hingga begitu banyaknya. "Kau gila! bagaimana bisa aku harus membayar 100 juta dollar kepadamu! Tidak masuk akal sekali!"
Levian menaikkan pundaknya.
"Aku tidak akan memberikan uang spesiarpun kepadamu!" tegas Saraa.
Levian berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Saraa dan mendorong Saraa untuk menyudutkannya ke dinding.
"Apa yang kau lakukan?!" berontak Saraa,
"Menurutmu?" jawab Levian dengan nada menggoda.
Levian memegang pipi Saraa dan mulai mendekatkan kepalanya kebagian leher milik Saraa.
Saraa mulai takut dengan kelakuan Levian yang makin berani, ia hampir menitikan air matanya. Levian yang sadar akan perubahan dari wajah Saraa mengurungkan niatnya.
"Mengapa? kau takut?"
Saraa mengepalkan tangannya, ia sudah tidak tahan dengan pria picik yang satu ini.
"Kau pria picik!!" Saraa mendorong tubuh Levian dan segera mungkin keluar dari ruangan.
Levian tersenyum kecut, perasaan itu masih selalu sama hingga sekarang.
Saraa berjalan dengan kesalnya. Levian pria picik itu harus menjadi atasannya mulai sekarang, meskipun ia sanggup untuk membayar 100 juta dollar, tapi orangtuanya pasti akan terkejut dengan permintaannya.
Bianca yang melihat Saraa keluar dari ruang Levian langsung menghentikan langkah Saraa,
"Apa yang kau lakukan disini?!" ucap Bianca sambil menarik tangan Saraa mencoba menghentikannya.
Saraa yang masih dalam keadaan marah, menarik tangannya dengan keras, "Minggir kau wanita penggoda!"
Bianca menghentakan kaki, belum ada seorangpun yang merendahkan dia dengan cara ini selain wanita itu.
"Apa katamu! Ya!!"
Saraa tidak memperdulikan omongan Bianca dan keluar untuk mencari udara segar.
"Aku harus bertemu dengan Nadia!" Kata Saraa sambil berkacak pinggang.
Ia mengirim pesan kepada Nadia untuk menemuinya dicafe secepat mungkin, Saraa harus mendapat jawaban dari Nadia mengapa ia menawarkannya perusahaan milik Levian. Ada yang tidak beres menurutnya.
~
"Kenapa, kenapa kamu tawarkan pekerjaan diperusahaan milik pria picik itu?!," Tanya Saraa sambil menggertakan giginya.
"Aku kesal sekali!"
"Tunggu Saraa," ucap Nadia menenangkan." Aku tidak bermaksud membuatmu bertemu dengan Levian lagi," Nadia menundukan kepalanya.
"Maafkan aku Saraa, Levian membantu pengobatan ayahku, aku tidak bisa menolak permintaannya untuk membuatmu bekerja di perusahaannya."
Saraa menghela nafasnya. "Ayahmu sakit? mengapa tidak meminta bantuan kepadaku?"
"aku tidak bisa merepotkanmu lagi, aku bekerja dipemerintahan berkatmu dan papamu. Sekali lagi maafkan aku Saraa." ucap Nadia yang sudah mulai meneteskan air matanya.
Saraa menatap iba, kadar marah pada dirinya beransur-ansur turun. Saraa merasa bersalah, seharusnya dari awal tidak berteriak kepada Nadia.
"Nadia, jangan membuatku seperti orang yang jahat. maafkan aku ..." Saraa memeluk Nadia.
"Aku yang seharusnya minta maaf ..."
"Tidak apa, jangan menangis."
Saraa tersenyum untuk menghibur Nadia, dia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. mungkin ini takdir untuknya harus bertemu Levian kembali.
Saraa menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi, dari pertemuan dia dengan Levian hingga akhirnya ribut dengan Bianca.
"Omong-omong, Bianca itu siapa?" tanya Nadia.
Saraa memutar otaknya lalu teringat bahwa Bianca adalah sekretaris Levian sekaligus wanitanya.
"Sekretaris dan wanita dari pria picik itu!" Jawab Saraa sambil menyendok es krim miliknya.
"Apa! wanita Levian?!" Tanya Nadia menggebrak meja dengan keras.
Saraa kaget dengan perubahan hati Nadia yang cepat, ia menatap sekeliling dan meminta maaf kepada pelanggan lain akibat gangguan emosional milik Nadia.
"Wah pria itu! seharusnya aku tidak membiarkan kamu bertemu dengannya lagi!" Nadia naik pitam, ia membuat kesalahan mengirim Saraa kembali pada Levian.
"Apa ia ingin memamerkan wanita barunya?! aku tidak bisa membiarkan ini!" Ujar Nadia sambil bersiap-siap untuk membombardir Levian.
"Eh ... mau kemana?" tahan Saraa.
"Aku ingin memberi pelajaran kepada pria picik itu!"
Saraa tertawa, "Ternyata sifat aslimu keluar juga ya, Nadia. apa saat tadi kamu menangis hanyalah akting belaka?"
"Saraa, Darah tinggiku sedang naik nih!"
Saraa menyuruh Nadia duduk kembali, "Sudahlah Nad, aku tidak terlalu memikirkan tentang pria dan wanita picik itu."
Saraa meneguk habis air mineral miliknya lalu meremas dengan kuat hingga mengkerut.
"Aku ingin lihat sampai kapan mereka akan bersama!" Saraa menyeringaikan senyumnya.
"Pokoknya doakan temanmu ini agar tidak balikan dengan pria picik itu!"
"Pastinya Saraa. Kamu harus bertahan dengan yang sekarang!" ucap Nadia memberi semangat kepada Saraa.
~
"Ini persyaratan yang harus kamu penuhi!" Saraa melempar map berisikan persyaratan.
"Apa maksudmu?" tanya bingung Levian.
"Aku meminta syarat agar aku betah bekerja disini!" jawab ketus Saraa.
Levian membuka map dan mulai membaca dengan seksama.
"Satu, kepada pihak pertama untuk tidak sok akrab kepada pihak kedua. Dua, kepada pihak pertama dimohon agar tidak membuat pihak kedua melakukan pekerjaan yang ekstrim," Levian menegakkan tubuhnya.
"Memangnya ini perusahaan yang bekerja dibidang apa? tidak ada yang namanya pekerjaan ekstrim!" kata Levian membundari syarat kedua.
Saraa memutar bola matanya tanda acuh dengan perkataan Levian.
"Ketiga, pihak pertama jangan pernah mempublikasi masa lalu antara pihak pertama dan pihak kedua," Levian tersenyum kecut.
"Menarik juga!"
"Persyaratan keempat, Pihak pertama tidak boleh menggoda kariawan saat bekerja," Levian mengangkat satu alisnya.
"Apa kamu pikir aku menggoda semua kariawan? aku bukan pria seperti itu!" kata Levian menahan untuk tidak meninggikan suaranya.
"mungkin saja." Jawab acuh Saraa.
Levian menatap Saraa, "Oke, aku penuhi."
Lalu ia bangkit dari duduknya menuju jendela besarnya, tetapi tiba-tiba mendadak tubuhnya ambruk dan mengeluh kesakitan.
"Sakit sekali!"
Saraa yang melihatnya buru-buru mendekati Levian dan menanyakan keadaannya.
"Levian, kamu kenapa? apa yang sakit?" tanya Saraa sangat khawatir.
"Dadaku nyeri ..." jawab Levian sambil memegang dada sebelah kanannya.
"Bagaimana bisa? aku bantu kamu untuk duduk."
Saraa membantu Levian untuk duduk dikursinya, Levian berhenti mengaduh dan tersirat senyum piciknya, ia menarik langsung pinggang Saraa hingga Saraa jatuh dipangkuannya.
"Apakah ini yang namanya menggoda direktur?" goda Levian.
Wajah Saraa seketika berubah memerah, ia tidak tahu apakah dia sedang marah atau sedikit tergoda.
"Mengapa wajahmu memerah?" tanya Levian setelah melihat perubahan wajahnya.
"Apa kau merasa kepanasan?" bisik Levian ditelinga Saraa.
Sadar mendapat ancaman batin, dengan cepat Saraa turun dari pangkuan Levian, lalu memakinya dengan keras, "Kau! pria picik yang selalu menggoda orang!"
Saraa menghentakan kakinya dengan keras lalu keluar dari ruangan dengan amarah dihatinya.
Levian tertawa kecil melihat tingkah laku Saraa, Selalu saja ia harus menahan agar rencananya berhasil.
Levian tersenyum kecut dan menghela nafasnya. selama satu tahun ini ia berusaha untuk melupakan kenangannya bersama Saraa, tapi hasilnya nihil, malahan cintanya semakin lama semakin tumbuh jauh lebih besar didalam hatinya.
"Saraa, bagaimana jika aku masih menyukaimu?" gumam Levian dalam hati kecilnya.
Ia mengambil sebatang rokok dari laci mejanya lalu menyalakan pemantiknya, ia memutar kursinya menghadap jendela lalu beberapa kali menghisap dan menghembuskan asap rokok sambil menikmati langit yang biru tanpa adanya awan.
Dulu ia tidak pernah sekalipun memegang sebatang rokok, tapi semenjak Saraa meninggalkannya ini menjadi kebiasaan bagi Levian. Cara ini ampuh untuk menenangkannya dan menghilangkan rasa kejenuhan dalam pikirannya.
"Rencanaku harus berhasil!"
________________________________________________