Ambiguous

Ambiguous
<Kali ini kami baik-baik saja.>



__________


Mobil pribadi Levian telah sampai dibasement apartemen kawasan elit ditengah kota. Setelah terparkir dengan rapi, Levian menarik tubuh Saraa untuk keluar dari mobil.


"Hey!" berontak Saraa setelah secara paksa Levian menggendong dirinya, "aku bisa jalan sendiri!"


"Jika aku membiarkanmu berjalan sendiri, sudah pasti kakimu itu akan membawamu kabur dari sini." Tolak Levian.


"Humph!" Saraa mendesis, ingin rasanya menyentil lubang hidungnya yang besar itu dan memberi sumpelan agar dia tidak bisa bernafas.


Mereka menaiki lift dari basement menuju apartemen pribadi yang berada dilantai empat belas, lift berhenti tepat didepan pintu


"Apartemen ini punya siapa?" tanya Saraa bingung. Jika ini milik Levian, bukankah dia masih tinggal bersama orangtuanya.


"Menurutmu?" jawab Levian.


"Menyebalkan!"


Saraa dan Levian masuk ke dalam apartemen yang segala sesuatunya terlihat mewah, megah dan mahal, mulai dari alat elektronik dan hal terkecil seperti asbak terbuat dari batu giok yang berpadu padan dengan meja kaca tiga dimensi.


"Ini apartemen milikmu? jika benar bilang saja, tidak usah menutupinya!" cibir Saraa.


"Jika bukan milikku, aku tidak akan membawamu kesini!" jawab Levian berbobot.


"Turunkan aku!"


"Aku sudah bilang padamu, belum cukup bagiku untuk memberimu pelajaran!"


"Mau kemana?"


Levian membawa Saraa menuju pintu sebelah kanan dari ruang tengah, dibalik pintu itu terdapat kamar utama yang dihuni olehnya.


"Kau membawaku ke kamarmu?! tidak! aku tidak mau!!" ronta Saraa menolak masuk kedalam sana, tetapi Levian benar-benar pria yang kuat terhadap pukulan maupun


Levian menendang pintu kamar dengan keras hingga gagang pintu itu hampir lepas dari knopinya, "lepaskan aku!!"


tanpa aba-aba, Levian melempar tubuh Saraa keatas kasur king size miliknya. Setelah itu ia melepas jas dan melonggarkan dasi yang ia pakai.


"Mau apa kau?! jangan mendekat!!" Seru Saraa memberi peringatan agar jauh-jauh darinya tetapi Levian malah semakin mendekat dengan senyum penuh kemenangan diwajahnya.


"Tidak!!"


□□□□□


"Aku sudah bilang, jangan mendekat ke arahku! Masih tidak mendengarnya. Jangan menyalahkanku dengan wajahmu sekarang!" cakap Saraa sembari membalut kepala Levian dengan plester.


Gairah yang keluar dari diri Levian tiba-tiba menghilang setelah satu bogem mentah dari tangan kecil milik Saraa mengenai sudut bibir Levian dan satu shooting sepatu higheels berhasil mengenai keningnya, semua ini tidak terduga dan tak dapat diperhitungkan olehnya.


"Sejak kapan sepatumu sudah berada ditanganmu?" Tanya Levian masih bingung dengan kecepatan tangan dan tubuh Saraa. Ia menatap Saraa , tidak berniat berpaling kearah lain selain wanita didepannya dengan raut muka serius nan garang.


"Saat kau menjerit kesakitan mendapat tinjuan dariku." Jawab Saraa tanpa merasa bersalah.


"Apa sangat sakit?" tanya balik Saraa.


"Untungnya kau memberiku ini." Levian menunjuk lukanya, "jika tidak, aku tidak bisa jamin untuk membiarkanmu keluar tanpa melahapmu!"


Saraa bergidik ngeri dengan ucapan Levian yang ingin melahapnya, "Jangan berkata aneh atau pipimu akan berubah membiru dalam hitungan detik!"


"Maafkan aku!" ucap Levian sembari memejamkan matanya, takut dengan raut muka Saraa yang garang seperti singa betina sedang melindungi anak-anaknya.


"Sudah selesai!"


Levian memandang sekilas wajah Saraa yang sedang membereskan kotak p3k memegang kedua pipi Saraa lalu tanpa pamit mengecup bibir Saraa.


Cup!


Saraa tak bergeming, ia hanya diam menatap lurus kearah Levian yang menunggu respon dari Saraa. Merasa Saraa hanya diam tak menghajarnya, Levian bermaksud mengecup kembali bibir Saraa. Tetapi disepertiga niatnya, rambut belakangnya terlebih dahulu dijambak oleh Saraa dengan keras.


"Ahhhhh!! ... sakit! Lepaskan tanganmu!!" pekik Levian minta dilepaskan.


"Lidah, bibir dan keningmu sudah terluka, masih saja berani untuk menciumku! asal kau tahu, tenagaku sudah pulih. Aku bisa berbuat apapun terhadapmu!" tegas Saraa memberi ancaman lebih.


"Baiklah ... baiklah! maafkan aku dan lepaskan tanganmu dari rambutku. Ini sangat sakit!" rengek Levian mengaku kalah.


Saraa melepas tangannya dari kepala Levian, "Awas saja kalau macam-macam, akan lebih menyakitkan dari itu!"


"Aku sudah minta maaf, jangan menatapku seperti itu. Sangat mengerikan."


Setelah membereskan kotak p3k, Saraa bermaksud mengembalikan kotak itu tempat asalnya, tetapi pandangannya teralihkan oleh kotak kecil yang beraura hitam disekelilingnya.


"Levian?" panggil Saraa.


"Hm?" sahut Levian tanpa menoleh ke arah Saraa, sibuk berkaca dengan ponselnya.


Saraa mengambil kotak kecil itu, lalu melempar tepat kearah Levian. "Itu apa?!"


"Apa! Ah ... itu hanya ro— " ucap Levian terhenti setelah menyadari kesalahannya.


Levian menaikkan lirikannya dengan hati-hati,


"I— itu bukan punyaku. Ya ... i—itu punya Davin!" akunya menyalahkan orang lain.


"Hehehe ... ampun ...." Rajuk Levian sembari meminta ampun.


.


Levian mengaduh kesakitan sambil mengeluas-elus bagian atas kepalanya, satu lagi korban dari keganasan Saraa yang timbul dari kesalahan dirinya karena membawa Saraa ke apartemennya. Jika saja ia menyingkirkan barang-barang itu, tidak akan kepalanya terkena ibasnya lagi.


"Kau ini wanita atau penggulat? aku tidak bisa membedakannya sama sekali!"


"Sejak kapan kau mulai merokok?!" Tanya Saraa sembari membersihkan laci meja yang penuh dengan bungkusan rokok berbagai merek terkenal.


"Semenjak kau meninggalkanku." Jawab Levian jujur tetapi Saraa tak percaya mendengarnya.


"Jangan mengarang! kau ingin aku merasa bersalah kepadamu karena telah meninggalkanmu dan membuatmu kecanduan merokok, seperti itu bukan?!"


"Tidak. Ini salahku, bukan salahmu."


Saraa membuang sekantong penuh bungkusan rokok kedalam tong sampah, "jangan merokok lagi. Tidak baik untuk kesehatanmu." Pinta Saraa.


"Akan aku coba." Jawab Levian.


"Aku buang ini juga!" Ucap Saraa mengambil asbak yang terbuat dari batu giok hijau yang pastinya sangat mahal dan terbatas.


"Jangan! itu pemberian dari rekan bisnisku. Aku akan menyimpannya saja." Cegah Levian.


"Baiklah, simpanlah baik-baik. Jika aku melihatnya lagi, akan aku lempar dari sini!"


"Iya baiklah."


"Ini hampir larut malam, aku akan pulang sekarang!" pamit Saraa sembari bersiap-siap untuk pulang.


"Aku akan mengantarmu!" ucap Levian sembari mengambil jaket dan kunci mobil diatas laci.


"Tidak mau! aku akan naik taksi!" tolak Saraa mentah-mentah.


"Tasmu ada dimobilku sekarang. Jika kau tidak menginginkan tasmu dan segala isinya, aku ijinkan kau pulang sendirian."


Saraa mendesis pelan, betapa bodohnya ia melupakan tas dan isinya, dibiarkan begitu saja didalam mobil Levian. Jika begini, ia tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan Levian.


"Pria licik!"


"Itu memang diriku."


□□□□□


Kediam Saraa


"Sepertinya sudah menjadi kebiasaanku baru-baru ini untuk mengantarmu pulang." Cakap Levian sesaat setelah mereka sampai dikediam Saraa.


"Jika bukan paksaan, aku tidak akan mau!" sesal Saraa.


"Aku tidak memaksa, hanya saja ancaman yang ku berikan padamu cukup ampuh."


"Humph!"


Levian terkekeh kecil melihat wajah kesal Saraa yang menurutnya sangat imut. "Kau tidak turun?"


Saraa membanting pintu dengan keras setelah ia turun dari mobil dan berjalan untuk masuk kedalam rumah.


"Kali ini kau tidak membiarkanku untuk masuk juga?"


"Tidak!"


"Kenapa tidak?"


"Karena aku tidak mau!"


Ceklek.


Pintu depan terbuka dengan lebar, menampakkan Aringga dan Diana sedang memasang wajah terkejut plus bingung melihat dua manusia sudah berdiri didepan rumah mereka sedang bertengkar mempermasalahkan hal yang tak pasti.


"Mama, papa!" Ucap Saraa terkejut.


"Om, tante ..." Sapa Levian sambil menyunggingkan senyumnya.


"Sedang apa kalian berdiri disini? kenapa tidak masuk? Saraa, mengapa tidak membiarkan Levian masuk ke rumah?" Tanya Diana--- mama Saraa.


"Masuklah dulu, mari kita makan malam bersama, kebetulan mamamu sudah membuat banyak hidangan yang lezat." Tawar Aringga--- papa Saraa sambil menarik masuk Levian ke dalam rumah.


"Terimakasih om ..."


"Papa! tung— "


"Kalau kau tidak ingin masuk, tidak apa. Berdiri disini juga tidak apa." cibir Diana lalu meninggalkan Saraa yang masih mematung ditempat.


"Ihhhh mama!!"


________________________________________________