Ambiguous

Ambiguous
<Pertemuan tak terduga.>



___________


Berita terkini;



Direktur perusahaan Lesaagiant, Levian putra akan melangsungkan pertunangan bulan depan dengan putri dari presdir XionAir, Fiona Agranian.


Deg!


Jadi apa yang dikatakan dia saat itu memang benar, dia tidak berbohong. Dadaku terasa sesak. Ada apa denganku? Saraa, ada apa denganmu?!


--


"Saraa? Kau benar baik-baik saja?"


"Aku harus ke toilet." Ucapku lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


Sesampainya di toilet, ku basuh wajah dengan air yang mengalir dari keran.


'Jadi ini alasannya akhir-akhir ini Levian tidak menampakan dirinya dihadapanku dan bersikap dingin kepadaku. Apa benar-benar pria itu sudah tidak menginginkanku lagi? Apa pertunangan itu akan benar-benar terjadi?'


"Saraa, Sadarlah!!" Aku menutuk kepala dengan sedikit keras, lagi-lagi harus menyadarkan pikiranku yang sudah terlanjur dipenuhi oleh bayang-bayang Levian.


"Levian sekarang hanya atasanmu! Dia berhak bertunangan dengan siapa saja. Kamu tidak berhak untuk marah ataupun sedih! Kamu harus kuat, Oke?!"


"Oke!"


Aku berjalan keluar toilet bermaksud kembali ke kantin untuk menemui Vanya, tetapi tepat di depan pintu masuk kantin langkahku terhalang oleh ramai orang yang berdiri seperti wartawan sedang menunggu artis keluar.


"Apa yang terjadi?" Aku bertanya pada orang yang berada didekatku.


"Direktur Levian dan calon tunangannya sedang berkencan didalam!"


Kencan? Dikantor? Apa ini yang dinamakan kencan didepan publik? Lalu, mengapa banyak sekali orang disini? bukannya ini jam masuk kerja?


Aku menerobos kerumunan orang yang berdiri didepan pintu masuk untuk mencari Vanya, "Dimana dia?"


Aku mencari keberadaan Vanya, tetapi yang kulihat hanya dua manusia yang sedang melakukan adegan romantis dimeja pojok dekat jendela.


"Apa mereka harus melakukan adegan selebay itu? Aku tidak habis pikir!" Batinku.


Yang ku lihat, Levian sedang menyuapkan es krim ke dalam mulut tunangannya dengan senyum sumringah di wajahnya, membuatku ingin cepat-cepat pergi dari sini.


"Aku tidak peduli!" Ku balikkan badanku bermaksud pergi dari sini secepat mungkin, tetapi seseorang menabrak hingga tubuhku terhempas jatuh ke lantai.


Aku mengerang kesakitan, "Sakit sekali!!"


"Maafkan aku ... aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu." Ucapnya. Dia mengulurkan tangannya ke arahku.


Semua mata mengalihkan tatapannya dari Levian ke diriku.


Aku mendongkapkan wajahku ke atas, melirik pria yang baru saja menabrak diriku. Tetapi betapa terkejutnya aku setelah melihat wajah yang sangat ku kenal.


"Davin?!" Ucapku memastikan pria didepanku yang memakai jas biru dongker tanpa kaca mata, benar Davin Mahendra.


"Sa— raa?" Ucapnya dengan sedikit bingung.


"Benar. Aku Saraa!"


Davin berjongkok didepanku dan membantuku berdiri dengan kedua tangannya.


"Saraa, maafkan aku. Aku tidak tahu itu kamu." Ucapnya sedikit merasa bersalah padaku.


"Aku baik-baik saja." Ucapku sambil membersihkan debu yang menempel pada rokku.


"Apakah ada yang sakit?"


"Tidak ada. Hanya saja pergelangan kakiku sedikit sakit, tetapi tidak apa."


"Maafkan aku, Saraa ..."


Aku terkekeh kecil, "Aku baik-baik saja, Davin. Sungguh!"


Semua orang mulai menyoroti kami berdua dibandingkan Levian dengan tunangannya.


"Davin, sebaiknya kita tidak bicara disini." Kataku merasa hawa yang aneh dari sekitar.


"Baiklah. Mari kita mengobrol ditempat lain."


"Eum. Ah ... sakit sekali ...!!" Aku mengerang kesakitan saat kaki kananku menginjak lantai, bisa dihitung. Sudah berapa kali kakiku terkilir akibat orang, ditambah lagi sepatu high heels yang ku pakai sangat tinggi membuat langkahku semakin berat.


"Ada apa? apa kakimu sakit?" Tanya Davin khawatir setelah mendengar eranganku.


"Kaki kananku sepertinya terkilir."


"Kalau begitu, aku akan menggendongmu!" Tanpa aba-aba, Davin menggendong tubuhku. Bersamaan dengan itu, sorak dari penonton dibelakang kami terdengar nyaring membuat diriku malu karena menjadi penyebab keramaian tersebut.


"Davin, aku bisa berjalan sendiri!"


"Aku tahu, tetapi aku tidak mendengarnya."


Sorak gembira dari orang-orang mengikuti kami hingga sampai didepan ruangan yang didepannya bertuliskan kantor manager. Setelah sampai di dalam, Davin mendudukanku di sofa.


"Aku seperti mengalami dejavu." Batinku merasa pernah mengulangi kejadian seperti ini.


"Biar aku lihat pergelangan kakimu." Davin melepas high hells yang ku gunakan lalu memutar pergelangan kakiku dengan pelan.


"Ah ... sakit, Davin!!" Rengekku sesaat setelah Davin melakukan gerakan aneh pada kakiku.


"Coba digerakan." Suruh Davin.


Aku menggerakan kaki kananku dengan perlahan, "Mengapa aku tidak merasakan sakit lagi?" Aku mencoba berdiri dan berjalan, seperti keajaiban, aku tidak merasakan sakit lagi. Apa yang Davin lakukan pada kakiku ini?


"Tidak sakit lagi? Syukurlah ..."


Ia terkekeh mendengar ucapanku, "Itu trik lama, Saraa. Apa yang perlu disombongkan."


"Omong-omong, mengapa kau membawaku keruangan ini? lalu mengapa kau ada disini, dikantor pria licik itu?" Tanyaku berentetan.


Davin duduk disebelahku, "Asal kau tahu, Saraa, aku adalah menejer diperusahaan ini dan ini ruanganku." Jelas Davin.


"Kau? Menejer kantor ini? Aku tidak percaya!" Tolakku dengan ucapan Davin.


"Lihat itu!" Davin menunjuk label nama yang terbuat dari kaca diatas meja kerja, "DAVIN MAHENDRA, itu namaku!"


"Ah ... ternyata benar ..." Ucapku dengan nada seperti kecewa.


"Mengapa semua orang tidak percaya dengan jabatanku saat ini!!" Gerutu Davin.


"Baiklah ... aku percaya, Davin." Ujarku.


"Benarkah?"


"Aku percaya padamu, tetapi aku lebih percaya dengan kebohonganmu ... hehe ..." Candaku sembari tertawa.


"Saraa!!"


"Hehehe ... maafkan aku ..."


"Lalu kau? mengapa kau bisa disini?"Tanya Davin.


"Aku bekerja disini, sebagai pegawai." jawabku.


"Pegawai? Saraa Andrea. Anak dari konglomerat Aringga Hartanto menjadi pegawai biasa?! Kau bercanda, bukan?" Tanya Davin tak percaya.


"Apa aku berada disini kau anggap candaan?" Tanyaku balik.


"Apa bukan candaan?"


"Menurutmu?"


"Sejak kapan?" Tanya Davin.


"Tiga mingguan." Jawabku.


"Tiga minggu? Pantas saja aku baru tahu kau disini."


"Memangnya kau kemana saja? Apa karena ini perusahaan sahabatmu, kau bebas untuk membolos sesukamu?!"


"Ye ... aku mendapat cuti, tahu!" Cakapnya.


"Oh."


"Ye."


"Mengapa kau bisa bekerja disini, Saraa? Apa Levian memaksamu?" Tanya Davin.


"Aku tidak tahu! Yang aku tahu, bekerja diperusahaan ini adalah sebuah kesalahan yang sangat ku sesali." Jelasku tak ingin menceritakan kembali alasan mengapa aku bisa berada disini.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi."


"Kau sudah tahu kabar pertunangan Levian dengan- "


"Aku tidak peduli!" Potongku dengan suara dingin.


Saat aku bilang tidak peduli, mengapa hatiku terasa berat. Setiap orang yang menyebut namanya, mengapa membuatku sangat sedih. Apa lagi pertunangannya dengan wanita itu, Benar-benar membuat pikiranku terpusat lagi padanya.


"Ekhmmm ..." Davin berdehem membuyarkan lamunanku.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi.


"Aku sangat baik-baik saja, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan." Jawabku dengan tenang.


"Kau tahu ... satu tahun lalu saat kau memutuskan Levian, dia merasa sangat terpukul." Tutur Davin sambil menyilangkan kakinya.


"Mengapa dia harus merasa terpukul?" Tanyaku.


"Ya ... karena hari itu Levian bermaksud ingin me- "


Ceklek.


Pintu ruangan Davin terbuka lebar bersamaan masuknya Levian yang berjalan dengan sangat angkuh mendekat ke arah kami yang tengah menatapnya.


"Le— vian?!" Sapa Davin sambil bangkit dari tempatnya.


Levian melirik ke arahku dengan dingin, "Kau bisa keluar sekarang?!" Ucapnya mengusirku keluar.


"Dia benar-benar berubah!" Batinku.


Aku melirik sekilas kearahnya sebelum ku langkahkan kaki pincangku keluar dari ruangan Davin.


"Saraa! Tunggu dulu!" Ucap Davin menahanku agar tidak keluar dari ruangannya.


"Aku harus kembali ke kantorku."


"Kakimu?"


"Aku baik-baik saja."


"Tapi Saraa ..."


Aku tak menghiraukannya lagi, ku lirik lagi wajah Levian yang tak sedikitpun menghadap ke arahku, lalu melanjutkan langkahku menuju kantor dengan pergelangan kaki masih terasa sakit.


"Kau benar-benar berubah, Levian."


________________________________________________